Opinion

Belajar Dan Inspirasi

Terkadang kita bisa mendapat inspirasi dimana saja. Bisa dikantor, dijalan, atau mungkin saat pembicaraan di warung kopi. Dan tadi pagi saya mendapatkan sebuah ungkapan kecil yang menginspirasi saya. Ungkapan itu meluncur dari teman saya saat kami sedang terlibat pembicaraan ngalor ngidul dikantor.
“Pak Budi, sebagai seorang manajer area saya sebenarnya tidak suka kalau berada dikantor terlalu lama!. kata teman saya itu sebut saja Pak Heri.
Saya tertegun sejenak dan kemudian bertanya,
“Pak, bukannya pekerjaan bapak memang harus membagi porsi antara kerja dalam ruangan dan luar ruangan.

Lagipula saya pikir banyak orang lebih suka berada didalam ruangan lebih nyaman karena ruangannya ber AC?”
Ia menghela napas sebentar, melihat keluar jendela.
“Betul pak, memang dipekerjaan ini, saya diharuskan membagi porsi luar ruangan yang lebih kecil dari aktivitas didalam ruangan. Tapi sejujurnya pak, saya lebih suka jikalau porsinya bisa lebih besar lagi?.”
“Kenapa begitu pak” tanya saya sedikit bingung.
“Ya pak, mungkin beberapa orang berbeda pendapat dengan saya, karena memang kerja diluar ruangan memang membutuhkan fisik yang prima, itu saya sadari karena usia saya sudah hampir 40 tahun. Tapi pak kenapa saya menyukai hal tersebut, ini karena saya beranggapan diluar ruangan saya bisa banyak belajar. Itu karena saya bisa berinteraksi langsung dengan orang lain dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya saya bisa bertemu dengan pelanggan-pelanggan saya. Kita tahu sendiri bahwa diluar kita akan bertemu dengan orang-orang yang pasti karakternya berbeda. Dengan berhadapan dengan orang-orang itu kita bisa mempelajari karakter orang tersebut. Hal itu akan memperkaya pengetahuan kita akan pengenalan pribadi orang lain.”

Ia terdiam sejenak
“Diluar juga kita bisa mendengar informasi-informasi yang berguna, peluang-peluang yang mungkin tidak disadari orang lain bahwa hal itu bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Kemudian kita juga bisa membangun networking, bertemu dan berhubungan dengan banyak orang pastilah akan memberikan keuntungan bagi kita.”
Dengan mengangguk sayapun mengiyakan kata-kata sang teman. Pembicaraan kami kemudian terputus dikarenakan teman saya tersebut pamit untuk kembali bekerja.

Saya tercenung sejenak dan kemudian seperti tersadar berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya itu benar adanya. Sayapun terkadang meski porsi diluar ruangan cukup besar tidak memanfaatkan hal tersebut dan lebih sering menghabiskan waktu didalam ruang mengerjakan pekerjaan administrasi dan monitoring yang memang lebih dominan dilevel pekerjaan saya saat ini.

Saya ingat ada beberapa teman kantor yang mengeluhkan jenuhnya mereka dengan pekerjaan mereka saat ini. Masuk jam 8, duduk, kerjakan tugas kantor, istirahat, kerja lagi, teng.. bel pulang berbunyi dan pulang. Hal itu menjadi rutinitas, terkadang ada kecemburuan melihat rekan lain yang mempunyai aktivitas diluar. Bisa lepas dari pengawasan bos, bisa menghilangkan stress diubun-ubun karena banyaknya pekerjaan. Memang bekerja diluar memang mempunyai tantangan tersendiri, perlu fisik dan stamina yang lebih prima. Selain itu jika berada didepartemen sales juga perlu mental yang kuat apalagi jika banyak berhubungan dengan pelanggan yang mungkin banyak komplain, tidak puas bahkan lebih parah lagi asal marah dan memaki karena layanan perusahaan yang tidak bagus misalnya. Tapi seperti teman saya katakan disana kita bisa belajar banyak dan melihat peluang yang lebih besar.

Karena sesungguhnya hakekat hidup adalah bagaimana kita bisa belajar dari lingkungan serta berinteraksi dengan banyak penghuni bumi lainnya.

Iklan
Standar
Friends

Mencari vs Menciptakan Peluang

Dikantor, saya memang cenderung bersikap membuka diri. Saya berlaku lebih santun kepada orang lain meskipun orang tersebut baru pertama kali bertemu. Tidak perduli apapun jabatannya. Hal ini karena sebagai area manager, saya baru berkantor didistributor ini selama 3 bulan sehingga banyak hal yang masih perlu disesuaikan. Istilahnya saya masih harus beradaptasi dengan kondisi kantor dan personel-personel dikantor ini.

Ada satu rekan yang menjadi perhatian saya. Kesan awalnya adalah orang ini sedikit sombong karena saya pernah mengajaknya berbasa basi tapi hanya dijawab seadanya. Saya pikir ia adalah area manager juga, wah mungkin saja apalagi secara tampang dan penampilan memang mendukung. Tapi saya salah, menurut info orang kantor ini, orang tersebut hanya seorang sales supervisor dari salah satu principle.

Pagi ini entah tidak tahu mengapa saya tertarik untuk berbicara dengannya. Sayapun menyapanya dan berbasa basi mengenai performance sales produk yang dihandle nya.
Tak disangka ia menyambut hangat sapaan saya dan kami kemudian terlibat pembicaraan yang asyik.
Ia bercerita bahwa ia sudah lebih dari 10 tahun meniti karir dibidang sales ini. Awalnya ia mulai dari menjadi salesman, sampai kemudian bergabung dengan perusahaanya saat ini kurang lebih 8 tahun yang lalu.
Pandangannya seolah menerawang mengenang masa-masa itu. Iapun melanjutkan dan berkata bahwa sebenarnya ia jenuh dengan pekerjaannya saat ini. Rutinitas yang dilakukannya bertahun-tahun membuatnya sudah pada posisi yang nyaman dan merasa tidak punya tantangan lagi.

Memang kemarin perusahaan menawarkan padanya jabatan area manager, jabatan yang memang ia idam-idamkan. Padahal untuk promosi seperti itu memerlukan spesifikasi ketrampilan yang lebih dan kemungkinan penempatannya adalah diluar daerah, sesuatu hal yang ia takutkan karena ia sudah berkeluarga dan anaknya sudah besar-besar. Dan benar saja untuk jabatan tersebut ia diharuskan untuk pindah kedaerah lain. Sungguh sebuah pilihan yang sulit. Akhirnya karena tawaran income untuk kenaikan jabatan tersebut juga tidak begitu tinggi, iapun menolak dan memilih tetap pada jabatannya sekarang.

Sejenak ia melihat saya dan berkata, “Kalau saya masih seusia pak Budi sih, saya pasti ambil posisi tersebut. Tapi untuk usia seperti saya sungguh sebuah dilema”.
Saya tersenyum memandangnya, kemudian bersikap seperti orang bijak kemudian berkata
“Memang pak, peluang itu terkadang datang ketika kita tidak atau belum siap untuk menerimanya. Ia lebih sering datang diwaktu yang tidak tepat. Tapi saya rasa kita tidak harus menunggu ia datang pak. Ya, kenapa bukan bapak saja yang menciptakan peluang dan kesempatan untuk bapak sendiri.”

Kami terdiam sejenak, kemudian bapak itu berbicara lagi.
“Betul juga pak Budi, saya memang sudah merencanakan untuk menciptakan peluang saya sendiri. Tidak lama lagi saya akan mengajukan pension dini dan berencana untuk membuka usaha sendiri. Dengan begitu saya merasa sudah melangkahkan kaki saya menuju jalan hidup saya sendiri. Saya tidak perlu menunggu peluang yang ditawarkan untuk saya, tapi saya akan mencari dan menemukannya”.
pl_opportunity
Ada senyum optimisme diwajahnya. Sayapun tersenyum dalam hati. Hari ini saya menasihati orang yang lebih tua dari saya, sebuah kebanggaan atau sebuah kekurangajaran. Entahlah.

Standar