Will U Marry Me?

Will u marry me?. demikian biasanya ungkapan ajakan menikah dari seorang pria kepada wanita yang dicintainya. Menikah adalah satu tahap penting kehidupan manusia, dengan menikah seorang manusia harus sudah benar-benar siap untuk membina sebuah keluarga. Berbeda dengan saat pacaran, saat sudah menikah masing-masing orang harus sudah lebih bisa menahan ego masing-masing, termasuk menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya. Saat pacaran setiap orang ingin selalu terlihat perfect didepan pasangannya, banyak hal yang masih disembunyikan terutama berkaitan dengan hal pribadinya.

Tidak ikhlasnya menerima kekurangan pasangan membuat rumah tangga tidak harmonis, ego masing-masing ditonjolkan. Hal ini bisa kita lihat dari perilaku artis-artis kita didunia hiburan. Saat perayaan pernikahan, janji setia diucapkan, berjanji setia sampai mati dan tak berpisah sampai maut memisahkan. Waktu berjalan, bulan demi bulan masing-masing merasa ada hal yang berbeda atau bahasanya mereka ada prinsip yang tidak bisa disatukan. Dan tanpa ba bi bu, gosip pun tersebar, artis A akan menggugat cerai pasangannya. Lalu kemudian keduanya terlibat adu kata di media, saling menyalahkan dan membeberkan kekurangan pasangannya, bahkan yang lebih ekstrim mengatakan bahwa mereka salah memilih pasangan ketika menikah. Alamak.. jadi apa gunanya janji pernikahan, bersumpah didepan keluarga, saksi dan yang lebih sakral bersumpah demi Tuhan yang maha pencipta. Perceraian pun akhirnya terjadi, tidak lama kemudian ada gosip si Artis A sedang dekat dengan Si C, tak berapa lama kemudian keduanya mengumumkan berita bahwa mereka sedang berpacaran dan berencana untuk menikah. Waktu yang ditunggupun datang, pernikahan keduapun diselenggarakan. Senyum bahagia memenuhi wajah keduanya dan juga keluarga dari masing- masing mempelai. Tapi waktu perlahan memperlihatkan bahwa terdapat ketidakcocokan antar pasangan. Sang istri pun diberitakan selingkuh, lalu merekapun pisah ranjang hingga akhirnya pisah rumah. Kelahiran anak dimuka bumi tidak bisa menghalangi perpisahan. Cerai dipilih karena dianggap jalan yang terbaik. Talak cerai diajukan, pengadilan agama menjadi mediasi untuk mencari jalan rujuk demi kepentingan anak mereka. Tapi hal itu tidak digubris. Dipengadilan kemudian terjadi saling gugat menggugat harta gono gini dan juga status anak, ikut ibu atau ayahnya. Tinggallah sang anak menjadi korban sikap tidak dewasa orang tuanya. Karena yakinlah dengan ikut siapapun anak tidak akan bahagia. Anak butuh kasih sayang dan bimbingan kedua orang tua dalam tumbuh kembangnya.

Mungkin hal diatas adalah contoh dari dunia hiburan tanah air, tapi jika dicermati kesakralan pernikahan mulai luntur dimasyarakat. Pernikahan hanya dianggap penyatuan dua kepentingan dalam satu janji pernikahan. Ketika semuanya sudah didapat maka pernikahan bukan dianggap hal yang suci lagi.
Terkadang saya kagum dengan kehidupan orang tua kita jaman dahulu. Banyak diantara mereka yang dijodohkan atau dikatakan mereka menikah dengan pasangan yang tidak dikenal atau dikehendakinya. Tapi luar biasanya masing-masing bisa menerima dan bahkan bisa hidup bahagia hingga usia tua, bahkan ada diantaranya yang masih menunjukkan sikap mesra meski sudah diambang usia senja. Jadi pertanyaannya apakah dunia manusia abad 21 ini sudah berubah.

Saya mengambil salah satu ayat dalam kitab suci yang berbunyi, “Dan firman-Nya : sebab laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Jika setiap individu yang menikah menghayati dan memahami ayat ini, maka tidak akan ada perceraian yang terjadi. Tidak akan terjadi juga perbedaan prinsip yang menjadi sebab perpisahan. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga yang sering diberitakan juga tidak akan pernah terjadi.
Oleh karena itu wajiblah bagi setiap pasangan yang memutuskan menikah, menyadari dan mempertimbangkan masak-masak serta mempunyai kesiapan dan kedewasaan berpikir dan bersikap dengan keputusan yang diambilnya.

love036

“Menikah adalah penyatuan dua pikiran manusia dewasa yang siap menerima pasangan apa adanya dan mempertahankan perbedaan yang ada sebagai sebuah kekuatan”. Rafael

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s