Experience

Dimana Ada Gula Disitu Ada Semut

Hari ini saya janji dengan seseorang dikantor saya. Kemarin siang saya menerima telpon dari sebuah bank di Pontianak. Mereka menanyakan kapan saya ada waktu untuk bertemu. Dengan kekagetan yang masih menyelimuti saya bertanya dari mana mereka memperoleh data nomor handphone saya. Dijawab bahwa informasi tersebut mereka dapat dari database mereka. Akhirnya daripada memikirkan hal tersebut sayapun mengiyakan dan berjanji untuk bertemu keesokan harinya (hari ini).

Semut dan Gula

Pukul 10.30 tamu yang ditunggu datang. Seorang anak  muda berpakaian rapi. Tutur bahasanya juga teratur dan menarik. Mungkin sudah menjadi takdir dan ciri khas seorang marketing bank.

Diapun bercerita bahwa mereka berasa dari bank Dan***n bermaksud untuk menawarkan kredit dan pembiayaan untuk keperluan pengembangan bisnis atau keperluan pribadi saya. Wah kebetulan sekali saya pikir, karena saya memang saat ini membutuhkan tambahan dana untuk pengembangan bisnis yang sedang dijalani saat ini. Sayapun menyimak dengan seksama penjelasan dari sang marketer, tentang KRK, Kredit Berjangka, dll. Ia menjelaskan dengan detil keunggulan dan perbedaan dari masihng-masing kredit.

Penjelasan berikutnya beralih pada persyaratan pengajuan kredit tersebut, terus terang dalam hal ini saya tidak paham karena tidak pernah dalam hidup saya meminjam uang dibank, memberikan mungkin biasa (via tabungan). Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pihak peminjam antara lain harus mempunyai agunan, kelengkapan administrasi dan waktu usaha yang minimal sudah 2 tahun berdiri.

Saya sudah menduga bahwa syarat terakhir akan menjadi halangan bagi saya. Bagaimana  tidak karena bisnis baru saya jalani belum dari setahun. Dan sang marketer mengatakan bahwa itu merupakan persyaratan wajib. Yah mentah jadinya keinginan untuk memperoleh tambahan dana.

Sebenarnya sebelum saya kedatangan marketer dari bank Dan***n, saya terlebih dahulu sudah dihubungi dan bertemu dengan seorang marketer bank Ma***i. Ia mengatakan bahwa mereka mendapatkan nama dan no telpon saya dari website saya di indonetwork.co.id. Dari dia juga saya memperoleh pengetahuan mengenai cara meminjam dan bertransaksi keuangan dengan bank, maka ketika marketer bank Dan***n menawarkan untuk bertemu saya, meski saya tahu untuk proses peminjaman tidak akan bisa terjadi, tetap saja saya mempersilahkan untuk bertemu. Hal ini karena tentu saja agar saya dapat memperoleh informasi lebih jauh dan mendalam tentang perbankan utamanya dalam hal pinjam meminjam ini, jika tidak mau dikatakan sebagai berhutang. Dan kini setelah bertemu kedua marketer tersebut, saya mendapat tambahan pengetahuan yang baru.

Pengalaman saya tersebut membawa saya pada 3 kesimpulan bahwa :
1.    Kita mau tidak mau akan membutuhkan bank atau lembaga keuangan lainnya dengan berbagai tujuan, baik untuk menabung, deposito ataupun berhutang untuk pengebangan bisnis.
2.    Bank juga membutuhkan nasabah (penabung dan peminjam) misalnya untuk menghimpun dana nasabah yang nantinya digunakan untuk dipinjamkan lagi kepada nasabah lain.
3.    Dengan berkembangnya bisnis yang berprospek dan berpotensi maka akan banyak bank atau lembaga keuangan yang akan menawarkan kredit atau pembiayaan lainnya. Karena bagaimanapun bank mencari nasabah yang prospek bukan sebaliknya.

Salam

Iklan
Standar
Experience

Loyalitas Tukang Bakmie

Siang kemarin saya makan siang disebuah warung bakmi di daerah Pasar Tengah. Saya biasa kesana karena bakminya enak dan besar porsinya. Siang ini pengunjung sangat ramai, kebetulan saya makan dengan mama dan kakak saya, pesanan kami lumayan lama baru diantar.

Begitu pesanan kami datang, segera saya melahap hidangan menggugah selera diatas meja. Tidak terasa belum 10 menit isi mangkok sudah tidak bersisa. Full sekali terasa perut ini. Sambil meneguk es air tahu sebagai hidangan penutup saya mengalihkan pandangan saya kearah tempat didepan kami duduk, disana duduk dua orang wanita yang sedari tadi juga menunggu bakminya dihidangkan. Keduanya berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti, mungkin suatu bahasa daerah.

Sambil menunggu pesanan untuk dibawa pulang, kakak sayapun berbasa basi mengajak kedua wanita itu bicara. Ternyata keduanya adalah seorang ibu dan anaknya. Saya taksir usia sang ibu 50an tahun dan anaknya sekitar 20an tahun. Mereka mengeluhkan pesanan mereka yang belum datang. Sembari ngobrol, sang ibu bercerita bahwa ia sudah biasa makan disini sudah sejak lama, mungkin sekitar tahun 1985-an, sang anak saat itu baru berusia 3 tahun. Wah sungguh sudah lama sekali. Sang anak pun menimpali dengan mengatakan bahwa pembantu sang tukang bakmi dulunya belum ompong hingga sekarang udah ompong.

Bukan candaan sang gadis yang lumayan cantik yang membuat saya terpikir ketika pulang. Tetapi sebuah penyadaran akan suatu bentuk loyalitas konsumen yang terpelihara hampir 2 dekade lebih, tentu saja suatu prestasi yang luar biasa dalam dunia perbakmian. Tidak usah bicara sudah berapa aset atau harta yang sudah sang tukang bakmi kumpulkan selama lebih dari 20 tahun itu tetapi saya mau mengajak untuk melihat bahwa konsumen dapat setia terhadap sebuah produk karena mereka puas akan nilai dari produk tersebut. Nilai disini bisa berupa rasa atau layanan.

Tentu saja itu menjadi suatu pembelajaran yang berharga, karena dengan kondisi persaingan produk saat ini sungguh sangat susah sekali menjaga loyalitas konsumen. Dulu banyak orang yang mengatakan bahwa produk atau hal yang berhubungan dengan rasa akan menimbulkan loyalitas yang lebih lama bagi konsumen, tapi pada kondisi saat ini hal tersebut tidak sepenuhnya benar lagi. Produk makanan yang berhubungan dengan rasa yang tidak dimaintain dengan baik akan membuat pelanggan berpindah. Sebaliknya sebuah produk home care misalnya yang bukan produk konsumsi bisa saja memberikan loyalitas yang juga sama atau bahkan lebih lama dibanding produk yang berhubungan dengan rasa.

Dan kejadian hari ini mungkin memberikan sebuah motivasi lebih untuk meningkatkan kepuasan konsumen melalui peningkatan kualitas produk dan peningkatan pelayanan untuk bisnis yang saya jalankan saat ini.

Standar
Experience

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kenaikan harga?

Suatu pagi saya bangun dengan kepala berat. Bukan karena mimpi buruk atau salah tidur. Tapi kenyataan bahwa hari ini saya harus menghadapi kenyataan akan adanya kenaikan harga untuk produk yang saya jual yang bervariasi berkisar 10-30%.

Oo cuma itu, bukankah kenaikan harga itu biasa dan lumrah dalam setiap proses penjualan?. Memang jika dipikir kembali itu adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi yang menjadi pemikiran saya adalah tingginya harga kenaikan itu. Ada produk yang naik 15%, 20% bahkan ada yang naik sampai 30%. Yang lebih menyesakkan lagi adalah kenyataan bahwa saya akan kesulitan menjual dengan kenaikan harga tersebut. Hal ini dikarenakan produk kompetitor tidak menaikkan harga produk mereka, atau boleh dikatakan produk saya jatuhnya lebih mahal. Padahal secara kualitas dan nama besar produk, produk saya masih kalah jauh dengan kompetitor. Tentu suatu pukulan berat bagi kelancaran bisnis saya.

Produk saya ini, yang bersifat produk toiletries, merupakan salah satu produk andalan yang saya anggap bisa mendongkrak bisnis saya. Suatu impian bahwa melalui penjualan produk ini, perusahaan saya akan semakin meningkat. Sejak awal produk ini memang menawarkan margin yang kompetitif serta harga yang bisa saya katakan masih bisa bersaing dengan kompetitor. Adapun kompetitor sendiri adalaha para pemain besar dinegeri ini. Mungkin juga itu yang menyebabkan imbas krisis bahan baku yang terjadi mampu mereka bendung sehingga produknya tidak mengalami kenaikan.

Saya sudah mencoba menghitung harga jual saya dengan margin yang ambil lebih rendah dari sebelumnya, tapi saya juga kecewa karena dengan harga tersebut untuk beberapa item harganya malah sama dengan harga jual kekonsumen. Tentu menjadi suatu tertawaan jika suatu produk yang berkualitas sedikit lebih rendah dijual lebih mahal.
Kebijakan principal menaikkan harga tersebut menurut mereka adalah ketidakmampuan mereka untuk bertahan lagi dari kenaikan harga bahan baku yang berkisar 30-40%. Saya bisa memahami tentang hal tersebut, apalagi pihak principal juga menghidupi banyak pekerja dari bisnis ini, tentu saja mereka juga memikirkan kelangsungan bisnis mereka. Tapi tentu saja menjadi anomali ketika produknya mengalami kenaikan yang begitu drastis.

Dalam perjanjian penunjukkan distributor, saya memang sudah diberikan margin regular, tetapi margin tersebut tidak bisa saya nikmati karena margin tersebut sudah habis jika dipotong biaya pengiriman dari Jakarta ketempat saya. Sekali lagi yang menjadikan harga tidak terkendali adalah karena biaya kirim yang harus saya tanggung. Padahal untuk produk kompetitor, pihak principal memberikan subsidi biaya kirim kepada pihak distributor didaerah. Artinya dalam hal ini saya mengalami dua kali kekalahan, selain harga yang lebih mahal, saya juga harus menanggung biaya kirim yang bisa naik kapan saja.

Terkadang saya mencoba berpikir realistis agar menghentikan saja sementara penjualan produk ini. Artinya saya juga tidak akan melakukan pemesanan produk lagi kepada principal. Ini saya anggap sebagai bentuk komplain saya atas kebijakan principal. Saya berharap mereka juga bisa mendengarkan keluhan-keluhan dari saya. Memang sih kemudian mereka memberikan kompensasi berupa bonus produk untuk setiap pembelian saya, apakah ini membantu?. Sedikit, mungkin itu jawaban yang tepat. Ya karena pengaruh discount itu diharga sangat kecil, tetap saja kenaikan itu menjadi suatu hal yang memberatkan.

Terakhir saya tetap melakukan pemesanan barang tetapi nilainya saya kurangi, ini sebagai antisipasi jika produk saya tidak jalan akibat penetapan harga ini. Saya ingin melihat respon pasar terlebih dahulu. Perkembangan mengenai hal ini akan saya ceritakan lagi dipostingan berikutnya.

Standar