Kategori: Experience

Aku Yang (belum) Beruntung

Entah mengapa saya mulai males mengikuti yang namanya Gathering. Gathering adalah undangan makan atau kumpul bersama dari badan atau perusahaan, biasanya sebagai apresiasi pencapaian tertentu.
Misal hari ini saya dapat undangan untuk menghadiri sebuah gathering salah satu supermarket grosir dengan acara makan dan pengundian hadiah.

Acara dimulai dari pkl 10.00 pagi. Saya datang sedikit terlambat sekitar 15 menit kemudian. Ketika datang sudah ramai sekali para tamu undangan. Pihak panitia membuat panggung ditempat parkiran motor depan kantin. Cukup menampung banyak orang. 500 orang mungkin lebih.

Tapi acara berjalan sangat lambat. Sampai 3 jam kemudian belum juga ada penarikan undian. Hanya games-games kecil berhadiah produk rumah tangga seperti minyak goreng dan shampoo. Saya dapat juga waktu unjuk tangan menjawab pertanyaan. Hiks.

Selain itu acara diisi ocehan MC dan sekelompok orang yang menyanyikan lagu diatas panggung diselingi tingkah polah lucu sambil mempleset-plesetkan lagu. Satu dua lagu cukup menghibur, sisanya bagi saya hanya suara teriakan parau yang cukup memekakkan telinga.

Acara undian yang ditunggu baru dimulai setengah jam kemudian. Pertama diundi setrika, lalu kuis dan nyanyian, undi kompor gas, lomba karaoke, undi handphone, Spiderman datang.
Oh wahai Spiderman berlemak berkostum sempit sehingga menonjolkan sesuatu yang tidak harus ditonjolkan. Membuat anak gadis membuang muka dan beberapa ibu lost focus.
Setelah hp, dilanjutkan undian tv, selingan, undian kulkas, selingan, dan terakhir undian motor.

Acara pembacaan hadiah selesai pkl 16.30. Pemenang motor sudah dipanggil. Apes tidak ada satu hadiah undian pun yang mampir di nomor undian saya. Nomor yang mendekati pun tidak. Ahh… saya pun pulang dengan wajah sayu. Sudah menahan ingin pulang karena baterai hp habis setengah jam sebelumnya yang membuat orang rumah tidak bisa menghubungi, tapi bertahan tetap dilokasi karena siapa tahu dapat motor. Hehe..

Kesekian kalinya. Ini gathering ke enam yang pernah saya ikuti (sebagai undangan atau perwakilan undangan). Dan yang keenam ini masih Zonk. Hahaha

  1. Semen Holcim di hotel Dangau
  2. Cat Avian di Hotel Aston
  3. Bank Kalbar di PCC
  4. J&T
  5. Cat Avian lagi di hotel Aston.
  6. Indogrosir 2019

Jika ditanya Gathering paling berkesan, saya akan jawab pada saat acara Gathering J&T. Selain makanannya enak-enak, hiks, pas pulang dihadiahi kue bulan atau Moon Cake yang cukup besar dengan kotak spesial warna merah. Rasa kuenya?. Enak pakai banget. Hehe..

Next gathering. Entahlah. Saya sebenarnya bukan spesialis dalam hal undian. Seumur-umur baru pernah dapat hadiah dari undian pada saat SMP. Hadiahnya fantastis. Sebuah Handuk mandi. Hiks.

Si Bodoh Yang (terus) Belajar

Satu purnama yang lalu beberapa orang wanita dan pria muda datang ke warung saya. Mereka memesan makanan dan minuman, dan dilayani oleh Putri, karyawan saya. Tidak ada yang aneh. Biasa saja. Umum sekali mahasiswa makan ditempat saya. Terlebih posisi warung yang dekat dengan salah satu universitas negeri terbesar di provinsi ini.

Setelah menyelesaikan makannya dua orang dari mereka berjalan ke arah meja kasir untuk membayar. Kebetulan saat itu sayalah yang menjabat sebagai kasir.
Saya menyebutkan sejumlah angka, salah satu dari kedua orang itu menarik dompet dan membayar. Sembari mengucapkan terima kasih saya memasukkan uang kedalam laci.

Sejurus kemudian saya duduk, tapi kedua mahasiswa itu belum beranjak pergi. Agak sedikit ragu, rekan mahasiswa yang tadi membayar memberanikan diri berbicara.
“Pak, kami mahasiswa dari Poltekkes. Sedang ada tugas dari kampus, dan kami bermaksud mewawancarai bapak. Apakah bapak bersedia?.” Sopan sekali.
Saya memandang kearah dua orang itu. “Iya. Tapi mau tanya tentang apa ya?.”
“Kami mau tanya-tanya tentang sanitasi dan pengelolaan rumah makan bapak”.
Sempat ingin menolak tapi akhirnya saya menyanggupi.
Sesi wawancara dilakukan dimeja tempat mereka makan. Saya ditanyai tentang pengolahan dan penyajian makanan, pengelolaan limbah sampai training karyawan untuk standar kebersihan.
Dan ada pertanyaan menggelitik.
“Pak, kalau karyawan habis dari WC cuci tangan ga?.”
Hahahaa.
Mahasiswa yang bertindak sebagai pewawancara terkesan kaku. Semua pertanyaan dibacakan sesuai catatan mereka. Setelah saya menjawab langsung dituliskan jawabannya. Persis seperti murid yang sedang mengisi soal ujian.
Sesi wawancara berlangsung cepat sekira 10 menit mereka mohon undur diri.
….
Nah beberapa hari yang lalu datang lagi rombongan mahasiswa. 4 orang. Meski katanya mereka menunggu 3-4 orang temannya bergabung.
Tujuannya masih sama. Wawancara. Tugas kuliah.
Wah saya jadi narasumber spesialis tugas kuliah terus bagi mahasiswa nih, pikir saya.
Awalnya mereka kirim pesan WA dulu untuk menanyakan kesediaan menjadi narasumber. Berbeda dengan yang sebelumnya yang menggunakan modus makan dulu (susah nolaknya, mereka juga konsumen coy).
Mengaku dari Politeknik Putra Bangsa jurusan komputerisasi akuntansi. Mereka ingin wawancara mengenai topik wirausaha dan pengelolaaan karyawan.
Sama dengan sebelumnya saya sempat ingin menolak. Bukan sombong tapi saya pikir kurang layaklah usaha kecil model saya untuk diwawancarai.
Tapi yang menjadi menarik adalah bagaimana jurusan akuntansi mau tanya tentang wirausaha. Dan mengenai hal itu saya tanyakan kepada mereka saat wawancara.

Teng jam 9 pagi hari sabtu sesuai jadwal wawancara mereka datang terlambat. Tapi tak apalah toh bukan mau ketemu pejabat. Hehe.
Wawancara cukup cair. Pertanyaan dan jawaban saya bisa kemudian dieksplorasi oleh penanya. Saya melihat yang kali ini lebih punya bakat jurnalistik. Menggali informasi. Rasa ingin tahu yang tinggi.

Beberapa point pertanyaannya meliputi kapan mulai usaha, latar belakang pemilik, sumber modal usaha. Lalu dalam pengelolaannya bagaimana memanage karyawan, melakukan promosi, menghadapi persaingan.
Agak mengherankan saya menjawab cukup lancar. Hari itu saya banyak bicara. Ngalor ngidul meski tidak keluar topik.

Ada dua pertanyaan menarik dari mereka
Yang pertama, apa pesan untuk mahasiswa yang berniat wirausaha?.
“Siap mental, berani, tidak mudah menyerah dan selalu open minded”, ujar saya kalem.
Pertanyaan kedua sedikit agak keluar jalur tapi masih related dengan topik.
“Mengapa bapak memilih buka usaha dan mengapa sebagian besar orang Tionghoa sukses dalam bisnis?.”
Agak susah menjawabnya. Tetapi untuk pertanyaan mengapa pilih buka usaha, saya akan jawab karena ingin explore kemampuan diri, menerapkan ilmu yang didapat saat masih bekerja kedalam usaha sendiri dan yang paling penting lagi, INGIN KAYA. Simple. Hahaha.
Lalu yang kedua kenapa banyak orang Tionghoa yang sukses dalam bisnis. Nah menurut saya salah satu adalah karena ada faktor culture.
Culture atau budaya dibentuk dalam keluarga. Sejak masih kecil, anak orang tionghoa sudah melihat orang tuanya berdagang, jualan. Jadi secara mindset dan knowledge dasar bisnis sudah ada diotak mereka.
Jawabannya mungkin cukup memuaskan, buktinya mereka tidak bertanya lagi. Hehe.
….
Seingat saya ini adalah wawancara mahasiswa yang ketiga selama saya mengelola warung setelah pensiun sebagai profesional di perusahaan nasional. Kedepannya saya mendambakan jika yang wawancara itu wartawan media cetak atau elektronik. Pengen juga muka masuk media. Eh media cetak sudah pernah ya. Elektronik yang belum.

Mudah-mudahan. Tapi pertanyaannya apa yang unik atau kelebihan dari saya yang membuat layak untuk diwawancara?. Itu yang penting. Tapi who knowslah mungkin ada wartawan koplak yang nyasar, dan mabok cabe habis makan sambal level 100 yang mau mewawancara orang bodoh. Hahaha…

Keep It Expensive : Pulau Derawan

“Keep it expensive. Ones it gets affordable or cheap, it will be flooded with garbages.”

Tulisan dalam bahasa Inggris itu ditulis oleh orang Indonesia. Disebuah video di Youtube yang menayangkan atau mempromosikan keindahan Raja Ampat, yang merupakan tempat wisata yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil, yang berada di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Terkesan kontradiktif dimana biasanya kita bangga jika ada tempat wisata kita yang sangat terkenal di manca negara. Misal Bali yang dinobatkan Pulau Terindah di Dunia oleh majalah Travel n Leisure.
Tapi yang mau disampaikan oleh orang ini adalah efek negatif dari melimpahnya kunjungan wisata.

Beberapa tahun lalu ketika saya mengunjungi Bali bertepatan dengan high season, masa liburan sekolah. Saya sempat mampir di pantai Kuta, sekedar melihat-lihat dan juga berfoto dipapan seluncur di depan Hard Rock Cafe Bali.

Sampai digerbang masuk pantai, wow luar biasa. Banyak sekali orang. Ribuan orang tumplek dipantai. Ramai sekali. Andaikan kita berjalan dengan mata tertutup pasti belum 5 meter kita akan menabrak orang.
Ada hal yang berbeda dengan kunjungan saya beberapa tahun sebelumnya. Yang pertama turis asing yang semakin menyusut. Bisa jadi karena dua alasan ini : pantai yang sangat ramai dengan turis lokal atau saya kurang jeli melihat kalau turis asing yang dulu kebanyakan dari Australia sekarang berganti dengan turis asal negeri Tiongkok. Atau turis Aussienya udah pindah ke Pantai Kuta yang lain. Di pulau seberangnya. Di Lombok Tengah. Disana tenang, pemandangan lautnnya cantik. Ombaknya juga besar. Dan masih belum banyak yang tahu meski sekelas jaringan hotel Accors sudah berdiri disana.

Kedua, pantai yang kotor dan penuh sampah. Disepanjang sisi pantai terlihat banyak potongan sampah, botol plastik, sisa makanan, termasuk kantong-kantong plastik dengan berbagai ukuran.

Tidak heran jika orang yang saya sebutkan diawal berujar demikian. Baginya biarkan saja travel costnya mahal agar tempat wisata tersebut lebih terjaga. Meski terkesan eksklusif. Berarti hanya yang punya duit saja yang bisa pergi?. Hahaa..

Saya ingat dulu saat tinggal di Samarinda, Kaltim. Beberapa teman menyarankan berkunjung ke Pulau Derawan. Tipikalnya sama dengan Raja Ampat. Meski karakternya berbeda. Disini lebih menonjolkkan pasir putih, air laut yang biru bening, terumbu karang, dan tempat penangkaran penyu.
Kalau melihat dari fotonya indah sekali. Ingin sekali diving atau snorkling melihat terumbu karang yang hanya sedalam kaki atau berenang bersama ikan-ikan dan penyu. Pfuuhh..

Tapi sayang keinginan itu tidak kesampaian. Ketika mencari tahu rute ke sana, saya terkejut dengan biayanya. Ditahun 2008 jika bertolak dari Samarinda akan butuh hampir Rp. 3 jt untuk sekali perjalanan. Just one way.
Jiwa misqueenku bergetar. Hahaha. Apalah daya diriku yang hanya pekerja dengan pendapatan kurang dari $250 perbulan. Hahaha.

Beruntunglah dulu bos-bos perusahaan kami yang datang ke Kaltim dan kemudian menyempatkan berkunjung ke Derawan. Setidaknya selain sebagian perjalanan ditanggung kantor, mereka juga akan dijamu oleh mitra kerja dari Berau. Kerja sambil jalan-jalan. Klop.

Ohya kalau dipikir lagi mungkin ada benarnya. Seandainya akses ke Derawan begitu mudah dan murah pasti sudah tidak eksklusif lagi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kapal-kapal besar datang kesana, yang mungkin merusak terumbu karangnya yang indah seperti yang terjadi di Raja Ampat belum lama ini.

Akhirnya kita akan mengamini komentar orang Indonesia diatas. Biarlah mahal. Biarlah Derawan dan Raja Ampat tetap eksklusif. Mau murah?. Ke Kuala Lumpur saja. Nah lho..

Jamannya Ditraktir

Sebuah notifikasi muncul pada aplikasi di ponsel saya kemarin. Dari aplikasi fintech kenamaan.
“Besok kalau elu pakai aplikasi gua bisa jajan gratis, gua yang bayar”, kira-kira begitulah kalau si aplikasi bisa ngomong. Dia pasti ga akan bohong. Seperti… Stop…stop malah jadi nyanyi. Hehhee.

Hari ini sesuai info dari si aplikasi, saya pengen membuktikan kalau info ga sekedar isapan jempol belaka.
Pukul 1.30 siang pas Filbert bubaran sekolah. Wajah letih menyambut saya ketika sampai di pintu keluar. Ada suara samar-samar dari balik baju sekolahnya. Krucuk.. krucuk…, kurang lebih seperti itulah.
“Filbert lapar ya?.”
“Iya pa” sahutnya mengangguk lemah.
“Kentang goreng mau?”
“Mau..mau” sambarnya.
“Puding coklat?.”.
“Mau… mau” tampak matanya berbinar.
“Ok kalau gitu kita meluncur. Ayo… kemana?”.
“Kaefce”

Wuzz…wuzz..
Hanya seperminuman teh, kami sudah berada didepan restoran cepat saji didepan komplek kami. Aroma ayam gorengnya terasa sangat menggoda. Apalagi buat yang perutnya sedang menyanyi keroncong.
Saya teringat info aplikasi di ponsel tadi. Kira-kira isi S&K nya begini, “gua akan balikin duit lu seratus persen, jika elu beli makanan di KFC maksimal Rp. 25.000. Artinya kalau harga makanan lu lebih, ya gua tetap bayar Rp. 25.000. Dan elu hanya boleh sekali beli aja disini”.
Wow.. keren juga nih aplikasi, batin saya.

Setelah antri dan memesan kedua jenis makanan senilai Rp. 31.000, tiba saat membayar. Saya pun segera ingin membuktikan apa benar tuh aplikasi mau traktir betulan.
Saya arahkan QR code hp dengan menghadap pada mesin receiver aplikasi milik resto. Simsalabim pembayaran selesai. Lunas. Dan saldo saya berkurang Rp. 31.000.
Berbarengan dengan notif lunas itu, datang notifikasi kedua yang isinya, “lu dapat cashback Rp. 25.000 dari beli makanan di Kaefceh dengan menggunakan gua punya aplikasi.”.
Wah nih aplikasi ga bohong. Dia nraktir beneran. Hehhe…

Nah jualan utama startup saat ini untuk menarik konsumen adalah harga murah, baik melalui discount, atau cashback.
Seperti saya tulis sebelumnya mengenai Gopay dan OVO. Mereka selalu bisa memberikan cashback bahkan sampai 60% untuk konsumennya meski tetap ada batas maksimal cashback yang diberikan.

Hitung sendiri berapa nominal yang harus mereka keluarkan untuk membiayai itu semua.
Duit mereka unlimitedkah?. Bakar uang terus menerus?. Kita melihatnya begitu, mereka yang punya dapur.
Semua itu misteri bagi kita, sama dengan tak habis pikirnya saya pada satu marketplace yang memberikan free ongkir keseluruh indonesia untuk setiap transaksi konsumennya.

Yang kita tidak sadari diluar sana ada orang atau organisasi yang memiliki uang tidak berseri yang digelontorkan siang dan malam atas nama promosi demi kenaikan valuasi perusahaan startup yang di suntik. Syukur-syukur kalau nanti si perusahaan startup bisa jadi unicorn, decacorn atau yang tertinggi hectocorn.

Tapi kalau saya pikir sebagai konsumen kita tidak perlu pusing. Nikmati sajalah kemudahan ini. Nikmati saja kebaikan ini. Toh teman sendiri aja ketemu belum tentu nraktir. Kalau dia tipikalnya kayak tukang pisang gimana. Pas Mandiri error malah kesempatan untuk menghindar untuk membayar. Hahaha…

Ohya bagi yang tidak tahu Fintech itu singkatan dari Financial Technology. Sebuah inovasi pembayaran secara digital tanpa uang tunai. Contohnya Gopay, OVO dan DANA. Dan yang nomor tiga adalah fintech yang saya ceritakan sejak awal tadi.

Kemajuan Sistem Kesehatan Negeri Tetangga

Pagi ini kami berada di Kuching Specialist Hospital. Kami sampai lebih awal sekitar pkl 07.30 pagi untuk mengantisipasi membludaknya pasien yang datang. Tidak terlalu mengherankan karena yang dikunjungi adalah dokter spesialis jantung. Hari Senin lagi.
Menunggu 15 menit, kami disambut Margaret, reseptionis atau asisten dokter spesialis jantung, disini mereka menyebutnya Konsultan Kardiologi (Cardiologist Consultant).
Sang dokter mendapatkan titel dokternya di Universitas Science Malaysia pada tahun 1995, dan dianugrahi penghargaan MRCP di Inggris tahun 1999.
Tidak sulit untuk mengetahui profil sang dokter, kita bisa dengan mudah menemukannya di papan informasi rumah sakit, juga didalam ruangan praktek dokter. Ini tentu sangat penting setidaknya untuk mengetahui kapabilitas dokter yang akan menangani kita.
KPJ Kuching adalah satu dari sekian banyak rumah sakit tujuan warga Pontianak dan sekitarnya untuk berobat. Ada juga Normah, Timberland, dan Borneo Medical Center. Menurut kantor berita Antara, pada tahun 2016 setidaknya ada 300 warga yang berobat di Kuching setiap harinya. Ada anekdot yang pernah saya dengar, bahwa sekian banyak RS di Kuching itu dibangun oleh duitnya orang Indonesia. Hahaha..


Bisa jadi ada benarnya. Saya baru tahu kalau RS KPJ Kuching yang berada di Stutong ini akan segera menghentikan operasinya. Segera, rumah sakit pengganti dengan kapasitas yang lebih besar akan selesai pembangunannya. Biaya pembangunannya RM 150 juta (495 miliar dengan kurs Rp. 3300). Wow.
Arus warga yang datang ke Kuching setidaknya sudah mulai marak sejak belasan tahun yang lalu. Ada beberapa faktor mengapa Malaysia menjadi tujuan warga Kalbar untuk urusan medis.
Urutan pertama adalah penanganan penyakit dan pengobatan yang lebih baik. Bukan hal yang aneh bahwa sebagian orang yang datang ke Kuching untuk berobat dikarenakan kecewa dengan pelayanan medis di negeri kita. Diagnosa yang salah, pemberian obat yang tidak tepat, waktu penanganan atau perawatan yang lama dan lain-lain. Saya bahkan mengalami beberapa kali tidak profesionalnya tenaga medis. Misal dulu ketika Papa saya dirawat disalah satu rumah sakit, dikarenakan trombositnya turun, malah di diagnosis DBD. DBD apanya, 1 malam dirumah sakit Papa sudah segar dan esoknya lagi sudah pulang. Hehe.
Selanjutnya biaya. Baru saja mertua saya cek darah. Paket cek darah lengkap dijual RM 108. Bandingkan di salah satu rumah sakit lokal yang biayanya mencapai minimal 600 ribu rupiah. Jauuhh..
Biaya juga bisa dihemat karena waktu penanganan yang lebih singkat. Operasi jantung 3 hari sudah boleh pulang. Tidak perlu lama-lama karena ruang perawatan akan dipakai pasien lainnya, begitu menurut mereka. Contoh lain misal jika dokter tidak menemukan adanya gejala penyakit pada saat pemeriksaan, maka jangan harap anda akan diberikan obat. Yang ada kita disuruh cepat-cepat pulang. Kalau di Indonesia setidaknya kita akan dapat obat maag atau vitamin. Kalau bukan dokternya yang beri, kita yang minta. Dan.. diberi juga. Hehhe.
Lalu jarak. Akses Kalbar ke Kuching yang semakin mudah membuat banyak orang berbondong-bondong datang ke Kuching. Ada 4 perbatasan darat antara Kalbar dan Malaysia. 3 diantaranya sudah dibangun dengan sangat bagus. Aruk di utara, Entikong di bagian tengah dan Badau di timur. Belum menyebut lagi penerbangan udara tiap harinya dengan maskapai Air Asia dan Wings Air yang kami naiki kemarin.
Baru saja saya bertemu dengan ibu Endang yang baru datang dari Singkawang. Dari Singkawang ke Kuching ditempuh dalam waktu 5 jam saja. Bahkan ibu Endang berencana pulang hari balik ke Singkawang. Wah mantul.
Saya baru meninggalkan ruang periksa Dr. Wong Kwok Hieng di RS Timberland untuk cek keluhan asam lambung saya. Dalam hati saya berpikir setidaknya akan butuh beberapa tahun atau dekade lagi untuk menyamai pelayanan medis di negeri jiran ini. Kerja keras semua komponen dan juga peran pemerintah agar nanti masyarakat Indonesia bisa mempercayai rumah sakit lokal. Bukan nanti warga kita lebih mengenal Timberland atau Adventis dibanding Siloam dan Awalbros.

Usia dan Karier

16 Januari 2008.
Tawaran itu begitu menggiurkan. Ia datang saat aku sedang bimbang, diantara pilihan terus bertahan atau mencari petualangan baru.
Lewat seorang teman, sang pimpinan perusahaan itu menghubungiku. Kami bertemu disebuah rumah makan. Ia menunggu kabar dariku. Tidak banyak yang ditanyakannya seputar pengalaman dan kemampuanku. Mungkin kata-kata manis temanku sudah membuai pikirannya. Atau ia tidak punya pilihan orang ditengah belantara kalimantan saat itu. Siapa yang tau, ia tidak pernah mengatakannya sampai karirku habis ditempat itu.

Jabatan prestisius untuk seorang anak muda berusia 24 tahun. Masih kencur dengan sedikit pengalaman. Mungkin ia datang terlalu cepat, tapi pesonanya sangat sulit untuk ditolak.
Aku kemudian menerimanya. Tapi sebelumnya aku harus ke Balikpapan mengurus pengunduran diriku.

Perusahaan lamaku begitu mentereng, mereka pemain besar diindustri.
Meski kantornya kecil tapi karyawannya banyak.
Aku bertemu HRD diruangannya dilantai 1. Ternyata ia sudah mengurusi semuanya. Hanya satu: syaratnya aku harus membayar penalty. Ganti rugi atas kontrak yang tidak aku selesaikan. Kalau tidak ijazahku akan membusuk selamanya di brankas besi disana.
Sudah kusiapkan sebelum berangkat. Aku menyerahkan uang itu dan ia memberiku kuitansi tanda terima.

Seseorang masuk saat aku menerima kuitansi itu. Seorang paruh baya, seingatku bukan orang kantor itu. Perwakilan dari pusat. Melihatku atau mungkin sudah mendengar cerita sebelumnya, ia menggerutu.
“Kita mendidik orang, mengajar yang tidak tau sampai menguasai semuanya. Kita menanam namun orang lain yang memanen” ucapnya tanpa melihat kepadaku.
Setelah mengucapkan hal itu dia mendengus pergi.

Ah.. Aku tau maksudnya tapi aku memilih tidak peduli. Cuek bebek. Toh aku sudah memberikan kontribusi selama ini. Aku memang produk didikan mereka, tapi aku sudah membayarnya. Lewat sumbangsihku, dan juga kuitansi yang aku terima dari HRD sebagai tanda terima dari sejumlah uang yang kubayar.
HRD itu menjabat tanganku, menyelamatiku berharap aku sukses ditempat yang baru. Aku menghargainya. Kebalas dengan senyum dan berjanji takkan mengecewakan pilihanku.
Setelah mengucapkan terima kasih atau pamit dan keluar ruangan.

Diluar aku bertemu dengan sosok yang diceritakan teman-temanku. Seorang pemimpin kantor yang baru. Usianya ketaksir mendekati 40an. Meski wajahnya tidak bisa membohongi kalau kerja keras dan apa yang dilakukannya membuatnya terlihat lebih matang dari usianya.
Aku menyapanya. Ia terlihat sedikit bingung sambil menerka-nerka. Wajar karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. HRD yang juga keluar ruangan lalu menjelaskan padanya siapa yang waktu itu berdiri dihadapannya. Seorang anak muda, yang siap meninggalkan perusahaan. Belum banyak berkontribusi dan jelas bukan siapa-siapa.

Dia menatapku beberapa saat lalu buka suara. Dia bercerita tentang seseorang, bekas anak buahnya, mantan karyawan yang kini berada diperusahaan lain. Sudah bekerja 1 tahun disana lalu tidak betah. Baru-baru ini menghubungi sang mantan bos dan mengajukan niat untuk kembali. Belantara yang terhampar diluar sana tidak mudah ditaklukkan. Petualangannya berakhir, kembali ke rumah lama adalah pilihannya.
Aku menyimak lamat-lamat, dan membaca arah pikiran sang pimpinan. Tidak mudah untuk survive diluar sana nak. Kalau mau mencoba silahkan resiko ditanggung sendiri. Begitu kira-kira maksudnya.
Aku menyimpan kata-kata sang pimpinan baru baik-baik bahkan sampai saat ini saat tulisan ini dibuat. Sebuah pembalikan dan pembuktian yang kemudian kujadikan tonggak karir yang tertancap kuat.
Aku kemudian berpamitan dan melangkah keluar gedung itu. Gedung perusahaan tempat aku menggantung hidup hampir 25 bulan lamanya. Perusahaan yang menarikku keluar dari kampung halamanku. Ia yang mengirimkanku selembar tiket pesawat Batavia, pesawat pertama yang kunaiki selama hidupku.

Time flies. Waktu berlalu. Aku menghabiskan waktu di sini, ditempat baru. Aku memimpin arah perusahaan untuk 75% area Kalimantan. Mereka bergantung padaku. Setidaknya 2 tahun sampai aku akhirnya angkat koper dari sana untuk petualangan baru selanjutnya.

Disuatu ketika, aku bertemu kembali dengan sang pimpinan perusahaan lamaku. Ia sudah keluar dari perusahaan itu ternyata. Kini ia memimpin sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan kami untuk menyalurkan hasil produksi kami kepada konsumen.

Siang itu. Jam dinding berdetak. Sunyi. Kami baru membicarakan strategi pengembangan produk, dan rencana penambahan personil. Aku hening dalam lamunan. Dihadapanku duduk seseorang yang dulu berkata bahwa perusahaan lama kami adalah perusahaan terbaik, dimana disana adalah pilihan yang terbaik untuk berkarir. Tempat dimana kami dibayar dengan harga pantas. Tempat kami mencapai impian karir kami.

Kini keadaannya kontras, ia juga akhirnya harus angkat kaki dari sana. Pergi dari perusahaan yang dulu sangat ia banggakan. Yang dulu menghormatinya dengan keagungan.
Orang ini kini duduk semeja denganku. Anak muda yang dulu berbeda tiga strata dengannya. Kami membicarakan bisnis. Aku perwakilan perusahaan penyedia produk. Ia dari perusahaan penyalur. Ia mungkin canggung, mungkin juga merasa tidak pantas.

Aku masih tidak percaya. Masih sulit membayangkannya.
Dihati kecilku ada kebanggaan. Aku membuktikan pilihanku tidak salah, setidaknya sampai aku bertemu dan duduk bersama satu meja hari itu.
Karirku berlanjut beberapa tahun setelahnya. Aku masih muda. Dunia masih terbuka dihadapanku. Impian besar menantiku disana.
Aku muda, aku belum banyak pengalaman. Tapi aku siap dengan tantangan. Tantangan baru setiap hari yang siap kutaklukkan.

Kepedulian Pada Orang Lain

“To my mind, having a care and concern for others is the highest of the human qualities”- Fred Hollows

Suatu sore di hari Sabtu, saya bersama keluarga keluar rumah menggunakan mobil. Anak kami Filbert merengek untuk pergi ke mall.

Jalan di sore itu cukup ramai. Saat memasuki jalan Ahmad Yani, sebuah mobil truk box mengklakson mobil kami dengan keras dari arah belakang. Karena padat, jalan disamping kiri kanan kami saat itu juga terisi dengan kendaraan. Akibatnya mobil box tersebut tidak bisa melaju karena terhalang kendaraan kami.

Klakson terus menyalak. Kali ini suaranya lebih panjang. Supir mobil box ini benar-benar tidak tau aturan seolah-olah jalan punya bapaknya saja, batin saya. Istri yang duduk disebelah saya juga ikut mengomel.

Beberapa saat kemudian, setelah jalan disebelah kiri sedikit lega, saya pun membuka ruang untuk mobil rese ini lewat. Dan saat mobil ini lewat, saya melihat sang sopir cengar cengir bicara dengan teman disebelahnya tanpa rasa bersalah sudah membuat jantung kami hampir copot.

Saya menghela nafas panjang melihat tingkah sang supir. Baru jadi supir mobil box saja sudah serasa jadi raja jalanan. Coba kalau keluarganya dirumah tahu kelakuannya. Tentu sangat memalukan.

Tuh kan malah jadi bawa keluarga sang supir. Eh tapi sedang apa ya keluarga sang sopir dirumah. Pasti anaknya sedang menunggu ayahnya pulang kerja. Mungkin ia juga ingin ke mall seperti Filbert.

Memikirkan hal itu, tiba-tiba kekesalan saya hilang seketika. Dalam hati kecil saya malah menjadi kasihan dengan supir tadi. Saat saya sudah siap-siap bersenang-senang mengajak anak kami jalan menikmati malam minggu, ia malah masih bekerja.

Mungkin dalam hati kecilnya ingin buru-buru pulang, ingin segera bertemu keluarganya, ingin memeluk anaknya atau mencium istrinya. Tapi dengan adanya sisa pekerjaan yang masih harus ditunaikan, keinginannya jadi tertunda. Kemacetan sore itu mungkin juga membuat ia terlambat pulang kantor.

Mulai saat itu, jika melihat ada mobil box yang melaju dari belakang, sebisa mungkin memberi ruang. Tidak hanya mobil box, termasuk truk dan bus. Sampai istri saya merasa heran, karena saya termasuk yang suka dongkol dan marah-marah jika ada kendaraan yang tidak tau aturan dijalan raya, apalagi kalau jalannya sudah mepet-mepet sisa 2 cm dari body mobil. Berdoa terus dalam hati karena mobil sudah tidak ada asuransi. He2.

Pelajaran yang saya dapat adalah agar selalu mempunyai kepedulian kepada orang lain. Itu juga yang saya ajarkan pada Filbert agar saat ia besar nanti menjauhi sifat egois dan mau menang sendiri. Toh memberi kesempatan kita berbuat kebajikan selalu menghasilkan buah kebijaksanaan.

Salam