Friends

Friendship : Catatan Yang Tertinggal

Bulan-bulan terakhir ini merupakan bulan yang menggembirakan dan juga menyedihkan bagi saya, terutama dalam hubungan persahabatan dengan beberapa rekan saya. Kok bisa?. Apakah saya bertengkar atau mempunyai masalah besar dengan rekan-rekan saya itu. Apakah saya melakukan kesalahan yang membuat hubungan menjadi tidak baik. Tapi sungguh bukan itu masalahnya.

Ceritanya begini. Saya bekerja diperusahaan saya yang lama selama dua tahun. Satu tahun saya habiskan dikota ini. Disini saya mengenal beberapa teman yang tergabung dalam perusahaan yang sama. Diantaranya ada Tony, Joni, Daniel, dan Tongi. Kami berteman akrab, apalagi tempat tinggal kami dekat. Saya menyewa sebuah rumah dan tinggal bersama Tongi. Tongi merupakan suksesor saya setelah saya keluar dari perusahaan saya itu. Sekarang saya bekerja diperusahaan yang berbeda dari sebelumnya. Adapun Joni juga sudah keluar dari perusahaan yang sama dan menerima pinangan dari perusahaan yang lain. Sama seperti saya, ia juga tidak pindah dari tempat tinggalnya sebelumnya. Tempat tinggalnya hanya berjarak 1 blok dari tempat tinggal saya.

Sebagai anak perantauan, kami merasa cocok dan akrab. Banyak hal kami lalui bersama. Kami biasa pada malam tertentu berkumpul ditempat tinggal saya. Melakukan banyak hal misal nonton bareng program sepakbola, main game computer (3 dari kami mempunyai laptop sehingga bisa bertanding), cerita tentang pekerjaan dan rencana masa depan. Meski sering berkumpul begitu kami tidak pernah melakukan hal yang negatif. Terlebih lagi Pak Haji sang pemilik rumah tidak pernah mempermasalahkan siapa saja yang datang ketempat kami, asal tidak membuat keributan dan keonaran. Apalagi teman-teman saya itu mempunyai mulut yang manis, sehingga sang pemilik pun kenal dengan mereka.

Waktu membentuk kami memahami satu sama lain, bagaimana bertoleransi membantu teman lain yang sedang sedih atau kesusahan, mensupport jika ada masalah. Tentu saja dengan adanya kehadiran teman-teman itu, masing-masing tidak kesepian meski jauh dari pacar yang berada nun dibelahan bumi yang lain.

Tapi kondisi itu mulai berubah saat teman kami Daniel mendapatkan pekerjaan di Surabaya tempat asalnya. Sebenarnya dari dulu juga kami memang mendukungnya untuk bisa mendapat pekerjaan disana, apalagi ia adalah anak tunggal, sedangkan ayahnya juga sering sakit-sakitan. Lumayan lama juga perjuangannya mendapatkan pekerjaan. Sampai pada suatu saat dengan ceria ia bercerita kepada kami bahwa ia sudah deal dengan pihak perusahaan baru untuk pindah kerja kesana. Memang hal itu lebih baik, karena bagaimana pun berada didaerah sendiri dan tinggal dekat dengan keluarga akan membuat orang lebih bersemangat dalam bekerja. Sebagai perayaan perpisahan ini kamipun mengadakan perjalanan jauh kepantai Samboja yang berjarak 70 km. Disana kami berempat (Tony tidak ikut) bersenang-senang, berfoto-foto dengan bergaya bak coverboy, berlenggak lenggok di pantai seolah itu adalah catwalk. Bukan coverboy majalah remaja, tetapi coverboy majalah fauna. Ha…ha…

betiga

bt-copy

pon

Awal tahun kemarin Daniel pun berangkat ke Surabaya. Pergi juga akhirnya teman yang biasa menjadi partner saya bermain badminton setiap Sabtu itu. Hiks

Beberapa bulan berlalu, kabar baik datang dari Tony. Ia mendapatkan pekerjaan baru dengan tawaran yang lebih menarik. Kemampuan dan kecakapannya membuat sebuah perusahaan otomotif ternama kepincut dengannya. Iapun didapuk menjadi kepala cabang untuk area Balikpapan. Kami memujinya sebagai orang hebat. Jabatan yang baik dengan tawaran gaji yang bagus juga tentunya pasti sangat susah didapat jika orang tersebut tidak memiliki tingkat kompetensi yang baik. Awal April ini Tony akan berangkat ke Bandung untuk menjalani training. Disana ia akan menetap selama 3 bulan. Setelah menyelesaikan masa trainingnya nanti barulah ia kembali dan langsung memegang area Balikpapan. Tentu saja hal itu baik untuknya, karena selama ini sejak menikah satu tahun lalu, ia selalu harus bolak-balik Samarinda-Balikpapan setiap Sabtu dan kembali lagi Senin subuh. Sungguh sebuah perjalanan yang melelahkan. Dengan mendapat pekerjaan ini, maka ia bisa tinggal bersama istrinya dan dekat dengan orang tuanya. Satu kebahagiaan sekarang sudah dikecap olehnya. Tapi dengan perginya Tony, maka kami akan kehilangan satu teman lagi.

Ternyata eksodus rekan kami tidak berhenti sampai Tony saja. Berikutnya Tongi juga menyusul. Berbeda dengan saya, Daniel atau Tony, ia tidak keluar dari perusahaanya saat ini, tapi ia memperoleh promosi untuk kenaikan jabatan menjadi manajer area. Untuk jabatan barunya ini, ia harus menetap dan pindah ke Balikpapan karena kantor wilayahnya berada disana. Belum ada informasi kapan ia akan pindah, tapi mungkin 2 bulan lagi ia akan meninggalkan Samarinda. Sementara sambil menunggu pengganti, ia masih berada disini.

Setelah keduanya pergi nanti tinggallah saya dan Joni. Meski nanti akan ada pengganti untuk Tony dan Tongi, tapi rasanya sulit untuk mendapat rekan atau sahabat seperti mereka. Ada kenangan yang kami ciptakan bersama, ada kepingan waktu yang tersisa dari perjalan persahabatan kami.

Terkadang saya dan Joni sering bercanda sambil bertaruh siapa berikutnya yang akan meninggalkan Samarinda terlebih dahulu. Memang kami masing-masing ada rencana untuk kedepannya. Namun semuanya masih serba buram (mungkin harus dilap dulu agar tampak jelas).  Tapi siapapun nantinya yang akan pergi dari sini berikutnya hal itu tidak penting. Yang penting adalah di Samarinda telah tercipta sebuah persahabatan yang akan kekal dan akan diingat oleh kami sendiri sampai tua nanti. Tidak tahu kapan semua akan berkumpul lagi, tapi jika Tuhan mengizinkan pasti hal itu akan terjadi.

Iklan
Standar
Experience

Sisi Kreatif dan Nyeleneh Pebisnis Sukses

Kemarin, saya berkunjung kesalah satu langganan perusahaan kami. Sudah lebih dari setahun saya tidak pernah ketokonya lagi. Pemiliknya bernama Ali dan usianya kurang dari 40 tahun. Ia merupakan salah satu pemain bisnis ATK terbesar di kota ini. Bermacam-macam item kebutuhan kantor dan komputer tersedia ditokonya.

Memasuki tokonya tampak ada beberapa perubahan susunan barang-barang yang dipajang di tokonya. Sayapun bertanya kepada karyawannya apakah Pak Ali ini ada ditempat. Sang karyawan pun menunjuk kearah belakang etalase, rupanya disana sang bos sedang menyusun pajangan barang dietalase. Sambil melongok keatas ia pun menyapa saya terlebih dahulu sambil bertanya kabar saya.

Saya sedikit terkejut, karena sang pemilik toko ini masih mengenali saya meski saya sudah lama tidak ketokonya. Lebih terkejut lagi karena ia yang memanggil saya terlebih dahulu. Lalu Pak Ali ini pun mempersilahkan saya duduk dan bicara mengenai perkembangan bisnisnya. Iapun bercerita tentang keberhasilannya menjadi distributor produk kertas fotokopi nasional baru-baru ini. Terkadang terdengar kata-kata yang bernada arogan yang terlontar dari mulutnya. Ya, tentang bagaimana ia memenangkan persaingan dalam mendapatkan hak distribusinya, tentang saingan-saingannya yang dianggapnya seperti sapi ompong, dimana mereka semua itu melakukan cara-cara dan strategi lama yang ketinggalan zaman dan sudah bisa dibaca sehingga akhirnya harus gigit jari.

success_failure

Saya mendengarkan dengan seksama ceritanya. Terkadang malas juga mendengar kata-katanya yang meremehkan orang lain serta menganggap ia adalah yang paling sempurna. Meski begitu saya juga mengagumi sosok satu ini. Jika menilik pada tahap awal pengembangan bisnisnya hingga bisa menggurita sampai saat ini pastilah banyak orang yang akan terkesima dan banyak orang yang ingin mendengarkan kisah suksesnya. Ya, ia memulai bisnis dengan penuh keprihatinan. Menggunakan modal seadanya untuk memulai bisnis, jatuh bangun, rugi hingga modal habis, ditipu orang. Hal itu merupakan cerita kelamnya. Tapi dengan semua itulah ia bisa menjadi sesukses ini.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan mengenai sosok ini yang membekas dipikiran saya, yaitu bagaimana ia masih mengenali orang dengan baik dan juga hal yang berhubungan dengan sikap arogannya itu.

Kemampuan mengenali orang merupakan salah satu kunci sukses dalam bisnis. Misalkan ketika kita bertemu dijalan, apakah kita lebih suka dipanggil Mas saja atau Mas Irwan misalnya. Mana yang anda pilih, dan mana yang lebih mengakrabkan. Tentu saja jawabannya adalah panggilan Mas diikuti dengan nama, karena panggilan itu lebih terdengar akrab dan merupakan gambaran bahwa kita sudah kenal lama dengan orang tersebut. Begitu juga jika ilmu ini diterapkan didalam bisnis, tentu akan memberikan efek positif bagi perkembangan bisnis kita, bahkan mungkin kita bisa mendapat proyek atau order besar yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kenyataannya banyak kita temukan dilapangan, bahwa orang yang kita kenal baik, walau baru bertemu dapat membantu kita saat kita mengalami kesulitan.

Kemudian yang kedua tentang sikap arogan. Saya sebenarnya paling benci dengan orang yang sombong dan arogan. Begitu juga dengan manusia lain pastinya. Tapi sikap seperti itu dapat kita ambil positifnya. Kok bisa?. Ya jawabannya bisa saja.

Sikap arogan mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi muncul jika kita menghargai apa yang menjadi kekuatan dari diri kita. Kita mencintai diri kita apa adanya, kita bangga dengan diri kita saat ini dan menganggap bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Dengan begitu kita tidak menganggap kelemahan dari diri kita sebagai penghalang bagi hidup kita. Kekuatan diri yang disertai semangat berkobar dapat mengalahkan semua hal dalam menggapai apa yang diinginkan.

Sedangkan poin positif kedua dari sikap arogan seperti yang diperlihatkan Pak Ali adalah gambaran rasa tidak cepat puas atas apa yang dicapai. Hal ini bagus agar ia terus bisa berinovasi menciptakan hal-hal baru yang berguna bagi perkembangan usahanya. Memang kita diajarkan untuk bersyukur atas apa yang kita miliki dan itu tidak salah. Tapi jika kita sadari lagi bahwa kita diciptakan dengan cara dan bentuk yang luar biasa. Oleh karena itu kita harus menggunakan segenap kekuatan yang diberikan oleh Tuhan untuk mencapai apa yang kita inginkan didunia ini. Tapi yang perlu diingat bahwa kita tidak terhanyut oleh godaan dunia, tetapi menggunakan karunia yang diberikan untuk memberi makna pada hidup kita dan hidup orang lain disekitar kita.

Standar