Opinion

Ben Spies, Sang Ibu, Kasih dan Kesuksesan

Ditayangan Highlight Motogp di sebuah stasiun televisi swasta tertentu diceritakan mengenai kesuksesan seorang pembalap motor muda dikancah Moto GP, sebuah ajang tertinggi balap motor dunia.

Namanya Ben Spies, dialah rockie (pendatang baru terbaik) tahun ini. Meski masih muda dan baru berpromosi di arena Moto GP, tapi namanya sudah disejajarkan dengan pembalap-pembalap terbaik lainnya macam Casey Stoner, Jorge Lorenzo, Daniel Pedrosa, sampai pembalap yang disebut “dewa” nya Moto GP, Valentino Rossi.

Tapi banyak orang belum tahu karakter pekerja keras dan tidak gampang menyerah Ben Spies sehingga menjadi “garang” di Moto GP ternyata dipengaruhi oleh sang ibu, Mary Spies.

Menurut Spies, Ibunyalah inspirasi dan pendorongnya dalam membalap. Ibunya tidak pernah menghambat karier balapnya. Impiannya dalam berlomba di race didukung penuh oleh sang ibu.

Meski harus membesarkan Ben sendiri, tapi sang ibu tidak pernah menyerah. Menurutnya dalam mendidik dan membesarkan Ben, tidak pernah ia melarang dan memaksakan kehendaknya kepada Ben. Intinya apapun yang menjadi impian 100 % ia dukung. Jadi tidak heran untuk mendukung langkah sang buah hati dilomba balap yang tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar, sang ibu rela untuk bekerja menangani beberapa pekerjaan sekaligus. Mulai dari agen properti, sampai menjadi operator telepon. Satu pekerjaan disadari tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan anaknya diarena balap.

Tapi mesti begitu, sang ibu tidak mengeluh. Baginya sebuah kebanggaan yang sangat besar jika ia bisa membantu mendukung langkah anaknya untuk mencapai impiannya.

Ben Spies sendiri mengakui bahwa kerja keras sang ibu sangat menginpirasinya. Ketika ia sedang jatuh, pengorbanan sang ibu lah yang mendorongnya untuk bangun lagi. Bangun dan terus berlatih menjadi yang terbaik. Ben selalu ingat pesan sang ibu yang mengatakan bahwa diposisi berapapun, mau posisi pertama, posisi kedua, atau posisi paling buntut, mau jadi juara atau tidak, selalu yang harus diingat adalah bahwa pencapaian itu didapat dari memberikan yang terbaik dari dirinya, selalu yang terbaik.

Satu hal yang dipelajari dari ibu super ini adalah kegigihannya dalam bekerja, berkorban demi sang anak. Niscaya dengan petuah, dukungan, kasih sayang sang ibu, Ben bisa melaju bersaing di Moto GP. Bukan tidak mungkin titel juara dunia tinggal menunggu waktu saja.

Iklan
Standar
Opinion

Merasa Kesepian

“Penyakit yang paling berbahaya didunia adalah perasaan kesepian, dikucilkan, ditinggalkan” Mother Teresa

Ya pernahkah kita merasa betapa sepinya hidup kita. Meski kita dikelilingi oleh banyak orang tapi tetap saja kita merasa sendiri. Lalu apakah yang harus dilakukan?.

Manusia mempunyai bentuk fisik, sifat, emosi dan karakter berbeda yang dibawa ketika kita dilahirkan. Secara fisik misal ada yang cantik, ada yang kurang cantik bahkan ada yang tidak sempurna atau cacat. Lalu sifat manusia ada yang mudah terpengaruh oleh keadaan sekitar, ada yang mempunyai pendirian teguh, ada juga yang labil secara emosi.

Menurut saya perasaan kesepian, kesendirian bukan pada disebabkan oleh sifat atau karakter seseorang, tapi lebih dari tingkat emosi dan psikis seseorang. Trauma, perasaan rendah diri, intimidasi, penyakit, ketakutan adalah beberapa penyebab orang memilih untuk menghindari orang banyak. Ia menilai cara pandang orang lain melalui cara pandang dirinya, akibatnya semakin ia mencoba membuka diri maka semakin ia mengalami ketakutan yang teramat sangat. Tidak adanya pendamping sebagai tempat untuk berbagi membuat keadaan psikologisnya semakin parah.

Kesepian dan kesendirian adalah milik semua orang. Semua pernah mengalaminya, tapi apa yang kita lakukan jika mengalami hal tersebut adalah poin pentingnya.

Dunia saat ini semakin membuat manusia dapat berhubungan dengan banyak orang diseluruh muka bumi, tapi disatu sisi sifat individualis semakin mengemuka dan menjadi-jadi. Ketidakperdulian terhadap sesama, keegoisan pribadi adalah cara salah dalam memandang dunia. Bersikap lebih terbuka dan peduli akan membuat banyak orang terselamatkan dari kehidupan yang membosankan dan tidak berarti. Memperhatikan detail dari pentingnya nilai kemanusiaan, menciptakan hubungan lebih baik dengan sesama manusia menjadi dunia lebih indah.

Andaikan saja ada 1 juta Bunda Teresa yang peduli pada orang miskin, terlantar, berpenyakit dan dikucilkan mungkin juga tidak akan cukup untuk melayani lebih dari 6 miliyar manusia dimuka bumi, tapi tentu saja karya kecilnya di Kalkuta tapi dengan semangatnya yang besar serta cintanya kepada sesama akan menginspirasi kita untuk peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Lalu dari manakah kita mulai untuk menjadi lebih peduli?. Jawabnya dari lingkup terkecil kita yaitu keluarga.

Semoga menginspirasi

Standar
Experience

Talk About Wirausaha Muda Mandiri II

Kali ini tulisan ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya, yaitu Talk About Wirausaha Muda Mandiri. Tulisan sebelumnya bercerita tentang program Bank Mandiri yang mengadakan semacam lomba atau kompetisi kewirausahaan bagi kaum muda.

Disana saya mengungkapkan kekaguman saya pada para peserta yang kebanyakan adalah kaum muda yang mampu membangun dan mengembangkan usaha mereka sendiri hingga menghasilkan omset hingga milyaran rupiah perbulannya. Pasti sangat mengagumkan bagi kita yang mengenal atau tahu jika ada seorang anak muda yang mampu mengumpulkan omset perusahaan lebih dari 1 milyar rupiah perbulan, padahal usianya baru 24 tahun, saat dimana kebanyakan anak muda menghabiskan masa-masa indah mereka berkumpul dan bermain dengan teman-temannya, atau ada sebagian lagi yang baru mencoba merintis karir.

Dan berbicara tentang hal itu hari ini saya mengalami suatu hal yang mungkin para peserta itu alami sebelum mereka dinobatkan sebagai pemenang, yaitu wawancara. Ya hari ini saya diwawancara untuk ikut salah satu lomba yang saya sebut sebagai yang paling prestisius dalam dunia kewirausahaan untuk anak muda itu.

Pukul 10.00 pagi saya dihubungi oleh seorang pegawai Bank Mandiri yang menyampaikan rencana mereka untuk menemui saya sebagai tindak lanjut dari pendaftaran yang telah saya lakukan sebelum. Karena pagi itu saya tidak berada dikantor maka saya meminta untuk menunda pertemuan pada pkl. 13.00 siang.

Merekapun menyatakan setuju dan meminta saya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan yaitu fotokopi KTP, kartu mahasiswa, ijazah, akte pendirian perusahaan, serta copy prestasi lomba-lomba kewirausahaan yang pernah diikuti.

Dengan kegembiraan yang masih membuncah timbul keraguan dalam hati, apakah istimewanya bisnis yang saya geluti saat ini. Saya hanya bergerak didistribusi barang consumer good dan meski sudah berjalan dengan baik dan nilai omset yang terus berkembang kenyataannya adalah bisnis ini baru berdiri kurang lebih satu tahun, fase dimana sebuah bisnis sedang memasuki masa uji mampu bertahan atau tidak dimana hanya waktu yang mampu menjawabnya.

Keraguan saya semakin nyata karena dari buku Wirausaha Muda Mandiri yang ditulis oleh Rhenald Kasali profil peserta seluruhnya adalah berasal dari industri kreatif dan kebanyakan menangani produksi produknya sendiri. Beda dengan saya yang dimana bisnisnya lebih pada penyaluran produk jadi kepada konsumen. Tapi kenyataan dan keraguan itu saya buang jauh, karena tidak ada salahnya jika mendapat hal yang baru tentunya. Apalagi event sebesar ini.

Pukul 13.30, tim dari Bank Mandiri datang, terdiri dari dua orang seorang pria dan wanita. Setelah mengenalkan diri mereka pun bertanya beberapa hal mengenai usaha saya. Diantaranya kapan berdiri, modal awal, nilai omset, karyawan, pemasaran produk. Mereka pun mengaku bahwa berkas-berkas para peserta ini akan segera dikirimkan. Dari setiap berkas yang masuk perarea akan disaring untuk dipilih pemenangnya untuk nantinya berlomba ditingkat regional dan nasional. Tujuan diadakan program ini menurut mereka adalah memacu pertumbuhan jumlah pengusaha-pengusaha baru dari kalangan generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain serta dapat bersaing dikancah globalisasi saat ini. Karena tidak menutup kemungkinan produk-produk dari industri kreatif dalam negeri diekspor keluar negeri yang mempunyai daya saing secara kualitas dengan produk-produk dari negara-negara lain.

Dan keraguan saya semula akhirnya benar-benar terbukti ketika pihak Bank Mandiri mengatakan bahwa para peserta yang mereka cari adalah pengusaha muda yang mengembangkan industri kreatif. Meski bidang bisnis saya berbeda tapi mereka mengatakan jangan berkecil hati dikarenakan kompetisi ini penyaringannya bukan mereka menentukan jadi tidak ada salahnya untuk diikutsertakan, tentu saja jika dianggap unik dan bagus pasti akan dipilih. Satu hal yang menghapus keraguan saya saat itu juga.

Saya mempunyai impian untuk ikutserta event ini, bukan melulu untuk menjadi pemenang dan mendapat hadiah, tapi karena 4 hal. Pertama pengalaman baru dan juga kebanggaan karena besarnya event ini. Kedua, mentoring dari para ahli bisnis seperti Rhenald Kasali dan mentor-mentor bisnis lainnya. Ketiga, mungkin permodalan, karena informasinya para peserta akan dibantu permodalan oleh Bank Mandiri. Dan yang terakhir publikasi, dengan keikutsertaan ini bisnis kita akan terangkat dan dikenal oleh masyarakat dan memperluas jaringan pemasaran kita.

Sekitar pkl 14.00, mereka pun pamit pada saya dimana sebelumnya meminta berkas-berkas yang sebelumnya saya siapkan sebagai syarat keikutsertaan Program Wirausaha Muda Mandiri. Tentu saja keberanian mencoba adalah awal kesuksesan kita dan saya telah memulainya.

Salam

Standar