Experience

Sacrifice & Love : Pengorbanan dan Cinta

Pagi ini saya bertemu dengan seorang ibu. Secara fisik tidak ada yang terlalu istimewa dari ibu yang satu ini, biasa saja seperti ibu-ibu paruh baya lainnya. Ibu Ana, begitu nama panggilannya. Saya ingat sudah dua kali ia datang ketempat saya untuk membeli kantong plastik. Katanya kantong hendak dipakai untuk membungkus bawang yang ia jual. Saya percaya karena saat ia datang ia menggunakan sebuah motor bebek dengan sebuah keranjang-yang biasa dipakai untuk mengangkut barang- dibelakangnya.

Pertama ia datang, terlihat kalau ia sangat lelah sekali. Wajahnya yang tirus dihiasi dengan peluh yang terus menetes, apalagi ia menggunakan kerudung dan masuk toko tanpa melepaskan helmnya. Suasana saat itu memang panas, matahari memancar dengan teriknya. Tapi bagi masyarakat kota Pontianak itu sudah biasa. Meski terkadang hujan, suasana panas tetap saja terasa.

Pagi ini ia datang kembali, dengan terburu-buru sang ibu menyapa saya. Nafasnya masih tersengal.

“Mas, biasa!. Kantong putihnya dua”

Melihat ia datang saya langsung beranjak dari tempat duduk saya dan menyosongnya. Wah pagi-pagi omset sudah datang nih, batin saya.Segera saya ambilkan kantong putih yang ia maksud.

“Ini bu. Dua bungkuskan?” tanya saya
“Iya mas. Harga kayak kemaren kan?”

Saya menggaruk kepala saya yang sebenarnya tidak gatal. Saya serba salah karena harga yang saya berikan kemarin itu benar-benar harga yang sudah mepet (untungnya tipis sekali). Bagaimana tidak, saya masih ingat ucapannya saat itu.

“Udahlah mas. Segini saja” ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas dan uang receh. “Kasian, saya kerja untuk anak”, lanjutnya. Belum sempat saya bereaksi ia sudah mengambilkan bungkusan kantong plastik yang sedari tadi saya pegang. Saya masih berusaha untuk merayu sang ibu untuk membayar sesuai harga yang saya sebutkan tadi.

Tapi sang ibu tersenyum dengan manisnya. “Iya mas, kasian ini kerja sendiri untuk anak” katanya sedikit memelas.
Rasa iba saya muncul. Ya sudahlah pikir saya, tidak usah meributkan uang yang hanya sedikit itu. Mungkin belum rezeki saya, lain kali mungkin.

“Ga lah bu, kalau harga kayak kemarin, itu mah ga untung bu” ujar saya.

Sang ibu tersenyum sambil nyengir. “Ya udah nih saya tambahin” katanya sambil menyerahkan uang yang baru diambil dari dompetnya yang menurut perkiraan saya merupakan hadiah dari pembelian emas ditoko emas.

“Makasih ya bu. Moga dagangannya laris” lanjut saya sambil tersenyum.
“Ya mas makasih. Iya namanya juga kita kerja untuk anak” jawabnya. “Saya ga malu loh mas kerja begini, panas-panasan yang penting anak saya bisa berhasil”.

Wah diulangi lagi kata-kata itu. Saya semakin penasaran. “Untuk anak, emang anaknya kenapa, sakit?” pikir saya.
Ia sudah naik disepeda motornya. Penasaran dengan maksud dari sang ibu, saya pun tidak membiarkan sang ibu langsung pergi.

“Benar bu, banyak orang memang ga mau dagang begini” ucap saya membenarkan perkataannya sebelumnya. “Tapi ngomong-ngomong apa maksud itu dengan bekerja untuk anak?”.
“Mas, anak saya sekarang kuliah di Yogya. Udah semester 8” kata sang ibu menjawab rasa penasaran saya. Jadi selama ini sang ibu bekerja berjualan bawang dengan motornya hanya untuk membiayai sang anak kuliah di Yogya. Saya jadi seperti tidak percaya dengan apa yang baru saya dengar. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa.
“Dia kuliah di kedokteran sekarang dan butuh biaya terus. Apa boleh buat saya kerja begini. Tapi saya ga malu kok mas kerja begini” katanya lagi. Kedokteran?. Gila banget nih ibu. Semua orang juga tahu kalau masuk kefakultas kedokteran membutuhkan biaya besar. Tidak di Jakarta, Jogja, semuanya setahu saya sama saja. Saya jadi semakin kagum dengan tekad dan semangat ibu ini.
“Pasti perlu biaya besar ya” pancing saya.

“Ga usah dibilang lagi mas. Saya aja sampai jual Avanza saya untuk biayain dia. Kemarin dia bilang perlu biaya lagi untuk biaya praktikum apa gitu yang saya ga ngerti.”

Matanya menerawang sejenak.
“Saya tuh mas, hampir saja putus asa. Beberapa bulan yang lalu anak saya bilang kalau ia dan beberapa temannya tidak lulus mata kuliah, dan ada kemungkinan di DO. Kabarnya temannya ada yang sudah digituin. Mas bisa bayangin pusingnya saya saat itu. Udah keluar uang banyak, kalau sampai anak saya di DO berarti harapannya saya jadi hancur. Ditengah kebingungan saya, tiap tengah malam saya doa mas. Saya minta sama Tuhan biar Dia bantu agar anak saya ga di DO dan dosennya mau meluluskan dia. Syukurlah mas, mungkin Tuhan sayang sama saya, akhirnya anak saya ga diapa-apain”
“Gitu ya bu. Luar biasa ya pengorbanan ibu. Saya doakan moga dagangan bawangnya laris hari ini bu” ujar saya karena matahari sudah semakin terik. Kasian ibu Ana ini kalau harus melayani pembicaraan saya dengan berpanas-panasan. “Ngomong-ngomong satu hari bisa laku berapa banyak bu bawangnya?” lanjut saya lagi.
“100 kilo mas. Ya udah makasih juga ya mas” katanya berpamitan dan dalam sekejap motornya sudah meluncur pergi.

Dalam hati saya mencoba menghitung-hitung apakah dengan jualan bawang ia mampu membiayai anaknya. Tapi dipikir-pikir memang sang ibu terbukti mampu. Tapi jualannya lumayan banyak juga ya. Bisa-bisa omsetnya jauh lebih besar dari saya yang jualan ditoko batin saya.
Ada pelajaran baik yang saya dapat hari ini. Tentang pengorbanan dan juga kasih sayang. Sacrifice and love. Cinta orang tua pada anaknya. Sejenak pikiran saya melayang mengingat ibu saya. Dalam nada kelu saya berucap “I love u my mom”.

Salam

Rafael Budi

Iklan
Standar
Umum

Talk About Wirausaha Muda Mandiri

Sebuah buku karya Rhenald Kasali, seorang doktor dan juga seorang penulis menjadi bahan bacaan saya beberapa hari ini. Buku ini ditulis dan dirangkum Rhenald sebagai hasil dari kontes atau lomba sebuah program yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri, yaitu Wirausaha Muda Mandiri. Lomba ini diikuti oleh peserta dari segala penjuru nusantara.

Saya ingat dulu di Metro Tv juga ditayangkan mengenai profil peserta pada hari Minggu. Saat itu saya menjadi salah satu penggemar setia tayangan ini. Pembawa acaranya adalah Dian Sastro dan Rhenald Kasali

Kisah tokoh yang disarikan oleh Rhenald dalam buku tersebut sungguh sangat inspiratif.  Bagaimana tidak, dengan usia yang masih sangat belia, mereka sudah dapat berkarya jauh kedepan sebagai pengusaha. Mereka tipe orang yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu berinovasi. Tapi dibalik kesemuanya itu banyak visi mulia yang mendasari mereka untuk berubah kuadran menjadi pengusaha. Ada yang selama hidupnya didera kemiskinan, ada juga yang ingin membahagiakan orang tua dan keluarga, sebagian lagi ingin menunjukkan kepada orang lain yang pernah merendahkan mereka atas apa yang mereka pernah perjuangkan.

Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang muda yang memulai usaha dari nol. Perjuangan mereka melalui trial dan error serta pengorbanan waktu dan tenaga membuat perusahaan yang mereka dirikan menggurita sampai menghasilkan puluhan juta sampai milyaran rupiah perbulan. Mengagumkan!.

Elang Gumilang, Hendi Setiono, Yoris Sebastian, sampai Riezka Rahmantiana. Mereka adalah sebagian deretan orang muda dengan prestasi mengkilap dalam dunia usaha. Mereka mampu mengombinasikan bakat yang ada dengan kreativitas dalam mewujudkan impiannya.

Elang Gumilang yang diusia 25 tahun sudah bisa mempunyai perusahaan developer yang membangun perumahan sederhana bagi masyarakat miskin. Omsetnya kini bernilai milyaran rupiah. Yang perlu diapresiasi kisah suksesnya ternyata diawali dari menjual donat, sepatu, sampai ayam potong serta memenangkan beberapa perlombaan untuk modal usahanya.

Hendi Setiono (28) lain lagi, ia adalah orang yang ahli menangkap peluang. Makanan kebab yang menjadi makanan khas negara kawasan Timur Tengah diboyongnya ke Indonesia dengan penyesuai rasa agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Keunikan rasa serta pengemasan produk yang menarik membuatnya tidak butuh waktu lama mengembangkan tren makan kebab. Saat ini ia sudah memiliki 375 outlet diseluruh penjuru nusantara. Prestasinya ini tidak kurang diganjar banyak penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri, diantaranya Asia Pacific Entrepreneur Awards dan Juara I Wirausaha Muda Mandiri.

Riezka (24), seorang mahasiswi di Yogyakarta sedari usia belia sudah mempunyai jiwa bisnis. Berawal dari menjual pulsa elektronik, kini unit usahanya berkembang menjadi berkembang pesat diantaranya bisnis laundry, cafe dan yang saat ini identik dengan dirinya adalah franchise pisang ijo JustMine yang dalam waktu singkat membuat banyak orang antri ingin menjadi francishornya. Kini dalam sebulan tidak kurang puluhan juta rupiah ia kumpulkan dari bisnisnya.

Parade orang -orang muda sukses diatas menurut Rhenald tidak hanya sukses dalam bisnis tapi mereka juga menemukan passion mereka dalam bisnis yang mereka geluti. Tapi apakah mereka tidak pernah gagal?. Dalam buku ini selain menceritakan suksesnya, Rhenald juga menceritakan dan mewawancarai lebih dalam terhadap orang-orang tersebut mengenai kisah gagal mereka. Ada yang baru memulai langsung bangkrut, ada juga yang menjalani banyak usaha tetapi akhirnya tutup karena sepi dan ketiadaan modal. Tapi kini kegagalan mereka bermuara pada sukses yang akhirnya diprofilkan dalam buku tersebut.

Disetiap bab yang menampilkan parade orang-orang muda sukses itu (totalnya ada 24 orang), Rhenald juga memberikan tips-tips yang menjadi dorongan bagi pembacanya untuk memulai bisnis ketika usia masih muda. Ia juga menekankan pentingnya membaca peluang dan mempunyai jiwa kreatif dalam membangun bisnis. Dan paling penting menurut Rhenald jangan takut memulai dari kecil, tetapi takutlah bila kita tidak pernah bergerak menuju impian yang kita cita-citakan.

*) Cerita tentang anak muda yang memulai bisnis pernah saya tulis di blog saya di https://rafaelbudi.wordpress.com/2007/09/17/cara-konkrit-bikin-duit/

Standar
Opinion

Berapa Harga Dirimu?

Jika pertanyaan diatas diajukan kepada kita, mungkin banyak diantara kita yang akan emosi atau jengkel dengan pertanyaaan itu. Kita menganggap bahwa harga diri kita adalah sangat mahal dan tidak mungkin dijual. Pasti yang membaca akan mengamini pendapat saya.

Sepantasnya kita menganggap begitu mahalnya harga diri kita. Banyak ciptaan teknologi masa kini tapi tentu saja tak ada yang mampu mengalahkan kerumitan dan kesempurnaan yang dimiliki manusia. Jikalau 100 tahun yang akan datang mesin itu benar-benar ada pasti harganya sangat mahal, bisa jadi seharga biaya penerbangan bumi kebulan.

Tapi jika ada pertanyaan selanjutnya, bukankah banyak wanita **** yang menjual dirinya yang hanya senilai kurang dari US$ 100?.  Apakah benar demikian. Perlu dipahami yang dijual atau diserahkan itu hanya berwujud fisik. Orang boleh memiliki fisik seseorang tapi terkadang tidak hati dan pikirannya.  Dan walaupun bisa membayar mahal, tapi tidak seluruh bagian dari orang tersebut bisa diatur semaunya.

Kembali kepada harga diri tadi. Pertanyaan berikutnya adalah jika memang kita menganggap bahwa diri kita sangat mahal dan tak sanggup dibeli dengan uang, mengapa banyak dari kita bertindak dan berperilaku seolah-olah diri kita tidak ada harganya.

Mau contoh?. Paling gampang adalah contoh wanita **** diatas. Lalu ada lagi orang yang merusak dirinya dengan mabuk, atau bahkan menggunakan obat-obat terlarang. Tubuh yang sehat dan baik diperlakukan dengan buruk. Mereka mencari kesenangan sesaat, tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri. Mereka banyak hidup didunia mimpi mereka karena mereka tidak pernah menyadari indahnya dunia ini.

Tapi mereka yang merusakkan tubuhnya demi kesenangan sesaat itu adalah sebagian kecil orang yang merendahkan harga diri mereka sendri. Masih ada kelompok besar manusia yang sebenarnya secara tidak sadar juga tidak menganggap berartinya diri mereka. Orang yang mengeluh dan menyalahkan orang lain berada dikelompok ini.

Tidak dipungkiri bahwa kita manusia tidak lepas dari rasa kecewa, sedih dan benci. Itu wajar, itu adalah perwujudan emosi yang memang dipaketkan bersama diri kita ketika Tuhan menciptakan kita. Tapi orang yang selalu mengeluh dan menyalahkan situasi terus menerus adalah orang yang menutup mata terhadap peluang yang terbuka dihadapannya. Mereka adalah tipe orang yang tidak menggunakan anugrah dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Lalu pertanyaannya kok banyak ya orang seperti ini. Itu mudah dijawab. Saat ini hidup kian kompleks, persaingan hidup semakin ketat, cara mencari uang berubah. Cara-cara lama untuk bertahan hidup dulu tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini. Belum lagi kondisi eksternal yang tidak terprediksi selalu datang ketika tidak dibutuhkan.

Jika kita sadari bahwa kita diberikan anugrah dengan kemampuan berpikir dan bertindak lebih sempurna dari makhluk lain, maka tidak seharusnya kita mengeluh, tidak seharusnya merendahkan martabat manusia kita. Kita hidup dan dilahirkan kedunia ini membawa pesan bahwa hidup haruslah lebih bermakna. Ini adalah rute perjalanan yang harus ditempuh sebelum kita benar-benar melewati jalan panjang yang sebenarnya dikehidupan kita berikutnya.

Sebenarnya manusia bisa hidup dan bertahan hidup sambil juga menikmati keindah hidupnya didunia. Tapi banyak orang hidup pada hari ini saja, dan celakanya lagi ada orang tinggal dibumi tapi seolah-olah hidupnya ada didunia lain. Sungguh menyedihkan hidup seperti itu.

Esensi hidup yang sebenarnya mesti kita pahami dengan baik. Banyak hal yang dapat diperbuat manusia didunia ini. Andaikan setiap orang dari 3 milyar manusia dibumi ini berpikir bahwa ia harus berkarya untuk dunia dan bermimpi ketika ia meninggalkan dunia maka dunia akan mengenangnya sebagai salah seorang yang memberikan titik kecil pada gambar hidup dunia, tentu alangkah bahagianya kehidupan ini.

Apakah untuk melakukan semua itu kita harus memiliki segalanya, kekayaan, materi, kekuasaan?. Jawabannya sama sekali tidak. Orang kaya bisa menyumbang 100 juta rupiah untuk pembangunan panti asuhan, lalu jika kita hanya punya 200 ribu apakah kita kalah. Ya kita memang kalah secara nominal uang, tapi secara karya kita dengan 200 ribu mungkin bisa memberikan kebahagiaan yang lebih banyak dari orang yang menyumbang 1 milyar mungkin. Inti dari perbuatan adalah hati yang tulus.

So, masihkah kita menganggap harga diri kita mahal tapi malah merendahkan hidup kita sendiri. Kita harus jujur bahwa kita mampu melakukan apapun didunia ini, asal ada keyakinan dari hati kita. Mulai sekarang kita harus bertumbuh maju mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan dengan membusungkan dada berkata “Tidak ada yang sanggup membeli saya, karena saya adalah produk dengan brand termahal didunia. Saya unik dan hanya ada satu didunia ini.”

Salam

Rafael Budi

Standar