Opinion

Cerita Film Twist nya Rafael Budi

Sebagian orang termasuk saya adalah penyuka film. Tidak sembarangan film yang saya suka, tapi genre-genre tertentu saja. Jika diurutkan yang paling pertama adalah thriller, action, drama (tidak semua) dan documentary. Setahun terakhir saya entah kenapa menyukai film yang berisi twist didalamnya. Tidak peduli film thriller atau drama semuanya saya lahap.

Film twist terdiri ada 2 jenis, yaitu twisted ending dan twisted plot. Twisted ending adalah film yang biasanya punya ending yang tak terduga. Sutradara begitu pintar membuat kita menebak-nebak akhir cerita sampai kita dibuat melongo karena diakhir cerita kita disajikan sebuah ending yang tidak pernah kita kira sebelumnya.

Twisted plot berbeda dengan twisted ending. Ini jalan ceritanya yang dibikin amburadul. Alurnya bisa diacak-acak, maju mundur, atau bahkan dibolak balik. Yang lebih parah lagi bukan hanya bikin pusing yang menonton, tapi juga setelah selesai menonton masing-masing punya kesimpulan atau persepsi yang berbeda pula.

Meski bikin pusing, entah kenapa saya malah mengidolakan film-film model begini. Difilm-film seperti ini saya justru menganggap sang pembuat film adalah orang yang jenius. Mereka orang-orang yang mengagumkan yang keluar jalur, orang-orang yang anti mainstream yang terkadang membuat film bukan semata-mata karena demand pasar tapi karena idealisme.

Beberapa contoh film dengan twisted ending yang terakhir saya tonton adalah Kahaani, film India yang dibintangi Vidya Balan, yang berkisah tentang seorang wanita yang sedang hamil yamg mencari suaminya yang hilang. Film India?. No problem.
Di postingan berikutnya nanti saya akan cerita mengapa saya suka film India.

Kahaani murni Twisted Ending. Diakhir film ini penonton dibuat terhenyak bagaimana Vidya menipu semua penonton dengan akting ibu hamilnya yang sangat brilian. Superb. Saya nonton 3 kali film ini

Film lain yang twisted ending yang lain adalah Shutter Island (Leonardo Di Caprio), Rabid Dogs (Film Prancis), Inside Man, dan paling menyesakkan Hello Ghost.

Film denga Twisted plot paling baru yang saya tonton adalah A Monster Calls. Cerita tentang anak kecil yang bertemu dengan monster kayu yang kemudian mengubah hidupnya. Lalu Donnie Darko (alamatnya yang nonton akan pusing tujuh keliling), Triangle, dan yang paling fenomenal buatan Christoper Nolan yang namanya Memento. Film terakhir saya berani taruhan bukan hanya pusing tujuh keliling malah bikin sakit kepala benaran.

 

Berburu film twist ternyata sangat mengasyikkan, umumnya saya mencari dari diskusi di forum Kaskus. Film ini bisa lintas negara tidak hanya film Hollywood, tapi juga ada film Prancis, Jerman, Korea, Spanyol, India, Thailand, dan juga Indonesia.

Benar pendapat orang ternyata bukan hanya musik yang universal, film juga sama. Ups asal dengan catatan ada subtitlenya. Mana ngerti ane dengan Nehi..nehi…

Film twist bagi saya bukanlah jenis film action superhero yang mudah dilupakan saat kaki melangkah keluar dari bioskop. Ia adalah film yang meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana menampilkan sebuah cerita kepada penonton yang dibalut dengan sangat rapi diawal dan siap dibongkar pada saat kita tidak menyadarinya. It’s like a surprise.

Iklan
Standar
Opinion

Gajah vs Srigala : Studi Hypermart dan Indomaret

Bulan Agustus ini beredar berita Hypermart mengumumkan kerugian operasional sebesar 189 miliar (Baca:https://detik.com/bursa-valas/3584918/pemilik-hypermart-catat-rugi-rp-189-miliar), dan pada akhir bulan itu juga, Ramayana umumkan rencana menutup 8 gerai supermarketnya.

Siapa yang tidak kenal Hypermart, sebuah jaringan hypermarket pertama di Indonesia kepunyaan Lippo Group. Ia begitu perkasa dibanyak area, misal seperti di Kalimantan Barat saja ada 3 gerai Hypermart. Tokonya selalu ramai, ia tempat yang menyenangkan untuk berbelanja. Tapi pertanyaannya mengapa ia mengalami kerugian yang begitu besar, bahkan sampai harus merumahkan banyak karyawan.

Para pengamat berpendapat sedikitnya ada 2 faktor utama mengapa Hypermart merugi. Yang pertama karena kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Dan yang kedua, karena adanya perubahan pola belanja dimasyarakat.

Secara makro, kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk baik, bahkan lebih baik dari negara Asean lainnya. Tetapi jika melihat realita dimasyarakat, kenaikan tersebut tidak berpengaruh banyak. Gerai retail yang sehari-hari berhubungan dengan masyarakat mengaku lesunya penjualan.

Perubahan pola masyarakat dalam berbelanja bisa jadi hal yang patut dijadikam kambing hitam. Sekarang jamannya belanja online, kata Willy tetangga saya. Tidak perlu ketoko, tidak perlu antri, barang bisa sampai dirumah. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya marketplace yang menjual segala kebutuhan masyarakat secara online seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee dan lain-lain. Tapi menyalahkan seluruhnya kepada marketplace juga tidak tepat. Menurut saya ada pengaruhnya tetapi untuk kategori produk tertentu saja.

Jika melihat pola belanja online, ranking pertama yang paling banyak dibeli adalah Fashion, lalu Elektronik dan seterusnya. Hypermart menjual elektronik, dan juga menjual pakaian. Bisa jadi kedua kategori diatas akan kena imbas. Tapi untuk kategori lainnya misalnya kebutuhan rumah tangga dan makanan berarti seharusnya tidak berpengaruh.

Memang dua kategori terakhir tidak terpengaruh oleh toko online, tetapi asal kita tahu toko Hypermarket ini punya momok menakutkan dikategori ini yang bernama minimarket. Bukan sekedar minimarket, mereka diberi nama Indomaret dan Alfamart.

Hypermarket seperti Hypermart, Giant bisa diibaratkan gajah. Mereka besar, bertenaga, tapi punya kelemahan larinya lambat, tidak gesit. Kalau gajah jalannya lurus, sangat susah untuk bermanuver. Beda dengan Indomaret dan Alfa, mereka kita ibaratkan seekor srigala. Larinya cepat, jago bermanuver, mengandalkan kerja kelompok dalam mencari mangsa.

Indomaret contoh tidak menjual semua item barang, ia juga tidak menjual lebih murah dibanding minimarket lokal atau supermarket. Tapi ia unggul dalam hal banyaknya titik. Semakin banyak titik berarti lebih mudah ditemui, mudah dijangkau, dan tentu jadinya mudah diingat. Ia menjual barang yang paling sering dibutuhkan rumah tangga. Ingat tidak semua, kita tidak akan menemukan tempe disana.

Indomaret pertumbuhannya sangat cepat. Ia mempunyai puluhan ribu toko di Indonesia. Selain toko sendiri, ia juga menawarkan franchise. Tidak heran ia mudah ditemuin disetiap sudut-sudut jalan. Perubahan pola masyarakat urban yang mau praktis menyebabkan mereka lebih suka berbelanja kebutuhan sehari-hari di Indomaret. Artinya mereka masih tetap pergi ke Supermarket dan Hypermarket, tapi hanya untuk berbelanja dalam jumlah besar misal kebutuhan bulanan. Untuk sekedar beli sikat dan pasta gigi, ya ke Indomaret atau Alfamart wae.

Semakin lama omset penjualan toko Supermarket dan Hypermarket akan tergerus. Mereka tidak bisa mendekatkan diri kekonsumen, sebab toko-toko mereka tidak bisa dibuka disembarang tempat. Butuh area yang luas, parkir yang juga memadai untuk kendaraan konsumen.

Ada seorang teman yang dulu suka berbelanja di Supermarket yang ada disebuah mall di Pontianak. Suatu hari saya bertemu dia disebuah toko minimarket, saya tanyakan kok tumben belanja bukan di mall. Jawabannya mungkin cukup mewakili sebagian orang. “Oalah masa beli barang 20.000 harus menempuh jarak 5 km. Belum lagi parkirnya. Disini tinggal jalan keluar komplek sudah bisa dapat barang yang kita inginkan.”

Kondisi yang ada mungkin membuat Hypermart dan Ramayana berpikir keras. Tapi saya kok masih meyakini channel outlet ini pasti masih memiliki peluang. Meski daya beli menurun, diapit persaingan sana sini. Intinya adalah inovasi, pandai membaca Dan beradaptasi pada perubahan yang terjadi.

Salam

 

Standar
Opinion

Menyukai Sebenar-benarnya

Rasanya susah sekali meluangkan waktu untuk menulis lagi. Bukan curhat tapi terkadang saya merasa mengikuti pola rutinitas yang seringnya sibuk karena pekerjaan. Sehingga mempunyai alasan untuk tidak menulis. Padahal menulis merupakan salah satu aktivitas yang saya sukai. Seperti merasa apa yang ingin disampaikan, terutarakan semua melalui tulisan.

Contoh tulisan ini saya buat di Kafe Roti O di bandara Juanda Surabaya, sambil menunggu rekan kerja yang landing mulailah tangan mengacak-acak alfabet yang ada di keyboard laptop. Suasana menunggu yang terkadang membosankan memang harus diisi dengan suatu kegiatan yang membuat otak terus bekerja.

Menghadapi rintangan
Saya pernah tersindir oleh salah seorang teman. Suatu saat sang teman mengajak saya untuk berolahraga badminton, sepulang kerja seminggu 2x. Sebenarnya badminton olahraga yang termasuk saya suka. Mengayunkan raket, bersimbah keringat, rasanya sungguh plong, aliran darah menjadi lancar dan tidur menjadi lebih nyenyak.

Saya ingat bahkan dulu sewaktu di Samarinda, setiap pulang main badminton, saya bersama beberapa teman sering singgah disalah satu warung pecel ayam Lamongan di dekat Kantor Walikota. Setelah makan ayam goreng plus teh hangat sukses membuat tubuh tambah berkeringat.

Mungkin sudah cukup nostalgianya, balik keajakan teman tadi, saat itu saya menolak dengan alasan jika sudah pulang kerja capek. Belum lagi omelan istri dan anak karena sudah ditinggal seharian bekerja. Mendengar alasan itu, teman saya berkata kalau saya sebenarnya tidak hobi badminton. Nah lho, saya lalu membantah sang teman mengatakan bahwa saya sangaaat dengan huruf triple A menyukai badminton. Melihat kengototan saya, sang teman lalu berseloroh, “Ah jika memang kamu menyukai badminton, kamu pasti mengatasi segala hambatan yang terjadi untuk menjalani hobi yang kamu sukai itu. Kalau hanya sekedar badan capek, mungkin bisa beristirahat sebentar, dan jika istri dan anak ngomel ya ajak ikut aja”.

Setelah beberapa saat saya berpikir, saya lalu menyadari sebenarnya suka badminton (masih ngotot aja Bung), tapi yang benarnya saya tidak benar-benar serius menyukai badminton. Terdengar sama, tetapi maknanya berbeda. Menyukai belum tentu mau menjalani, menyukai belum tentu mau menghadapi hambatan-hambatan yang ada.

Seperti juga menulis, saya mungkin punya sejuta alasan untuk tidak menulis, tetapi saya cuma perlu memulai lagi, menghadapi rintangan yang ada, dan setelah mengalami rasa enaknya menulis, semua akan mengalir begitu saja. Alasan-alasan itu pudar tertimpa suara ketikan laptop dan menghilang dari kepala  karena sudah banyak ide yang ingin dirubah kerangkaian kata.

Belum puas, saya bertanya lagi, “Hai teman, jika istri dan anak saya tidak mau ikut saya bermain badminton, terus bagaimana?”

“Ya udah titip aja di mall. Gitu aja repot”

Alaaaahhh…

Standar
Opinion

“Musuh dari Keabadian adalah Waktu”

Quote dari film Dr. Strange diatas mungkin ada benarnya. Jika tidak ada waktu yang terus bergerak kita tidak akan pernah menjadi tua, dan tidak akan pernah akan mati.

Salah satu film favorit saya adalah The Age Of Adaline. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang tidak pernah bisa tua karena mengalami suatu kejadian aneh yaitu disambar petir pada saat berkendara dengan mobilnya. Mobil sang wanita masuk jurang. Yang aneh ia tidak mengalami luka sedikitpun. Tapi arus listrik dari petir masuk kedalam tubuhnya dan membuat seluruh organ tubuhnya berhenti bertumbuh.
Jadilah fisiknya tetap tampak muda meski sudah berusia tua. Bahkan ia harus selalu hidup berpindah-pindah agar tidak ada yang mencurigainya.

Kisah yang dibalut dengan drama romantis ini sempat membuat penonton ikut larut dalam emosi sang pemeran utama. Awalnya fisik yang tidak menua itu sangat dinikmatinya sampai suatu saat orang-orang tercintanya termasuk anak perempuannya meninggal muncullah rasa tersiksa yang terus menerus muncul. Fisik awet muda yang sejak dulu diidam-idamkan oleh banyak manusia berubah menjadi kutukan bagi dirinya.
Untungnya pada akhir film sebuah kejadian mengembalikan ia menjadi seorang manusia fana kembali yang ditandain dengan munculnya selembar uban dirambutnya.

Jika kita bertanya apakah ada manusia yang ingin mati?. Pasti jawabnya tidak. Tapi kita tahu kematian itu pasti adanya. Waktunyalah yang menjadi rahasia Tuhan Pencipta. Dan bila itu rahasia biar ia tetap menjadi rahasia. Tugas kita adalah memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan ini dengan sebaik-baiknya.
Dengan apa?. Tentu dengan melakukan sesuatu yang baik, lebih lagi untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Our live is our legacy. Hidup kita ada sebagaimana orang memandang diri kita. Hidup kita adalah apa yang ingin orang kenang akan kita. Semakin banyak manfaat yang kita tebar didunia, tentu semakin banyak orang yang mengenang kita.
Tidak perlu warisan uang, cukup dengan perbuatan baik yang tulus kita lakukan kepada orang lain.

Just sharing dimalam Sabtu.

Standar
Opinion

Rat Race Itu Nyata

Dulu saat berkarir di perusahaan pertama saya, saya melihat dengan mudahnya teman-teman saya mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang cukup mahal seperti handphone keluaran terbaru pada saat habis menerima gaji atau bonus.

Sayapun sempat terjebak dengan gaya hidup hedonis seperti itu. Sebagai profesional muda rasanya sangat pantas untuk menghadiahkan diri sendiri sesuatu yang kita inginkan sebagai buah dari hasil kerja keras kita. Itu mungkin pemikiran saya saat itu.
Tapi tidak banyak yang tahu jika gaya hidup seperti itu dibayar oleh jam kerja 7.30 pagi sampai 7.30 malam. Kami sesama karyawan harus bekerja penuh dengan dedikasi baik tenaga dan waktu bagi yang membayar kami.

Sampai satu saat saya tersadar bahwa gaya hidup seperti ini semu. Pekerjaan yang setiap hari saya lakukan dari Senin-Sabtu tidak ubahnya seperti jebakan tikus yang sebenarnya tidak membawa saya kemana-mana. Perusahaan mengikat kami dengan penghasilan yang lebih, tapi kami kehilangan daya imaginasi dan sisi kreatif kami. Kami hanya diarahkan bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan, jika melenceng maka akan ada sanksi atau punishment. Kami seperti kuda yang hanya melihat lurus kedepan, kami benar-benar kehilangan insting untuk melihat peluang diluar tembok tinggi ketakutan kami, ketakutan akan kehilangan penghasilan dan kehilangan status sosial.

Mungkin itu yang dialami oleh banyak pekerja di negara ini. 6P Pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan.

rat race

Jebakan tikus itu benar ada, lihat berapa banyak orang terutama dikota-kota besar yang bangun subuh untuk berangkat bekerja dan pulang kerumah saat malam tiba. Kehilangan waktu berharga mereka bersama keluarga dan teman. Itu dilakukan setiap hari, setiap bulan sepanjang tahun.
Oleh perusahaan mereka didoktrin untuk memberikan lebih dari 12 jam waktu mereka untuk memajukan perusahaan, menutup rapat-rapat pikiran untuk mendapatkan penghasilan diluar sana yang mungkin akan membebaskan mereka dari jerat tikus berkepanjangan.

Seperti jerat tikus, orang tidak menyadari waktu berjalan begitu cepat tapi sebenarnya posisinya mereka tidak kemana-mana. Mereka kehilangam waktu, kreativitas, ide-ide dan kehendak mereka sebagai manusia bebas.

Mungkin ini bisa menjadi perenungan bagi kita semua agar selalu membuka pikiran dan merubah diri menjadi semakin baik dari hari kehari. Jangan sampai ketika kita menyadari waktu yang sudah terbuang hanya menerbitkan penyesalan.

Standar
Opinion

Isi Lebih Penting dari Penampilan Luar

Saat masih berusia sekitar 8 tahun, saya suka sekali dengan buah jeruk. Biasanya ketika papa pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan toko kami, ia sering membeli paling kurang 3 kg jeruk Tebas. Jeruknya biasanya berwarna hijau agak kekuningan dan berukuran lebih kecil dari bola kasti.

Dalam hati saya selalu bertanya mengapa jeruk-jeruk yang dibawa pulang tersebut rasanya manis, meski kulit luarnya sering terlihat bopeng dan kasar. Sampai suatu ketika saat ikut papa membeli buah jeruk, saya menyadari bahwa jeruk yang dijual tidak sama ukurannya, ada yang kecil umumnya dijual lebih murah, ada juga ukurannya lebih besar.

Dipasar banyak sekali penjual yang menawarkan bermacam-macam jenis buah jeruk. Sesaat saya berhenti mengamati jeruk yang terpajang didalam beberapa keranjang besar. Bentuk buahnya besar dan mulus.

“Pa, kita beli jeruk yang ini ya. Buahnya besar-besar, cece (kakak saya) pasti suka” kata saya sambil menunjuk ketumpukan buah didepan saya.
Papa tersenyum sambil berkata, “Nak ayo kita jalan lagi, disebelah sana ada penjual tempat papa biasa membeli. Jeruknya lebih bagus.”.

Saya masih tidak beranjak dari tempat saya berdiri, tapi papa saya menarik tangan saya agar mengikuti dia.

Sampai ditempat yang papa katakan, saya melihat jeruk yang dijual lebih kecil dan bentuknya banyak yang bopeng, yang maksudnya kulitnya tidak mulus, dan penuh berkas coklat sebesar jari manis orang dewasa
“Kita beli yang ini aja ya nak?” kata papa sambil memilih satu persatu buah jeruk sambil memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam.

Setelah selesai membayar kamipun pulang. Saat diperjalanam penuh dengan penasaran saya bertanya kepada papa mengapa dia tidak membeli pada penjual yang pertama padahal buah jeruknya lebih besar dan mulus.
Sambil tersenyum papa berkata, “Nak, buah jeruk yang kamu lihat pada penjual pertama itu memang terlihat bagus, bentuknya juga besar-besar. Tapi kamu mungkin tidak menyadari kalau jeruk jenis itu umumnya kulitnya lebih tebal, dan buah bagian dalamnya akan tampak lebih mengkerut yang artinya air yamg terkandung didalam lebih sedikit atau berkurang. Jadi jika kamu beli jeruk tadi, kamu sudah rugi 2 kali.”
“Oh gitu ya pa. Hanya saya bingung mengapa papa beli jeruk yang kulitnya jelek tadi. Kotor banget pa” sambung saya masih penasaran.
“Itu bukan kotor sayang. Justru jeruk dengan kulit seperti itu umumnya punya kulit yang tidak tebal. Tapi meskipun kulitnya tidak tebal, ia tahan terhadap segala macam gangguan atau pengaruh dari luar, misalnya seperti sinar matahari, hujan maupun hama. Kulit dengan bercak coklat itu adalah bukti kekuatan kulit jeruk tersebut dalam melindungi isi atau daging buah didalamnya.”

Sambil merenungkan pengalaman masa kecil saya itu, saya mendapat dua pencerahan. Yang pertama bahwa sesuatu yang terlihat bagus (seperti jeruk yang dijual penjual pertama) tidaklah selalu baik isinya. Sebaliknya yang terlihat kurang menarik, juga belum tentu isinya tidak baik.

Ada peribahasa yang mengatakan “Don’t judge a book with it’s cover“.

Seringkali kita menilai seseorang dari kulit luarnya saja, padahal seringkali pula ketika kita mau mengenal dan mencari tahu lebih dalam banyak sisi positif dari orang tersebut.

Yang kedua, bahwa dari segala hal yang kita dapatkan saat ini, ada hal yang harus kita korbankan untuk mendapatkannya. Misal kita ingin sukses, kita harus siap bekerja keras. Kita ingin kurus harus berkorban mengendalikan nafsu makan, atau siap ke gym untuk angkat beban.

Seperti jeruk, bagian kulit yang bopeng adalah simbol pengorbanan untuk melindungi isi buahnya.

Dalam hidup ini saya selalu belajar kepada siapa saja tanpa mengenal dari tingkatan mana orang tersebut berasal. Saya belajar dari atasan saya, tetapi disaat yang berbeda saya juga belajar dari orang-orang yang bekerja dibawah saya. Bahkan bukan dari itu saja saya juga belajar dari orang yang saya temui dijalan, pemilik bengkel tempat saya memperbaiki ban bocor, dan lebih banyak orang lagi.

Salam..

Standar
Opinion

Hidup….Itu Indah

Sudah lupa berapa lama tidak mengisi blog ini. Baru hari ini lagi keinginan untuk mengisi blog ini muncul.
Menulis selalu punya kesenangan tersendiri. Kita bisa mencurahkan apapun didalamnya. Perasaan, ide, bahkan ketidak setujuan akan sesuatu.
Dulu aku selalu menulis menulis tentang sesuatu yang menjadikan motivasi dalam hidupku. Aku menulis tentang perasaanku, cerita tentang orang lain yang menginspirasi, serta ide-ide baru yang kupunya.
Kini aku tidak tahu mana yang ingin kufokuskan. Mau menulis tentang diri sendiri, tapi terkadang tidak ada sesuatu yang membuat orang lain terinspirasi. Kisah hidup yang biasa saja, meski beberapa teman mengatakan mereka mengagumiku. Sama aku juga mengagumi mereka.
Setiap orang punya sisi baik. Sisi yang membuat kita ingin menjadi seperti mereka. Bahkan dari seseorang paling buruk pun kita bisa belajar. Kita belajar tentang ketabahan, dan juga mungkin penerimaan diri.
Hari berganti begitu cepat. Kini semuanya terasa terus berpacu. Aku merasa semakin tua. Kemampuan fisikku semakin menurut. Sering sakit pinggang. Malas olahraga dan juga perut semakin maju. Apalagi ketika sekarang sudah menikah tentunya.
Tapi apapun itu. Aku selalu berharap dan punya mimpi bahwa dalam setiap kehidupan ku selalu melakukan hal yang lebih baik setiap hari. Menjadi orang yang baru yang dapat membantu orang lain secara langsung, maupun menginspirasi orang lain menjadi lebih baik.
Hidup untuk berbagi. Aku selalu ingin menjadi.. menjadi kebaikan, menjadi berkat bagi orang lain.

Standar