Bulan: April 2019

In Memorian

IN MEMORIAN
Siang itu aku mengunjunginya. Seorang teman yang sedang sakit. Aku mendengarnya baru pulang dari Jakarta. Pengobatan serta terapi disalah satu rumah sakit terkenal disana.

Ia menyambutku saat aku datang. Dan kami duduk dikursi kayu bercat vernis diruang tamu rumahnya berhadap-hadapan.
Aku memperhatikan dia. Wajahnya terlihat pucat, garis matanya tergores gelap. Lehernya tampak kurus, terlihat lebih panjang kurasa.
“Beratku sisa 65 kilo pak Budi” katanya membuka pembicaraan, sekaligus menjawab pertanyaan dibenakku betapa cepat susut massa tubuhnya.
Tubuh pria ini kini berbeda jauh. Dulu berat badannya hampir 100 kg. Perawakannya tinggi besar meski tidak seperti pemain basket di IBL yang sering ditonton keponakanku.
“Wah langsing dong sekarang” candaku. Meski kusadari kemudian hal itu sama sekali tidak lucu.
“Yah beginilah. Ini sudah agak lumayan naik. Lebih mending dari bulan lalu pas abis kemoterapi yang ke-7 itu.”

Aku mengenang temanku ini. Kami bertemu karena adanya hubungan pekerjaan. Setidaknya 2 tahun kami berkantor di gedung yang sama. Sebab itu ia memanggilku pak Budi, bahkan sampai saat ini, entah tidak tahu mengapa padahal kami sudah tidak ada hubungan pekerjaan atau bisnis.
Ketika melihatnya penilaianku orang ini mempunyai fisik yang luar biasa. Selalu punya energi berlebih. Mungkin juga terlatih dari aktivitas berjualannya dari satu daerah ke daerah lain yang dilakoninya hampir satu dekade lamanya.

Seiring waktu kutahu selain bekerja di perusahaannya, seringkali pada hari minggu atau hari libur ia mengendarai motornya untuk mengantar barang pesanan pelanggan. Bukan produk perusahaan tapi barang yang ia datangkan sendiri dari suatu daerah untuk dijual di Pontianak. Tidak hanya itu terkadang ia juga menempuh perjalanan jauh untuk ikut mencari dan lalu menjual ikan-ikan hias kepada para pehobi hewan air itu. Dapat uangnya cukup banyak, tetapi tidak selalu ada permintaan.

Itu dulu. Pria energik iti kini melemah. Tubuhnya digerogoti oleh sel-sel jahat, yang bermutasi dan tumbuh tidak terkendali. Menyebar melalui aliran darah, menjangkiti organ-organ tubuh, membuat sistem pertahanan tubuh tidak berdaya.

Kanker nama sel-sel jahat itu. Bertumbuh di usus besar. Sangat berbahaya. Dokter menyebutnya kanker kolorektal. Kanker pembunuh nomor dua, yang menyebabkan 655 ribu kematian setiap tahunnya.
Dunia seperti kiamat baginya. Rasa tidak percaya ketika vonis dokter 1 tahun yang lalu. Hal yang semula dirasa sakit perut biasa menyimpan bom waktu yang akan meledak. Entah kapan. Tapi waktunya pasti akan tiba.
Berbagai upaya dilakukan sesudah itu. Semua dokter dan rumah sakit yang bagus didatangi. Mencari sesuatu yang bernama kesembuhan. Untuk seorang pria, seorang suami dan juga seorang ayah bagi putranya yang masih kecil.

“Sekarang sih agak banyak makan buah, kalau makan yang berat-berat ga bisa banyak” katanya memecah lamunanku.
“Perutku selalu sakit, kadang sakitnya naik ke ulu hati. Terus-terusan. Kadang-kadang sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Kalau terbangun aku minta istriku ambilkan balsem dan menggosoknya diperutku. Tebal-tebal. Rasanya pedas. Saking pedasnya kulitku menjadi mati rasa.”
“Percaya tidak, balsem Geliga ini habis aku pakai kurang dari seminggu” lanjutnya terkekeh.”Jadi kalau mau beli harus beli satu kotak biar stoknya cukup untuk beberapa bulan”
Aku ikut tertawa kecil mendengar guyonannya.

Kami berbincang banyak hal. Soal pekerjaannya. Benar. Ia masih bekerja. Bosnya tidak sampai hati memecat dia. Setidaknya dengan bekerja meski tidak datang ke kantor ia masih mendapat pendapatan bulanan. “Aku juga tidak bisa diam saja, setidaknya dengan buat data dan laporan, otakku tetap jalan. Toh aku juga masih butuh uangnya” begitu jawabnya ketika kutanya. Diplomatis.
Juga soalnya kekhawatirannya akan anak satu-satunya itu. Anaknya yang belum bisa mengikuti pelajaran. Yang guru lesnya malah mengajar bahasa inggris 2 kata, ketimbang mengajarkan bahasa indonesia.

Meski begitu aku melihatnya tegar. Pria ini sudah bisa mengatur emosinya. Aku melihat manusia yang semangat untuk bertahan hidup. Menganggap sakit adalah keniscayaan, berat ringannya, sembuh atau tidak bisa disembuhkan. Dan dia yang selalu melihat setiap cahaya matahari pagi sebagai harapan. Harapan akan mukjizat yang datang. Jamahan Tuhan yang mengangkat penderitaan.
Hampir 2 jam kami berbicara, aku mohon pamit. Dia mengatakan ada rencana lagi untuk ke Jakarta. Ke Dharmais. Rumah sakit kanker itu.
Aku menguatkannya. Kukatakan aku mendoakan semua berjalan lancar dan ia diberi kesembuhan.
…….
Bulan Desember sudah separuh berjalan. Tidak lama perayaan tahun baru akan menjelang. Semua orang menyiapkan diri. Membuat rencana pelesiran, bakar-bakaran dan acara lainnya.
Pagi berita itu datang. Sang teman sudah berpulang. Perjuangan lama dan melelahkan sudah berakhir. Ia sudah tenang, kembali ke Bapa yang punya kehidupan. Bersama-Nya menikmati keabadian.
Perjalanan hidupnya tidak panjang. Akan tetapi akan ada banyak hal yang dapat dikenang.
……

Kemajuan Sistem Kesehatan Negeri Tetangga

Pagi ini kami berada di Kuching Specialist Hospital. Kami sampai lebih awal sekitar pkl 07.30 pagi untuk mengantisipasi membludaknya pasien yang datang. Tidak terlalu mengherankan karena yang dikunjungi adalah dokter spesialis jantung. Hari Senin lagi.
Menunggu 15 menit, kami disambut Margaret, reseptionis atau asisten dokter spesialis jantung, disini mereka menyebutnya Konsultan Kardiologi (Cardiologist Consultant).
Sang dokter mendapatkan titel dokternya di Universitas Science Malaysia pada tahun 1995, dan dianugrahi penghargaan MRCP di Inggris tahun 1999.
Tidak sulit untuk mengetahui profil sang dokter, kita bisa dengan mudah menemukannya di papan informasi rumah sakit, juga didalam ruangan praktek dokter. Ini tentu sangat penting setidaknya untuk mengetahui kapabilitas dokter yang akan menangani kita.
KPJ Kuching adalah satu dari sekian banyak rumah sakit tujuan warga Pontianak dan sekitarnya untuk berobat. Ada juga Normah, Timberland, dan Borneo Medical Center. Menurut kantor berita Antara, pada tahun 2016 setidaknya ada 300 warga yang berobat di Kuching setiap harinya. Ada anekdot yang pernah saya dengar, bahwa sekian banyak RS di Kuching itu dibangun oleh duitnya orang Indonesia. Hahaha..


Bisa jadi ada benarnya. Saya baru tahu kalau RS KPJ Kuching yang berada di Stutong ini akan segera menghentikan operasinya. Segera, rumah sakit pengganti dengan kapasitas yang lebih besar akan selesai pembangunannya. Biaya pembangunannya RM 150 juta (495 miliar dengan kurs Rp. 3300). Wow.
Arus warga yang datang ke Kuching setidaknya sudah mulai marak sejak belasan tahun yang lalu. Ada beberapa faktor mengapa Malaysia menjadi tujuan warga Kalbar untuk urusan medis.
Urutan pertama adalah penanganan penyakit dan pengobatan yang lebih baik. Bukan hal yang aneh bahwa sebagian orang yang datang ke Kuching untuk berobat dikarenakan kecewa dengan pelayanan medis di negeri kita. Diagnosa yang salah, pemberian obat yang tidak tepat, waktu penanganan atau perawatan yang lama dan lain-lain. Saya bahkan mengalami beberapa kali tidak profesionalnya tenaga medis. Misal dulu ketika Papa saya dirawat disalah satu rumah sakit, dikarenakan trombositnya turun, malah di diagnosis DBD. DBD apanya, 1 malam dirumah sakit Papa sudah segar dan esoknya lagi sudah pulang. Hehe.
Selanjutnya biaya. Baru saja mertua saya cek darah. Paket cek darah lengkap dijual RM 108. Bandingkan di salah satu rumah sakit lokal yang biayanya mencapai minimal 600 ribu rupiah. Jauuhh..
Biaya juga bisa dihemat karena waktu penanganan yang lebih singkat. Operasi jantung 3 hari sudah boleh pulang. Tidak perlu lama-lama karena ruang perawatan akan dipakai pasien lainnya, begitu menurut mereka. Contoh lain misal jika dokter tidak menemukan adanya gejala penyakit pada saat pemeriksaan, maka jangan harap anda akan diberikan obat. Yang ada kita disuruh cepat-cepat pulang. Kalau di Indonesia setidaknya kita akan dapat obat maag atau vitamin. Kalau bukan dokternya yang beri, kita yang minta. Dan.. diberi juga. Hehhe.
Lalu jarak. Akses Kalbar ke Kuching yang semakin mudah membuat banyak orang berbondong-bondong datang ke Kuching. Ada 4 perbatasan darat antara Kalbar dan Malaysia. 3 diantaranya sudah dibangun dengan sangat bagus. Aruk di utara, Entikong di bagian tengah dan Badau di timur. Belum menyebut lagi penerbangan udara tiap harinya dengan maskapai Air Asia dan Wings Air yang kami naiki kemarin.
Baru saja saya bertemu dengan ibu Endang yang baru datang dari Singkawang. Dari Singkawang ke Kuching ditempuh dalam waktu 5 jam saja. Bahkan ibu Endang berencana pulang hari balik ke Singkawang. Wah mantul.
Saya baru meninggalkan ruang periksa Dr. Wong Kwok Hieng di RS Timberland untuk cek keluhan asam lambung saya. Dalam hati saya berpikir setidaknya akan butuh beberapa tahun atau dekade lagi untuk menyamai pelayanan medis di negeri jiran ini. Kerja keras semua komponen dan juga peran pemerintah agar nanti masyarakat Indonesia bisa mempercayai rumah sakit lokal. Bukan nanti warga kita lebih mengenal Timberland atau Adventis dibanding Siloam dan Awalbros.

L.U.P.A

“Mana kweetiaunya?” tanya istriku saat kaki menjejak rumah.
Aku menepuk dahi. Lupa. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir.
Mendengar aku pulang, jagoan kecil ikut keluar kamar sambil membawa Ipad kesayangannya. Yang pecah touchscreen kiri atasnya. Yang saat itu meluncur mulus ke keramik ruang tamu kami. Yang diiringi dengan teriakan histeris sang mama.
Sunyi seketika. Aku melihat kedua orang itu. Keduanya memandang ganas. Aku menangkap tanda bahaya disini.
Tidak ada pilihan lain. Aku berbalik keluar. Menggeber motor keluar kompleks. Tidak kulihat seseorang menyebrang, sesosok pria, karyawan KFC, yang outletnya buka didepan kompleks kami.
Ia berteriak histeris, suaranya melengking, sopran. Mirip suara Lucinta Luna yang lagi kena prank.
Untung dia segera menarik kakinya yang terlanjur melangkah. Untungnya lagi tidak ada makian keluar dari mulutnya.
Tiga menit aku sudah sampai di abang tukang kweetiau langganan kami. Pemiliknya anak muda. Kunilai cukup sukses. Setidaknya dari emperan kini sudah sewa ruko sendiri. 60 juta setahun. Yang menuntutnya buka lebih siang. Dari jam 5 sore jadi jam 2 siang.
“Bang, 2 bungkus kweetiau goreng ya. Telur ceplokin didalam.” kataku dengan nafas terengah-engah.
“Oke. Kenapa kayaknya buru-buru ko?” tanyanya sambil tetap sibuk dengan spatulanya yang menari-nari diatas wajan.
“Iya nih bang. Orang rumah udah pada la….!”, aku belum selesai menjawab karena abang Gojek yang sejak tadi dibelakang keburu menyerobot.
Aku memandang sekeliling. Si abang kweetiau kini juga jualan capchai, juga nasi goreng seafood. Hire satu orang. Mirip Juna, si dedengkot Master Chef itu. Tapi bukan gantengnya yang bikin emak-emak pada klepek-klepek. Kebetulan saja punya tato dibelakang siku, plus anting bulat di telinga kiri.
Tidak lama kweetiau pesananku sudah dibungkus. Kukeluarkan beberapa lembar uang 5000an untuk membayar.
“Maaf tadi agak ramai ya ko?. Jadinya ga sempat ngobrolnya”
“Ga apa-apa bang.”
“Tadi saya nanya sama koko kok kayaknya terburu-buru” lanjut si abang.
“Iya bang. Orang rumah udah lapar, makanya cepat-cepat kesini. Emang tadi agak ngebut bawa motornya. Tapi kok abang tau ya?.
Si abang tertawa kecil. “Oalah bagaimana bisa ga tau ko. Kokonya bawa motor, pakai helm udah bener. Tapi.. kok kesininya nyeker, hahaha..” kata si abang kweetiau tidak mampu menahan tawanya.
Aku menoleh ke arah kakiku. Polos. Tanpa alas kaki. Anjirrr….Sekali lagi dahi kutepuk. Kini lebih keras. Mestinya kemerahan. Aku kembali lagi, sekali lagi LUPA…
……..

𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘴𝘢𝘪𝘯𝘴 𝘗𝘳𝘰𝘧 𝘛𝘢𝘳𝘶𝘯𝘢 𝘐𝘬𝘳𝘢𝘳, 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘰𝘵𝘢𝘬. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭, 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢, 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴𝘮𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘴𝘱𝘦𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘴𝘪𝘬𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘧𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘵𝘰𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘳𝘪-𝘤𝘪𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘭 𝘈𝘭𝘻𝘢𝘩𝘦𝘪𝘮𝘦𝘳.
𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘬𝘶𝘯. 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘴𝘢𝘪𝘯𝘴, 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘛𝘢𝘳𝘶𝘯𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘴𝘪𝘴 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘯.
𝘕𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘪𝘢𝘵-𝘬𝘪𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭-𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘯𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘰𝘵𝘢𝘬.
“𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘐𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘯𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 (𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨) 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘪𝘯-𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘨𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧,” 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘗𝘉 𝘐𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 (2000-2003).

𝘋𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘦𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬𝘢.𝘤𝘰.𝘪𝘥

Usia dan Karier

16 Januari 2008.
Tawaran itu begitu menggiurkan. Ia datang saat aku sedang bimbang, diantara pilihan terus bertahan atau mencari petualangan baru.
Lewat seorang teman, sang pimpinan perusahaan itu menghubungiku. Kami bertemu disebuah rumah makan. Ia menunggu kabar dariku. Tidak banyak yang ditanyakannya seputar pengalaman dan kemampuanku. Mungkin kata-kata manis temanku sudah membuai pikirannya. Atau ia tidak punya pilihan orang ditengah belantara kalimantan saat itu. Siapa yang tau, ia tidak pernah mengatakannya sampai karirku habis ditempat itu.

Jabatan prestisius untuk seorang anak muda berusia 24 tahun. Masih kencur dengan sedikit pengalaman. Mungkin ia datang terlalu cepat, tapi pesonanya sangat sulit untuk ditolak.
Aku kemudian menerimanya. Tapi sebelumnya aku harus ke Balikpapan mengurus pengunduran diriku.

Perusahaan lamaku begitu mentereng, mereka pemain besar diindustri.
Meski kantornya kecil tapi karyawannya banyak.
Aku bertemu HRD diruangannya dilantai 1. Ternyata ia sudah mengurusi semuanya. Hanya satu: syaratnya aku harus membayar penalty. Ganti rugi atas kontrak yang tidak aku selesaikan. Kalau tidak ijazahku akan membusuk selamanya di brankas besi disana.
Sudah kusiapkan sebelum berangkat. Aku menyerahkan uang itu dan ia memberiku kuitansi tanda terima.

Seseorang masuk saat aku menerima kuitansi itu. Seorang paruh baya, seingatku bukan orang kantor itu. Perwakilan dari pusat. Melihatku atau mungkin sudah mendengar cerita sebelumnya, ia menggerutu.
“Kita mendidik orang, mengajar yang tidak tau sampai menguasai semuanya. Kita menanam namun orang lain yang memanen” ucapnya tanpa melihat kepadaku.
Setelah mengucapkan hal itu dia mendengus pergi.

Ah.. Aku tau maksudnya tapi aku memilih tidak peduli. Cuek bebek. Toh aku sudah memberikan kontribusi selama ini. Aku memang produk didikan mereka, tapi aku sudah membayarnya. Lewat sumbangsihku, dan juga kuitansi yang aku terima dari HRD sebagai tanda terima dari sejumlah uang yang kubayar.
HRD itu menjabat tanganku, menyelamatiku berharap aku sukses ditempat yang baru. Aku menghargainya. Kebalas dengan senyum dan berjanji takkan mengecewakan pilihanku.
Setelah mengucapkan terima kasih atau pamit dan keluar ruangan.

Diluar aku bertemu dengan sosok yang diceritakan teman-temanku. Seorang pemimpin kantor yang baru. Usianya ketaksir mendekati 40an. Meski wajahnya tidak bisa membohongi kalau kerja keras dan apa yang dilakukannya membuatnya terlihat lebih matang dari usianya.
Aku menyapanya. Ia terlihat sedikit bingung sambil menerka-nerka. Wajar karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. HRD yang juga keluar ruangan lalu menjelaskan padanya siapa yang waktu itu berdiri dihadapannya. Seorang anak muda, yang siap meninggalkan perusahaan. Belum banyak berkontribusi dan jelas bukan siapa-siapa.

Dia menatapku beberapa saat lalu buka suara. Dia bercerita tentang seseorang, bekas anak buahnya, mantan karyawan yang kini berada diperusahaan lain. Sudah bekerja 1 tahun disana lalu tidak betah. Baru-baru ini menghubungi sang mantan bos dan mengajukan niat untuk kembali. Belantara yang terhampar diluar sana tidak mudah ditaklukkan. Petualangannya berakhir, kembali ke rumah lama adalah pilihannya.
Aku menyimak lamat-lamat, dan membaca arah pikiran sang pimpinan. Tidak mudah untuk survive diluar sana nak. Kalau mau mencoba silahkan resiko ditanggung sendiri. Begitu kira-kira maksudnya.
Aku menyimpan kata-kata sang pimpinan baru baik-baik bahkan sampai saat ini saat tulisan ini dibuat. Sebuah pembalikan dan pembuktian yang kemudian kujadikan tonggak karir yang tertancap kuat.
Aku kemudian berpamitan dan melangkah keluar gedung itu. Gedung perusahaan tempat aku menggantung hidup hampir 25 bulan lamanya. Perusahaan yang menarikku keluar dari kampung halamanku. Ia yang mengirimkanku selembar tiket pesawat Batavia, pesawat pertama yang kunaiki selama hidupku.

Time flies. Waktu berlalu. Aku menghabiskan waktu di sini, ditempat baru. Aku memimpin arah perusahaan untuk 75% area Kalimantan. Mereka bergantung padaku. Setidaknya 2 tahun sampai aku akhirnya angkat koper dari sana untuk petualangan baru selanjutnya.

Disuatu ketika, aku bertemu kembali dengan sang pimpinan perusahaan lamaku. Ia sudah keluar dari perusahaan itu ternyata. Kini ia memimpin sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan kami untuk menyalurkan hasil produksi kami kepada konsumen.

Siang itu. Jam dinding berdetak. Sunyi. Kami baru membicarakan strategi pengembangan produk, dan rencana penambahan personil. Aku hening dalam lamunan. Dihadapanku duduk seseorang yang dulu berkata bahwa perusahaan lama kami adalah perusahaan terbaik, dimana disana adalah pilihan yang terbaik untuk berkarir. Tempat dimana kami dibayar dengan harga pantas. Tempat kami mencapai impian karir kami.

Kini keadaannya kontras, ia juga akhirnya harus angkat kaki dari sana. Pergi dari perusahaan yang dulu sangat ia banggakan. Yang dulu menghormatinya dengan keagungan.
Orang ini kini duduk semeja denganku. Anak muda yang dulu berbeda tiga strata dengannya. Kami membicarakan bisnis. Aku perwakilan perusahaan penyedia produk. Ia dari perusahaan penyalur. Ia mungkin canggung, mungkin juga merasa tidak pantas.

Aku masih tidak percaya. Masih sulit membayangkannya.
Dihati kecilku ada kebanggaan. Aku membuktikan pilihanku tidak salah, setidaknya sampai aku bertemu dan duduk bersama satu meja hari itu.
Karirku berlanjut beberapa tahun setelahnya. Aku masih muda. Dunia masih terbuka dihadapanku. Impian besar menantiku disana.
Aku muda, aku belum banyak pengalaman. Tapi aku siap dengan tantangan. Tantangan baru setiap hari yang siap kutaklukkan.

Ala Sinetron

Ada sinetron yg tayang tadi mlm.
Plot ceritanya Si Andi mau nikah ama si Alya. Si Andy ceritanya masih punya istri yang namanya si Cindy. Nah abangnya si Cindy, Ronald ternyata mantan suaminya si Alya. Dan lebih seru lagi istrinya si Ronald, Fera adalah mantan pacar Andi yang direbut oleh si Ronald.

Fakta yang terjadi setelah saya membuat status diatas adalah :

  1. Saya tidak tahu mengapa Emak saya suka nonton film yang ceritanya model begitu.
  2. Si sutradara pasti berguru ama Christopher Nolan abis si doi bikin film Memento (2000).
  3. ORANG YANG MELINTAS DI FB STATUS INI AKAN MEMBACA LEBIH DARI SATU KALI UNTUK MEMAHAMINYA.

Ituh….

Note : Nama tokoh dalam postingan ini sudah disamarkan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh team Pak Ndul Core Of the Core (COC).