Experience

Belanja Smartwatch via Gearbest.com

Beberapa hari yang lalu saya kedatangan sebuah smartwatch Android. Barang tersebut dikirim penjualnya dari China. Adapun smartwatch ini  saya beli karena penasaran dari review-review diinternet, yaitu sebuah alternatif smartwatch berbasis Android Wear.
Saya membelinya dari situs ecommerce yaitu Gearbest.com. Mungkin beberapa orang sudah pernah mendengar atau tahu situs tersebut. Tapi kalau yang belum tahu, Gearbest adalah salah satu situs yang menjual aneka macam gadget terutama brand dari China. Alternatif lainnya ada Banggood.com atau juga AliExpress.
Nama smartwatch yang saya beli ini adalah No. 1 D5. Alternatif saat itu adalah Finow X5, Kingwear 88 dan LEMFO LEM5. Merek apapula itu bro. Aneh sekali nama-namanya. Tapi opsi alternatif itu akhirnya di batalkan karena harga unitnya lebih dari $ 100.
No. 1 D5 watch
D5 mengusung prosesor Mediatek 6572 dengan RAM 512 MB dan penyimpanan internal 4 GB. Panel layar IPS dan baterai 450 mAh. D5 ini menggunakan sistem operasi berbasis Android 4.4.2 Kitkat. Berbeda dengan smartwatch lain yang menggunakan Android Wear, D5 ini menggunakan pure Android. Artinya pure Android adalah semua aplikasi Android yang umumnya diinstal di ponsel dapat diinstal disini (meski tidak semua bisa berjalan mulus). Fitur pada smartwatch ini ada sensor detak jantung, pedometer, install aplikasi via Play Store, membuka musik dan video, serta dapat menerima dan menjawab SMS atau panggilan telepon, karena adanya slot micro SIM.
Pertama saya beli karena jatuh cinta dengan penawaran di Gearbest dimana ada Flashsale sehingga harganya turun dari $84.33 menjadi $77.99. Meski ada beberapa review negatif untuk pembelian barang dari luar negeri, tapi akhirnya saya coba-coba beli.
User interface Gearbest ini mirip seperti Lazada, kita tinggal memilih produk yang kita beli, lalu kemudian tinggal check out dan melakukan pembayaran.
 
Pilihan pembayarannya hanya via Paypal. Jadi saya harus mendaftarkan dulu kartu kredit saya agar bisa melakukan pembayaran. Total dengan ongkos kirim $0.78 adalah $78.71, kalau dirupiahkan kurang lebih sekitar Rp. 1 juta.
Sebenarnya pilihan metode pengirimannya ada 3 yaitu Unregistred Air Mail, Registered Air Mail dan EMS (Express Mail Service). Tapi saya kemudian memilih yang Registered Air Mail.
Opsi pertama Unregistered Air Mail ditawarkan tanpa biaya alias gratis. Tapi orang bilang “ada harga ada rupa”, biasanya pilihan pengiriman ini memakan waktu yang “sangat lama” dan tidak ada metode tracking. Karena tanpa jejak, kita tidak tahu barang kiriman kita sedang berada dimana.
Berbeda dengan Unregistred Air Mail, pilihan Registered Air Mail menawarkan pengiriman dengan support tracking untuk memantau posisi barang kita. Biaya yang dikenakan sangat murah ($ 0.78). Pengiriman biasanya menggunakan PostNL (kantor pos Belanda). Saya juga bingung mengapa mereka menggunakan jasa pos itu. Lama pengirimannya berkisar 10 hari sampai 25 hari kerja.
Pilihan terakhir Expedited Shipping atau biasa disebut EMS adalah pilihan pengiriman yang lengkap dan cepat, biasanya menggunakan pengiriman macam Fedex dan DHL. Biaya kirimnya jauh lebih mahal berkisar 200 ribu-500 ribu (tergantung berat dan ukuran barang).
Lama pengiriman produk sampai ketempat saya menggunakan PostNL adalah 26 hari. Cukup lama ya. Pembelian produk saya lakukan tanggal 10 April dan baru tiba tanggal 06 Mei pagi. Selama masa kiriman, saya sungguh kepo untuk mengecek hasil tracking barang tersebut. Tapi list tracking baru muncul tanggal 15 April. Berarti ada 5 hari sampai baramg tersebut siap dikirim. Untuk mengetahui data tracking bisa menggunakan situs Trackingmore.com atau track24.com. Kedua situs itu menampilkan data yang cukup lengkap mengenai posisi barang kiriman kita.
Meski 26 hari lamanya terombang ambing dalam ketidak pastian (lebay…), akhirnya barang yang ditunggu sudah datang. Saat menjemput saya dibandara sekembalinya dari Semarang, istri menyampaikan kalau pagi hari ada paket kiriman yang diantar tukang pos. Yess.. Pengen buru-buru unboxing…
Pengen buat unboxing seperti channel Sobathape. Colek bang Irwan. Ini karena di Youtube belum ada channel lokal yang unboxing dan review smartwatch ini. Sayang karena ilmu belum cukup, niatnya diurungkan. Akhirnya diputuskan di tulis di blog saja. Setidaknya cukup untuk pamer. Dasar narsis.
Kiriman dari Gearbest sangat kurang menjanjikan. Saat membuka paket, langsung terlihat kemasan produk. Di sisi dalam kemasan ada bubble wrap tipis, selain itu tidak ada bungkusan lagi untuk melindungi produk dari benturan atau kerusakan.
Paket kiriman terlihat sudah dilakban, mungkin dibuka saat diperiksa di Bea Cukai bandara. Tapi secara keseluruhan tidak ada kerusakan pada kemasan ataupun produk smartwatchnya.
 
Ada beberapa teman yang bertanya apakah saya dikenai pajak impor pada pembelian ini?. Jawabnya tidak. Saya hanya dikenakan biaya pengantaran Rp. 5.000 dari tukang pos. Perlu diketahui bahwa paket yang dikenai pajak impor sesuai keputusan Menteri Keuangan Desember 2016 adalah paket dengan FOB (Free On Board) sebesar $ 100 ke atas. Jadinya kiriman saya tidak kena pajak. Yang lebih lucu dimanifest kiriman, pihak Gearbest menuliskan harganya adalah $ 20 dan isinya Smartband bukan Smartwatch. He2.
Berikut selintas gambar smartwatchnya :
 
Akhirnya cukuplah membeli No. 1 D5 sebagai pengobat rasa penasaran atas makin ngetrennya perangkat wearable. Bukan Android Wear macam Huawei Watch atau Samsung Gear, tapi smartwatch dengan merk antah berantah, No. 1 D5. Sebuah jam tangan pintar yang akan menemani hari-hari saya dan membuat hidup lebih mudah dengan segala “kepintarannya”.
Update : seorang teman meminta saya untuk order produk smartwatch lainnya.
Standar
Opinion

“Musuh dari Keabadian adalah Waktu”

Quote dari film Dr. Strange diatas mungkin ada benarnya. Jika tidak ada waktu yang terus bergerak kita tidak akan pernah menjadi tua, dan tidak akan pernah akan mati.

Salah satu film favorit saya adalah The Age Of Adaline. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang tidak pernah bisa tua karena mengalami suatu kejadian aneh yaitu disambar petir pada saat berkendara dengan mobilnya. Mobil sang wanita masuk jurang. Yang aneh ia tidak mengalami luka sedikitpun. Tapi arus listrik dari petir masuk kedalam tubuhnya dan membuat seluruh organ tubuhnya berhenti bertumbuh.
Jadilah fisiknya tetap tampak muda meski sudah berusia tua. Bahkan ia harus selalu hidup berpindah-pindah agar tidak ada yang mencurigainya.
Kisah yang dibalut dengan drama romantis ini sempat membuat penonton ikut larut dalam emosi sang pemeran utama. Awalnya fisik yang tidak menua itu sangat dinikmatinya sampai suatu saat orang-orang tercintanya termasuk anak perempuannya meninggal muncullah rasa tersiksa yang terus menerus muncul. Fisik awet muda yang sejak dulu diidam-idamkan oleh banyak manusia berubah menjadi kutukan bagi dirinya.
Untungnya pada akhir film sebuah kejadian mengembalikan ia menjadi seorang manusia fana kembali yang ditandain dengan munculnya selembar uban dirambutnya.

Jika kita bertanya apakah ada manusia yang ingin mati?. Pasti jawabnya tidak. Tapi kalau kita kematian itu pasti adanya. Waktunyalah yang menjadi rahasia Tuhan Pencipta. Dan bila itu rahasia biar ia tetap menjadi rahasia. Tugas kita adalah memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan ini dengan sebaik-baiknya.
Dengan apa?. Tentu dengan melakukan sesuatu yang baik, lebih lagi untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Our live is our legacy. Hidup kita ada sebagaimana orang memandang diri kita. Hidup kita adalah apa yang ingin orang kenang akan kita. Semakin banyak manfaat yang kita tebar didunia, tentu semakin banyak orang yang mengenang kita.
Tidak perlu warisan uang, cukup dengan perbuatan baik yang tulus kita lakukan kepada orang lain.

Just sharing dimalam Sabtu.

Standar
Opinion

Rat Race Itu Nyata

Dulu saat berkarir di perusahaan pertama saya, saya melihat dengan mudahnya teman-teman saya mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang cukup mahal seperti handphone keluaran terbaru pada saat habis menerima gaji atau bonus.
Sayapun sempat terjebak dengan gaya hidup hedonis seperti itu. Sebagai profesional muda rasanya sangat pantas untuk menghadiahkan diri sendiri sesuatu yang kita inginkan sebagai buah dari hasil kerja keras kita. Itu mungkin pemikiran saya saat itu.
Tapi tidak banyak yang tahu jika gaya hidup seperti itu dibayar oleh jam kerja 7.30 pagi sampai 7.30 malam. Kami sesama karyawan harus bekerja penuh dengan dedikasi baik tenaga dan waktu bagi yang membayar kami.
Sampai satu saat saya tersadar bahwa gaya hidup seperti ini semu. Pekerjaan yang setiap hari saya lakukan dari Senin-Sabtu tidak ubahnya seperti jebakan tikus yang sebenarnya tidak membawa saya kemana-mana. Perusahaan mengikat kami dengan penghasilan yang lebih, tapi kami kehilangan daya imaginasi dan sisi kreatif kami. Kami hanya diarahkan bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan, jika melenceng maka akan ada sanksi atau punishment. Kami seperti kuda yang hanya melihat lurus kedepan, kami benar-benar kehilangan insting untuk melihat peluang diluar tembok tinggi ketakutan kami, ketakutan akan kehilangan penghasilan dan kehilangan status sosial.
Mungkin itu yang dialami oleh banyak pekerja di negara ini. 6P Pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan.
Jebakan tikus itu benar ada, lihat berapa banyak orang terutama dikota-kota besar yang bangun subuh untuk berangkat bekerja dan pulang kerumah saat malam tiba. Kehilangan waktu berharga mereka bersama keluarga dan teman. Itu dilakukan setiap hari, setiap bulan sepanjang tahun.
Oleh perusahaan mereka didoktrin untuk memberikan lebih dari 12 jam waktu mereka untuk memajukan perusahaan, menutup rapat-rapat pikiran untuk mendapatkan penghasilan diluar sana yang mungkin akan membebaskan mereka dari jerat tikus berkepanjangan.
Seperti jerat tikus, orang tidak menyadari waktu berjalan begitu cepat tapi sebenarnya posisinya mereka tidak kemana-mana. Mereka kehilangam waktu, kreatifitas, ide-ide dan kehendak mereka sebagai manusia bebas.
Mungkin ini bisa menjadi perenungan bagi kita semua agar selalu membuka pikiran dan merubah diri menjadi semakin baik dari hari kehari. Jangan sampai ketika kita menyadari waktu yang sudah terbuang hanya menerbitkan penyesalan.

Standar
Opinion

Isi Lebih Penting dari Penampilan Luar

Saat masih berusia sekitar 8 tahun, saya suka sekali dengan buah jeruk. Biasanya ketika papa saya pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan toko kami, ia sering membeli paling kurang 3 kg jeruk tebas. Jeruknya biasanya berwarna hijau agak kekuningan dan berukuran lebih kecil dari bola kasti.
Saya sering bertanya dalam hati mengapa jeruk-jeruk yang dibawa pulang tersebut rasanya manis dan isi buahnya sangat baik. Sampai suatu ketika saat ikut papa membeli buah jeruk, saya menyadari bahwa jeruk yang dijual tidak sama ukurannya, ada yang kecil umumnya dijual lebih murah, ada juga ukurannya lebih besar. Banyak sekali penjual yang menawarkan bermacam-macam jenis buah jeruk.
Kami pun berjalan melewati penjual-penjual buah jeruk dipasar itu. Sampai pada satu penjual, saya berhenti mengamati jeruk yang terpajang didalam beberapa keranjang besar. Bentuk buahnya besar dan mulus. Sayapun menarik tangan papa agar membeli jeruk disitu saja.
“Pa, kita beli jeruk yang ini ya. Buahnya besar-besar, cece (kakak saya) pasti suka” kata saya sambil menunjuk ketumpukan buah didepan saya.
Papa tersenyum sambil berkata, “Nak ayo kita jalan lagi, disebelah sana ada penjual tempat papa biasa membeli. Jeruknya lebih bagus.”.
Saya masih tidak beranjak dari tempat saya berdiri, tapi papa saya menarik tangan saya agar mengikuti dia.
Sampai ditempat yang papa saya katakan, saya melihat jeruk yang dijual lebih kecil dan bentuknya banyak yang sepertinya kotor, yang maksudnya kulitnya tidak mulus, dan penuh berkas coklat sebesar jari manis orang dewasa
“Kita beli yang ini aja ya nak?” kata papa sambil memilih satu persatu buah jeruk sambil memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.
Setelah selesai membayar kamipun pulang. Saat diperjalanam penuh dengan penasaran saya bertanya kepada papa mengapa dia tidak membeli pada penjual yang pertama padahal buah jeruknya lebih besar dan mulus.
Sambil tersenyum papa berkata, “Nak, buah jeruk yang kamu lihat pada penjual pertama itu memang terlihat bagus, bentuknya juga besar-besar. Tapi kamu mungkin tidak menyadari kalau jeruk jenis itu umumnya kulitnya lebih tebal, dan buah bagian dalamnya akan tampak lebih mengkerut yang artinya air yamg terkandung didalam lebih sedikit atau berkurang. Jadi jika kamu beli jeruk tadi, kamu sudah rugi 2 kali.”
“Oh gitu saya mengerti pa. Hanya saya bingung mengapa papa beli jeruk yang kulitnya jelek tadi. Kotor banget pa” sambung saya masih penasaran.
“Itu bukan kotor sayang. Justru jeruk dengan kulit seperti itu umumnya punya kulit yang tidak tebal. Tapi meskipun kulitnya tidak tebal, ia tahan terhadap segala macam gangguan atau pengaruh dari luar, misalnya seperti sinar matahari, hujan maupun hama. Kulit dengan bercak coklat itu adalah bukti kekuatan kulit jeruk tersebut dalam melindungi isi atau dagung buah didalamnya.”

Sambil merenungkan pengalaman masa kecil saya itu, saya mendapat satu pencerahan bahwa sesuatu yang terlihat bagus (seperti jeruk yang dijual penjual pertama) tidaklah selalu baik isinya. Sebaliknya yang terlihat kurang menarik, juga belum tentu isinya tidak baik.

Ada peribahasa yang mengatakan “Don’t judge a book with it’s cover”.

Seringkali kita menilai seseorang dari kulit luarnya saja, padahal seringkali pula ketika kita mau mengenal dan mencari tahu lebih dalam banyak sisi positif dari orang tersebut.
Dalam hidup ini saya selalu belajar kepada siapa saja tanpa mengenal dari tingkatan mana orang tersebut berasal. Saya belajar dari atasan saya, tetapi disaat yang berbeda saya juga belajar dari orang-orang yang bekerja dibawah saya. Bahkan bukan dari itu saja saya juga belajar dari orang yang saya temui dijalan, pemilik bengkel tempat saya memperbaiki ban bocor, dan lebih banyak orang lagi.

Standar
Tak Berkategori

Ada Cerita di SMA

Hari ini ditengah kesibukan pekerjaan, bekerja didepan laptop, fokus saya teralihkan oleh salah satu postingan di Facebook. Itu postingan teman saya, teman SMA.

Sejurus kemudian saya membuka profilenya dan tiba-tiba saya dihantam suatu kerinduan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Sebuah perasaan yang membuat saya mengingat masa-masa indah ketika masih bersama mereka, teman-teman di masa SMA. Benar kutipan yang mengatakan ketika suatu masa tidak bisa kita ulang, yang tersisa hanya kenangan.

Masa SMA saya cukup spesial. Bersekolah di SMA Negeri I Ngabang (sekarang menjadi ibukota Kab. Landak) mempunyai kesan tersendiri saat itu. Kami adalah siswa SMA di akhir millenium ke 2. Sebagian mungkin pernah tahu hebohnya pergantian millenium. Suatu masa yang bukan saja menunjukkan semakin tuanya bumi ini, tapi juga masa yang menunjukkan pergantian masa remaja kami menjadi manusia-manusia yang lebih dewasa.

Sekolah kami itu sampai saat ini masih kokoh berdiri dengan kompleks makam Cina yang mengelilinginya. Wah kok makam!!. Sampai saat ini juga saya tidak pernah tahu sejarah mengapa ada banyak makam disekitar sekolah kami. Hanya seperti yang kita tahu, makam Cina tidaklah terlalu seram, karena umumnya berbentuk besar seperti bangunan mini. Selain itu juga karena di area makam ada jalan umum. Jadi kalau siang hari ada saja orang yang berlalu lalang.

Yang paling saya ingat dan juga cerita lucu yang pernah saya alami ketika SMA adalah sesuatu yang sungguh konyol dan sampai saat ini saya masih menyesalinya. Ceritanya suatu hari di adakan razia di kelas kami, saat itu saya masih kelas 1. Karena saat itu kabarnya mulai beredar obat-obat terlarang dan juga karena adanya informasi jual beli kartu bergambar porno. Waduh…. Tak disangka pada saat jam pelajaran, tiba-tiba wakil kepala sekolah datang bersama seorang guru, berbasa-basi sebentar merekapun langsung menggeledah tas sekolah siswa.

Hasilnya didapatlah beberapa barang yang tidak diperbolehkan untuk dibawa oleh siswa kesekolah, diantara ya tadi itu kartu/foto porno. Untuk kartu porno ini mungkin tidak perlu ditanyakan mengapa, maklum anak SMA kelas 1 yang belum lama puber, penuh dengan keingintahuan dan imaginasi. Setidaknya mungkin bagi sebagian orang, termasuk saya. Hehehe.

Celakanya saat itu saya juga termasuk salah satu siswa yang kena razia. Tapi jangan berburuk sangka dulu, saya bukan siswa mesum yang membawa-bawa kartu porno ke sekolah. Yang diketemukan di tas saya adalah buku tentang mimpi.

Pasti ada yang bertanya mengapa buku mimpi menjadi barang yang harus di sita pada saat itu. Padahal buku kan jendela dunia dan ia tidak mengandung konten pornografi apalagi SARA. Sarah Azhari kali. Jadi mengapa sampai disita?. Balik lagi ke kondisi saat itu, setelah zaman SDSB berlalu dan dihentikan oleh pemerintah, program tersebut menang sudah berhenti, tetapi kebiasaan masyarakat yang dulu terlibat dalam pembelian kupon perubah nasib itu masih tetap tidak bisa diubah secara drastis bahkan sampai saat ini. Masih ditemukan bahkan di zaman internet ini, togel sebagai reinkarnasi baru dari SDSB.

Dulu orang yang memasang nomor, biasanya percaya hal-hal klenik, baik dukun maupun juga mimpi. Jadi tidak heran jika ada masyarakat yang percaya bahwa perwujudan/bentuk angka yang muncul didalam mimpi adalah suatu keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan. Misalnya mimpi plat motor si Beni, KB 1143 ME, dipasangnyalah 1143. Apakah ada yang tepat?. Ada, tetapi yang salah angka lebih banyak lagi.

Jadi karena buku tersebut berhubungan dengan mimpi, dianggapnyalah oleh Wakasek itu bahwa saya suka memasang nomor. Padahal harusnya ia sadar bahwa di mata hukum, praduga tidak bersalah selalu dikedepankan. Ah ngomong apa pulak kau lae.

Padahal saya sudah berargumen bahwa buku itu bukan buku mimpi seperti yang dianggap oleh Wakasek. Buku itu berisi buku tentang tafsir mimpi, kepunyaan Paman saya, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pasang nomor. Tapi ia si bapak tetap mengacuhkan saya.

Sampai saat ini buku itu tidak pernah dikembalikan kepada saya, bahkan tidak juga pernah saya temukan di perpustakaan sekolah apalagi tempat sampah. Sampai saya bingung dikemanakan buku saya itu.

Saking kesalnya saya, pulang sekolah dipenuhi angkara murka dan amarah yang memuncak, saya mengucapkan kata-kata makian dan sumpah didalam hati, hanya didalam hati. Saya secara sadar berdoa agar sang Wakasek, kakinya pincang dua-duanya, kanan dan kiri. Memang Wakasek ini kaki sebelah kirinya agar pincang, saya tidak tahu karena apa, apakah terjatuh atau bawaaan lahir.

Tapi doa anak SMA yang baru puber, dan jarang beribadah mana mungkin dikabulkan oleh Tuhan. Apalagi doanya sifatnya negatif.

Beberapa hari berlalu, sang Wakasek masih tetap berjalan dengan kaki kiri pincangnya, bukan keduanya pincang. Justru orang yang mendoakannya pincanglah, akhirnya malah kena batunya, pincang kaki kanannya. Ini mungkin suatu karma mendoakan yang tidak baik pada orang tua, ujung-ujungnya malah menjadi bumerang bagi diri sendiri. Tidak tahu mengapa sore setelah pulang sekolah saya berjalan dengan kaki telanjang tanpa menggunakan sandal. Dibelakang rumah Nenek saya ada kandang ayam yang baru diperbaiki. Tanpa sadar saya berjalan sampai suatu ketika saya merasakan sakit ditelapak kaki kanan saya. Saya berteriak kencang karena sakit yang teramat sangat. Segera saya terduduk di rumput dan melihat telapak kaki saya. Sial, sebatang paku berkarat menancap disana, lengkap dengan potongan kayu yang masih melekat. Lebih ekstrim lagi ada karat pada paku itu.

Jadilah hampir 2 minggu saya harus berjalan dengan kaki pincang kesekolah, tidak menggunakan sepatu, hanya sandal. Sebuah kejadian yang sampai saat ini saya sesali, akibat buruk dari doa yang dipenuhi dendam dan angkara murka.

Sampai saat ini itu adalah salah satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Tentu saja selain kebersamaan yang tercipta bersama teman-teman SMA saya.

 

 

 

 

Standar
Experience

Tampil di Harian Pontianak Post

Beberapa hari kemarin, tepatnya tanggal 8 April 2016 menjadi salah satu pengalaman terheboh bagi saya. Saya tampil di harian Pontianak Post yaitu di halaman depan rubrik Pro Bisnis. Sebagai informasi Pro Bisnis adalah rubrik yang mengulas aneka usaha/bisnis yang ada di Kalimantan Barat.

Tentu suatu kebanggaan tersendiri bagi saya dan juga adik saya Susina. Anak saya yang paling kecil (emang cuma masih satu doang, hehehe) sampai nunjuk-nunjuk,”Papa papa koraann..”.

Tentu teman-teman bertanya sepenting apakah sampai saya atau punya usaha apakah saya sampai wartawan Pontianak Post mau meliput dan mewawancarai. Kata kuncinya ada pada postingan saya sebelumnya di blog ini.

Kata kuncinya adalah oleh-olehpontianak.com. Ini adalah situs yang saya buat sebagai pelengkap jualan adik saya, Susina. Jadi di situs ini, kami menjual berbagai macam oleh-oleh dari Pontianak secara online sehingga orang dimana saja dapat membeli makanan khas Pontianak tanpa harus datang ke kota Khatulistiwa ini. Adapun situs ini sudah memasuki versi ke dua, versi pertama adalah yang saya screenshot di postingan blog ini sebelumnya.

Pihak Pontianak Post tertarik dengan ide kami menjual oleh-oleh Pontianak secara online. Mereka penasaran dengan lika liku bisnis ini, karena sangat jarang yang secara serius untuk menampilkan produk khas Pontianak yang umumnya berasal dari UKM ini ke dalam bentuk situs. Ini juga bisa memotivasi anak muda Pontianak dan juga UKM-UKM disini untuk semakin mengembangkan produk khas Pontianak sehingga dapat dipasarkan ke pelancong atau kalangan masyarakat lain diseluruh Indonesia. Yang harapannya juga membantu usaha Pemerintah untuk  mengembangkan usaha kreatif di kota Pontianak.

Pertama saya dikabari oleh adik saya. Informasi lagi, adik saya, Susina adalah orang menjalankan bisnis ini, nama dan no kontak situs semua menggunakan namanya. Sedangkan saya hanya yang kebagian tukang buat situs dan sumbang ide untuk pengembangan bisnisnya. Hehehe.

Adik saya janji dengan wartawannya hari Rabu, 6 April 2016 dan wawancara dilakukan sekitar pukul 13.30. Wartawan ini meminta kami untuk menjelaskan asal mula terpikirnya ide untuk menjual produk oleh-oleh Pontianak secara online. Untuk bagian ini jatah saya, karena memang saya yang punya ide dan yang pertama merintis bisnis ini. Lalu kemudian pertanyaan berpindah ke tantangan-tantangan usaha, jangkauan pengiriman, pengalaman suka dan duka, nah ini adik saya yang angkat bicara.

Wawancaranya tidak begitu lama, mungkin sekitar 45 menit. Setelah selesai kami diminta foto berdua, termasuk foto produk yang sudah ditata diatas meja.

Finish. Kami diinformasikan wawancara tadi akan diterbitkan sekitar hari Kamis atau Jumat. Setelah interview itu, hati berdebar membayangkan penampilan di atas kertas koran nantinya. Wuihh..

12938358_10208641640108718_8792682737329282442_n

 

Besoknya hari Kamis, wajah kami belum muncul. Barulah di hari Jumat, adik saya telepon pagi-pagi menginformasikan kalau hasil interview sudah terbit. Judulnya “Tidak Perlu Modal Besar : Memasarkan Oleh-oleh Pontianak secara Online”. Cukup menarik padahal saya berharap ada tambahan Kakak beradik. Tapi ya sudahlah yang penting nongol dikoran. Sungguh merasa seperti jadi orang penting saja.

 

 

 

 

Terima kasih saya ucapkan kepada Mas Miftahul Khair dan team dari Pontianak Post atas kunjungan dan liputanya. Semoga anda juga semakin sukses dengan liputan-liputan bisnis selanjutnya.

 

 

Standar