(Ketika) Empati Telah Mati

Saya mendapat posting dari salah satu situs yang cukup menggelitik rasa kemanusiaan. Berikut artikelnya.
Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun
sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian
hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut. Mahasiswi itu merasa
kaget karena anak itu manarik-narik bagian bawah celana jeans-nya
untuk meminta uang. Serta merta seorang pria dewasa berbadan kekar
yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung tangannya
tepat di bagian belakang kepala anak itu. Tidak hanya sekali, tapi
beberapa kali.

“Keluar kamu, kurang ajar!” tangannya terus melayang hinggap di
kepala anak tersebut. Tidak cukup di situ, ditambah tendangan keras
ke bagian tubuh anak yang tubuhnya hanya sebesar paha si penendang.
Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan meminta pria
itu menghentikan aksi kekerasannya.

“Dia ini kurang ajar pak, dari gerbong sebelah sudah kurang ajar.” Ia
membenarkan aksinya.

“Tapi dia juga kan manusia, apa pantas diperlakukan seperti itu?
tanya saya. “Dan apa tindakan bapak itu sebanding dengan
kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu lah…”

Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun
selanjutnya. Sementara pria berbadan tegap itu berdiri dekat pintu
gerbong sambil berbincang dengan beberapa penumpang lainnya, lagi-
lagi mencoba membenarkan tindakannya.

Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata, Jakarta, seorang pria setengah
baya babak belur dihajar massa hingga koma. Kondisinya mengenaskan,
wajahnya hancur, satu tangannya patah. Di sisa-sisa nafasnya yang
tersengal satu persatu, saya menangkap rintihannya, “Saya bukan
copet…”

Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi
secara refleks berteriak “copet” saat tasnya tersenggol pria yang
sudah nyaris mati tersebut. Secara serempak, dibarengi emosi yang
tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan mendaratkan kepalan
tangan, juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria tersebut.
Padahal di belakang kerumunan tersebut, mahasiswi yang tadi refleks
berteriak itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu
menghentikan aksinya, karena ternyata, ia tak kehilangan satu apa pun
dari dalam tasnya.

Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa
itu. Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur memukul?

Orang bersalah memang harus dihukum, tapi terlalu sering seseorang
mendapatkan hukuman yang tak setimpal. Kasus copet-copet yang dibakar
misalnya, sebagian orang mudah saja berkata “Bakar saja, atau lempar
dari kereta yang melaju cepat. Biar jadi pelajaran bagi copet yang
lain…”

Satu pertanyaan saja, bagaimana jika copet itu adik, kakak atau
saudara Anda? Kalimat itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda?
Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri? Anda pasti meminta orang-
orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu mudah
bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan
orang lain. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah?
Relakah jika orang lain memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya,
begitu pula dengan orang-orang itu. Saya setuju mereka diberi hukuman
atas kesalahannya, tapi memberikan hukuman lebih dari tingkat
kesalahannya, jelas saya tidak setuju.

Seperti kejadian di kereta itu, saya harus berdebat dengan pria
berbadan tegap itu dengan mengatakan bahwa tindakan kasarnya –
menempeleng dan menendang- sangat tidak sebanding dengan kesalahan
yang dilakukan anak itu. Saya juga tak mengerti kenapa nyaris semua
orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di
depan mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu
para karyawan, mahasiswa, orang-orang berpendidikan, tapi mengapa
mereka hanya menutup mata? Bahkan seorang bapak di samping saya
sempat berkata, “Anak itu juga seharusnya jangan kurang ajar…”

Saya katakan, cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin)
memang salah. Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas
dengan tempelengan dan tendangan keras berkali-kali ke tubuhnya.
Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang pria tegap itu
melakukan aksi kekerasan, akankah Anda diam jika anak itu adalah
anak, adik, keponakan, atau bahkan diri Anda sendiri?

Contoh sederhana, kita sering berharap orang lain memberikan tempat
duduknya untuk isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si
kecil. Tapi nyaris setiap hari kita tak pernah tergerak untuk berdiri
dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka yang lebih berhak,
kemudian berpura-pura tidur. Adilkah?

Mungkin empati sudah mati, atau telah pergi entah kemana.
Posting By Bayu Gautama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s