Bulan: Oktober 2019

Si Bodoh Yang (terus) Belajar

Satu purnama yang lalu beberapa orang wanita dan pria muda datang ke warung saya. Mereka memesan makanan dan minuman, dan dilayani oleh Putri, karyawan saya. Tidak ada yang aneh. Biasa saja. Umum sekali mahasiswa makan ditempat saya. Terlebih posisi warung yang dekat dengan salah satu universitas negeri terbesar di provinsi ini.

Setelah menyelesaikan makannya dua orang dari mereka berjalan ke arah meja kasir untuk membayar. Kebetulan saat itu sayalah yang menjabat sebagai kasir.
Saya menyebutkan sejumlah angka, salah satu dari kedua orang itu menarik dompet dan membayar. Sembari mengucapkan terima kasih saya memasukkan uang kedalam laci.

Sejurus kemudian saya duduk, tapi kedua mahasiswa itu belum beranjak pergi. Agak sedikit ragu, rekan mahasiswa yang tadi membayar memberanikan diri berbicara.
“Pak, kami mahasiswa dari Poltekkes. Sedang ada tugas dari kampus, dan kami bermaksud mewawancarai bapak. Apakah bapak bersedia?.” Sopan sekali.
Saya memandang kearah dua orang itu. “Iya. Tapi mau tanya tentang apa ya?.”
“Kami mau tanya-tanya tentang sanitasi dan pengelolaan rumah makan bapak”.
Sempat ingin menolak tapi akhirnya saya menyanggupi.
Sesi wawancara dilakukan dimeja tempat mereka makan. Saya ditanyai tentang pengolahan dan penyajian makanan, pengelolaan limbah sampai training karyawan untuk standar kebersihan.
Dan ada pertanyaan menggelitik.
“Pak, kalau karyawan habis dari WC cuci tangan ga?.”
Hahahaa.
Mahasiswa yang bertindak sebagai pewawancara terkesan kaku. Semua pertanyaan dibacakan sesuai catatan mereka. Setelah saya menjawab langsung dituliskan jawabannya. Persis seperti murid yang sedang mengisi soal ujian.
Sesi wawancara berlangsung cepat sekira 10 menit mereka mohon undur diri.
….
Nah beberapa hari yang lalu datang lagi rombongan mahasiswa. 4 orang. Meski katanya mereka menunggu 3-4 orang temannya bergabung.
Tujuannya masih sama. Wawancara. Tugas kuliah.
Wah saya jadi narasumber spesialis tugas kuliah terus bagi mahasiswa nih, pikir saya.
Awalnya mereka kirim pesan WA dulu untuk menanyakan kesediaan menjadi narasumber. Berbeda dengan yang sebelumnya yang menggunakan modus makan dulu (susah nolaknya, mereka juga konsumen coy).
Mengaku dari Politeknik Putra Bangsa jurusan komputerisasi akuntansi. Mereka ingin wawancara mengenai topik wirausaha dan pengelolaaan karyawan.
Sama dengan sebelumnya saya sempat ingin menolak. Bukan sombong tapi saya pikir kurang layaklah usaha kecil model saya untuk diwawancarai.
Tapi yang menjadi menarik adalah bagaimana jurusan akuntansi mau tanya tentang wirausaha. Dan mengenai hal itu saya tanyakan kepada mereka saat wawancara.

Teng jam 9 pagi hari sabtu sesuai jadwal wawancara mereka datang terlambat. Tapi tak apalah toh bukan mau ketemu pejabat. Hehe.
Wawancara cukup cair. Pertanyaan dan jawaban saya bisa kemudian dieksplorasi oleh penanya. Saya melihat yang kali ini lebih punya bakat jurnalistik. Menggali informasi. Rasa ingin tahu yang tinggi.

Beberapa point pertanyaannya meliputi kapan mulai usaha, latar belakang pemilik, sumber modal usaha. Lalu dalam pengelolaannya bagaimana memanage karyawan, melakukan promosi, menghadapi persaingan.
Agak mengherankan saya menjawab cukup lancar. Hari itu saya banyak bicara. Ngalor ngidul meski tidak keluar topik.

Ada dua pertanyaan menarik dari mereka
Yang pertama, apa pesan untuk mahasiswa yang berniat wirausaha?.
“Siap mental, berani, tidak mudah menyerah dan selalu open minded”, ujar saya kalem.
Pertanyaan kedua sedikit agak keluar jalur tapi masih related dengan topik.
“Mengapa bapak memilih buka usaha dan mengapa sebagian besar orang Tionghoa sukses dalam bisnis?.”
Agak susah menjawabnya. Tetapi untuk pertanyaan mengapa pilih buka usaha, saya akan jawab karena ingin explore kemampuan diri, menerapkan ilmu yang didapat saat masih bekerja kedalam usaha sendiri dan yang paling penting lagi, INGIN KAYA. Simple. Hahaha.
Lalu yang kedua kenapa banyak orang Tionghoa yang sukses dalam bisnis. Nah menurut saya salah satu adalah karena ada faktor culture.
Culture atau budaya dibentuk dalam keluarga. Sejak masih kecil, anak orang tionghoa sudah melihat orang tuanya berdagang, jualan. Jadi secara mindset dan knowledge dasar bisnis sudah ada diotak mereka.
Jawabannya mungkin cukup memuaskan, buktinya mereka tidak bertanya lagi. Hehe.
….
Seingat saya ini adalah wawancara mahasiswa yang ketiga selama saya mengelola warung setelah pensiun sebagai profesional di perusahaan nasional. Kedepannya saya mendambakan jika yang wawancara itu wartawan media cetak atau elektronik. Pengen juga muka masuk media. Eh media cetak sudah pernah ya. Elektronik yang belum.

Mudah-mudahan. Tapi pertanyaannya apa yang unik atau kelebihan dari saya yang membuat layak untuk diwawancara?. Itu yang penting. Tapi who knowslah mungkin ada wartawan koplak yang nyasar, dan mabok cabe habis makan sambal level 100 yang mau mewawancara orang bodoh. Hahaha…