Bulan: September 2018

Kesempatan dalam Kesempitan : Pelajaran dari Orang-orang Opportunis

Dalam kesempatan menemani Filbert mengurus perpanjangan paspor, ditemani istri, kami berangkat pagi-pagi sekali. Maksudnya agar ketika loket buka, berkas kamilah yang pertama masuk.

Suasana pagi itu tidak begitu ramai, selain kami ada sekitar 4 orang yang sedang menunggu. Wah pasti cepat nih ucap saya dalam hati.😄

Dan ketika loket dibuka benar saja. Istri saya yang mewakili Filbert berada diantrian pertama, dan saya karena tidak berkepentingan akhirnya duduk saja di kursi tunggu dekat pintu masuk.

Baru saja mau duduk, tiba-tiba saya dikejutkan oleh panggilan istri. Saya beranjak dari tempat duduk dan segera menghampiri dia.
“Kenapa?.” tanya saya.
“Berkasnya kurang materai. Tolong belikan ya?” katanya terburu-buru.
Sayapun segera balik badan dan keluar ruang tunggu. Didepan pintu masuk saya menghampiri seorang petugas security dan bertanya dimana toko fotokopi terdekat untuk membeli materai.
“Sama bapak yg dekat pagar itu aja bang?” katanya membuat saya kebingungan.
“Masa petugas yang tiap hari jaga disini ga tau dimana tempat beli materai” batin saya sambil melengos pergi.
Orang yang ditunjuk petugas tadi rupanya sedang berdiri dipintu pagar.
“Pak!” panggil saya sambil menepuk pundaknya. “Mau beli materai dimana?”.
“Ada. Mau berapa?” ujar si bapak dengan pongah sambil merogoh kantong bajunya.
Serenceng materai nominal 6000 yang masih terlipat dikeluarkannya.
Aksinya membuat saya kaget. Dari semula mau bertanya arah toko fotokopi, malah ditawarin beli materai sama si bapak.
“Satu saja pak?. Berapa?”
“10.000 bang”
Meski harga materainya sempat bikin shock (biasanya ditoko fotokopi dekat rumah cuma 7000), tapi akhirnya terpaksa saya bayar. Dari pada mesti berjalan jauh sampai berpanas-panasan, dan bermandi keringat mencari toko fotokopi, yah ini sangat membantu.

FB_IMG_1587224573595

Mungkin inilah yang dinamakan “kesempatan dalam kesempitan”. Ide yang sederhana namun brilian. Dengan memperhatikan kebutuhan rutin para pendaftar paspor yang sering tidak melengkapi berkas dengan materai malah bisa menjadi satu peluang yang menghasilkan. Anehnya meski materai dijual lebih mahal, tetap saja orang membeli. Sebagian bersungut, sebagian lagi bahagia. Bahagia karena tidak perlu lama untuk mendapatkan yang ia butuhkan. Everibodi mau cepat beibe.😄

Dan buat yang bersungut, tidak mau beli karena mahal, si bapak yang jual cuma bilang.
“Toko fotokopi ada disana bu. Kalau jalan kali sekitar 100 meter. Bolak balik ya paling 200 meter”.
Nah lho!. Kalau sudah dikata-katain begitu, nyali juga ciut.

FB_IMG_1587224578874

Pengalaman yang hampir punya kemiripan saya alami dulu saat parkir didepan sebuah pasar. Karena asyik ngobrol dengan pemilik salah satu toko yang berada didalam pasar, saya tidak menyadari kalau lokasi parkir saya yang berada dibahu jalan depan pasar itu hanya diizinkan parkir dipagi hari hanya sampai pkl. 10.00 saja.
Dan kemudian setelah sampai dimobil, barulah ketika melihat jam, ternyata sudah pkl 10.40.
Yang terjadi sesampai dimobil, apa yang dilihat membuat diri ini shock, kaget bukan kepalang.
“Waduh…” seru saya sambil menepuk jidat sambil mulut terus mengumpat.😒
Posisi mobil memang masih berada ditempatnya, tetapi ketika melihat ban, sial ternyata ban belakang sebelah kiri sudah kempes parah, setelah diperhatikan lebih dekat ternyata jarum pentil ban sudah dilepas yang mengakibatkan angin yang keluar dengan leluasa.
Saya memperhatikan sekeliling, selain saya rupanya ada 2 mobil juga yang bernasib sama. Pada satu mobil yang berjarak 10 meter dari saya, terlihat seseorang seperti tukang ban sedang memperbaiki ban.

Saya menghampiri sang tukang ban sambil memanggilnya dengan menunjuk kearah mobil saya. Rupanya ia mengerti. Tidak lama setelah selesai iapun langsung datang dan tanpa diberi aba-aba langsung memperbaiki ban mobil saya. Saat sang tukang bekerja, saya memperhatikan dari sampingnya. Apa yang dikerjakannya ternyata sederhana: mengeluarkan jarum pentil dari sakunya, menguncinya dengan sebuah alat, dan setelah terpasang diambilnya selang kompresor dan ban pun segera terisi angin kembali. Finish.
“Udah ya bang?. Berapa?” tanya saya senang karena bisa segera kembali kekantor setelah ini.
“50.000 bang” ujar si tukang ban tanpa menoleh sambil merapikan peralatannya.
Sedikit kaget takut salah dengar, “50.000 bang?” tanya saya lagi.
“Iya bang. 50.000.”
Saya mencoba menawar karena harganya diluar kewajaran.
“Mahal bang. 25.000lah. Biasa nambal cuma 20.000 kok”
Si tukang baru menoleh ke arah saya. “50.000 bang daripada abang beseret (maksudnya jalan dengan ban kempes), lebih mahal lagi nanti”.
Skak mat. Kata-kata si tukang ban menohok hati saya. Saya pun mengalah dan merogoh dompet membayar si tukang yang segera menjauh karena mendapat rejeki nomplok 150.000 (bisa juga lebih jika ada korban mobil lain sebelum saya keluar).

FB_IMG_1587224584171
Sayapun segera memacu mobil saya pergi dari pasar itu dan berjanji dalam hati tidak akan pernah lagi teledor parkir sembarangan.
Dan belakangan saya baru tahu ternyata si tukang ban setiap hari selalu ada ditempat itu dan stay diseberang jalan pasar. Dan dia satu-satunya tukang ban diarea pasar itu.
Sudah lihat bagaimana kesempatan dalam kesempitan itu bekerja?. Sebuah peluang yang tercipta atau mungkin diciptakan oleh dan untuk seseorang. Tercipta karena melihat adanya suatu demand (meski ditengah penderitaan orang lain), masuk dan memanfaatkannya. Juga bisa diciptakan karena adanya hubungan simbiosis mutualisme. Yah siapa tahu….😄

Clean Up Your Mess & Sunatan Massal

Suatu pengalaman menarik malam ini ketika bersama istri dan my lil boy merencanakan makan diluar. Meski sore tadi hujan diselingin angin kencang dan petir sesekali, kami tetap memutuskan berangkat.

Sesampai di mall, karena kebingungan kami akhirnya melangkahkan kaki ke outlet kepunyaan seorang kolonel Amerika.
Awalnya semua berjalan dengan lancar. Seperti biasa antri didepan kasir, memesan makanan lalu membayar, terus membawa makan kemeja. Tapi ketika hendak mengambil sambal, seperti ada yang aneh kok hanya ada kran sambal cabe, tidak ada kran untuk saus tomat. Meski anak saya meminta saos tomat, akhirnya saya bawakan saos cabe saja. Alhasil sesekali mulutnya mengeluh kepedasan karena makan kentang sambil mencocol saos cabe.

Keanehan hari ini tidak berhenti. Ketika hendak mengambil pipet/sedotan yang biasa berada disamping kran sambal, kotak sedotan tersebut juga tidak berada disana. Penasaran saya colek bahu petugas yang berada dekat situ dan bertanya kemana perginya kotak sedotan misterius itu. Sang petugas pria itu kemudian memberi tanda dengan tangan kanannya menunjuk kearah kasir.

Dengan langkah terseret saya menuju kearah kasir yang sedang sibuk melayani konsumen. Dan tidak mau menunggu lama saya menginterupsi sang kasir dengan sapaan diiringi permintaan. “Mbak minta sedotan dong 3!”. Nah jawaban sang kasir membuat saya kaget dan hampir terjengkang kebelakang. “Maaf pak, sedotannya tidak ada. Kami tidak menyediakan sedotan lagi dioutlet ini”. What?….

Baru kemudian setelah duduk saya disadarkan kalau lebih dari 70% konsumen memesan minuman Float yang ternyata punya sedotan besar seperti sedotan bubblenya Chatime (kok mereka dapat, katanya sudah tidak menyediakan). Sisanya minum Mirinda (Pepsinya pas habis) dengan bibir menyentuh gelas paper cup yang kasar pinggirannya. Luntur…luntur deh tuh lipstik kata emak-emak meja sebelah.

Saya yang kebetulan memesan Mirinda dengan es mengutuk dalam hati. Bukan apa-apa, sebagai orang dengan gigi sensitif digigi depan, bisa dibayangkan rasa ngilunya minum es, apalagi esnya bisa nempel langsung kegigi karena harus meneguk langsung di cup.
Ah sudahlah pikir saya… Mungkin mereka lagi berhemat, mungkin juga stok sedang habis, atau mungkin kebijakan sementara dari outlet. Saya sih berpikir positif saja. Toh selama ini saya tidak pernah kecewa kalau makan di outlet mereka. Tapi memang pengalaman malam ini tentu kurang mengenakkan.

Ada cerita lain lagi dioutlet ini waktu makan tadi. Ketika makan saya cermati ada pengumuman beberapa kali lewat speaker yang berisi himbauan bagi konsumen yang makan disana untuk merapikan makanan, menaruhnya di baki dan mengantarkannya kemeja yang sudah ditentukan.

Wow.. Ini terobosan baru pikir saya. Self service istilahnya. Bukan self service, tapi full self service.

Seorang rekan kerja senior dulu pernah bercerita pengalamannya berkunjung ke tempat anaknya bersekolah di Amsterdam. Selama disana ia melihat disiplinnya masyarakat dalam hal membeli makanan baik dine in maupun take away. Khusus take away, pembungkus makanan tidak menggunakan kantong plastik seperti yang sering kita lihat pada umumnya. Dan untuk yang makan ditempat, setiap konsumen diwajibkan merapikan sendiri peralatan makan dan juga mengumpulkan sisa makanan sebelum meninggalkan restoran tersebut. Nah jika kita yang biasa jadi selonong boy, amit-amit deh pasti ditegur sama petugas yang ada.

Katanya konsep self service tersebut ternyata dikarenakan keterbatasan pegawai restoran disana (sebagian besar pegawai dialokasikan untuk menyiapkan makanan di dapur resto, dan bocorannya gaji pegawai disana cukup tinggi sehingga menambah pegawai akan memberikan biaya ekstra bagi pemilik restoran.

Ternyata tidak hanya di Belanda, restoran-restoran cepat saji semisal Mc. D sudah menerapkan konsep self service seperti itu dibeberapa negara didunia, salah duanya adalah Jepang dan Australia.
Dan untuk Indonesia hal ini termasuk baru, bukan apa-apa merubah kebiasaan dan menerima budaya baru tentu membutuhkan waktu. Belum lagi pengaruh karakteristik masyarakatnya.

Seorang blogger menyebut hal ini sebagai manusia “mental majikan”. Tapi entahlah toh masing-masing pihak punya argumen sendiri. Yang pro mengatakan sudah saatnya mendisiplinkan diri sendiri , membantu meringankan pekerjaan pegawai restoran. Dan yang kontra akan mengatakan “wah gimana, kan saya bayar lho. Wajar dong saya pelayanan lebih”.
Jika diadu keduanya pasti perseteruan yang tidak ada habisnya, mungkin episodenya bisa mengalahkan sinetron Tersanjung atau Cinta V3

Kesimpulan saya sekaligus kesan akhir tulisan ini. Yang pertama gerakan self service seperti yang dilakukan outlet ini cukup bagus, hanya perlu sosialisasi dan juga insentif yang menarik agar konsumen bisa secara sukarela dan akhirnya terbiasa merapikan sisa makanan sendiri, dan tentu bertanggung jawab terhadap kebersihan saat ia menikmati makanan.

Yang kedua, gerakan self service ini bisa disebut juga praktik efisiensi, menggunakan peran konsumen untuk membantu meringankan pekerjaan pegawai.
Tapi yang perlu diingat adalah dengan pekerjaannya yang dibantu, konsumen harus juga mendapat benefit, bukan akhirnya malah sunat sana sini. Sambal tomat hilang, merica habis, sedotan ditiadakan. Mungkin saatnya kita ramaikan tagar #makandienohbawasedotanndiri.