Komplain Konglomerat

Redaksi sore Trans 7 sore ini menyoroti tentang semakin melebarnya jurang miskin dan kaya. Ini dibuktikan dengan laporan majalah Forbes yang menetapkan Aburizal Bakrie sebagai orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan 5,9 milyar US Dolar. Menyusul Sukanto Tanoto Bos Garuda Mas. Dislide lain diberitakan tentang jumlah penduduk miskin Indonesia yang berjumlah 37 juta orang.
Menurut saya ada yang salah dalam pemberitaan tersebut. Dikatakan bahwa orang-orang kaya itu tidak perduli terhadap rakyat miskin, tetapi malah menambah kekayaan dengan semakin menampilkan hidup yang mewah. Untuk kalimat terakhir saya setuju bahwa kita tidak boleh menampilkan hidup mewah ditengah masyarakat kita yang masih serba kekurangan. Bukan bermaksud membela para orang kaya tersebut, tetapi orang-orang kaya tersebut bisa seperti ini karena mereka bekerja keras untuk mewujudkan kekayaan mereka tersebut, entah caranya positif atau negatif seperti yang terjadi pada zaman orde baru dulu. Beberapa kisah tentang konglomerat tersebut bahkan sangat menyedihkan dan mengharukan. Ambil contoh Sukanto Tanoto yang dari kecil melakukan banyak pekerjaan-pekerjaan kasar bahkan memalukan yang mungkin banyak orang tidak mau melakukannya. Kemudian Eka Cipta Wijaya, bos Sinar Mas Group memulai usahanya dengan menjual kopi didepan markas Belanda.
A’a Gym seorang ustadz yang terkenal pernah mengatakan bahwa kekayaan itu bukanlah dosa bahkan kita disarankan untuk kaya. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa ketika kita kaya kita harus menyadari bahwa diharta kita tersebut ada juga hak orang lain yang dititipkan kepada kita agar dibagikan juga kepada mereka.
Saya melihat untuk konglomerat ini entah dia beragama atau tidak, menyadari arti kekayaan atau tidak, tetapi mereka sebenarnya juga membantu hajat hidup orang banyak. Caranya bagaimana, ya melalui perusahaan mereka punyai. Mereka merekrut orang-orang sekitar menjadi karyawan, sehingga mereka diangkat dari derajat mereka sebagai pengangguran. Diberi gaji dan penghasilan agar bisa menafkahi diri sendiri dan keluarganya. Kalau tidak ada perusahaan-perusahaan tersebut bagaiman dengan nasib mereka. Sering kita dengar tentang demo karyawan yang menolak pabrik mereka ditutup baik itu karena bangkrut atau karna masalah lainnya. Mereka pasti berpikir mesti bekerja apalagi ditengah lapangan kerja yang terbatas dengan kompetensi kerja yang rendah direpublik ini.
Kembali pada orang-orang kaya yang tidak care terhadap orang miskin. Kalau kita perhatikan banyak perusahaan telah menerap program CSR (Coraporate Social Responsibility) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) dimana program ini dibuat untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dengan perusahaan dibangun tidak hanya memberi keuntungan bagi perusahaan semata tetapi juga bagi masy arakat.Wujudnya bisa berupa pengobatan gratis, bazar harga murah, beasiswa bagi anak kurang mampu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s