Opinion

Perayaan Kue Bulan

Minggu kemarin (14/9) bertepatan dengan tanggal 15 bulan 8
pada kalender imlek, diperingati di China dan keluarga Tionghoa seluruh dunia sebagai Perayaan Mid-Autumn Festival. Perayaan ini intinya adalah puji syukur akan datangnya musim bertanam, awal dari kerja keras dan harapan berhasil dengan panen yang bagus. Perayaan ini ditandai dengan tradisi makan kue bulan atau Gwee Pia atau Tiong Ciu Pia.

Tidak terasa sudah 2 tahun saya tidak makan kelezatan kue yang satu ini. Maklum di Samarinda sendiri komunitas orang Tionghoa tidak terlalu banyak, sehingga perayaannya juga tidak terasa. Saya ingat dulu saat masih di Pontianak, wah jika waktunya sudah hampir tiba, maka bertebaranlah para penjual kue bulan ini, tidak hanya dijalan besar seperti Jalan Gajahmada dan Tanjungpura, tetapi juga diberbagai sudut jalan. Kue ini rata-rata adalah home industry, ada yang mengatakan bahwa kue bulan pontianak berbeda dengan kue bulan buatan dari daerah lain. Umumnya buatan pontianak lebih manis. Ada juga kue bulan dari Malaysia, tetapi kurang diminati.

Makan kue bulan bagi saya sungguh sangat nikmat. Selain karena lama tidak makan kue yang satu ini, juga dikarenakan makan kue ini seperti mengingatkan saya akan kampung halaman di Pontianak. Saat tulisan ini dibuat, kue hanya tertinggal sedikit. Kemarin sempat dikirimkan oleh keluarga di pontianak. Sempat juga kecewa karena makannya tidak tepat tanggal perayaannya. Ini dikarenakan waktu pengiriman yang lumayan lama berkisar 3-4 hari. Tapi saya bersyukur masih bisa menikmati kue ini walau jauh dari rumah.

Oh ya di balik nikmatnya rasa kue bulan, tersipan banyak cerita. Salah satunya versi perjuangan prajurit China. Dahulu ketika cina di bawah penjajahan Mongolia. Raja hidup berhura-hura, padahal rakyat penuh penderitaan. Pengawasan yang ketat dari pemerintahan Mongolia menyebabkan pesan dan surat dari para pemberontak tidak mungkin disebarkan. Akhirnya seorang prajurit menyamar sebagai pendeta membawa dan membagikan kue bulan kepada penduduk-penduduk kota. Ia mengatakan dengan memakan kue bulan saat festival terang bulan akan menjaga mereka dari penyakit dan segera terbebas dari krisis. Saat rakyat membuka kue bulan dan mereka menemukan secarik kertas dalam kue, bertuliskan “habisi orang-orang tartar tanggal 5 pada bulan ke delapan”. Sebagai hasilnya semua rakyat bangkit berevolusi melawan pemerintahan Mongolia dan mereka berhasil! Sejak saat itu kue bulan menjadi salah satu makanan tradisional saat terang bulan.

Pada tanggal 14 Sept kemarin, bulan sangat cerah disini. Cahayanya sungguh indah dan tidak tersaput kabut sedikitpun. Cocok deh makan kue bulan sambil lihat bulan purnama yang cantik. Sipp dah.

Iklan
Standar
Umum

(Ketika) Empati Telah Mati

Saya mendapat posting dari salah satu situs yang cukup menggelitik rasa kemanusiaan. Berikut artikelnya.
Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun
sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian
hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut. Mahasiswi itu merasa
kaget karena anak itu manarik-narik bagian bawah celana jeans-nya
untuk meminta uang. Serta merta seorang pria dewasa berbadan kekar
yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung tangannya
tepat di bagian belakang kepala anak itu. Tidak hanya sekali, tapi
beberapa kali.

“Keluar kamu, kurang ajar!” tangannya terus melayang hinggap di
kepala anak tersebut. Tidak cukup di situ, ditambah tendangan keras
ke bagian tubuh anak yang tubuhnya hanya sebesar paha si penendang.
Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan meminta pria
itu menghentikan aksi kekerasannya.

“Dia ini kurang ajar pak, dari gerbong sebelah sudah kurang ajar.” Ia
membenarkan aksinya.

“Tapi dia juga kan manusia, apa pantas diperlakukan seperti itu?
tanya saya. “Dan apa tindakan bapak itu sebanding dengan
kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu lah…”

Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun
selanjutnya. Sementara pria berbadan tegap itu berdiri dekat pintu
gerbong sambil berbincang dengan beberapa penumpang lainnya, lagi-
lagi mencoba membenarkan tindakannya.

Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata, Jakarta, seorang pria setengah
baya babak belur dihajar massa hingga koma. Kondisinya mengenaskan,
wajahnya hancur, satu tangannya patah. Di sisa-sisa nafasnya yang
tersengal satu persatu, saya menangkap rintihannya, “Saya bukan
copet…”

Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi
secara refleks berteriak “copet” saat tasnya tersenggol pria yang
sudah nyaris mati tersebut. Secara serempak, dibarengi emosi yang
tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan mendaratkan kepalan
tangan, juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria tersebut.
Padahal di belakang kerumunan tersebut, mahasiswi yang tadi refleks
berteriak itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu
menghentikan aksinya, karena ternyata, ia tak kehilangan satu apa pun
dari dalam tasnya.

Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa
itu. Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur memukul?

Orang bersalah memang harus dihukum, tapi terlalu sering seseorang
mendapatkan hukuman yang tak setimpal. Kasus copet-copet yang dibakar
misalnya, sebagian orang mudah saja berkata “Bakar saja, atau lempar
dari kereta yang melaju cepat. Biar jadi pelajaran bagi copet yang
lain…”

Satu pertanyaan saja, bagaimana jika copet itu adik, kakak atau
saudara Anda? Kalimat itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda?
Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri? Anda pasti meminta orang-
orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu mudah
bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan
orang lain. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah?
Relakah jika orang lain memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya,
begitu pula dengan orang-orang itu. Saya setuju mereka diberi hukuman
atas kesalahannya, tapi memberikan hukuman lebih dari tingkat
kesalahannya, jelas saya tidak setuju.

Seperti kejadian di kereta itu, saya harus berdebat dengan pria
berbadan tegap itu dengan mengatakan bahwa tindakan kasarnya –
menempeleng dan menendang- sangat tidak sebanding dengan kesalahan
yang dilakukan anak itu. Saya juga tak mengerti kenapa nyaris semua
orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di
depan mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu
para karyawan, mahasiswa, orang-orang berpendidikan, tapi mengapa
mereka hanya menutup mata? Bahkan seorang bapak di samping saya
sempat berkata, “Anak itu juga seharusnya jangan kurang ajar…”

Saya katakan, cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin)
memang salah. Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas
dengan tempelengan dan tendangan keras berkali-kali ke tubuhnya.
Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang pria tegap itu
melakukan aksi kekerasan, akankah Anda diam jika anak itu adalah
anak, adik, keponakan, atau bahkan diri Anda sendiri?

Contoh sederhana, kita sering berharap orang lain memberikan tempat
duduknya untuk isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si
kecil. Tapi nyaris setiap hari kita tak pernah tergerak untuk berdiri
dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka yang lebih berhak,
kemudian berpura-pura tidur. Adilkah?

Mungkin empati sudah mati, atau telah pergi entah kemana.
Posting By Bayu Gautama

Standar
Experience

Nothing But Sure

Tanggal 26-27 Agustus kemarin perusahaan kami mengadakan meeting nasional diJakarta. Sebagai Area Sales Manager Kalimantan saya juga diundang. DiJakarta saya akan bertemu dengan semua team level manager up yang juga di undang. Rencananya meeting akan diadakan selama 2 hari dan dilanjutkan training dan factory visit di pabrik kami di Karawang.

26 Agustus sayapun berangkat pagi, pesawat saya akan take off pkl 10.00 WITA. Dengan menumpang pesawat Garuda yang berangkat dari bandara Sepinggan di Balikpapan sayapun mendarat di Soekarno-Hatta, Jakarta. Dibandara saya sudah ditunggu beberapa teman saya dari Jatim dan Sulawesi yang sudah terlebih dahulu datang. Bersama-sama kemudian kami bertolak dari bandara kekantor kami di Grogol. Sesampainya disana kamipun mengadakan koordinasi untuk persiapan acara besok. Salah satunya adalah menyiapkan bahan presentasi dalam bentuk Power Point. Templatenya kemarin sudah dikirimkan keemail saya.

Pkl 06.00 sore kamipun pulang ke mess kami di Serpong. Perjalanan menghabiskan waktu lumayan lama karena macet, apalagi ini adalah waktu pulang kerja bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sekitar 1 jam perjalanan kamipun sampai di mess. Dimess yang didesain mirip hotel kami pun melepaskan lelah. Sehabis mandi, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, kemudian sayapun lalu beranjak tidur. Tersadar kemudian ada orang yang mengetuk pintu. Dengan langkah gontai sayapun membuka pintu. Didepan pintu berdiri teman saya, Wenny yang mau meminjam laptop untuk mengerjakan presentasi.

Diruang tamu sudah berkumpul beberapa teman saya yang lainnya. Ada Ronny dari Medan, Hendra (Bandung), Maksum (Semarang), Budi Dharma (Surabaya), Wibi (Makasar) serta beberapa orang dari logistik. Karena sudah banyak orang yang pun urung melanjutkan tidur dan kemudian ikut berkumpul bersama mereka. Kamipun ngobrol tentang persiapan acara besok. Sekitar pukul 23.30, satu persatu orang itu mulai pamit untuk pulang kekamar masing-masing untuk beristirahat. Pkl 24.00, teman-teman juga belum selesai untuk mengerjakan presentasi itu, karena sudah sangat ngantuk sekali sayapun pamit untuk tidur dan membiarkan laptop saya dipergunakan oleh mereka.

Pkl 05.30 alarm handphone saya pun menyalak kencang membangunkan saya. Memang sudah saya setting agar alarm aktif pkl 05.30 karena jadwal kami berangkat ketempat acara meeting adalah pkl 06.00. Kemudian saya mandi dan berganti pakaian, sempat bingung juga karena atasan saya kemarin meminta saya untuk membawa dasi yang jika sewaktu-waktu diperlukan bisa dipakai. Sebelum berangkat meeting ini saya sebenarnya sempat bingung juga mencari dasi, ingin beli tetapi berpikir mungkin hanya dipakai sekali saja. Syukurlah akhirnya ada teman yang berbaik hati meminjamkan.

Didepan mess sudah berkumpul banyak orang. Ternyata bukan hanya kami saja yang ikut acara meeting, dari divisi penjualan yang lain juga diundang, diantara dari divisi modern market dan divisi khusus horeka. Total peserta yang menginap dimess itu mungkin sekitar 40 orang. Jam sudah menunjukkan pkl 06.00 dan 6 buah mobil kijang mulai berangkat meninggalkan mess. Tujuan kami adalah Plaza BII yang berada dijalan M.H. Thamrin dipusat kota Jakarta yang menjadi tempat meeting kami. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan gedung-gedung bertingkat yang menjadi ciri khas kota Jakarta, tetapi hal yang sangat jarang bagi yang berada didaerah. Sekitar pkl 07.30 kami pun tiba di Plaza BII. Rupanya kami rombongan pertama yang tiba.

Gedung BII yang menjadi tempat meeting ini adalah milik group Sinar Mas yang merupakan juga holding dari perusahaan kami. Digedung inilah beberapa anak perusahaan group ini berkantor. Berlantai 40 merupakan salah satu gedung tertinggi di Jakarta. Walaupun Bank Internasional Indonesia sebagian besar sahamnya sudah berpindah dari group Sinar Mas ke holding lain, tetapi nama gedung ini tidak diubah. Dan kami rencananya akan meeting dilantai 39. Pastilah sangat indah ya jika menyaksikan Jakarta dari lantai 39 itu pikir saya.

Tidak berapa lama kemudian teman-teman rombongan yang lain tiba, kamipun masuk untuk menuju ruang meeting. Masing-masing peserta harus menunjukkan name tag, jika yang tidak punya maka akan diberi kartu baru berlabel GUEST. Keamanan gedung ini juga cukup ketat, barang bawaan setiap peserta discan terlebih dahulu. Naik lift berhimpit-himpitan kamipun sampai diruang meeting tempat acara berlangsung. Didepan terbentang sebuah spanduk yang mengucapkan selamat datang pada peserta.

Standar
Opinion

Do You Have A Dream?

Waktu terus berganti, lihat kalender hari ini, eh sudah masuk bulan September. Perasaan kemarin baru lewatin pergantian tahun. Tapi itulah hidup, tidak penting cepat atau lambatnya waktu itu berganti, namun yang paling penting adalah apakah kita sudah melewati hidup ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan berguna untuk mewujudkan impian kita.

Sejujurnya saya merasa belum melakukan banyak hal yang berguna dalam hidup ini. Misalnya untuk diri sendiri, masih banyak cita-cita dan keinginan yang belum terwujud. Ada cita-cita yang diplanning bisa diraih dalam waktu 1 tahun ternyata molor sampai 2 tahun. Demikian juga dengan keinginan lain yang belum diraih padahal harusnya secara proyeksi sudah bisa didapat. Penyebabnya mungkin karena kita selalu terjebak dalam comfort zone yang membuat kita malas sehingga menunda-nunda melakukan hal yang sebenarnya menjadi jalan kita untuk meraih yang kita impikan. Kita hidup dalam dunia yang sempit, segala sesuatunya seakan selalu menemui halangan dan kesulitan disana sini. Kecenderungan melihat kesulitan itulah yang menyebabkan kita buta dan berpaling, padahal disalah satu sisi kita dibukakan pintu lebar untuk jalan keluar.

Menurut penelitian para ahli psikologi bahwa pada dasarnya manusia hanya memanfaatkan tidak sampai 5% kemampuan otaknya dalam mengarungi hidupnya didunia. Einstein yang konon kabarnya merupakan manusia yang paling jenius sedunia sebelum meninggal mengizinkan para ahli untuk membedah otaknya. Luar biasanya dari hasil penelitian itu adalah bahwa Einstein hanya menggunakan kurang lebih 5% kemampuan otaknya selama hidup.

Dalam konteks tulisan ini bukanlah membahas mutlak atau tidaknya angka 5% dalam penggunaan otak Einstein. Tetapi yang lebih perlu dikedepankan adalah bahwa kita semua dikaruniakan oleh Tuhan sebuah mesin prosesor terhebat berupa pikiran yang diberikan kemampuan untuk memutuskan sesuatu dalam hidup kita ini, dan juga menemukan sesuatu yang belum ada menjadi ada yang ujung-ujungnya dipergunakan untuk kepentingan umat manusia juga. Mengapa Albert Einstein bisa jadi ilmuwan jenius, pemilik hak paten atas beribu-ribu penemuan sains, dan mengapa orang seperti Ciputra bisa menjadi konglomerat dinegeri ini, dan sebagian lagi dari kita harus mengais makan ditempat sampah dan tinggal dikotornya kolong jembatan. Bukankah kita diberikan kemampuan yang sama, otak antara orang miskin dan orang kaya juga tidak dikurangi sel-selnya oleh Tuhan, fisik juga sama dengan dua tangan dan dua kaki. Yang membedakannya adalah niat dan kemauan untuk merubah nasib dan hidupnya. Lalu apakah jika kita dilahirkan sebagai anak konglomerat lalu kita akan sukses dalam hidup ini. Jawabnya belum tentu. Dan jika kita adalah orang yang terlahir sebagai orang miskin apakah kita akan selamanya dari lahir sampai mati miskin terus. Jawabnya juga belum tentu. Kembali lagi adalah kemauan kita untuk merubah nasib. Kepercayaan yang perlu ditanamkan pada setiap orang adalah bahwa kita harus selalu berusaha dan Tuhan sebagai pencipta akan selalu membukakan jalan terutama untuk orang yang bekerja keras, berikhtiar untuk sukses dan selalu berpaling kepadaNya dalam segala usahanya.

Kembali kekonteks pewujudan mimpi pribadi saya. Menurut saya mimpi saya itu pasti akan saya wujudkan. Ibarat sebuah rumah, saat ini mungkin baru fondasinya yang sudah dibangun sedang bagian atasnya sama sekali belum terlihat. Perlu waktu lagi untuk melapisi dindingnya dengan semen dan memasang genteng untuk atapnya. Meski masih belum menggunakan otak secara maksimal seperti kebanyakan orang didunia ini, tapi saya adalah orang yang selalu mau belajar dan itu menurut saya modal yang penting. Kesadaran dan keinginan akan impian itu sungguh demikian besarnya, tidak ada tawar menawar untuk impian itu, karena itulah tujuan saya. Seperti sebuah anak panah yang meluncur menuju papan target, harus tepat dilingkaran tengah untuk mendapat nilai sempurna.

Saya sebenarnya terinspirasi sekali dengan Sylvester Stallone. Seorang bintang film laga di Hollywood yang sangat terkenal sejak membintangi film Rocky yang bercerita tentang perjalanan seorang petinju yang biasa-biasa saja menjadi petinju yang terkenal didunia. Masa kecil Stallone sangat menyedihkan, bukan seperti kebanyakan orang yang lahir dibidan atau rumah sakit, Stallone kecil dilahirkan oleh ibunya ditangga sebuah sekolah. Sejak kecil dia menjadi olok-olokan temannya sering dipukul sehingga menyebabkan saraf diwajahnya rusak yang mengakibatkan bagian kiri dan kanan wajahnya tidak seimbang. Stallone kecil sangat berkeinginan menjadi bintang film. Untuk mewujudkan cita-citanya ia mencoba melamar disebuah sekolah akting dan tidak seorangpun menerimanya. Tapi ia tidak patah semangat, ia mengambil kursi dan duduk didepan pintu masuk sampai pengurus sekolah akting itu menerimanya. Disana ia mendapat peran-peran kecil sebagai figuran.

Setelah menikah istrinya menyuruhnya mencari pekerjaan lain karena pekerjaan dibidang film menurutnya adalah sesuatu yang mustahil bagi orang seperti Stallone. Tapi Stallone tidak patah semangat, dia tetap berkeyakinan bahwa ini adalah mimpi masa kecilnya dan inilah jalan hidupnya. Baginya mimpi harus diwujudkan. Suatu hari saat menonton televisi, ia menyaksikan pertandingan tinju antara sang juara tinju dunia saat itu yaitu Mohammad Ali melawan seorang petinju biasa yang tidak terkenal. Banyak pemerhati tinju berkomentar bahwa petinju itu akan bertekuk lutut dironde-ronde awal pertandingan. Tetapi ajaibnya meski berkali-kali dipukul jatuh, sang petinju ini mampu bertahan selama 12 ronde dan memenangkan pertandingan itu. Itulah yang membuat Stallone terinspirasi, iapun menulis sebuah skenario cerita yang merupakan cikal bakal lahirnya film Rocky. Ia mulai menawarkan skenarionya, berpuluh-puluh kali ditolak. Hal itu membuatnya jatuh miskin dan harus rela menjual anjing kesayangan yang sekaligus juga temannya seharga $50, dimana setelah sukses ditebusnya kembali. Akhirnya setelah banyak ditolak, ada juga orang yang ingin membeli skenario filmnya. Tapi si Stallone ini tidak hanya menjual ceritanya, ia juga menjual dirinya dalam pengertian bahwa ia harus menjadi Rocky pemeran utama dalam film itu. Tentu saja produser-produser menolak karena menganggap Stallone tidak punya daya jual. Meski ditawarkan dengan harga tinggi skenarionya tidak membuatnya bergeming jika ia tidak diikutkan dalam film itu. Akhirnya produser pun luluh dan membiarkan Stallone menjadi Rocky tapi dengan catatan film itu akan diproduksi dengan bujet yang terbatas. Kejadian selanjutnya sungguh luar biasa, film Rocky langsung meledak luar biasa dan menjadi box office di bioskop-bioskop seantero Amerika dan Stallone pun menjadi bintang baru dan orang kaya baru. Banyak pengamat melihat bahwa film Rocky sukses bukan hanya karena ceritanya tetapi karena akting sang Rocky yang sungguh mendalami peran tersebut. Dan Stallone mengakui bahwa karakter Rocky merupakan cerminan dari karakternya sendiri yang pantang menyerah dalam menggapai impian.

Yang bisa diambil dari cerita tentang Stallone tersebut adalah bahwa kita harus selalu bersandar dengan apa yang kita yakini dan pantang menyerah, kekuatan pikiran kitalah yang akan membantu kita. Ia akan menemukan jalan bagi kita untuk meraih mimpi dan kesuksesan kita.

Standar