Experience

Traveling with Heart (1)

Dua minggu ini kegiatan saya diisi dengan keluar kota. Minggu lalu ke Bandung, dan minggu ini ke Surabaya.

Perjalanan ke Bandung dimulai tanggal 2 September, tujuan awalnya bukan untuk travelling, hanya menemani salah satu anggota keluarga untuk konsultasi medis. Sejak awal berangkat dan pulangnya semua dibayarin, istilahnya tinggal angkat koper. Wuihh.

Bandung adalah daerah destinasi wisata unggulan. Memiliki cuaca yang cenderung sejuk, bahkan dibeberapa daerah kita tidak perlu tidur menggunakan AC saking dinginnya udara. Tidak heran orang Jakarta rela menyetir berjam-jam setiap weekend untuk berwisata ke Bandung. Saat kami sampai daerah tujuan wisata seperti Lembang sesak dengan mobil plat B.

Sudut jalan Braga

Tiga hari di Bandung tidaklah cukup untuk mengunjungi semua tempat wisata. Apalagi tujuannya bukan jalan-jalan. Hanya sempat ke Kampung Gajah, Tangkuban Perahu dan Trans Studio, termasuk Jalan Braga yang eksotik dengan pedestriannya. Tapi setidaknya ada rekor baru dalam catatan pribadi saya, yaitu sudah singgah atau mengunjungi seluruh ibu kota provinsi di pulau Jawa. Pertama ke Jakarta, lalu Serang, Semarang, Surabaya, dan terakhir Bandung.

Untuk Surabaya saat ini hampir rutin dikunjungi sebulan sekali. Pekerjaan mengharuskan mampir ke kota Pahlawan ini. Saya membayangkan jika seringnya saya bepergian dihitung dengan jam terbang seperti ukuran terlatihnya seorang pilot mungkin juga sudah lumayan, setidaknya 500 jam mungkin. Haha. Dengan catatan pertama kali naik pesawat ditahun 2006.

jam terbang

Serius, saya baru naik pesawat diumur 20an tahun. Katro sekali sebenarnya. Tapi jangan salah setelah itu jam terbang bertambah dengan cepat sampai saat ini.

Iklan
Standar
Opinion

Menyukai Sebenar-benarnya

Rasanya susah sekali meluangkan waktu untuk menulis lagi. Bukan curhat tapi terkadang saya merasa mengikuti pola rutinitas yang seringnya sibuk karena pekerjaan. Sehingga mempunyai alasan untuk tidak menulis. Padahal menulis merupakan salah satu aktivitas yang saya sukai. Seperti merasa apa yang ingin disampaikan, terutarakan semua melalui tulisan.

Contoh tulisan ini saya buat di Kafe Roti O di bandara Juanda Surabaya, sambil menunggu rekan kerja yang landing mulailah tangan mengacak-acak alfabet yang ada di keyboard laptop. Suasana menunggu yang terkadang membosankan memang harus diisi dengan suatu kegiatan yang membuat otak terus bekerja.

Menghadapi rintangan
Saya pernah tersindir oleh salah seorang teman. Suatu saat sang teman mengajak saya untuk berolahraga badminton, sepulang kerja seminggu 2x. Sebenarnya badminton olahraga yang termasuk saya suka. Mengayunkan raket, bersimbah keringat, rasanya sungguh plong, aliran darah menjadi lancar dan tidur menjadi lebih nyenyak.

Saya ingat bahkan dulu sewaktu di Samarinda, setiap pulang main badminton, saya bersama beberapa teman sering singgah disalah satu warung pecel ayam Lamongan di dekat Kantor Walikota. Setelah makan ayam goreng plus teh hangat sukses membuat tubuh tambah berkeringat.

Mungkin sudah cukup nostalgianya, balik keajakan teman tadi, saat itu saya menolak dengan alasan jika sudah pulang kerja capek. Belum lagi omelan istri dan anak karena sudah ditinggal seharian bekerja. Mendengar alasan itu, teman saya berkata kalau saya sebenarnya tidak hobi badminton. Nah lho, saya lalu membantah sang teman mengatakan bahwa saya sangaaat dengan huruf triple A menyukai badminton. Melihat kengototan saya, sang teman lalu berseloroh, “Ah jika memang kamu menyukai badminton, kamu pasti mengatasi segala hambatan yang terjadi untuk menjalani hobi yang kamu sukai itu. Kalau hanya sekedar badan capek, mungkin bisa beristirahat sebentar, dan jika istri dan anak ngomel ya ajak ikut aja”.

Setelah beberapa saat saya berpikir, saya lalu menyadari sebenarnya suka badminton (masih ngotot aja Bung), tapi yang benarnya saya tidak benar-benar serius menyukai badminton. Terdengar sama, tetapi maknanya berbeda. Menyukai belum tentu mau menjalani, menyukai belum tentu mau menghadapi hambatan-hambatan yang ada.

Seperti juga menulis, saya mungkin punya sejuta alasan untuk tidak menulis, tetapi saya cuma perlu memulai lagi, menghadapi rintangan yang ada, dan setelah mengalami rasa enaknya menulis, semua akan mengalir begitu saja. Alasan-alasan itu pudar tertimpa suara ketikan laptop dan menghilang dari kepala  karena sudah banyak ide yang ingin dirubah kerangkaian kata.

Belum puas, saya bertanya lagi, “Hai teman, jika istri dan anak saya tidak mau ikut saya bermain badminton, terus bagaimana?”

“Ya udah titip aja di mall. Gitu aja repot”

Alaaaahhh…

Standar