Experience

Guru bernama Youtube

Tadi sore istri saya bercerita tentang perkembangan sekolah anak saya, Filbert yang saat ini duduk dikelas TK B. Menurut gurunya, Madam Eta, anak saya suka berbicara bahasa Inggris disekolahnya.
Hal itu membuat ia penasaran sehingga saat bubar sekolah ia pun bertanya pada istri saya.
“Mama, mau tanya si Filbert dirumah ada les bahasa Inggris ya?.
Istri saya berpikir sejenak, “Ga ada madam” jawabnya kebingungan. “Memang kenapa ya”
“Atau papa atau mama ada ajarin bahasa inggris ke Filbert?” Tanyanya lagi. “Soalnya saya sering dengar dia bicara bahasa inggris sama temannya. Ngomongnya ready, number one, oh my gos. Makanya saya penasaran dan mau tanya mama.”
“Ah kalau itu mah memang sering madam. Dirumah juga gitu. Tapi kita ga ngajarin lho. Selama ini dia belajar kata-kata itu dari Youtube, misal kata ready yang saya tau dia dapat dari film Cars (film tentang mobil balap yang bisa berbicara)”.
“Oh gitu. Pantas!” kata Madamnya sambil tersenyum.

Youtube saat ini ternyata banyak membantu orang untuk belajar, bukan semata tontonan visual saja. Bukan hanya cerita tentang Filbert, beberapa waktu yang lalu saya menonton bagaimana seorang pria Korea bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar tanpa pernah kursus atau bahkan belum pernah ke Indonesia. Ternyata rahasianya ia belajar dengan guru bernama Youtube.

 

Iklan
Standar
Opinion

Gajah vs Srigala : Studi Hypermart dan Indomaret

Bulan Agustus ini beredar berita Hypermart mengumumkan kerugian operasional sebesar 189 miliar (Baca:https://detik.com/bursa-valas/3584918/pemilik-hypermart-catat-rugi-rp-189-miliar), dan pada akhir bulan itu juga, Ramayana umumkan rencana menutup 8 gerai supermarketnya.

Siapa yang tidak kenal Hypermart, sebuah jaringan hypermarket pertama di Indonesia kepunyaan Lippo Group. Ia begitu perkasa dibanyak area, misal seperti di Kalimantan Barat saja ada 3 gerai Hypermart. Tokonya selalu ramai, ia tempat yang menyenangkan untuk berbelanja. Tapi pertanyaannya mengapa ia mengalami kerugian yang begitu besar, bahkan sampai harus merumahkan banyak karyawan.

Para pengamat berpendapat sedikitnya ada 2 faktor utama mengapa Hypermart merugi. Yang pertama karena kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Dan yang kedua, karena adanya perubahan pola belanja dimasyarakat.

Secara makro, kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk baik, bahkan lebih baik dari negara Asean lainnya. Tetapi jika melihat realita dimasyarakat, kenaikan tersebut tidak berpengaruh banyak. Gerai retail yang sehari-hari berhubungan dengan masyarakat mengaku lesunya penjualan.

Perubahan pola masyarakat dalam berbelanja bisa jadi hal yang patut dijadikam kambing hitam. Sekarang jamannya belanja online, kata Willy tetangga saya. Tidak perlu ketoko, tidak perlu antri, barang bisa sampai dirumah. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya marketplace yang menjual segala kebutuhan masyarakat secara online seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee dan lain-lain. Tapi menyalahkan seluruhnya kepada marketplace juga tidak tepat. Menurut saya ada pengaruhnya tetapi untuk kategori produk tertentu saja.

Jika melihat pola belanja online, ranking pertama yang paling banyak dibeli adalah Fashion, lalu Elektronik dan seterusnya. Hypermart menjual elektronik, dan juga menjual pakaian. Bisa jadi kedua kategori diatas akan kena imbas. Tapi untuk kategori lainnya misalnya kebutuhan rumah tangga dan makanan berarti seharusnya tidak berpengaruh.

Memang dua kategori terakhir tidak terpengaruh oleh toko online, tetapi asal kita tahu toko Hypermarket ini punya momok menakutkan dikategori ini yang bernama minimarket. Bukan sekedar minimarket, mereka diberi nama Indomaret dan Alfamart.

Hypermarket seperti Hypermart, Giant bisa diibaratkan gajah. Mereka besar, bertenaga, tapi punya kelemahan larinya lambat, tidak gesit. Kalau gajah jalannya lurus, sangat susah untuk bermanuver. Beda dengan Indomaret dan Alfa, mereka kita ibaratkan seekor srigala. Larinya cepat, jago bermanuver, mengandalkan kerja kelompok dalam mencari mangsa.

Indomaret contoh tidak menjual semua item barang, ia juga tidak menjual lebih murah dibanding minimarket lokal atau supermarket. Tapi ia unggul dalam hal banyaknya titik. Semakin banyak titik berarti lebih mudah ditemui, mudah dijangkau, dan tentu jadinya mudah diingat. Ia menjual barang yang paling sering dibutuhkan rumah tangga. Ingat tidak semua, kita tidak akan menemukan tempe disana.

Indomaret pertumbuhannya sangat cepat. Ia mempunyai puluhan ribu toko di Indonesia. Selain toko sendiri, ia juga menawarkan franchise. Tidak heran ia mudah ditemuin disetiap sudut-sudut jalan. Perubahan pola masyarakat urban yang mau praktis menyebabkan mereka lebih suka berbelanja kebutuhan sehari-hari di Indomaret. Artinya mereka masih tetap pergi ke Supermarket dan Hypermarket, tapi hanya untuk berbelanja dalam jumlah besar misal kebutuhan bulanan. Untuk sekedar beli sikat dan pasta gigi, ya ke Indomaret atau Alfamart wae.

Semakin lama omset penjualan toko Supermarket dan Hypermarket akan tergerus. Mereka tidak bisa mendekatkan diri kekonsumen, sebab toko-toko mereka tidak bisa dibuka disembarang tempat. Butuh area yang luas, parkir yang juga memadai untuk kendaraan konsumen.

Ada seorang teman yang dulu suka berbelanja di Supermarket yang ada disebuah mall di Pontianak. Suatu hari saya bertemu dia disebuah toko minimarket, saya tanyakan kok tumben belanja bukan di mall. Jawabannya mungkin cukup mewakili sebagian orang. “Oalah masa beli barang 20.000 harus menempuh jarak 5 km. Belum lagi parkirnya. Disini tinggal jalan keluar komplek sudah bisa dapat barang yang kita inginkan.”

Kondisi yang ada mungkin membuat Hypermart dan Ramayana berpikir keras. Tapi saya kok masih meyakini channel outlet ini pasti masih memiliki peluang. Meski daya beli menurun, diapit persaingan sana sini. Intinya adalah inovasi, pandai membaca Dan beradaptasi pada perubahan yang terjadi.

Salam

 

Standar