Meriam Bellina : Dari Penyanyi Melankolis Ke Pemeran Watak

Salah artis watak yang sempurna menurutku adalah Merriam Bellina. Wanita ini sungguh pemeran yang powerful. Ketika ia bermain dalam sinetron atau film, arakternya seolah menyatu dengan tokoh yang diperankannya. Ia bisa menjadi seorang wanita yang teraniaya dan kemudian discene lain bisa menjadi orang kaya yang sombong. Kemampuannya dalam memerankan tokoh dalam sinetron dan film ini belum mempunyai tandingannya sampai saat ini.

Tadi sore saya diberi kesempatan untuk menyaksikan kepandaiannya dalam memainkan peran. Sinetron Kasih yang tayang di RCTI menampilkan ia sebagai seorang ibu yang berjuang mati-matian untuk membesarkan anaknya. Ia bekerja apa saja asalkan anaknya bisa kuliah dan setelah lulus menjadi orang yang sukses. Didalam pikirannya biarlah ia sengsara dan pontang-panting mencari uang asal apa yang diinginkannya bisa terwujud. Ia lalu bekerja menjadi buruh pabrik konveksi. Tugasnya disana adalah menjahit bahan dasar kain menjadi setelan pakaian. Ia rela tidak makan saat istirahat, padahal banyak rekan kerjanya yang berkumpul di kantin pabrik untuk menikmati makan siang. Bahkan terkadang jika lapar menyergap, ia lebih suka memilih makanan nasi putih dan sepotong tempe yang tentu saja harganya murah. Lebih baik uang makannnya ia simpan untuk kebutuhan kuliah anaknya. Sungguh cinta kasih ibu yang luar biasa. Sebaliknya dalam sinetron ini sang anak merupakan gambaran anak yang tidak berbakti. Ia sering marah-marah kepada ibunya hanya karena ibu seorang pekerja pabrik. Kemarahannya tumpah saat ibunya diantar oleh seorang pria yang merupakan bos dari sang ibu dipabrik. Padahal saat itu ibunya sudah sangat lemah untuk pulang karena sempat pingsan dipabrik karena penyakit batuk bawaan.

mer

Meriam Bellina saya lihat sangat cocok memerankan karakter seorang ibu yang penuh cinta kasih terhadap anaknya. Lemah lembut serta berkorban demi kebahagiaan anaknya. Sebenarnya bukan pertama kali Meriam memerankan sosok seorang ibu yang seperti itu. Dulu sekitar 2 atau 3 tahun lalu ia pernah berperan juga sebagai seorang ibu bagi seorang anak yang diperankan oleh Dina Olivia dalam sinetron berjudul Bunda. Disini nasibnya lebih tragis. Ia menjadi seorang terpidana dalam kasus pembunuhan suaminya sendiri yang ternyata tidak dilakukannya. Padahal saat itu ia sudah mempunyai seorang bayi. Karena tidak mau melihat masa depan anaknya hancur bersamanya dipenjara, ia pun menitipkan bayinya itu pada salah satu panti asuhan.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak sudah tumbuh dewasa dan sudah menjadi seorang pengacara yang terkenal. Pada suatu ketika sang anak bertemu lagi dengan ibu dipenjara karena sang anak terlibat dalam pengurusan kasus sang ibu yang prosesnya mandek meski sudah berpuluh tahun berlalu. Melihat kondisi ibunya yang begitu, ia pun tidak mampu menahan tangis. Ia membayangkan bagaimana sang ibu melewatkan hari-hari yang suram dipenjara.
Peran Meriam Bellina disini terlihat sangat menyedihkan. Bermacam-macam penderitaan ia terima dipenjara, mulai dari sipir yang galak, sampai sikap penghuni penjara lain yang memukul dan menindasnya. Berpuluh tahun yang diinginkannya hanya satu, yaitu bisa bertemu dengan anak yang pernah ditinggalkan. Ketika bertemu dengan anaknya ia sudah tahu bahwa yang didepan itu adalah anaknya. Tapi ia tidak memberitahukan karena takut anaknya tidak mau mengakui ia sebagai ibu yang hanya seorang narapidana dipenjara. Prinsipnya ia tidak mau anaknya membencjnya karena pernah meninggalkannya di panti asuhan. Ia cukup bahagia hanya dengan melihat dari jauh wajah anaknya. Dalam hati ia bangga sang anak berhasil dan sukses dalam karir dan kehidupannya. Tidak sia-sia doa yang ia panjatkan setiap malam kepada Yang Kuasa.

Disini peran Meriam Bellina sebagai ibu sungguh menyentuh. Jiwa perannya benar-benar dicurahkan dalam memerankan tokoh sang ibu. Sehingga banyak orang terbawa emosi dan menitik air mata ketika menyaksikannya. Hal itu juga yang membuat sinetron ini dulunya memiliki rating yang tinggi.
Meriam Bellina adalah sosok yang hidup untuk dunia peran. Totalitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jika suatu saat saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yan saya kagumi, maka tokoh ini tidak akan terlewatkan.

Satu pemikiran pada “Meriam Bellina : Dari Penyanyi Melankolis Ke Pemeran Watak

  1. Saya setuju kalau Mer adalah satu2nya aktris yg tidak tertandingi kepiawaiannya. Mer adalah gabungan Mutu dan Komersil. Jarang ada aktris yg mempunya gabungan seperti ini, Ada aktris yg aktingnya bagus tp film/sinetronnya ga laku dan jarang tampil, ada aktris yg sering muncul dan film dan sinetronnya laris, tp kualitas aktingnya ga bagus dan perannya itu2 aja (misalnya protagonis melulu).
    Satu lagi kelebihan Mer, Mer adalah satu2nya aktris Indonesia yg sangat-sangat produktif, sejak 1983-2009 karyanya bisa dinikmati tanpa jeda waktu. Kecuali cuti hamil, karya Mer tergres bisa dinikmati hampir setiap hari (musim striping 2006-sekarang), setiap minggu (1994-2006), setiap bulan (1983-1993). Mustinya Mer bisa diajukan masuk MURI karena eksistensinya yg mahadahsyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s