Opinion

Menyukai Sebenar-benarnya

Rasanya susah sekali meluangkan waktu untuk menulis lagi. Bukan curhat tapi terkadang saya merasa mengikuti pola rutinitas yang seringnya sibuk karena pekerjaan. Sehingga mempunyai alasan untuk tidak menulis. Padahal menulis merupakan salah satu aktivitas yang saya sukai. Seperti merasa apa yang ingin disampaikan, terutarakan semua melalui tulisan.

Contoh tulisan ini saya buat di Kafe Roti O di bandara Juanda Surabaya, sambil menunggu rekan kerja yang landing mulailah tangan mengacak-acak alfabet yang ada di keyboard laptop. Suasana menunggu yang terkadang membosankan memang harus diisi dengan suatu kegiatan yang membuat otak terus bekerja.

Menghadapi rintangan
Saya pernah tersindir oleh salah seorang teman. Suatu saat sang teman mengajak saya untuk berolahraga badminton, sepulang kerja seminggu 2x. Sebenarnya badminton olahraga yang termasuk saya suka. Mengayunkan raket, bersimbah keringat, rasanya sungguh plong, aliran darah menjadi lancar dan tidur menjadi lebih nyenyak.

Saya ingat bahkan dulu sewaktu di Samarinda, setiap pulang main badminton, saya bersama beberapa teman sering singgah disalah satu warung pecel ayam Lamongan di dekat Kantor Walikota. Setelah makan ayam goreng plus teh hangat sukses membuat tubuh tambah berkeringat.

Mungkin sudah cukup nostalgianya, balik keajakan teman tadi, saat itu saya menolak dengan alasan jika sudah pulang kerja capek. Belum lagi omelan istri dan anak karena sudah ditinggal seharian bekerja. Mendengar alasan itu, teman saya berkata kalau saya sebenarnya tidak hobi badminton. Nah lho, saya lalu membantah sang teman mengatakan bahwa saya sangaaat dengan huruf triple A menyukai badminton. Melihat kengototan saya, sang teman lalu berseloroh, “Ah jika memang kamu menyukai badminton, kamu pasti mengatasi segala hambatan yang terjadi untuk menjalani hobi yang kamu sukai itu. Kalau hanya sekedar badan capek, mungkin bisa beristirahat sebentar, dan jika istri dan anak ngomel ya ajak ikut aja”.

Setelah beberapa saat saya berpikir, saya lalu menyadari sebenarnya suka badminton (masih ngotot aja Bung), tapi yang benarnya saya tidak benar-benar serius menyukai badminton. Terdengar sama, tetapi maknanya berbeda. Menyukai belum tentu mau menjalani, menyukai belum tentu mau menghadapi hambatan-hambatan yang ada.

Seperti juga menulis, saya mungkin punya sejuta alasan untuk tidak menulis, tetapi saya cuma perlu memulai lagi, menghadapi rintangan yang ada, dan setelah mengalami rasa enaknya menulis, semua akan mengalir begitu saja. Alasan-alasan itu pudar tertimpa suara ketikan laptop dan menghilang dari kepala  karena sudah banyak ide yang ingin dirubah kerangkaian kata.

Belum puas, saya bertanya lagi, “Hai teman, jika istri dan anak saya tidak mau ikut saya bermain badminton, terus bagaimana?”

“Ya udah titip aja di mall. Gitu aja repot”

Alaaaahhh…

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s