Experience

Kepedulian Pada Orang Lain

“To my mind, having a care and concern for others is the highest of the human qualities”- Fred Hollows

Suatu sore di hari Sabtu, saya bersama keluarga keluar rumah menggunakan mobil. Anak kami Filbert merengek untuk pergi ke mall.

Jalan di sore itu cukup ramai. Saat memasuki jalan Ahmad Yani, sebuah mobil truk box mengklakson mobil kami dengan keras dari arah belakang. Karena padat, jalan disamping kiri kanan kami saat itu juga terisi dengan kendaraan. Akibatnya mobil box tersebut tidak bisa melaju karena terhalang kendaraan kami.

Klakson terus menyalak. Kali ini suaranya lebih panjang. Supir mobil box ini benar-benar tidak tau aturan seolah-olah jalan punya bapaknya saja, batin saya. Istri yang duduk disebelah saya juga ikut mengomel.

Beberapa saat kemudian, setelah jalan disebelah kiri sedikit lega, saya pun membuka ruang untuk mobil rese ini lewat. Dan saat mobil ini lewat, saya melihat sang sopir cengar cengir bicara dengan teman disebelahnya tanpa rasa bersalah sudah membuat jantung kami hampir copot.

Saya menghela nafas panjang melihat tingkah sang supir. Baru jadi supir mobil box saja sudah serasa jadi raja jalanan. Coba kalau keluarganya dirumah tahu kelakuannya. Tentu sangat memalukan.

Tuh kan malah jadi bawa keluarga sang supir. Eh tapi sedang apa ya keluarga sang sopir dirumah. Pasti anaknya sedang menunggu ayahnya pulang kerja. Mungkin ia juga ingin ke mall seperti Filbert.

Memikirkan hal itu, tiba-tiba kekesalan saya hilang seketika. Dalam hati kecil saya malah menjadi kasihan dengan supir tadi. Saat saya sudah siap-siap bersenang-senang mengajak anak kami jalan menikmati malam minggu, ia malah masih bekerja.

Mungkin dalam hati kecilnya ingin buru-buru pulang, ingin segera bertemu keluarganya, ingin memeluk anaknya atau mencium istrinya. Tapi dengan adanya sisa pekerjaan yang masih harus ditunaikan, keinginannya jadi tertunda. Kemacetan sore itu mungkin juga membuat ia terlambat pulang kantor.

Mulai saat itu, jika melihat ada mobil box yang melaju dari belakang, sebisa mungkin memberi ruang. Tidak hanya mobil box, termasuk truk dan bus. Sampai istri saya merasa heran, karena saya termasuk yang suka dongkol dan marah-marah jika ada kendaraan yang tidak tau aturan dijalan raya, apalagi kalau jalannya sudah mepet-mepet sisa 2 cm dari body mobil. Berdoa terus dalam hati karena mobil sudah tidak ada asuransi. He2.

Pelajaran yang saya dapat adalah agar selalu mempunyai kepedulian kepada orang lain. Itu juga yang saya ajarkan pada Filbert agar saat ia besar nanti menjauhi sifat egois dan mau menang sendiri. Toh memberi kesempatan kita berbuat kebajikan selalu menghasilkan buah kebijaksanaan.

Salam

Iklan
Standar
Experience

Sakit Tumit yang mengganggu

Suatu pagi saya terbangun dengan sakit tumit yang parah. Bukan hanya sebelah melainkan kedua tumit terasa nyeri. Kejadian 3 tahun lalu memaksa saya mengunjungi dokter. Adalah seorang dokter orthopedi yang saya datangi saat itu. Asumsi saya penyakit tumit saya ada kaitan dengan tulang.

Saat bertemu dokter dan mengutarakan keluhan yang saya rasakan. Dokter itu menyarankan agar disuntik saja. Lucunya saat menyodorkan pantat untuk disuntik, sang dokter buru-buru menunjuk kearah kaki. Ya, bagian yang disuntik adalah tumit kaki. Saya kaget setengah mati. Bisa dibayangkan tumit dengan kulit tebal ditembus ujung jarum. Benar sakitnya luar biasa, nyeri sekali. Bahkan sampai terasa kebas.
Dan syukurnya bukan kedua tumit yang disuntik, tetapi hanya sebelah saja. Begitu prosedurnya kata sang dokter.

Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi mau mengunjungi dokter orthopedi itu untuk jadwal suntik tumit yang sebelah kiri. Bukan karena sakitnya tapi karena sekian hari berlalu tumit bagian kanan saya kembali sakit seperti semula.

Merasa tidak bisa berharap pada pertolongan medis dokter orthopedi itu, saya pun mulai mencari informasi apa yang terjadi dengan tumit saya. Sampai saya menemukan jawabannya pada salah satu artikel kedokteran di internet. Nama penyakit ini disebut Plantar Fasciitis.

Sakit ini bermula karena kebiasaan saya dulu menggunakan sepatu yang sempit. Akibat dari tekanan kulit sepatu terjadilah peradangan dan luka dibagian tendon pada telapak kaki. Tapi pada sebagian orang bisa disebabkan juga aktivitas fisik yang terlalu banyak, seperti misalnya pelari jarak jauh dll.

Setelah tahu apa yang menimpa tumit saya, saya mulai melakukan terapi sendiri. Misal jika tumit mulai sakit dikompress dengan es yang dibalut dengan kain. Atau juga menggelindingkan bola kasti dengan telapak kaki. Selain itu mengurangi aktivitas fisik yang memberikan tekanan pada tumit.

Saya ingat kesalahan saya dulu, menganggap bahwa adanya aliran darah yang tidak lancar pada kaki, saya malah membeli sandal terapi berduri yang biasa digunakan dalam terapi penyakit rematik. Tapi apa lacur, luka atau peradangan malah semakin parah.

Sandal terapi itu kemudian saya buang, untuk aktivitas sehari-hari saya membeli sandal merk Exydo. Itu lho sandal Carvil (generasi 90an pasti ingat). Bentuknya old fashioned, tapi enak dipakai karena bagian pijakan sisi kiri kanannya lebih tinggi dari bagian tengahnya, efeknya tekanan tidak langsung kebagian tengah tumit yang cedera. Sandal ini lumayan murah, saya beli Rp. 130.000 saat jalan ke Singkawang.

Untuk sepatu saya memilih merk Obermain, produsen sepatu asal Jerman. Sepatu Obermain ini memiliki seri Sapatoterapia, yang berarti “shoe therapy”. Keunggulan dari seri ini adalah mempunyai sirkulasi udara yang membuat kaki terasa sejuk dan juga menggunakan busa PU density yang sangat empuk saat digunakan. Obermain ini saya tebus cukup tinggi, saat ada diskon 20% pun masih harus merogoh kocek Rp. 1,2 juta.
Tapi apalah artinya jika bolak balik kedokter orthopedi yang harus membayar Rp. 400 rb setiap konsultasi. Hehe..

Syukurlah sampai saat ini keluhan nyeri tumit sudah jarang dirasakan, tapi karena sudah pernah cedera tidak bisa sembuh benar. Asal tidak banyak beraktivitas misalnya joging atau berjalan, sakitnya tidak terlalu terasa.

Dari pengalaman itu, menurut saya ketika mengetahui ada yang tidak beres pada bagian tubuh kita semestinya segera mencari informasi sebanyak-banyaknya, kunjungi dokter yang kompeten agar mendapat penanganan medis, dan jika divonis sesuatu hendaknya mencari pendapat kedua (second opinion).

Standar