Opinion

“Musuh dari Keabadian adalah Waktu”

Quote dari film Dr. Strange diatas mungkin ada benarnya. Jika tidak ada waktu yang terus bergerak kita tidak akan pernah menjadi tua, dan tidak akan pernah akan mati.

Salah satu film favorit saya adalah The Age Of Adaline. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang tidak pernah bisa tua karena mengalami suatu kejadian aneh yaitu disambar petir pada saat berkendara dengan mobilnya. Mobil sang wanita masuk jurang. Yang aneh ia tidak mengalami luka sedikitpun. Tapi arus listrik dari petir masuk kedalam tubuhnya dan membuat seluruh organ tubuhnya berhenti bertumbuh.
Jadilah fisiknya tetap tampak muda meski sudah berusia tua. Bahkan ia harus selalu hidup berpindah-pindah agar tidak ada yang mencurigainya.

Kisah yang dibalut dengan drama romantis ini sempat membuat penonton ikut larut dalam emosi sang pemeran utama. Awalnya fisik yang tidak menua itu sangat dinikmatinya sampai suatu saat orang-orang tercintanya termasuk anak perempuannya meninggal muncullah rasa tersiksa yang terus menerus muncul. Fisik awet muda yang sejak dulu diidam-idamkan oleh banyak manusia berubah menjadi kutukan bagi dirinya.
Untungnya pada akhir film sebuah kejadian mengembalikan ia menjadi seorang manusia fana kembali yang ditandain dengan munculnya selembar uban dirambutnya.

Jika kita bertanya apakah ada manusia yang ingin mati?. Pasti jawabnya tidak. Tapi kita tahu kematian itu pasti adanya. Waktunyalah yang menjadi rahasia Tuhan Pencipta. Dan bila itu rahasia biar ia tetap menjadi rahasia. Tugas kita adalah memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan ini dengan sebaik-baiknya.
Dengan apa?. Tentu dengan melakukan sesuatu yang baik, lebih lagi untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Our live is our legacy. Hidup kita ada sebagaimana orang memandang diri kita. Hidup kita adalah apa yang ingin orang kenang akan kita. Semakin banyak manfaat yang kita tebar didunia, tentu semakin banyak orang yang mengenang kita.
Tidak perlu warisan uang, cukup dengan perbuatan baik yang tulus kita lakukan kepada orang lain.

Just sharing dimalam Sabtu.

Iklan
Standar
Opinion

Rat Race Itu Nyata

Dulu saat berkarir di perusahaan pertama saya, saya melihat dengan mudahnya teman-teman saya mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang cukup mahal seperti handphone keluaran terbaru pada saat habis menerima gaji atau bonus.

Sayapun sempat terjebak dengan gaya hidup hedonis seperti itu. Sebagai profesional muda rasanya sangat pantas untuk menghadiahkan diri sendiri sesuatu yang kita inginkan sebagai buah dari hasil kerja keras kita. Itu mungkin pemikiran saya saat itu.
Tapi tidak banyak yang tahu jika gaya hidup seperti itu dibayar oleh jam kerja 7.30 pagi sampai 7.30 malam. Kami sesama karyawan harus bekerja penuh dengan dedikasi baik tenaga dan waktu bagi yang membayar kami.

Sampai satu saat saya tersadar bahwa gaya hidup seperti ini semu. Pekerjaan yang setiap hari saya lakukan dari Senin-Sabtu tidak ubahnya seperti jebakan tikus yang sebenarnya tidak membawa saya kemana-mana. Perusahaan mengikat kami dengan penghasilan yang lebih, tapi kami kehilangan daya imaginasi dan sisi kreatif kami. Kami hanya diarahkan bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan, jika melenceng maka akan ada sanksi atau punishment. Kami seperti kuda yang hanya melihat lurus kedepan, kami benar-benar kehilangan insting untuk melihat peluang diluar tembok tinggi ketakutan kami, ketakutan akan kehilangan penghasilan dan kehilangan status sosial.

Mungkin itu yang dialami oleh banyak pekerja di negara ini. 6P Pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan.

rat race

Jebakan tikus itu benar ada, lihat berapa banyak orang terutama dikota-kota besar yang bangun subuh untuk berangkat bekerja dan pulang kerumah saat malam tiba. Kehilangan waktu berharga mereka bersama keluarga dan teman. Itu dilakukan setiap hari, setiap bulan sepanjang tahun.
Oleh perusahaan mereka didoktrin untuk memberikan lebih dari 12 jam waktu mereka untuk memajukan perusahaan, menutup rapat-rapat pikiran untuk mendapatkan penghasilan diluar sana yang mungkin akan membebaskan mereka dari jerat tikus berkepanjangan.

Seperti jerat tikus, orang tidak menyadari waktu berjalan begitu cepat tapi sebenarnya posisinya mereka tidak kemana-mana. Mereka kehilangam waktu, kreativitas, ide-ide dan kehendak mereka sebagai manusia bebas.

Mungkin ini bisa menjadi perenungan bagi kita semua agar selalu membuka pikiran dan merubah diri menjadi semakin baik dari hari kehari. Jangan sampai ketika kita menyadari waktu yang sudah terbuang hanya menerbitkan penyesalan.

Standar
Opinion

Isi Lebih Penting dari Penampilan Luar

Saat masih berusia sekitar 8 tahun, saya suka sekali dengan buah jeruk. Biasanya ketika papa pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan toko kami, ia sering membeli paling kurang 3 kg jeruk Tebas. Jeruknya biasanya berwarna hijau agak kekuningan dan berukuran lebih kecil dari bola kasti.

Dalam hati saya selalu bertanya mengapa jeruk-jeruk yang dibawa pulang tersebut rasanya manis, meski kulit luarnya sering terlihat bopeng dan kasar. Sampai suatu ketika saat ikut papa membeli buah jeruk, saya menyadari bahwa jeruk yang dijual tidak sama ukurannya, ada yang kecil umumnya dijual lebih murah, ada juga ukurannya lebih besar.

Dipasar banyak sekali penjual yang menawarkan bermacam-macam jenis buah jeruk. Sesaat saya berhenti mengamati jeruk yang terpajang didalam beberapa keranjang besar. Bentuk buahnya besar dan mulus.

“Pa, kita beli jeruk yang ini ya. Buahnya besar-besar, cece (kakak saya) pasti suka” kata saya sambil menunjuk ketumpukan buah didepan saya.
Papa tersenyum sambil berkata, “Nak ayo kita jalan lagi, disebelah sana ada penjual tempat papa biasa membeli. Jeruknya lebih bagus.”.

Saya masih tidak beranjak dari tempat saya berdiri, tapi papa saya menarik tangan saya agar mengikuti dia.

Sampai ditempat yang papa katakan, saya melihat jeruk yang dijual lebih kecil dan bentuknya banyak yang bopeng, yang maksudnya kulitnya tidak mulus, dan penuh berkas coklat sebesar jari manis orang dewasa
“Kita beli yang ini aja ya nak?” kata papa sambil memilih satu persatu buah jeruk sambil memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.

Setelah selesai membayar kamipun pulang. Saat diperjalanam penuh dengan penasaran saya bertanya kepada papa mengapa dia tidak membeli pada penjual yang pertama padahal buah jeruknya lebih besar dan mulus.
Sambil tersenyum papa berkata, “Nak, buah jeruk yang kamu lihat pada penjual pertama itu memang terlihat bagus, bentuknya juga besar-besar. Tapi kamu mungkin tidak menyadari kalau jeruk jenis itu umumnya kulitnya lebih tebal, dan buah bagian dalamnya akan tampak lebih mengkerut yang artinya air yamg terkandung didalam lebih sedikit atau berkurang. Jadi jika kamu beli jeruk tadi, kamu sudah rugi 2 kali.”
“Oh gitu ya pa. Hanya saya bingung mengapa papa beli jeruk yang kulitnya jelek tadi. Kotor banget pa” sambung saya masih penasaran.
“Itu bukan kotor sayang. Justru jeruk dengan kulit seperti itu umumnya punya kulit yang tidak tebal. Tapi meskipun kulitnya tidak tebal, ia tahan terhadap segala macam gangguan atau pengaruh dari luar, misalnya seperti sinar matahari, hujan maupun hama. Kulit dengan bercak coklat itu adalah bukti kekuatan kulit jeruk tersebut dalam melindungi isi atau daging buah didalamnya.”

Sambil merenungkan pengalaman masa kecil saya itu, saya mendapat dua pencerahan. Yang pertama bahwa sesuatu yang terlihat bagus (seperti jeruk yang dijual penjual pertama) tidaklah selalu baik isinya. Sebaliknya yang terlihat kurang menarik, juga belum tentu isinya tidak baik.

Ada peribahasa yang mengatakan “Don’t judge a book with it’s cover“.

Seringkali kita menilai seseorang dari kulit luarnya saja, padahal seringkali pula ketika kita mau mengenal dan mencari tahu lebih dalam banyak sisi positif dari orang tersebut.

Yang kedua, bahwa dari segala hal yang kita dapatkan saat ini, ada hal yang harus kita korbankan untuk mendapatkannya. Misal kita ingin sukses, kita harus siap bekerja keras. Kita ingin kurus harus berkorban mengendalikan nafsu makan, atau siap ke gym untuk angkat beban.

Seperti jeruk, bagian kulit yang bopeng adalah simbol pengorbanan untuk melindungi isi buahnya.

Dalam hidup ini saya selalu belajar kepada siapa saja tanpa mengenal dari tingkatan mana orang tersebut berasal. Saya belajar dari atasan saya, tetapi disaat yang berbeda saya juga belajar dari orang-orang yang bekerja dibawah saya. Bahkan bukan dari itu saja saya juga belajar dari orang yang saya temui dijalan, pemilik bengkel tempat saya memperbaiki ban bocor, dan lebih banyak orang lagi.

Salam..

Standar