Experience

Welcome To Dental Clinic

Judul tulisan ini agak nyeleneh. Memang sih inspirasinya dari judul lagunya Steven & Coconut Tress dengan titel Welcome to my paradise dan group band alternatif My Chemical Romance dengan Welcome to black parade nya.  Sebenar saya mau cerita pengalaman aja sih disini.

Kemarin saya dan teman pergi ke dokter gigi untuk periksa gigi. Saya lihat gigi saya sudah harus diservis karena sudah bolong sana sini (emangnya ban mobil apa). Agak aneh sih kalau lihat gigi saya, meski rutin menjaga kesehatan gigi, mulai dari sikat gigi teratur dan menjaga tetap membersihkan gigi setelah makan yang manis-manis tetap saja rusak.

Kalau tidak salah sih perawatan terakhir saat saya masih di Sampit Kalteng satu tahun yang lalu. Jadi dalam jangka waktu itu ternyata kuman dan plak gigi sudah menggerogoti gigi saya. Meski mampu mengunyah yang keras-keras dan bentuknya besar ternyata gigi mudah kalah dengan kuman yang bentuknya kecil-kecil. Lucu ya.

Sebenarnya sudah lama janji sama teman saya untuk pergi, cuma karena kesibukan jadi tidak pernah kesampaian, jadi pas hari jumat kemarin kami bulatkan tekad untuk datang kedokter gigi (kayak mau perang aja). Selain itu juga memang ada ketakutan pribadi jika gigi tersebut tidak segera di perbaiki maka efek terburuknya giginya rusak dan dicabut, selanjutnya sayapun ompong atau mungkin menggunakan gigi palsu. Alamak jangan sampai. Agak malu juga sih sama dokter, meski dia tidak ketawa pastilah dalam hati dia melecehkan kondisi gigi saya atau mungkin dia akan bilang “Nah lo, akhirnya cari gue juga kan”. Setelah diperiksa maka gigi yang rusak itu diputuskan untuk ditambal. Mulailah gigi saya dibor dengan bor kecil yang bunyinya berisik. Gigi depan yang rusak sih tidak terlalu nyeri dan ngilu saat dibor, mungkin juga karena sudah rusak dan syarafnya sudah putus. Tapi pas dia membor gigi taring saya yang sebelah kiri bukan main ngilunya, seperti ditusuk jarum rasanya.
Setelah satu jam perawatanpun selesai, besoknya dokternya suruh kita datang lagi untuk lanjutan perawatan. Sehabis membayar ongkos kamipun pulang.

Iklan
Standar
Opinion

Decide To Read and Get Knowledge From Book

Kemarin saat jalan-jalan ke Balikpapan, saya sempatkan jalan ke salah satu plaza tersebar di kota itu. Tujuan utamanya sih mau makan, langkah kaki membawa ke lokasi food court. Liat-liat sebentar menu yang ada, akhirnya pilihan jatuh ke makanan cepat saji, karena berpikir kalau menunggu kelamaan. Soalnya abis dari situ mau ke gramedia liat buku. Memang kalau disaat-saat istirahat atau makan malam food court ini begitu ramai. Tidak pernah saya melihat food court yang selalu penuh dengan pengunjung seperti itu. Menurut beberapa teman, ini dikarenakan tipe masyarakatnya kota Balikpapan yang kebanyakan adalah pekerja dan pendatang, yang pasti menginginkan hal-hal yang simple dan cepat termasuk dalam urusan makan. Selain itu tingkat pendapatan yang lumayan tinggi dari masyarakat daerah lain juga mendukung dalam hal ini.

Dua potong ayam goreng cukup mengenyangkan perut yang dari siang belum diisi. Santai sejenak untuk membiarkan makanan turun ke usus. Tidak betah berlama-lama, saya pun melangkah lagi dengan tujuan toko buku gramedia. Sama dengan food court yang tadi saya datangi, tempat inipun ramai dengan pengunjung. Tidak berapa lama, sayapun terlarut bersama pengunjung-pengunjung lain menikmati suguhan bacaan di tempat itu. Tidak terasa setengah jam sudah terlewatkan, saya pun meraih satu buku yang saya liat dan pastikan isinya bagus (maklum masih dipacking plastik jadi gak diboleh dibuka sebelum membayar).

Judul bukunya “Your Great Success Start From Now”, penulisnya bernama Thomas Sugiarto. Saya sebenarnya tidak tertarik dengan nama pengarangnya, karena selain tidak familiar juga terkesan agak narsis memajang foto dirinya besar-besar di main page buku tsb. Sebenarnya ada beberapa kriteria pertimbangan saya dalam membeli buku.

Yang pertama adalah pengarangnya, apakah ia pengarang buku yang terkenal atau tidak. Kalau sedikit tidak familiar, walaupun tema bukunya menarik, saya jarang membeli. Yang kedua adalah penerbitnya, menurut saya buku-buku yang akan dipublikasikan oleh penerbit pastilah buku yang bagus karena sudah mengalami seleksi yang ketat. Faktor ketiga adalah komentar-komentar dari tokoh-tokoh penting/terkenal akan buku tersebut. Misalnya buku yang saya beli diatas membuat saya tertarik karena adanya komentar dari Pak Ci (Ciputra). Siapapun pasti mengenal beliau dan pastilah beliau tidak akan sembarangan memberikan komentar jika suatu bacaan tidak bagus menurut dia.

Faktor berikutnya adalah apakah buku tersebut authornya orang lokal atau terjemahan dari buku luar negeri. Saya cenderung menyukai buku karangan penulis lokal dibanding dari lua. Menurut saya buku hasil terjemahan banyak mengandung kejanggalan-kejanggalan arti dengan bahasa indonesia, saya tidak mengatakan sang penerjemah tidak mempunyai skill yang baik, tetapi saya cenderung menilai gaya bahasa sang penulis asli yang mungkin juga dipengaruhi budaya masing-masing negara yang menjadi faktor kunci terjadinya hal tersebut. Disatu pihak penerjemah ingin agar pembaca mengerti apa yang ingin disampaikah oleh sang penulis kepada khalayak, tetapi tetap tidak meninggalkan kaidah terjemahan baku dari tulisan itu sendiri dalam bahasa indonesia. Hal inilah yang membuat gaya bahasanya menjadi tidak alami dan kaku. Sebenarnya sih ingin langsung baca buku aslinya, tapi selain mahal, kemampuan english yang pas-pasan menjadi penghalang utama. Heheh

Lanjut lagi untuk faktor pendukung saya membeli suatu buku yaitu tebal tipisnya buku tersebut. Agak terdengar aneh memang. Seperti diketahui bahwa kita tidak akan mampu membaca buku tebal dengan sekali baca. Selain karena keterbatasan fisik dan pikiran, membaca terlalu cepat membuat orang tidak mengerti isi yang mau disampaikan oleh sebuah buku. Buku yang tebal akan membuat kita membaca buku itu sambung menyambung yang frekuensinya sangat panjang. Inilah akar masalahnya, dengan cara membaca seperti itu maka kita akan melupakan pokok yang sudah dibaca diawal. Berbanding terbalik dengan buku yang tipis, buku yang tipis membuat topik atau isi yang disampaikan menjadi tidak jelas dan terperinci, sehingga pembaca harus berimaginasi dan berimprovisasi menangkap arti yang disampaikan. Saya terus terang mempunyai kriteria khusus untuk tebal tipisnya buku ini yaitu min 100 hal dan maks 300 hal. Itulah ukuran yang ideal menurut saya.

Faktor terakhir adalah faktor kausal dan urgency. Contoh saya pernah membeli buku tentang MLM karena saya tiba-tiba tertarik terhadap buku itu setelah membaca bahasan singkatnya dimajalah yang menggambarkan bahwa MLM itu sangat menarik dan membuat saya ingin mengetahuinya lebih lanjut, maka dicari dan dibelilah buku dengan topik tersebut. Faktor urgency jarang terjadi, tetapi pernah saya alam, yaitu karena kebutuhan buku tersebut untuk keperluan tertentu misal untuk referensi akademik atau untuk bahan pelajaran atau kuliah.

Berbicara tentang buku, saya sebenarnya termasuk mempunyai hobby membaca sejak lama. Saat saya dibangku sekolah dasar, disaat teman-teman sekelas bermain-main saya malah keperpustakaan sendiri. Hal ini malah lebih intens lagi bila guru mengumumkan kalau disana baru kedatangan buku baru. Dan hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Pernah satu kejadian lucu saat saya meminjam buku diperpustakaan kampus kami. Sang petugas perpustakaan bingung kenapa saya selalu paling cepat mengembalikan buku-buku yang saya pinjam. Terkadang baru pinjam hari ini besok atau lusa sudah saya kembalikan, padahal masa pinjamnya 1 minggu sampai 2 minggu. 1 minggu untuk buku baru dan 2 minggu untuk buku lama. Saking kesalnya dia dengan nada sinis dan menyindir mengatakan bahwa di buku pinjaman perpustakaan sebagian besar adalah nama saya. Sambil nyengir saya pun menjawab bahwa jika buku tersebut saya sudah baca ya saya kembalikan, karena mungkin saja ada yang lain mau menggunakan buku tersebut. Tapi saya sadar juga sih bahwa dia juga capek pastinya bolak balik menulis nama dan buku yang saya pinjam dibuku pinjaman perpustakaan. Sejak saat itu saya tidak melakukan hal tersebut lagi, meski buku yang dipinjam sudah diselesaikan dalam 2 hari, saya tetap mengembalikan sesuai jadwal kembali buku tersebut. Dan mulai saat itu sang petugas tidak lagi pasang wajah yang cemberut kalau saya mau meminjam buku.

Standar
Experience

Rindu Kampung Halaman

Setelah keluar dari perusahaan lama saya, ada kebimbangan menyelimuti hati. Timbul pertanyaan apakah langkah yang saya ambil ini benar adanya. Dulu saat masih bekerja diperusahaan lama, setiap hari sibuk terus hingga lupa waktu dan tidak terasa waktupun sudah senja saat pulang kantor bahkan terkadang lembur juga. Masuk keperusahaan yang baru membuat saya mempunyai banyak waktu luang, meski tekanan pekerjaan tetap ada, tetapi rutinitas menjadi agak longgar karena hal yang dikerjakan menjadi lebih sedikit karena dibantu juga rekan-rekan dari perusahaan.

Dikala waktu luang saya terkadang teringat tujuan saya datang dan merantau kesini, timbul juga keinginan untuk pulang ke kampung halaman saya di Pontianak untuk menjumpai keluarga saya. Pikiran itu terus menghantui diawal-awal saya memulai pekerjaan saya, ingin rasanya mencari pekerjaan yang memungkinkan saya untuk stay di Pontianak. Tetapi saya hilangkan pikiran itu jauh-jauh, selain itu memerlukan waktu saya juga sudah teken kontrak untuk bekerja diperusahaan baru ini, saya tidak mau orang melihat saya plin plan dalam mengambil sebuah keputusan. Saya berprinsip jika saya sudah memilih jalan, maka tidak ada jalan mundur, dan saya harus all out untuk memberikan yang terbaik.

Syukurlah saat ini keinginan untuk pulang itu sebentar lagi akan terealisasi. Meskipun bukan untuk stay disana, tetapi hanya dalam rangka kunjungan kerja. Tapi saya tetap senang menjalaninya. Terbayang dipikiran senyum ceria orang dirumah melihat saya pulang. Terakhir saya pulang Desember 2007 kemarin, berarti sudah 7 bulan. Memang pulang dalam rangka kerja ini memang agenda saya. Dalam hal ini saya melakukan kunjungan kerja ke daerah Pontianak untuk bertemu rutin dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan agen kami didaerah tersebut. Kunjungan ini tidak bisa dilakukan setiap bulan karena juga mempertimbangkan waktu dan biaya perjalanan yang tinggi untuk kedaerah tersebut. Bayangkan saja meski sama-sama berada di pulau kalimantan, perjalanan udara ke Pontianak dari Balikpapan tidak ada yang langsung, melainkan harus transit dulu ke Jakarta, setelah itu baru melanjutkannya ke Pontianak. Perjalanan yang panjang itu juga memakan waktu yang banyak, untuk sekali perjalanan kesana saja membutuhkan waktu hampir 1 hari penuh. Ini akibat delay yang lama di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta.

Sebelum terbang menuju Pontianak pada tanggal 21 Juni, agenda saya adalah mengikuti training yang diadakan perusahaan di Jakarta selama 2 hari yaitu dari tanggal 19-20 Juni. Belum ada informasi rinci apa tema atau topik yang akan diajari kepada kami dalam acara tersebut. Tidak ada juga pemberitahuan tentang tempat menginap dan tempat acara berlangsung.

Standar