Tukul : Inspirasi dari Wong Ndeso

Bicara tentang seorang manusia bernama Tukul, pastilah kita akan teringat dengan sosok lucu dan katrok dalam acara talk show “Bukan Empat Mata”. Saking populernya Tukul dengan acara yang identik dengan dirinya itu, konon kabarnya ia diprediksi sanggup mengumpulkan Rp. 17 milyar pertahun dari pekerjaannya sebagai presenter dan bintang iklan. Sehingga ia disebut sebagai salah satu entertainer terkaya dinegeri ini.

Acara talk show “Empat Mata” sebelum diberangus oleh KPI sehingga berubah nama menjadi “Bukan Empat Mata” merupakan salah satu acara yang banyak ditunggu oleh pemirsa televisi di Indonesia. Bahkan acara ini beberapa kali menjadi acara talk show favorit pemirsa versi beberapa lembaga rating. Akibatnya popularitas sang pembawa acara tersebut yaitu Tukul juga ikut terdongkrak. Sebenarnya bukan acara tersebut yang membuat Tukul terkenal, tetapi Tukullah yang membuat acara tersebut menjadi menarik dimata penonton.

Tingkah polah dan ekpresi yang lucu dan konyol serta gaya yang kampungan menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak masyarakat. Masyarakat seperti sudah bosan dengan acara-acara yang menampilkan lebih banyak sisi akting dari sang pelakon. Kecendrungannya adalah masyarakat lebih menyukai hal-hal yang lucu, alami dan menarik ditengah-tengah situasi dan kondisi ekonomi yang masih belum membaik.

Tentang Tukul ini saya mempunyai kekaguman sendiri akan sosok ini. Yang pertama adalah mengenai fisiknya. Banyak orang mengatakan ia mempunyai wajah yang jelek. Sebagian orang akan tersinggung, marah atau bahkan minder bila dikatakan seperti itu, tapi ia malah sebaliknya. Ia tidak tersinggung apalagi marah, wajah jeleknya malah dianggap sebagai salah satu keunggulannya. “Unik dan tidak ada duanya” begitu suatu kali ia berujar. Bahkan wajah jeleknya ini menjadi daya tarik bagi penikmat acara yang dibawakannya. Bicara minder?. Tidak sama sekali, ia begitu pede dengan semuanya itu. Bukan tidak tahu malu, tapi lebih cenderung bisa memanfaatkan pemberian Tuhan dengan bijak. May be. Jadi jika ada orang menganggap bahwa penampilan fisik adalah segala-galanya dan menganggap bahwa dengan kekurangan fisik adalah sebuah kesalahan dari penciptaan, maka ia sudah melakukan kesalahan yang paling fatal dalam hidupnya. Kenapa begitu, hal ini karena dengan mempunyai pikiran seperti itu maka setiap apapun yang dilakukan semuanya akan dilakukan dengan tidak percaya diri, selalu menganggap apapun tidak mampu dilakukan.

Berikutnya adalah sisi optimisme dan persistensi. Sisi masa lalu Tukul yang berasal dari keluarga miskin dan serba kesusahan ternyata tidak menghalangi mimpi besarnya untuk menjadi seorang entertainer. Banyak liku yang harus dilewati, penuh perjuangan dan dari sini optimisme dan persistensinya dibentuk. Optimis bahwa suatu saat mimpi tersebut bisa dicapai dibarengi dengan ketetapan hati untuk fokus pada impian tersebut.

Jika mendengar Tukul bercerita mengenai perjuangannya bisa sampai ia berada saat ini sungguh menarik. Saya menyaksikan sendiri ketika ia mengisahkan perjuangan hidupnya pada acara “Tatap Muka” di salah satu stasiun televisi. Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah menyesali masa lalunya, kisah pedih dan kelam dari perjuangannya dianggap sebagai jembatan menuju suksesnya saat ini. Sukses baginya adalah kristalisasi keringat. Kerja keras tanpa kenal lelah. Keinginan belajar dan maju. Semua hal itu yang membuatnya menjadi seperti Tukul saat ini.

Yang ketiga adalah sikap rendah hati. Meskipun sudah kaya dan terkenal, Tukul dikenal sebagai sosok yang baik. Ia tidak melupakan rekan-rekannya semasa susah dahulu, ia juga membuka diri untuk orang-orang yang ingin belajar dan sukses seperti dirinya. Berbeda dengan kebanyakan orang sukses yang berlatar keluarga yang kurang mampu, Tukul menunjukkan bahwa dengan berubahnya status ekonomi tidak harus menyebabkan personalnya juga ikut berubah. Ia tetap low profil dan menunjukkan bahwa apa yang didapatkannya saat ini adalah buah kerja keras dan dukungan dari banyak orang juga. Tidak lupa Tukul juga menyisihkan sebagian rezekinya bagi kaum yatim dan miskin.

Sikap rendah hati lainnya ditunjukkan dalam kehidupan rumah tangganya. Beberapa waktu ini saya menonton ditelevisi mengenai keinginan istri kedua dari komedian Kiwil untuk bercerai. Adapun masalahnya adalah kecemburuan sang istri dalam hal mendapatkan kasih saying dari suaminya. Kiwil dianggap lebih sayang dan perhatian dengan istri pertamanya, apalagi ketika sang istri pertama mengandung anak keempatnya. Meskipun belum menyetujui tuntutan perceraian tersebut, tapi Kiwil menyatakan memang dengan beristri dua, ia tidak pernah bisa membagi secara adil kasih sayang kepada kedua istrinya itu. Jika dibandingkan dengan Tukul, pastilah sukses finansialnya Kiwil tidak ada apa-apanya. Tetapi dalam hal ini kesetiaan Tukul pada istrinya bisa diacungi jempol. Susi sang istri yang sering diplesetkan sebagai “similikiti” bukanlah sosok yang cantik dan menarik, tapi sang suami sampai saat ini tidak pernah berpaling. Jikalau diturutkan bukanlah hal yang sulit bagi Tukul untuk mencari wanita lain yang lebih cantik, karena pada setiap kesempatan ia selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik dan seksi.

Meskipun memiliki fisik yang mungkin kurang menarik, pastinya dimata Tukul ada hal lain yang lebih menarik dalam diri Susi ketimbang penampilan fisik semata. Dan itulah yang tidak dilihat oleh orang kebanyakan. Tidak seperti Kiwil yang baru ngetop sudah cari wanita baru yang lebih cantik dan muda.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi mengambil hal-hal baik dari diri orang membuat kita bertumbuh dan mengerti akan kehidupan. Dibalik wajahnya yang ndeso dan tingkahnya yang konyol tersimpan teladan lain yang bisa dipelajari.

Satu pemikiran pada “Tukul : Inspirasi dari Wong Ndeso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s