Friends

Mencari vs Menciptakan Peluang

Dikantor, saya memang cenderung bersikap membuka diri. Saya berlaku lebih santun kepada orang lain meskipun orang tersebut baru pertama kali bertemu. Tidak perduli apapun jabatannya. Hal ini karena sebagai area manager, saya baru berkantor didistributor ini selama 3 bulan sehingga banyak hal yang masih perlu disesuaikan. Istilahnya saya masih harus beradaptasi dengan kondisi kantor dan personel-personel dikantor ini.

Ada satu rekan yang menjadi perhatian saya. Kesan awalnya adalah orang ini sedikit sombong karena saya pernah mengajaknya berbasa basi tapi hanya dijawab seadanya. Saya pikir ia adalah area manager juga, wah mungkin saja apalagi secara tampang dan penampilan memang mendukung. Tapi saya salah, menurut info orang kantor ini, orang tersebut hanya seorang sales supervisor dari salah satu principle.

Pagi ini entah tidak tahu mengapa saya tertarik untuk berbicara dengannya. Sayapun menyapanya dan berbasa basi mengenai performance sales produk yang dihandle nya.
Tak disangka ia menyambut hangat sapaan saya dan kami kemudian terlibat pembicaraan yang asyik.
Ia bercerita bahwa ia sudah lebih dari 10 tahun meniti karir dibidang sales ini. Awalnya ia mulai dari menjadi salesman, sampai kemudian bergabung dengan perusahaanya saat ini kurang lebih 8 tahun yang lalu.
Pandangannya seolah menerawang mengenang masa-masa itu. Iapun melanjutkan dan berkata bahwa sebenarnya ia jenuh dengan pekerjaannya saat ini. Rutinitas yang dilakukannya bertahun-tahun membuatnya sudah pada posisi yang nyaman dan merasa tidak punya tantangan lagi.

Memang kemarin perusahaan menawarkan padanya jabatan area manager, jabatan yang memang ia idam-idamkan. Padahal untuk promosi seperti itu memerlukan spesifikasi ketrampilan yang lebih dan kemungkinan penempatannya adalah diluar daerah, sesuatu hal yang ia takutkan karena ia sudah berkeluarga dan anaknya sudah besar-besar. Dan benar saja untuk jabatan tersebut ia diharuskan untuk pindah kedaerah lain. Sungguh sebuah pilihan yang sulit. Akhirnya karena tawaran income untuk kenaikan jabatan tersebut juga tidak begitu tinggi, iapun menolak dan memilih tetap pada jabatannya sekarang.

Sejenak ia melihat saya dan berkata, “Kalau saya masih seusia pak Budi sih, saya pasti ambil posisi tersebut. Tapi untuk usia seperti saya sungguh sebuah dilema”.
Saya tersenyum memandangnya, kemudian bersikap seperti orang bijak kemudian berkata
“Memang pak, peluang itu terkadang datang ketika kita tidak atau belum siap untuk menerimanya. Ia lebih sering datang diwaktu yang tidak tepat. Tapi saya rasa kita tidak harus menunggu ia datang pak. Ya, kenapa bukan bapak saja yang menciptakan peluang dan kesempatan untuk bapak sendiri.”

Kami terdiam sejenak, kemudian bapak itu berbicara lagi.
“Betul juga pak Budi, saya memang sudah merencanakan untuk menciptakan peluang saya sendiri. Tidak lama lagi saya akan mengajukan pension dini dan berencana untuk membuka usaha sendiri. Dengan begitu saya merasa sudah melangkahkan kaki saya menuju jalan hidup saya sendiri. Saya tidak perlu menunggu peluang yang ditawarkan untuk saya, tapi saya akan mencari dan menemukannya”.
pl_opportunity
Ada senyum optimisme diwajahnya. Sayapun tersenyum dalam hati. Hari ini saya menasihati orang yang lebih tua dari saya, sebuah kebanggaan atau sebuah kekurangajaran. Entahlah.

Iklan
Standar
Friends

Friendship : Catatan Yang Tertinggal

Bulan-bulan terakhir ini merupakan bulan yang menggembirakan dan juga menyedihkan bagi saya, terutama dalam hubungan persahabatan dengan beberapa rekan saya. Kok bisa?. Apakah saya bertengkar atau mempunyai masalah besar dengan rekan-rekan saya itu. Apakah saya melakukan kesalahan yang membuat hubungan menjadi tidak baik. Tapi sungguh bukan itu masalahnya.

Ceritanya begini. Saya bekerja diperusahaan saya yang lama selama dua tahun. Satu tahun saya habiskan dikota ini. Disini saya mengenal beberapa teman yang tergabung dalam perusahaan yang sama. Diantaranya ada Tony, Joni, Daniel, dan Tongi. Kami berteman akrab, apalagi tempat tinggal kami dekat. Saya menyewa sebuah rumah dan tinggal bersama Tongi. Tongi merupakan suksesor saya setelah saya keluar dari perusahaan saya itu. Sekarang saya bekerja diperusahaan yang berbeda dari sebelumnya. Adapun Joni juga sudah keluar dari perusahaan yang sama dan menerima pinangan dari perusahaan yang lain. Sama seperti saya, ia juga tidak pindah dari tempat tinggalnya sebelumnya. Tempat tinggalnya hanya berjarak 1 blok dari tempat tinggal saya.

Sebagai anak perantauan, kami merasa cocok dan akrab. Banyak hal kami lalui bersama. Kami biasa pada malam tertentu berkumpul ditempat tinggal saya. Melakukan banyak hal misal nonton bareng program sepakbola, main game computer (3 dari kami mempunyai laptop sehingga bisa bertanding), cerita tentang pekerjaan dan rencana masa depan. Meski sering berkumpul begitu kami tidak pernah melakukan hal yang negatif. Terlebih lagi Pak Haji sang pemilik rumah tidak pernah mempermasalahkan siapa saja yang datang ketempat kami, asal tidak membuat keributan dan keonaran. Apalagi teman-teman saya itu mempunyai mulut yang manis, sehingga sang pemilik pun kenal dengan mereka.

Waktu membentuk kami memahami satu sama lain, bagaimana bertoleransi membantu teman lain yang sedang sedih atau kesusahan, mensupport jika ada masalah. Tentu saja dengan adanya kehadiran teman-teman itu, masing-masing tidak kesepian meski jauh dari pacar yang berada nun dibelahan bumi yang lain.

Tapi kondisi itu mulai berubah saat teman kami Daniel mendapatkan pekerjaan di Surabaya tempat asalnya. Sebenarnya dari dulu juga kami memang mendukungnya untuk bisa mendapat pekerjaan disana, apalagi ia adalah anak tunggal, sedangkan ayahnya juga sering sakit-sakitan. Lumayan lama juga perjuangannya mendapatkan pekerjaan. Sampai pada suatu saat dengan ceria ia bercerita kepada kami bahwa ia sudah deal dengan pihak perusahaan baru untuk pindah kerja kesana. Memang hal itu lebih baik, karena bagaimana pun berada didaerah sendiri dan tinggal dekat dengan keluarga akan membuat orang lebih bersemangat dalam bekerja. Sebagai perayaan perpisahan ini kamipun mengadakan perjalanan jauh kepantai Samboja yang berjarak 70 km. Disana kami berempat (Tony tidak ikut) bersenang-senang, berfoto-foto dengan bergaya bak coverboy, berlenggak lenggok di pantai seolah itu adalah catwalk. Bukan coverboy majalah remaja, tetapi coverboy majalah fauna. Ha…ha…

betiga

bt-copy

pon

Awal tahun kemarin Daniel pun berangkat ke Surabaya. Pergi juga akhirnya teman yang biasa menjadi partner saya bermain badminton setiap Sabtu itu. Hiks

Beberapa bulan berlalu, kabar baik datang dari Tony. Ia mendapatkan pekerjaan baru dengan tawaran yang lebih menarik. Kemampuan dan kecakapannya membuat sebuah perusahaan otomotif ternama kepincut dengannya. Iapun didapuk menjadi kepala cabang untuk area Balikpapan. Kami memujinya sebagai orang hebat. Jabatan yang baik dengan tawaran gaji yang bagus juga tentunya pasti sangat susah didapat jika orang tersebut tidak memiliki tingkat kompetensi yang baik. Awal April ini Tony akan berangkat ke Bandung untuk menjalani training. Disana ia akan menetap selama 3 bulan. Setelah menyelesaikan masa trainingnya nanti barulah ia kembali dan langsung memegang area Balikpapan. Tentu saja hal itu baik untuknya, karena selama ini sejak menikah satu tahun lalu, ia selalu harus bolak-balik Samarinda-Balikpapan setiap Sabtu dan kembali lagi Senin subuh. Sungguh sebuah perjalanan yang melelahkan. Dengan mendapat pekerjaan ini, maka ia bisa tinggal bersama istrinya dan dekat dengan orang tuanya. Satu kebahagiaan sekarang sudah dikecap olehnya. Tapi dengan perginya Tony, maka kami akan kehilangan satu teman lagi.

Ternyata eksodus rekan kami tidak berhenti sampai Tony saja. Berikutnya Tongi juga menyusul. Berbeda dengan saya, Daniel atau Tony, ia tidak keluar dari perusahaanya saat ini, tapi ia memperoleh promosi untuk kenaikan jabatan menjadi manajer area. Untuk jabatan barunya ini, ia harus menetap dan pindah ke Balikpapan karena kantor wilayahnya berada disana. Belum ada informasi kapan ia akan pindah, tapi mungkin 2 bulan lagi ia akan meninggalkan Samarinda. Sementara sambil menunggu pengganti, ia masih berada disini.

Setelah keduanya pergi nanti tinggallah saya dan Joni. Meski nanti akan ada pengganti untuk Tony dan Tongi, tapi rasanya sulit untuk mendapat rekan atau sahabat seperti mereka. Ada kenangan yang kami ciptakan bersama, ada kepingan waktu yang tersisa dari perjalan persahabatan kami.

Terkadang saya dan Joni sering bercanda sambil bertaruh siapa berikutnya yang akan meninggalkan Samarinda terlebih dahulu. Memang kami masing-masing ada rencana untuk kedepannya. Namun semuanya masih serba buram (mungkin harus dilap dulu agar tampak jelas).  Tapi siapapun nantinya yang akan pergi dari sini berikutnya hal itu tidak penting. Yang penting adalah di Samarinda telah tercipta sebuah persahabatan yang akan kekal dan akan diingat oleh kami sendiri sampai tua nanti. Tidak tahu kapan semua akan berkumpul lagi, tapi jika Tuhan mengizinkan pasti hal itu akan terjadi.

Standar
Friends

Pesona Wisata Kutai Kertanegara

Tenggarong, 18 Agust 2007

Menyebut nama Kutai Kertanegara, pastilah kita langsung teringat akan nama kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Memang tepat, kerajaan itu nyatanya terletak dikota Tenggarong, Kab. Kutai Kertanegara. Meskipun sisa-sisa peninggalan masa lalu sudah tidak terlalu tampak lagi dikota ini, tetapi bukan berarti kota ini tidak menyimpan kekayaan wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan dari manapun berada.

Tanggal 18 Agust 2007, kami berkunjung ke kota Tenggarong. Meskipun ini bukan pertama kali gue kesana, tetapi kali ini dirasa berkesan karena hasil kunjungan gue akan gue share kan keblog gue ini. He2. Tepat pukul 8 WITA pagi kami (gue dan beberapa rekan kerja gue) berangkat dari tempat tinggal kami di Samarinda. Perjalanan ke Tenggarong cukup ditempuh dalam waktu 45 menit saja.

Sepanjang jalan terlihat sekali infrastruktur yang lumayan megah seperti jalan yang dicor beton dua arah hingga pusat kota. Ini membuat perjalanan sungguh menyenangkan karena jalannya bagus dan tidak berlobang

Sesampainya dikota Tenggarong kami langsung menuju rumah makan untuk mengisi perut, maklum belum sarapan tadi pagi. Kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan naik kereta gantung menuju salah satu ikon kota Tenggarong yaitu Pulau Kumala.

Luar biasa sekali karena kereta gantung serupa hanya ada di Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta yang lebih dikenal dengan Gondola. Dari atas kita dibawa untuk melintasi sungai Mahakam, salah satu sungai terlebar di Kalimantan.

pulau.JPG

Pulau Kumala sendiri terdapat ditengah-tengah sungai Makaham, oleh Bupati Kukar saat itu pulau ini dibentuk menjadi indah dan sekarang menjadi ikon kota Tenggarong. Dibagian depan pulau dibuatlah sebuah patung besar Lembuswana (hewan dalam mitologi orang Kutai, yang menjadi bagian lambang kota).

Didalam pulau disediakan angkutan baik bus kecil keliling sampai kereta api kecil untuk membantu pengunjung menjelajahi pulau ini. Ada juga permainan bom-bom car untuk anda dan keluarga anda. Selain itu yang terdapat juga rumah adat suku Dayak (suku asli kalimantan). Disini ada jug satu buah menara tinggi yang kita bisa naiki berupa berbentuk lift bulat untuk membawa kita keatas melihat seluruh kota Tenggarong dan sungai Mahakam.

Standar
Friends

Ponsel Murah Dari China

Ketika disurabaya gue sampe terkagum-kagum ama produk keluaran negeri Tirai Bambu Cina, walau belum ada distributor resmi tetapi produk ini udah mencuri perhatian banyak penggemar telpon seluler. Kalau dibeberapa vendor hp top menonjolkan style dan fitur, maka ponsel-ponsel tirai bambu ini menonjolkan style, fitur, plus harga miring.

Gue memberi apresiasi kepada merek handphone H38 keluar Cina yang dipajang disalah satu counter HP di WTC Surabaya. Bayangkan dengan harga 1,9 juta, kita bisa membawa pulang HP stylish dengan fitur yang gembrot. Fitur standar hp ada dihp satu ini ditambah fitur touchscreen with stylus pen included, kamera, dual SIM card, dan yang ini paling heboh hp ini dilengkapi TV tuner yang membuat kita bisa nonton TV dimana aja. Weleh2

Bandingkan dengan produk keluaran merek ternama, untuk mendapatkan hp touchscreen saja kita harus mengeluarkan uang 2,5 juta (Sony Ericcson M600i), untuk mendapatkan hp dual SIM card plus camera Rp 5 juta (Samsung seri W579), dan untuk bisa menonton TV kita harus merogoh kocek Rp 6,3 juta (Nokia N92).

Tetapi diingatkan kembali kepada kita semua untuk hati-hati membeli produk seluler berharga murah, jangan sampai terjebak dengan tergiur fiturnya tetapi melupakan garansi dan kualitas produk tersebut. Tanyalah secara lengkapa produk-produk yang ingin dibeli baik fitur, garansi, service center yang berguna bila hp yang dibeli bermasalah dikemudian hari. Semoga bermanfaat

Standar
Friends

First Posting

“Pelajarilah kebenaran dipagi hari dan meninggallah dengan bahagia di malam hari.”
– Konfusius (551-479 SM)-

Entah mengapa gue tergila-gila yang namanya filsuf kuno, salah satunya Konfusius. Beliau adalah seorang filsafat, ahli pikir dan ilmuwan pada zaman. Banyak orang ingin berguru padanya. Ia mengajarkan pengetahuan umum dan sastra kepada murid-muridnya. Maka tidak heran sampai saat ini di Cina masih banyak orang yang mengagung-agungkan namanya, bahkan melebihi Jenderal Sun Tzu, si ahli perang yang terkenal bahkan diterapkan strateginya didunia bisnis.

Konfusius mengilhami banyak orang untuk memahami kerangka pikirannya. Penerapan ajaran dikehidupan sehari-hari membuat kita lebih bijaksana.

Tidak ada alasan khusus mengapa saya menampilkan sekilas cerita Konfusius disini, mungkin untuk perkenalan dengan teman-teman semua yang nanti akan mengunjungi blog ini.

Standar
Friends

Bersama Bintang

“Bersama Bintang” By Drive

senja kini berganti malam
menutup hari yg lelah
dimanakah engkau berada
aku tak tahu dimana

pernah kita lalui semua
jerit, tangis, canda, tawa
kini hanya untaian kata
hanya itulah yg aku punya

reff:
tidurlah selamat malam
lupakan sajalah aku
mimpilah dalam tidurmu
bersama bintang

sesungguhnya aku tak bisa
jalani waktu tanpamu
perpisahan bukanlah duka
meski harus menyisakan luka

(Ost Sinetron Candy)

Standar
Friends

Memecahkan Rekor

Setiap orang yang berhasrat besar untuk menjadi manusia yang lebih baik perlu merenungkan kata-kata Stuart B. Johnson berikut
ini: “Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini.”

Standar