My Wedding Ann8versary

Tadi malam saya tidur lebih cepat. Entah mengapa kepala terasa berat dan memaksa untuk memejamkan mata lebih awal.
Nyenyak tidur terganggu dengan ketukan di pintu depan. Ritual pagi saya adalah membuka pintu. Ya, untuk bibi yang membantu beres-beres rumah. Tidak layak untuk dipanggil bibi, usianya bahkan lebih muda dari saya.

Setelah menutup pintu saya beranjak tertidur dan tidak sampai 1 jam terlelap, saya dikejutkan suara yang sangat dikenal.
“Hai, sudah bangun?.”, rupanya istri saya yang tanpa disadari sudah duduk di samping tempat tidur.
“Happy anniversary. Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke 8”, lanjutnya.
Saya tersenyum, rupanya ia masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Selalu mengingat hari ulang tahun pernikahan kami.

Sewindu, 8 tahun. Waktu yang tidak sebentar. Banyak sekali suka dan duka, halangan dan rintangan. Komitmen dan keteguhan hati kamilah yang menuntun sampai hari ini.

Yang duduk disamping saya adalah ia yang memberi kami 2 putra yang lucu. Ketiganya yang membuat hari-hari lebih bersemangat. Merekalah yang membuat jam kerja terasa lebih lambat untuk pulang dan menikmati sambutan didepan pintu. Mereka, yang membuat perpisahan terasa menyiksa.

Sudah 15 menit, aku belum beranjak bangun. Dalam hati aku berdoa, semoga tahun-tahun berikutnya kami bisa merayakannya lagi. Dalam syukurku, berkat Tuhan terasa cukup.

Bisnis Kekinian, Bisnis Hantu

Ada sebuah outlet minuman dalam bentuk gerobak. Jualannya tepat diwarung saya. Sudah beberapa waktu saya memperhatikan jualannya cukup laris.
Suatu hari saat warung agak sepi, saya ngobrol dengan yang jaga gerobak. Dua gadis kembar, yang jujur saya tidak bisa membedakan mana kakak dan mana adik. Dua duanya hobi menyanyi. Satu di aliran dangdut, satu dialiran pop. Yang pop suaranya merdu waktu saya curi-curi dengar saat ia bernyanyi.

Satu outlet gerobak biasanya beroperasi 12 jam. Dan rata-rata menghasilkan penjualan dengan lebih dari 50 cup perhari. Harga jualnya 12.000/cup dari modal percupnya 7000 saja. Wow saya kaget sampai kepala panas dingin.
“Ada cabang yang sehari bisa jual 200 cup ko” ujar si kakak yang buat saya langsung demam.
Tambah lagi si owner punya 5 cabang yang dikelola sendiri, betul-betul bikin saya mau tutup warung menghitung marginnya.

Dasar penasaran saya iseng telpon ke punya franchise minuman itu. Lokasinya di Tangerang. Kata cici nya, sudah ada 100 cabang se Indonesia. Amazing.
Dia lanjut cerita kalau ada cabangnya yang bisa jualan rutin 700 cup sehari tapi bukan di event. Bahkan katanya saya terlambat menghubungi karena tren minuman ini sudah hype sejak awal tahun. Apalagi margin keuntungannya dikatakan besar. Lebih dari 50%.

Saya sungguh tertarik, tapi ternyata slot nya sudah penuh. Saya boleh buka tapi di area pinggiran sekali. Ah ngga jadi saja deh kalau gitu.
Nah kemarin saya kebetulan saat berbelanja di salah satu Supermarket. Disana saya melihat sebuah outlet minuman kekinian boba asal Taiwan. Outletnya cukup unik karena diberi tulisan aksara mandarin. Kemasan minumannya mirip atau dibuat mirip dengan Xing Fu Tang yang di Mall Puri yang kata adik saya, Priscilla Susina kalau beli antrinya bisa sampai 30 meter, walau harganya bisa sampai Rp. 50.000/cup. Memang tahun ini, tahun Taiwanese Tea, setelah selesai diserbu Thai Tea beberapa tahun belakangan.

Kembali saya iseng untuk tanya-tanya si Franchisor mengenai produknya, harga jualnya dan harga franchisenya. Tidak terlalu mahal, tidak sampai 10 juta rupiah.

Yang kemudian menjadi menarik adalah waktu mereka memberikan alamat kantornya. Disebuah kota di Jawa Tengah, dan disebuah co working space. Tidak terlihat seriuskan?.
Tapi saya jadi berpikir bahwa sekarang orang menjual sebuah prospektus bisnis bukan karena dia sudah sukses berjualan. Mereka hanya menjual konsep. Modalnya, presentasi yang menarik dengan gambar dan ilustrasi serta deskripsi produk. Dan tidak lupa budget iklan: Facebook Ads dan IG Ads.

Kini saatnya orang jualan IIK(Ide, Informasi, Konsep). Kalau dikuliner kita mengenai Ghost Kitchen, saya baru menemukan Ghost BO/Franchise. Orang selalu punya cara untuk mencari uang, kata saya dalam hati.

Filbert, Air Asia dan Tos Big Hero 6

“Pa, mobil yang belakangnya bulat itu apa namanya?”. tanya Filbert kecil.
“Yang mana?” sahut saya sambil celingak celinguk mencari mobil yang dimaksud.
“Itu pa” katanya sambil menunjuk mobil yang berhenti disamping kami. Sebuah mobil Avanza berwarna hitam.
“Oh itu Toyota Avanza nak. Betulkan yang logonya bulat itu”.
“Oh Avanza”. Selanjutnya ketika melihat logo Toyota, Filbert akan berseru, “Pa, liat ada mobil Avanza”, padahal yang lewat mobil Fortuner. Hahaha

Menghapal jenis-jenis mobil adalah hal yang disukainya. Saat itu umurnya masih 5,5 tahun. Sekarang hampir semua merk mobil dia sudah hafal termasuk mobil yang jarang seperti Proton dan Mercedes Benz.

Dulunya lebih unik lagi : menghafal nama pesawat (nama maskapai). Saat itu umurnya baru 4 tahun. Dia sudah bisa menyebutkan nama pesawat yang terbang rendah hanya dengan melihat corak dan warna pesawatnya. Its amazing.

Semua bermula karena si kecil ini sering terbang, entah dengan saya liburan kesuatu tempat atau ikut kakek neneknya keluar negeri dalam rangka medical checkup atau berwisata.

Dia termasuk salah satu anak kecil yang beruntung saya pikir. Setidaknya dibanding ayahnya yang baru mengudara diusia 22 tahun. Hufh. Meski setelah itu naik pesawat terus sampai punya 1000 jam terbang sendiri *menepuk dada.

Yah saya pikir itu adalah proses belajar. Setiap anak unik dan punya ketertarikannya dan caranya sendiri. Orangtua penting untuk bisa membaca perilaku anaknya, setidaknya agar bisa mengarahkan dia ke hal-hal yang tepat sesuai dengan ketertarikan serta kemampuannya.

Misalnya untuk ekskul, Filbert lebih kami arahkan ke melukis. Kami merasa dia lebih menyukai seni. Dia sangat menyukai Lego, ia bisa menghabiskan berjam-jam membongkar pasang mainan impor itu. Kreatifnya sebuah bentuk pesawat bisa diubah menjadi mobil ambulan. Wah.

Nah apakah melukisnya jago. Tidak juga. Menggambar bisa, menghasilkan gambar yang bagus: tidak. Saya pikir bakatnya tidak cukup besar. Tapi toh kami tidak pernah memaksanya. Sometimes we love do something, but you dont need to be expert.

Pagi ini saya mengantar dia kesekolah. Rutinitas. But i think its precious time. Tidak semua orang tua bisa melakukan itu. Seorang anak bertumbuh sangat cepat. Masa kanak-kanak mereka akan segera berlalu. Sampai suatu saat mereka sudah mulai malu untuk sekedar mencium pipimu disekolah, didepan teman-temannya. Risih.

Sesampai disekolah kami melakukan tos (fist bump) Baymax. Saya tidak tahu nama tosnya. Tos yang dilakukan Hiro dan Baymax di film Big Hero 6.
Mengapa tidak lakukan cium tangan seperti anak-anak lain?. Pernah dulu ketika ia masih TK, tapi saya hanya merasa tidak sreg.

Saya pikir kebiasaan mencium tangan membuatnya “tunduk”,”mengikuti aturan”. Itu dilakukannya tiap hari kepada gurunya, kepada kepala sekolah yang berdiri didepan pintu masuk.

Saya cenderung menyukai tos Baymax. Mengapa?. Dia menyukainya, saya tidak memaksanya untuk melakukan itu.
Saya ingat suatu hari, ia dimarahin mamanya sampai menangis karena lembaran bukunya dipakai untuk bermain pesawat kertas, padahal bukunya baru saja dipakai. Saya mengantarnya kesekolah. Sepanjang jalan wajahnya muram.

Sesampai disekolah, dia turun dan berjalan ke arah pintu masuk sekolah. Saya memanggilnya.
“Nak sepertinya ada yang lupa”? kata saya.
Dia berbalik dan menyodorkan tangannya. Saya menepuk tangannya bolak balik. Dan saat tos terakhir dengan mengangkat tangan sambil berseru “Lalalaa”, sungguh ajaib bibirnya tersenyum. Mulutnya terbuka, sedikit tertawa.
Selanjutnya saya melihat sebuah wajah seorang anak yang lebih ceria.
Saya sudah merubah perasaannya, suasana hatinya dengan tos kecil.
Dia akan menjalani 6 jam berikutnya disekolah, mungkin dikelas yang membuatnya bosan. Dengan bekal hati yang lebih ceria, ia melupakan luka hatinya, siap menjalani hari-harinya dengan lebih menyenangkan.

Dan nun jauh disana, dirumah kami, seorang wanita duduk termenung. Tatapannya kosong, dengan beberapa penyesalan. Ah si kecil yang aku marahin, seharusnya dia yang sedih, bisiknya dalam hati. Entah mengapa hatiku yang terasa sakit. Oh pangeran kecilku. Maafkan mama.

Aku Yang (belum) Beruntung

Entah mengapa saya mulai males mengikuti yang namanya Gathering. Gathering adalah undangan makan atau kumpul bersama dari badan atau perusahaan, biasanya sebagai apresiasi pencapaian tertentu.
Misal hari ini saya dapat undangan untuk menghadiri sebuah gathering salah satu supermarket grosir dengan acara makan dan pengundian hadiah.

Acara dimulai dari pkl 10.00 pagi. Saya datang sedikit terlambat sekitar 15 menit kemudian. Ketika datang sudah ramai sekali para tamu undangan. Pihak panitia membuat panggung ditempat parkiran motor depan kantin. Cukup menampung banyak orang. 500 orang mungkin lebih.

Tapi acara berjalan sangat lambat. Sampai 3 jam kemudian belum juga ada penarikan undian. Hanya games-games kecil berhadiah produk rumah tangga seperti minyak goreng dan shampoo. Saya dapat juga waktu unjuk tangan menjawab pertanyaan. Hiks.

Selain itu acara diisi ocehan MC dan sekelompok orang yang menyanyikan lagu diatas panggung diselingi tingkah polah lucu sambil mempleset-plesetkan lagu. Satu dua lagu cukup menghibur, sisanya bagi saya hanya suara teriakan parau yang cukup memekakkan telinga.

Acara undian yang ditunggu baru dimulai setengah jam kemudian. Pertama diundi setrika, lalu kuis dan nyanyian, undi kompor gas, lomba karaoke, undi handphone, Spiderman datang.
Oh wahai Spiderman berlemak berkostum sempit sehingga menonjolkan sesuatu yang tidak harus ditonjolkan. Membuat anak gadis membuang muka dan beberapa ibu lost focus.
Setelah hp, dilanjutkan undian tv, selingan, undian kulkas, selingan, dan terakhir undian motor.

Acara pembacaan hadiah selesai pkl 16.30. Pemenang motor sudah dipanggil. Apes tidak ada satu hadiah undian pun yang mampir di nomor undian saya. Nomor yang mendekati pun tidak. Ahh… saya pun pulang dengan wajah sayu. Sudah menahan ingin pulang karena baterai hp habis setengah jam sebelumnya yang membuat orang rumah tidak bisa menghubungi, tapi bertahan tetap dilokasi karena siapa tahu dapat motor. Hehe..

Kesekian kalinya. Ini gathering ke enam yang pernah saya ikuti (sebagai undangan atau perwakilan undangan). Dan yang keenam ini masih Zonk. Hahaha

  1. Semen Holcim di hotel Dangau
  2. Cat Avian di Hotel Aston
  3. Bank Kalbar di PCC
  4. J&T
  5. Cat Avian lagi di hotel Aston.
  6. Indogrosir 2019

Jika ditanya Gathering paling berkesan, saya akan jawab pada saat acara Gathering J&T. Selain makanannya enak-enak, hiks, pas pulang dihadiahi kue bulan atau Moon Cake yang cukup besar dengan kotak spesial warna merah. Rasa kuenya?. Enak pakai banget. Hehe..

Next gathering. Entahlah. Saya sebenarnya bukan spesialis dalam hal undian. Seumur-umur baru pernah dapat hadiah dari undian pada saat SMP. Hadiahnya fantastis. Sebuah Handuk mandi. Hiks.

Peliknya Hongkong

Ada satu pembunuh. Sudah mengaku kepada polisi. Dihukum 18 bulan. Ringan?. Iya. Tapi bukan karena itu hukumannya. Tapi karena mencuri uang lewat kartu kredit pacar yang dibunuhnya.

Pelik. Begitulah Hongkong saat ini. 1 juta orang menolak RUU Ekstradisi. Sudah 3 bulan, tapi masih tetap lanjut. Lumpuh dimana-mana. Hongkong dikhawatirkan masuk resesi ekonomi.

Tuntutan demostran adalah agar RUU dicabut. Mereka tidak mau dimasa depan, orang dengan mudah diadili diluar negeri atau yang paling ditakutkan, di China Daratan. Artinya jika Pemerintah pusat China menganggap seseorang di Hongkong sebagai penjahat politik misalnya mereka bisa meminta Hongkong mengirim orang tersebut untuk di adili. Apalagi adanya kekhawatiran Tiongkok menggunakan sistem otoriter dalam menghadapi pengkritiknya.

Carrie Lam, pemimpin Hongkong tidak ingin Hongkong menjadi surga para penjahat yang memanfaatkan keistimewaan Hongkong. Yang didapat karena ada perjanjian saat penyerahan Hongkong oleh Inggris kepada Pemerintah China. Setidaknya sampai 50 tahun kedepan, Hongkong mau mengurus diri mereka sendiri.

Saat ini RUU sudah ditangguhkan bahkan dicabut oleh parlemen. Kemenangan milik demonstran. Ya begitulah. Usaha mereka 4 bulan ini berhasil. Setidaknya begitu.
Namun kemenangan bukan hanya milik demonstran, tapi juga Chan Tong-Kai (maaf kalau namanya mirip merek Korek Api gas, hiks). Ya si pembunuh itu.
23 Oktober 2019 dia bebas setelah menjalankan 1/3 hukumannya. Yang 18 bulan itu.

Penjahat yang sudah memotong-motong tubuh pacarnya dan memasukkannya di koper lalu membuangnya. Tidak mendapatkan hukuman atas tindakannya. Hanya karena kejadiannya di Taiwan. Bukti-buktinya ada di Taiwan. Hongkong hanya tempat dia melarikan diri.

Yang lebih pelik lagi, dia tidak bisa diadili di Hongkong atas kejahatan yang dilakukan di Taiwan. Yang bikin sewot kalau dia mau diadili di Taiwan, harus mengajukan visa lagi. Karena yang bersangkutan sudah keluar dari Taiwan.

Di Hongkong. Negeri yang tidak mengenal ekstradisi. Disana penjahat yang membunuh sudah bebas. Kasihan orang tua Poon Hiu-Wing, pacarnya itu.

Si Bodoh Yang (terus) Belajar

Satu purnama yang lalu beberapa orang wanita dan pria muda datang ke warung saya. Mereka memesan makanan dan minuman, dan dilayani oleh Putri, karyawan saya. Tidak ada yang aneh. Biasa saja. Umum sekali mahasiswa makan ditempat saya. Terlebih posisi warung yang dekat dengan salah satu universitas negeri terbesar di provinsi ini.

Setelah menyelesaikan makannya dua orang dari mereka berjalan ke arah meja kasir untuk membayar. Kebetulan saat itu sayalah yang menjabat sebagai kasir.
Saya menyebutkan sejumlah angka, salah satu dari kedua orang itu menarik dompet dan membayar. Sembari mengucapkan terima kasih saya memasukkan uang kedalam laci.

Sejurus kemudian saya duduk, tapi kedua mahasiswa itu belum beranjak pergi. Agak sedikit ragu, rekan mahasiswa yang tadi membayar memberanikan diri berbicara.
“Pak, kami mahasiswa dari Poltekkes. Sedang ada tugas dari kampus, dan kami bermaksud mewawancarai bapak. Apakah bapak bersedia?.” Sopan sekali.
Saya memandang kearah dua orang itu. “Iya. Tapi mau tanya tentang apa ya?.”
“Kami mau tanya-tanya tentang sanitasi dan pengelolaan rumah makan bapak”.
Sempat ingin menolak tapi akhirnya saya menyanggupi.
Sesi wawancara dilakukan dimeja tempat mereka makan. Saya ditanyai tentang pengolahan dan penyajian makanan, pengelolaan limbah sampai training karyawan untuk standar kebersihan.
Dan ada pertanyaan menggelitik.
“Pak, kalau karyawan habis dari WC cuci tangan ga?.”
Hahahaa.
Mahasiswa yang bertindak sebagai pewawancara terkesan kaku. Semua pertanyaan dibacakan sesuai catatan mereka. Setelah saya menjawab langsung dituliskan jawabannya. Persis seperti murid yang sedang mengisi soal ujian.
Sesi wawancara berlangsung cepat sekira 10 menit mereka mohon undur diri.
….
Nah beberapa hari yang lalu datang lagi rombongan mahasiswa. 4 orang. Meski katanya mereka menunggu 3-4 orang temannya bergabung.
Tujuannya masih sama. Wawancara. Tugas kuliah.
Wah saya jadi narasumber spesialis tugas kuliah terus bagi mahasiswa nih, pikir saya.
Awalnya mereka kirim pesan WA dulu untuk menanyakan kesediaan menjadi narasumber. Berbeda dengan yang sebelumnya yang menggunakan modus makan dulu (susah nolaknya, mereka juga konsumen coy).
Mengaku dari Politeknik Putra Bangsa jurusan komputerisasi akuntansi. Mereka ingin wawancara mengenai topik wirausaha dan pengelolaaan karyawan.
Sama dengan sebelumnya saya sempat ingin menolak. Bukan sombong tapi saya pikir kurang layaklah usaha kecil model saya untuk diwawancarai.
Tapi yang menjadi menarik adalah bagaimana jurusan akuntansi mau tanya tentang wirausaha. Dan mengenai hal itu saya tanyakan kepada mereka saat wawancara.

Teng jam 9 pagi hari sabtu sesuai jadwal wawancara mereka datang terlambat. Tapi tak apalah toh bukan mau ketemu pejabat. Hehe.
Wawancara cukup cair. Pertanyaan dan jawaban saya bisa kemudian dieksplorasi oleh penanya. Saya melihat yang kali ini lebih punya bakat jurnalistik. Menggali informasi. Rasa ingin tahu yang tinggi.

Beberapa point pertanyaannya meliputi kapan mulai usaha, latar belakang pemilik, sumber modal usaha. Lalu dalam pengelolaannya bagaimana memanage karyawan, melakukan promosi, menghadapi persaingan.
Agak mengherankan saya menjawab cukup lancar. Hari itu saya banyak bicara. Ngalor ngidul meski tidak keluar topik.

Ada dua pertanyaan menarik dari mereka
Yang pertama, apa pesan untuk mahasiswa yang berniat wirausaha?.
“Siap mental, berani, tidak mudah menyerah dan selalu open minded”, ujar saya kalem.
Pertanyaan kedua sedikit agak keluar jalur tapi masih related dengan topik.
“Mengapa bapak memilih buka usaha dan mengapa sebagian besar orang Tionghoa sukses dalam bisnis?.”
Agak susah menjawabnya. Tetapi untuk pertanyaan mengapa pilih buka usaha, saya akan jawab karena ingin explore kemampuan diri, menerapkan ilmu yang didapat saat masih bekerja kedalam usaha sendiri dan yang paling penting lagi, INGIN KAYA. Simple. Hahaha.
Lalu yang kedua kenapa banyak orang Tionghoa yang sukses dalam bisnis. Nah menurut saya salah satu adalah karena ada faktor culture.
Culture atau budaya dibentuk dalam keluarga. Sejak masih kecil, anak orang tionghoa sudah melihat orang tuanya berdagang, jualan. Jadi secara mindset dan knowledge dasar bisnis sudah ada diotak mereka.
Jawabannya mungkin cukup memuaskan, buktinya mereka tidak bertanya lagi. Hehe.
….
Seingat saya ini adalah wawancara mahasiswa yang ketiga selama saya mengelola warung setelah pensiun sebagai profesional di perusahaan nasional. Kedepannya saya mendambakan jika yang wawancara itu wartawan media cetak atau elektronik. Pengen juga muka masuk media. Eh media cetak sudah pernah ya. Elektronik yang belum.

Mudah-mudahan. Tapi pertanyaannya apa yang unik atau kelebihan dari saya yang membuat layak untuk diwawancara?. Itu yang penting. Tapi who knowslah mungkin ada wartawan koplak yang nyasar, dan mabok cabe habis makan sambal level 100 yang mau mewawancara orang bodoh. Hahaha…

Ketika Tuan Tanah Menanam Padi

Terdengar membingungkan. Entahlah. Mungkin saya sedang menciptakan peribahasa baru.

Biasanya tuan tanah menyewakan lahan-lahannya kepada orang lain untuk dikerjakan. Misal dalam bidang properti. Si A punya tanah, si B sebagai developer.

Dan dalam kisah kuno sering diceritakan yang tuan tanah yang punya berpuluh-puluh hektar tanah menyewakan kepada penggarap-penggarap untuk misal bercocok tanam atau juga memelihara ternak.

Bagaimana jika ceritanya tuan tanahnya sendiri yang menggarap semua lahannya?. Tentu hasil dari pertanian atau hewan ternak yang diproduksi akan banyak dan harganya lebih murah. Misal sapi oleh peternak dihargai 15 juta perekor, jika kita langsung ke peternakannya mungkin bisa 13 juta. Mengapa?. Jawabannya karena lahannya tidak perlu sewa, sumber makanan ternaknya melimpah.

Nah cerita tentang tuan tanah diatas mungkin bisa menggambarkan kiprah Lion Air Grup yang masuk ke bisnis jasa pengiriman barang pada tahun 2013 melalui anak Lion Parcel.

Lion Air dikenal dengan maskapai dengan jumlah pesawat terbanyak di Indonesia yaitu 350 armada (data Oktober 2018). Dan dalam setiap pesawat, pihak maskapai tentu tidak hanya mengangkut orang. Berpuluh-puluh ton barang diantaranya ada produk cargo, barang-barang kiriman berbagai macam ekspedisi, mulai dari paket, surat, bahkan peti jenazah. Hiks

Yang kita ketahui para operator pengiriman barang tersebut yang biasa kita kenal dengan JNE, JNT, Tiki, SiCepat dan lain-lain sebagian besar menggunakan jasa angkutan dari pesawat-pesawar Lion Air. Artinya jasa pengiriman mereka akan head to head langsung dengan Lion Parcel yang merupakan “anak kandung” dari Lion Group.

Beberapa hari yang lalu saya mengirim paket berisi kue bulan (Moon Cake) untuk saudari saya di Jakarta. Dari seorang teman yang sering mengirim produksi oleh-olehnya ke Jakarta, saya mendapat info kalau ongkir melalui Lion Parcel jauh lebih murah. Dan benar saja setelah sampai di counter Lion Parcel di jalan Pahlawan, saya diberitahu biaya kirim per kg nya adalah Rp. 17.000 untuk paket reguler (sampai ke penerima 2-3 hari jam kerja). Bahkan jika paket diantar lebih pagi atau maksimal jam 10.00 WIB paket bisa ikut pesawat pagi dan bisa lebih cepat sampai ke penerima keesokan harinya. Wow. Itulah jika yang ngangkut barang yang punya armada tawa saya geli.

Mari kita bandingkan harga ongkir Pontianak-Jakarta untuk per kg nya :
JNE Reguler : Rp. 25.000
JNT : Rp. 21.000
Tiki : Rp. 24.000
Lion Parcel : Rp. 17.000

Jika dilihat Lion Parcel menawarkan biaya kirim termurah dibanding kompetitornya. Dengan tarif terdekat saja milik JNT, masih ada kembalian Rp. 4.000.😃

Melalui Lion Parcel, saya menggambarkan Lion Air Group seperti “tuan tanah yang menanam padi”. Mereka penguasa udara, mereka yang punya pesawat untuk mengangkut begitu banyak barang antar pulau, dari satu provinsi ke provinsi lain. Dari keunggulan itu, mereka bisa saja memainkan harga. Dari predikat sebagai maskapai dengan jumlah pesawat terbesar, mereka bisa saja menolak mengangkut barang-barang kirimannya kompetitor.

Itu jika mereka berniat untuk membesarkan anak perusahaannya sendiri. Membuatnya menjadi perusahaan pengiriman barang terbesar. Why not sebab mereka punya semua sumber daya yang dapat mendukung ke arah itu.

Tapi tentu tidak semudah itu setidaknya ada beberapa faktor yang akan menghambat si tuan tanah untuk memperluaskan sawahnya salah satunya adalah regulasi pemerintah yang melarang praktek monopoli (PP 57 tahun 2010) dan
juga pastinya pengawasan ketat dari KPPU.

Selain dari regulasi sejatinya berbisnis bisa menjadi nomor satu tidak melulu karena memberikan harga yang murah. Harga di bisnis jasa seringkali hanya menarik diawal. Banyak parameter lain yang dijadikan tolok ukur konsumen, diantaranya :

  1. Kualitas pelayanan dan ketepatan waktu pengiriman.
  2. Informasi detail lokasi atau status barang yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.
  3. Lokasi counter yang mudah dijangkau.
  4. Cakupan daerah pengiriman.
  5. Sebagai partner Marketplace dan bisnis online (infonya LP baru masuk Bukalapak)

Dengan begitu banyak tantangan sungguh terdengar tidak mudah bagi Lion Parcel untuk menjadi nomor satu?. Pasti. Akan butuh waktu dan effort yang besar untuk mengejar ketertinggalan khususnya dengan JNE sebagai perusahaan pengiriman terbesar yang katanya menerima lebih dari 1 juta pengiriman perharinya. Kalai ditanya ke saya, akan saya jawab bisa. Mungkin dengan 2 cara : bajak jajaran management JNE atauuuu akuisisi saja JNE sekalian. Hahaha…(maaf jawaban orang ga pakai pikir). Seperti strategi Grab vs Uber, atau yang baru-baru ini Ovo vs Dana.

Jadi menjadi tuan tanah tidak berarti kita bisa menjual beras lebih banyak dari mereka yang menggarap dengan menyewa ditempat kita untuk menanam padi juga. Bisa jadi bibit padi mereka lebih bagus, lebih bersih, lebih wangi. Bisa jadi pekerja mereka lebih terampil. Atau bisa jadi mereka dapat pembeli besar dikota. Bisa kirim 10 truk, 20 truk atau 100 truk kesana.

Sementara si tuan tanah menumpuk begitu banyak padi, tidak digiling. Mengapa? Karena kualitasnya ternyata kurang baik. Kurang laku dijual. Pembelinya?. Ya pasti terbatas.

Apakah selalu seperti itu kondisinya?. No.. Tidak ada kekekalan didunia ini. Tuan tanah bisa saja bangkit. Jika ia terus melakukan perbaikan dan juga aware terhadap perubahan. Maybe suatu saat si tuan tanah tidak hanya terkenal karena lahannya yang berhektar-hektar, tapi juga terkenal sebagai produsen beras terbesar yang punya pabrik penggilingan padi modern, punya armada pengangkut ke kota, punya pedagang-pedagang besar yan menjual berasnya dan yang lebih penting lagi punya konsumen loyal yang suka karena berasnya wangi, sehat, murah, mudah didapatkan. Dan yang cukup masak secanting untuk makan 1 keluarga seharian. Wah adakah beras seperti itu. “Itu mah bubur pak”, celetuk Putri, karyawan di tempat saya. Banyak tapi tidak kenyang. Hahahha..