Do You Have A Dream?

Waktu terus berganti, lihat kalender hari ini, eh sudah masuk bulan September. Perasaan kemarin baru lewatin pergantian tahun. Tapi itulah hidup, tidak penting cepat atau lambatnya waktu itu berganti, namun yang paling penting adalah apakah kita sudah melewati hidup ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan berguna untuk mewujudkan impian kita.

Sejujurnya saya merasa belum melakukan banyak hal yang berguna dalam hidup ini. Misalnya untuk diri sendiri, masih banyak cita-cita dan keinginan yang belum terwujud. Ada cita-cita yang diplanning bisa diraih dalam waktu 1 tahun ternyata molor sampai 2 tahun. Demikian juga dengan keinginan lain yang belum diraih padahal harusnya secara proyeksi sudah bisa didapat. Penyebabnya mungkin karena kita selalu terjebak dalam comfort zone yang membuat kita malas sehingga menunda-nunda melakukan hal yang sebenarnya menjadi jalan kita untuk meraih yang kita impikan. Kita hidup dalam dunia yang sempit, segala sesuatunya seakan selalu menemui halangan dan kesulitan disana sini. Kecenderungan melihat kesulitan itulah yang menyebabkan kita buta dan berpaling, padahal disalah satu sisi kita dibukakan pintu lebar untuk jalan keluar.

Menurut penelitian para ahli psikologi bahwa pada dasarnya manusia hanya memanfaatkan tidak sampai 5% kemampuan otaknya dalam mengarungi hidupnya didunia. Einstein yang konon kabarnya merupakan manusia yang paling jenius sedunia sebelum meninggal mengizinkan para ahli untuk membedah otaknya. Luar biasanya dari hasil penelitian itu adalah bahwa Einstein hanya menggunakan kurang lebih 5% kemampuan otaknya selama hidup.

Dalam konteks tulisan ini bukanlah membahas mutlak atau tidaknya angka 5% dalam penggunaan otak Einstein. Tetapi yang lebih perlu dikedepankan adalah bahwa kita semua dikaruniakan oleh Tuhan sebuah mesin prosesor terhebat berupa pikiran yang diberikan kemampuan untuk memutuskan sesuatu dalam hidup kita ini, dan juga menemukan sesuatu yang belum ada menjadi ada yang ujung-ujungnya dipergunakan untuk kepentingan umat manusia juga. Mengapa Albert Einstein bisa jadi ilmuwan jenius, pemilik hak paten atas beribu-ribu penemuan sains, dan mengapa orang seperti Ciputra bisa menjadi konglomerat dinegeri ini, dan sebagian lagi dari kita harus mengais makan ditempat sampah dan tinggal dikotornya kolong jembatan. Bukankah kita diberikan kemampuan yang sama, otak antara orang miskin dan orang kaya juga tidak dikurangi sel-selnya oleh Tuhan, fisik juga sama dengan dua tangan dan dua kaki. Yang membedakannya adalah niat dan kemauan untuk merubah nasib dan hidupnya. Lalu apakah jika kita dilahirkan sebagai anak konglomerat lalu kita akan sukses dalam hidup ini. Jawabnya belum tentu. Dan jika kita adalah orang yang terlahir sebagai orang miskin apakah kita akan selamanya dari lahir sampai mati miskin terus. Jawabnya juga belum tentu. Kembali lagi adalah kemauan kita untuk merubah nasib. Kepercayaan yang perlu ditanamkan pada setiap orang adalah bahwa kita harus selalu berusaha dan Tuhan sebagai pencipta akan selalu membukakan jalan terutama untuk orang yang bekerja keras, berikhtiar untuk sukses dan selalu berpaling kepadaNya dalam segala usahanya.

Kembali kekonteks pewujudan mimpi pribadi saya. Menurut saya mimpi saya itu pasti akan saya wujudkan. Ibarat sebuah rumah, saat ini mungkin baru fondasinya yang sudah dibangun sedang bagian atasnya sama sekali belum terlihat. Perlu waktu lagi untuk melapisi dindingnya dengan semen dan memasang genteng untuk atapnya. Meski masih belum menggunakan otak secara maksimal seperti kebanyakan orang didunia ini, tapi saya adalah orang yang selalu mau belajar dan itu menurut saya modal yang penting. Kesadaran dan keinginan akan impian itu sungguh demikian besarnya, tidak ada tawar menawar untuk impian itu, karena itulah tujuan saya. Seperti sebuah anak panah yang meluncur menuju papan target, harus tepat dilingkaran tengah untuk mendapat nilai sempurna.

Saya sebenarnya terinspirasi sekali dengan Sylvester Stallone. Seorang bintang film laga di Hollywood yang sangat terkenal sejak membintangi film Rocky yang bercerita tentang perjalanan seorang petinju yang biasa-biasa saja menjadi petinju yang terkenal didunia. Masa kecil Stallone sangat menyedihkan, bukan seperti kebanyakan orang yang lahir dibidan atau rumah sakit, Stallone kecil dilahirkan oleh ibunya ditangga sebuah sekolah. Sejak kecil dia menjadi olok-olokan temannya sering dipukul sehingga menyebabkan saraf diwajahnya rusak yang mengakibatkan bagian kiri dan kanan wajahnya tidak seimbang. Stallone kecil sangat berkeinginan menjadi bintang film. Untuk mewujudkan cita-citanya ia mencoba melamar disebuah sekolah akting dan tidak seorangpun menerimanya. Tapi ia tidak patah semangat, ia mengambil kursi dan duduk didepan pintu masuk sampai pengurus sekolah akting itu menerimanya. Disana ia mendapat peran-peran kecil sebagai figuran.

Setelah menikah istrinya menyuruhnya mencari pekerjaan lain karena pekerjaan dibidang film menurutnya adalah sesuatu yang mustahil bagi orang seperti Stallone. Tapi Stallone tidak patah semangat, dia tetap berkeyakinan bahwa ini adalah mimpi masa kecilnya dan inilah jalan hidupnya. Baginya mimpi harus diwujudkan. Suatu hari saat menonton televisi, ia menyaksikan pertandingan tinju antara sang juara tinju dunia saat itu yaitu Mohammad Ali melawan seorang petinju biasa yang tidak terkenal. Banyak pemerhati tinju berkomentar bahwa petinju itu akan bertekuk lutut dironde-ronde awal pertandingan. Tetapi ajaibnya meski berkali-kali dipukul jatuh, sang petinju ini mampu bertahan selama 12 ronde dan memenangkan pertandingan itu. Itulah yang membuat Stallone terinspirasi, iapun menulis sebuah skenario cerita yang merupakan cikal bakal lahirnya film Rocky. Ia mulai menawarkan skenarionya, berpuluh-puluh kali ditolak. Hal itu membuatnya jatuh miskin dan harus rela menjual anjing kesayangan yang sekaligus juga temannya seharga $50, dimana setelah sukses ditebusnya kembali. Akhirnya setelah banyak ditolak, ada juga orang yang ingin membeli skenario filmnya. Tapi si Stallone ini tidak hanya menjual ceritanya, ia juga menjual dirinya dalam pengertian bahwa ia harus menjadi Rocky pemeran utama dalam film itu. Tentu saja produser-produser menolak karena menganggap Stallone tidak punya daya jual. Meski ditawarkan dengan harga tinggi skenarionya tidak membuatnya bergeming jika ia tidak diikutkan dalam film itu. Akhirnya produser pun luluh dan membiarkan Stallone menjadi Rocky tapi dengan catatan film itu akan diproduksi dengan bujet yang terbatas. Kejadian selanjutnya sungguh luar biasa, film Rocky langsung meledak luar biasa dan menjadi box office di bioskop-bioskop seantero Amerika dan Stallone pun menjadi bintang baru dan orang kaya baru. Banyak pengamat melihat bahwa film Rocky sukses bukan hanya karena ceritanya tetapi karena akting sang Rocky yang sungguh mendalami peran tersebut. Dan Stallone mengakui bahwa karakter Rocky merupakan cerminan dari karakternya sendiri yang pantang menyerah dalam menggapai impian.

Yang bisa diambil dari cerita tentang Stallone tersebut adalah bahwa kita harus selalu bersandar dengan apa yang kita yakini dan pantang menyerah, kekuatan pikiran kitalah yang akan membantu kita. Ia akan menemukan jalan bagi kita untuk meraih mimpi dan kesuksesan kita.

Satu pemikiran pada “Do You Have A Dream?

  1. Ping balik: Mimpi Yang Terbeli « Wonderful Rainbow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s