Bulan: Desember 2019

Bisnis Kekinian, Bisnis Hantu

Ada sebuah outlet minuman dalam bentuk gerobak. Jualannya tepat diwarung saya. Sudah beberapa waktu saya memperhatikan jualannya cukup laris.
Suatu hari saat warung agak sepi, saya ngobrol dengan yang jaga gerobak. Dua gadis kembar, yang jujur saya tidak bisa membedakan mana kakak dan mana adik. Dua duanya hobi menyanyi. Satu di aliran dangdut, satu dialiran pop. Yang pop suaranya merdu waktu saya curi-curi dengar saat ia bernyanyi.

Satu outlet gerobak biasanya beroperasi 12 jam. Dan rata-rata menghasilkan penjualan dengan lebih dari 50 cup perhari. Harga jualnya 12.000/cup dari modal percupnya 7000 saja. Wow saya kaget sampai kepala panas dingin.
“Ada cabang yang sehari bisa jual 200 cup ko” ujar si kakak yang buat saya langsung demam.
Tambah lagi si owner punya 5 cabang yang dikelola sendiri, betul-betul bikin saya mau tutup warung menghitung marginnya.

Dasar penasaran saya iseng telpon ke punya franchise minuman itu. Lokasinya di Tangerang. Kata cici nya, sudah ada 100 cabang se Indonesia. Amazing.
Dia lanjut cerita kalau ada cabangnya yang bisa jualan rutin 700 cup sehari tapi bukan di event. Bahkan katanya saya terlambat menghubungi karena tren minuman ini sudah hype sejak awal tahun. Apalagi margin keuntungannya dikatakan besar. Lebih dari 50%.

Saya sungguh tertarik, tapi ternyata slot nya sudah penuh. Saya boleh buka tapi di area pinggiran sekali. Ah ngga jadi saja deh kalau gitu.
Nah kemarin saya kebetulan saat berbelanja di salah satu Supermarket. Disana saya melihat sebuah outlet minuman kekinian boba asal Taiwan. Outletnya cukup unik karena diberi tulisan aksara mandarin. Kemasan minumannya mirip atau dibuat mirip dengan Xing Fu Tang yang di Mall Puri yang kata adik saya, Priscilla Susina kalau beli antrinya bisa sampai 30 meter, walau harganya bisa sampai Rp. 50.000/cup. Memang tahun ini, tahun Taiwanese Tea, setelah selesai diserbu Thai Tea beberapa tahun belakangan.

Kembali saya iseng untuk tanya-tanya si Franchisor mengenai produknya, harga jualnya dan harga franchisenya. Tidak terlalu mahal, tidak sampai 10 juta rupiah.

Yang kemudian menjadi menarik adalah waktu mereka memberikan alamat kantornya. Disebuah kota di Jawa Tengah, dan disebuah co working space. Tidak terlihat seriuskan?.
Tapi saya jadi berpikir bahwa sekarang orang menjual sebuah prospektus bisnis bukan karena dia sudah sukses berjualan. Mereka hanya menjual konsep. Modalnya, presentasi yang menarik dengan gambar dan ilustrasi serta deskripsi produk. Dan tidak lupa budget iklan: Facebook Ads dan IG Ads.

Kini saatnya orang jualan IIK(Ide, Informasi, Konsep). Kalau dikuliner kita mengenai Ghost Kitchen, saya baru menemukan Ghost BO/Franchise. Orang selalu punya cara untuk mencari uang, kata saya dalam hati.