Suka Duka Menjadi Pengusaha

Pernahkah anda merasa enaknya jadi pengusaha?. Mungkin belum. Tapi pasti menjadi pengusaha sudah pernah merasakan susahnya. Beberapa orang menyebutnya “happy problem”.

Bayangkan banyak orang menjadi pengusaha karena tidak punya pendidikan, di PHK, atau mungkin langsung terjun dari profesional kepengusaha.

Hal yang ketiga itulah yang kadang membuat batin tidak sanggup menghadapi keadaan. Menjadi pengusaha itu enaknya belum pasti tapi susahnya udah wajib. Semasa menjadi karyawan, apalagi profesional diperusahaan bonafid dengan jabatan dan posisi tinggi yang sebelumnya sungguh sangat nyaman tiba-tiba hilang sekejab mata karena keinginan untuk menjadi Direktur bagi perusahaan sendiri. Status sosial berubah, tidak ada lagi panggilan-panggilan bernada respek sebagai wujud penghormatan dari bawahan keatasan, malah yang terjadi terkadang makian dan kemarahan dari pelanggan yang diterima.

Bukan hanya status sosial, status ekonomi juga berubah drastis. Kalau dulu bisa duduk berjam-jam di Starbuck atau Espresso, sekarang malah nongkrong dipasar atau rumah pelanggan untuk menawarkan atau mengantar barang. Gaya hidup yang berubah membuat harus mengikat ikat pinggang lebih keras lagi. Ketika dapat uangpun tidak pernah digunakan. “Untuk tambahan modal aja mas” begitu komentar istri. Jadinya mau Starbuck tutup jam 2 siang atau ga buka sama sekali “ga pusing deh gue”.

Tersiksakah hidup seperti itu?. Jawabnya pasti. Tidak mudah menyesuaikan hidup seperti itu. Tapi kalau tekad sudah membulat pasti bisa dijalani.

Tapi itulah nasib pengusaha. Kadang sesuatu dikerjakan sendiri, jam kerja tidak pasti, lebih-lebih pulang rumah badan sudah remuk redam. Andai aja kayak dulu masih bisa pergi massage. Ah awas ya? dumel istri.

Kalau mendengar kisah sukses orang yang sudah kaya dari bisnis sih semangatnya minta ampun. Sepertinya orang itu bisa dengan semangatnya cerita tentang kesusahannya merintis bisnis. Seolah-olah kesusahannya itu yang membentuk dia untuk sukses. Tapi benar juga sih. Namun coba kalau dia disuruh mengulang masa-masa susahnya. Jawabnya ngapain saya mesti susah lagi, saya sudah sampai dititik ini kok. Biar susah jadi milik orang lain saja. Nah..

Saya tutup cerita tak karuan ini, semoga pebisnis-pebisnis pemula semuanya bisa melewati masa-masa susahnya. Sampai jumpa dipuncak kesuksesan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s