Simalakama Kenaikan BBM

Tanggal 23 Mei 2008 malam saat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), banyak orang tercengang dengan keputusan Pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat dan hanya menambah kesengsaraan rakyat miskin Indonesia yang katanya berjumlah 30 juta jiwa. Tetapi alih-alih membatalkan kenaikan harga BBM, pemerintah malah mengumumkan berita tersebut lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan oleh beberapa pelaku ekonomi yaitu tanggal 1 Juni 2008. Tetapi yang lebih parahnya pemerintah seolah-olah belum siap dalam mengantisipasi imbas kenaikan BBM ini. Program Bantuan Langsung Tunai +, yang digadang-gadangkan bisa membantu masyarakat dalam mengatasi beban berat akibat himpitan ekonomi ternyata pelaksanaannya mengalami keterlambatan dalam penyalurannya. Bahkan dalam pendataan rakyat miskin masih ditemui banyak masyarakat yang belum terdaftar walaupun ia masuk kategori miskin dan anehnya ditemukan orang yang mampu mempunyai kartu BLT, lebih ngawurnya lagi orang yang telah meninggal lama masih juga memiliki kartu BLT atas namannya.

Meski bukan tokoh politik atau ekonomi, tapi saya dapat membayangkan akibat buruk atau dampak buruk dari pemberlakuan kenaikan ini. Contoh yang paling nyata adalah kenaikan bahan pokok seiring dengan kenaikan jasa angkutan. Hal ini karena para pelaku jasa angkutan akan mengaitkan biaya angkut dengan kenaikan harga bahan bakar. Efek terbesarnya inflasi akan naik drastis.

Kenaikan inflasi juga akan diikuti tuntutan kenaikan upah buruh yang harus juga menyesuaikan dengan kenaikan harga kebutuhan hidup, akibatnya produsen akan menaikkan harga produk mereka agar dapat membayar kompensasi kenaikan gaji karyawan tersebut. Dan bila perusahaan tidak mampu bertahan, maka perusahaan tersebut akan kolaps atau bangkrut karena biaya produksi tidak sesuai dengan margin yang didapatkan. Alhasil jumlah karyawan yang akan di PHK akan semakin banyak yang ujung-ujungnya menambah jumlah pengangguran diusia produktif. . Pada kenaikan BBM pertama ditahun 2005 banyak diberitakan perusahaan-perusahaan yang bangkrut. Saat itu selain bangkrut, banyak investor asing yang juga memindahkan pabrik mereka yang ada di Indonesia keluar negeri, diantaranya pabrik elektronik asal jepang.

Dengan iklim ekonomi yang tidak menguntungkan selain masalah lama yang masih belum terselesaikan seperti birokrasi yang bertele-tele, kepastian hukum yang tidak ada pastilah akan timbul keengganan investor untuk masuk ke Indonesia.

Tetapi dibalik itu semua pastilah ada pertimbangan-pertimbangan matang yang dilakukan pemerintah dalam membuat keputusan menaikkan harga BBM. Salah satu nya adalah kenaikan harga minyak dunia yang mencapai lebih dari $100, bahkan siang ini harga diasia sudah berkisar $133. Dengan subsidi pemerintah yang mencapai ratusan triliun untuk subsidi BBM bisa dipastikan APBN kita akan kolaps, apalagi belum terlihat kecendrungan harga minyak dunia akan turun.

Sebenarnya sebagai salah satu produsen minyak terbesar didunia, Indonesia sanggup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional. Cadangan minyak yang sangat besar itulah yang sampai saat ini belum dimaksimalkan untuk berproduksi. Lahan minyak Cepu yang dicanangkan untuk segera beroperasi sampai sekarang belum juga berjalan. Bermacam alasan dikemukakan oleh pejabat terkait, dari regulasi sampai teknologi yang belum modern untuk memproduksi isi perut bumi tersebut.

Pemerintah juga sebenarnya sudah mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi kenaikan minyak dunia ini, diantaranya program pemerintah dalam konversi minyak kegas, penggunaan energi alternatif batubara untuk pembangkit tenaga listrik dan lain sebagainya. Hanya yang menjadi masalah adalah tidak siapnya pemerintah dalam pelaksanaannya, lihat saja gas yang sampai saat ini hilang dari pasaran.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa Presiden ingkar janji karena pernah berkata tidak akan menaikkan harga BBM. Ini disinyalir hanya sebagai propaganda politik semata. Tetapi saya melihat bahwa Presiden juga pasti mempunyai pertimbangan untuk menyelamatkan negara ini dibanding karir politiknya sendiri. Mungkin sebagai negarawan yang cinta kekuasaan maka pastilah Presiden tidak akan menaikkan harga BBM yang disebut bukan keputusan yang populer. Apalagi Pemilu 2009 hanya tersisa beberapa bulan lagi. Jika Presiden SBY mau menyelamatkan karirnya maka biarkan saja BBM tidak dinaikkan sampai Pemilu selesai dan terpilih Presiden baru yang akan memikul tanggung jawab besar mengatasi kenaikan harga BBM ini dan namanya akan dikenang sepanjang masa sebagai Presiden yang menepati janji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s