Menonton Laskar Pelangi The Movie

Malam kemarin bersama 2 teman saya pun janjian untuk menonton film Laskar Pelangi. Meskipun sudah 10 hari pemutarannya di 21 Cineplex Samarinda, penonton film ini tetap tumpah ruah. Ini ditandai dengan habisnya tiket untuk pertunjukan pkl 18.00 dan 19.30. Akhirnya dengan terpaksa kamipun membeli tiket pertunjukan pkl 20.30.

Film Laskar Pelangi diangkat kelayar lebar berdasarkan novel laris berjudul sama karangan Andrea Hirata. Novel yang merupakan best seller ini melambungkan Andrea Hirata sebagai sastrawan berbakat diIndonesia. Novel ini juga sebenarnya adalah representasi dari pengalaman masa kecil Andrea dipedalaman pulau Belitong pada akhir tahun 70-an. Bercerita tentang persahabatan 10 anak disebuah sekolah SD swasta yang hampir roboh, tetapi meskipun begitu dengan perjuangan seorang guru wanita bernama Ibu Muslimah, anak-anak tersebut bisa menyelesaikan sekolah mereka dan menggapai prestasi. Dengan persetujuan Andrea, dua sutradara besar Indonesia, Riri Reza dan Mira Lesmana kemudian mengangkat cerita di novel ini kelayar lebar.

Proses pengerjaan film ini dilakukan di pulau Belitung, salah satu pulau yang berada di Provinsi Bangka Belitung. Audisi dilakukan oleh keduanya untuk menentukan tokoh-tokoh pemeran difilm tersebut. Akhirnya terpilihlah 12 anak asli Belitong yang didukung dengan para tokoh film nasional dari Jakarta, mulai dari Cut Mini hingga Tora Sudiro. Riri Reza mengaku sengaja menggunakan 12 anak asli Belitong itu dengan alasan bahwa anak-anak tersebut mewakili keluguan dan kekhasan anak-anak daerah Belitong yang tidak mungkin didapatkan dari artis-artis cilik Indonesia lainnya, walaupun mungkin kualitas aktingnya tidak sesempurna artis-artis cilik tersebut


Film dibuka dengan scene dimana dimana seorang wanita sedang sedang mengayuh sepeda menuju sebuah sekolah. Ditengah jalan dia bertemu dengan seorang anak berkulit gelap yang bersepeda jauh dari daerah pesisir untuk mendaftar masuk sekolah dasar. Berikutnya scene berpindah ke satu sekolah tua bernama SD Muhammadyah Gantong sedang menerima murid baru. Sekolah tua tersebut sudah diperingatkan akan ditutup bila ditahun tersebut bila murid yang mendaftar kurang dari 10 orang.

Seorang guru wanita tampak gelisah karena sampai dengan pkl 10.00 baru terkumpul 9 anak. Mendekati tengah hari, disaat Pak Harfan, sang guru kepala akan membubarkan murid dan orang tua yang sudah hadir, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang anak berlari menuju sekolah. Sang anak yang bernama Harun itulah yang menyelamatkan seluruh sekolah yang tinggal tunggu waktu untuk dibubarkan. Dia juga menyelamatkan Ibu Muslimah yang baru akan mewujudkan impiannya menjadi seorang guru.
Anak-anak tersebut dengan tingkah polahnya yang lucu menambah kayanya cerita. Bimbingan dari Pak Harfan, Bu Muslimah dan Pak Bakri mengantarkan anak-anak menjadi anak-anak yang tawakal dan pintar.

Sekarang anak-anak itu sudah kelas 5 SD, dan peristiwa yang membuat miris ketika salah satu guru yaitu Pak Bakri mendapatkan tawaran untuk mengajar salah satu SD di Palembang dan memohon untuk meninggalkan SD Muhammadyah. Tinggallah 2 orang guru yang berdedikasi itu mengajar dan memberikan pengetahuan kepada 10 anak muridnya. Par Harfan selalu mengajarkan mereka untuk tidak patah semangat dan mengingatkan bahwa hidup adalah memberi, memberi apa yang kita miliki untuk menjadi berkah bagi masyarakat dan lingkungan.

Tetapi sayang pada tahun yang sama pak Harfan menghembuskan nafas terakhir, Bu Muslimah begitu tertekan, hingga 5 hari tidak masuk sekolah untuk mengajar. Tetapi menyadari bahwa murid-muridnya butuh dirinya diapun melanjutkan pengabdiannya sebagai guru. Meski sering ditawari untuk mengajar ditempat lain, tetapi dia tidak bergeming. Bukanlah uang yang ia kejar tetapi adalah bagaimana memberikan ilmu kepada murid-murid yang penuh semangat itu.

Murid-murid di SD Muhammadyah ada 10 orang, tetapi hanya 6 anak yang paling menonjol difilm tersebut. Ikal, sang Andrea Hirata kecil, Borek yang selalu ingin dipanggil Samson karena tubuhnya yang berotot, Mahar sang seniman yang selalu menenteng radio kemana pun berada, Lintang murid paling jenius di SD itu, Akiong sang peranakan Tionghoa satu-satunya, Kucai sang ketua kelas serta empat tokoh lain yaitu Syahdan, Trapani, Harun dan satu-satunya murid wanita bernama Sahara

Murid-murid SD tersebut dikisahkan merupakan anak-anak dari kuli pekerja di PN Timah, hanya Lintang yang merupakan anak nelayan. PN Timah adalah perusahaan negara yang sedang jaya-jayanya saat itu, sehingga di Belitung seolah-olah terjadi kesenjangan sosial yang kontras, dimana anak-anak pejabat yang bekerja di PN Timah mendapatkan pengajaran dari sekolah yang bonafid, sedangkan anak-anak kulinya hanya mempunyai 2 pilihan yaitu membantu orangtua mereka bekerja atau bersekolah di SD Muhammadyah yang bebas biaya. SD Muhammadyah sebenarnya jauh dari kesan sekolah. Dindingnya menggunakan papan dan tanpa lantai. Atapnya juga sudah lapuk dan kalau hujan bocor kemana-mana (dan menjadi tempat berteduh kambing-kambing saat hujan).
Tapi sekolah yang buruk itu tidak membuat semangat mereka down, mereka malah lebih bersemangat untuk belajar. Ibu Muslimahlah yang menjadi motor penggerak sekolah itu.

Tokoh utama film ini yaitu Lintang digambarkan sebagai anak yang jenius. Ayahnya seorang nelayan. Berbeda dengan nelayan lain, ayahnya sangat mendukung Lintang untuk bersekolah, bukan melaut bersamanya. Meski harus bersepeda bolak-balik dari daerah pesisir pantai menuju sekolah, melintasi jalan yang menjadi tempat berjemur buaya, tapi semangatnya untuk mendapatkan pendidikan mengalahkan rasa lelah dan takutnya. Penonton dibuat menitik air mata saat murid jenius ini harus meninggalkan sekolah dan teman-temannya dikarenakan ia harus mengurus ketiga adiknya setelah ayahnya meninggal. Tokoh inilah yang nantinya menginspirasi Andrea Hirata alias Ikal untuk mengejar mimpinya sekolah di Univiersitas Sorbonne, Prancis. Banyak orang yang menyayangkan nasib Lintang ini, bahkan ada yang mengatakan Life is so unfair, seorang jenius ciptaan alam harus menyerah dikarenakan tanggung jawabnya pada keluarga.

Andrea Hirata mengatakan ketika ia masih SD, ia tidak pernah sekalipun bisa mengalahkan Lintang dalam perebutan juara kelas. Lintang selalu nomor satu dan ia yang kedua. Jika kita menonton filmnya tahulah kita kenapa Ikal kalah. Lintang adalah murid yang rajin belajar, bukan hanya melalui media buku sekolah tapi dari surat kabar sekalipun. Ada kejadian lucu pada tokoh Ikal ini. Murid-murid termasuk Ikal paling malas jika tiba harus mendapat giliran membeli kapur. Untuk membeli kapur, mereka harus menempuh perjalanan jauh dengan bersepeda menuju kedaerah yang jauh dari sekolahnya.

Suatu kali karena sudah giliran mau tak mau pergilah ia berdua dengan Lintang membeli kapur di toko Sinar Harapan milik seorang Tionghoa. Sesampainya di toko Ikalpun masuk mengutarakan niatnya untuk mengambil kapur, sang pemilik kemudian memanggil nama seseorang didalam untuk memberikan kapur kepada Ikal. Adapun kapur diserahkan melalui sebuah loket kecil. Hati Ikal berdebar kencang saat melihat tangan yang menyerahkan kapus. Riri Reza menggambarkan perasaan Ikal dengan bunga-bunga yang melayang-melayang. Setelah keluar dari toko, ia memberitahu Lintang bahwa tadi dia baru saja melihat kuku-kuku paling indah sedunia.

Berikutnya tanpa diminta, Ikal mengajukan diri terlebih dahulu untuk membeli kapur. Saking ngebetnya ingin melihat “kuku-kuku paling indah sedunia” iapun mengajak Mahar untuk pergi ke toko Sinar Harapan dengan alasan sekolahnya baru terkena banjir dan kapur-kapur basah dan rusak. Seperti sebelumnya sang pemilik meneriakkan nama seseorang dibelakang untuk memberikan kapur melalui loket kepada Ikal. Momen lucu tercipta saat Ikal dengan sengaja menjatuhkan kotak kapur hanya untuk melihat wajah pemilik kuku-kuk terindah. Dibalik loket seorang gadis kecil tersenyum ketika Ikal menunduk melihat wajahnya. Hati Ikal pun berbunga-bunga karena sudah melihat wajah gadis kecil pemilik kuku-kuku terindah sedunia.

Ikal kemudian mencari tahu siapa sebenarnya Aling, sang pujaan hatinya itu. Dari Mahar dia mengetahui bahwa Aling merupakan sepupu Akiong. Ikal lalu merayu Akiong untuk membantu bertemu dengan Aling. Akiong menyetujuinya dan minta Ikal untuk datang menemui Aling diacara pertemuan keluarga mereka. Tiba waktu yang ditentukan untuk menemukan Ikal dan Aling, Ikal pun bersiap-siap. Karena tidak pede dengan rambut ikalnya, ia pun tanpa permisi menggunakan minyak rambut ayahnya untuk membuat rambutnya lurus klimis. Sesampai ditempat pertemuan keluarga Akiong, Akiong pun berpesan kepada Ikal, “Hanya lima menit ya, lima menit saja”. Maksudnya Ikal hanya diberikan waktu 5 menit untuk bertemu dengan Aling.

Scene berikutnya menampilkan Aling yang keluar dari balik pintu, mengenakan baju chiong sam berwarna merah, dan ia tampak manis sekali. Penonton pun kemudian dibuat tertawa saat keduanya jalan bersama, ternyata Ikal lebih rendah dari Aling, seperti kakak dan adik saja. Romantisme anak kecil terukir saat Aling mengatakan bahwa ia membaca seluruh puisi yang dikirimkan Ikal kepadanya dan menyalin seluruhnya kedalam buku hariannya.

Tapi sayang pada giliran pembelian kapur berikutnya Ikal terkejut karena sang pemilik tidak memanggil lagi nama Aling untuk memberikan kapur kepada Ikal. Ya benar saja yang memberikan kapur bukan Aling. Dengan perasaan bingung Ikal pun bertanya tentang Aling, sang pemberi kapur berkata bahwa Aling sudah pergi ke Jakarta ikut Omnya. Hati Ikal serasa hancur, hal itu digambarkan dengan jatuhnya panci, kuali dan barang-barang jualan yang ada di toko Sinar Harapan sehancur hati Ikal yang kehilangan Aling.

Mahar dan Lintang yang mengerti akan perasaan Ikal lalu menghiburnya. Kemudian datang Akiong yang memberikan sesuatu dari Aling. Ikalpun membuka bungkusan dari Aling berupa sebuah kotak bergambar wanita Cina dengan latar belakang menara Eiffel. Kotak itu berisi bunga dan puisi terakhir yang dikirimkan oleh Ikal pada Aling. Sungguh kisah cinta anak kecil yang dramatis.

Secara keseluruhan film ini menarik, tetapi bagi yang sudah membaca novelnya jangan berharap terlalu banyak, hal ini karena banyaknya scene cerita yang diubah sutradaranya, juga karena terbatasnya durasi ada kesan pemaksaan akhir cerita difilm ini. Ada satu hal menarik juga difilm ini yaitu penggunaan bahasa Melayu. Kebetulan bahasa Melayu yang digunakan mirip dengan bahasa Melayu yang sehari-hari dipakai oleh masyarakat didaerah asal saya di Pontianak. Sedikit terkejut memang karena saya sendiri tidak pernah mengetahui kalau di Belitung juga menggunakan bahasa Melayu. Tapi ini mungkin mengingat jarak geografis yang tidak terlalu jauh.

Film ini menarik bagi siapapun untuk menontonnya. Banyak pelajaran, perjuangan serta inspirasi didalamnya. Bagaimana seorang guru dengan gigih mempertahankan sekolahnya serta anak-anak yang tetap bersemangat belajar dengan fasilitas seadanya. Ditengah keterpurukan pendidikan di Indonesia saat ini, masih ada orang-orang gigih memperjuangkan pendidikan tanpa kenal lelah bagi kemajuan bangsa ini.

Film ini sudah saya tonton 2 kali, tapi rasanya belum puas. Oleh karena itu saya rasa film ini pantas disarankan untuk ditonton. Dengan rekor 1 juta penonton selama 10 hari pemutaran, maka tidak heran jika film ini akan memecahkan rekor penonton terbanyak yang selama ini dipegang oleh film Ayat-ayat Cinta garapan Hanung Bramantyo. Hal ini beralasan karena tema yang ditawarkan Laskar Pelangi lebih universal, sehingga bisa ditonton mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Satu pemikiran pada “Menonton Laskar Pelangi The Movie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s