Opinion

Ketika Semangat Karyawan Terbawa Pengusaha

Setelah sekian lama meninggalkan kursi sebagai seorang karyawan terkadang masih saja kebiasaan-kebiasaannya masih terbawa. Yang paling menonjol adalah masalah disiplin. Jika ketika sebagai karyawan masuk kerja tepat waktu maka sekarang masuk kerjanya tidak jelas kadang pagi kadang malah lebih pagi. Itu mungkin hal yang bagus. Tapi selanjutnya jam makan siang dan jam pulang masih tetap saja mencoba mengikuti kebiasaan-kebiasaan lama. Jadi ketika jam sudah berdentang 12 kali maka secara otomatis pekerjaan ditinggalkan. Isi perut dulu.

Dan untuk jam pulang meski tidak patuh-patuh ama jadwal dulu, tapi tetap saja masih ada efeknya. Jam pendek ke angka lima secara naluri langsung beres-beres barang-barang. Kebiasaan-kebiasaan lain juga terkadang masih terbawa. Misalnya sikap masa bodoh. Ketika target dan pekerjaan berat untuk diselesaikan timbul rasa malas, rasa masa bodoh. Jikalau ketika masih karyawan sikap seperti itu sekali-kali mungkin boleh. Yah seandainya keterusan juga paling kena marah. SP mungkin jauh, lagian SP juga masih ada 3 kok. He2.

Nah itu kondisi saat masih karyawan dimana tanpa mengejar performance dan tanpa berjuang maksimal tetap masih menerima income bulanan, meski insentif tidak banyak karena KPInya jelek, tapi dalam kondisi ini sekali lagi tetap menerima gaji. Perusahaan mengalami krisis atau rugipun tetap hak karyawan tetap dibayar.

Itu bicara kondisi ketika masih karyawan. Bagaimana ceritanya jika sebagai pengusaha baru yang masih berjuang tapi masih memiliki mental seperti itu (tulisan ini tidak untuk menjelekkan sebuah profesi, tapi adalah cerminan pengalaman penulis), maka yang terjadi perusahaan akan mengalami kemunduran bahkan kolaps. Yah bagaimana tidak hancur, mentang-mentang tidak ada dukungan bekerja seadanya, padahal perusahaan harus tetap berjalan, perut karyawan juga harus makan.

Dan kesimpulannya kebiasaan-kebiasaan yang buruk selama menjadi karyawan hendaknya harus dihilangkan ketika memutuskan bertransformasi menjadi pengusaha. Perusahaan harus disetir dengan kecepatan dan kerja keras 2 bahkan 3 kali lipat agar pertumbuhannya kencang. Dan dalam hal ini sikap masa bodoh, malas dan tidak kreatif serta tanpa inovasi akan menghancurkan perusahaan lebih dalam dari jurang kematian.

Beruntung saat ini sikap dan mindset seperti itu perlahan mulai pudar, meski terkadang masih seperti diceritakan diatas. Tapi komitmen untuk perubahan tetap digaungkan dalam sanubari. Mengapa?. Karena saat ini kita yang harus menggaji kita sendiri. Tidak kerja keras, tidak tekun, dan tidak teliti maka siap-siap bulan depan tidak dapat gaji.

Salam

Iklan
Standar
Opinion

Hidup Untuk Berubah

Dalam kehidupan ini, banyak hal yang mempengaruhi kita untuk berubah. Apakah itu menjadi lebih baik atau menjadi buruk. Orang yang dominan berada dilingkungan baik, maka sifat dan pemikirannya juga akan menjadi baik. Sebaliknya pengaruh buruk dalam lingkungan yang buruk membuat sifat, perangai serta pola pikirnya menjadi buruk juga.

Meski kebanyakan kasus ditemui seperti contoh diatas, tapi tetap aja ada kondisi berbalik dengan kondisi lingkungannya. Artinya orang dilingkungan baik malah sifatnya menjadi buruk. Anomali sifat dan perilaku itu sebenarnya wajar dikarenakan naluri dasar manusia yang dilengkapi akal untuk memilih mengikuti hal-hal disekitarnya atau menjadi termotivasi untuk berubah dari kebiasaan lingkungannya.
Sebagai catatan ingkungan dalam hal ini lebih saya tekankan pada lingkungan tempat seseorang itu berinteraksi.

Adapun terkadang untuk berubah dari lingkungan yang istilahnya “dari dulu udah gitu” memang bukan hal mudah. Ketika saya pertama memulai bisnis banyak suara-suara sumbang yang berusahakan menghentikan langkah saya. Baik dari pihak keluarga maupun juga teman-teman dimana saya biasa bergaul. Mereka mengatakan bahwa saya tidak cocok untuk berbisnis, resikonya terlalu besar. Belum lagi yang mengatakan bahwa karir saya sudah bagus dan sayang untuk ditinggalkan. Lingkungan saya yang kebanyakan pekerja membuat stigma bahwa berbisnis itu penuh resiko. Tapi dengan keyakinan untuk berubah dan yakin bahwa rezeki itu asalnya dari Yang Diatas saya keukeuh dengan keputusan saya.

Meski tidak berlatar belakang ilmu psikologi, tapi saya bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa kondisi yang memaksa manusia untuk berubah. Yang pertama saya sebut sebagai perubahan karena lingkungan. Coba bayangkan jika kita punya teman bermain ataupun biasa disebut teman kumpul dimana teman-teman kita itu sudah menikah misalnya, sedangkah kita belum, penghasilannya juga sudah besar jauh melampaui penghasilan kita, sedangkan kita boro-boro menyamai, mencukupi aja belum. Nah jika kondisi itu terjadi apakah yang aakan kita rasakan, pasti kita termotivasi sekali untuk menjadi sama seperti teman-teman kita itu. Mungkin karena itu kita akan semakin giat bekerja serta mencari penghasilan tambahan agar pendapatan kita meningkat. Dan dalam hal asmara mungkin kita akan semakin memperbaiki diri dan penampilan, terbuka untuk pergaulan agar tentukan kita mendapatkan pasangan yang nanti akan kita ajak untuk menikah.

Dan kondisi yang kedua adalah yang berubah karena kesadaran pribadi. Jika kondisi pertama mungkin sesuatu yang wajar, lingkungan yang baik membuat kita termotivasi menjadi lebih baik juga. Dan kondisi yang kedua ini adalah sesuatu yang lebih sulit. Bayangkan jika kita berada dilingkungan pergaulan yang buruk. Misalnya teman-teman kita adalah para penjahat, pelaku kriminal, dan terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cara kekerasan, peluang kita untuk menjadi seperti mereka pastilah terbuka lebar. Dan sifat-sifat buruk itu pasti terbawa dalam kehidupan sosial kita. Dan jika kita tidak mengikuti mereka, mereka akan mengejek bahwa kita “sok suci”, “anak penjahat”, “memang sudah ditakdirkan hidup begini”. Artinya ucapan-ucapan negatif itu terkadang membuat kita menyurutkan langkah untuk berubah.

Oprah Winfrey mungkin salah satu contoh orang yang berubah karena kesadaran pribadi. Dengan latar belakang peranakan kulit hitam yang keras, pelecehan seksual dan pemerkosaan telah didapatkannya diusia yang belia. Jika ia terpuruk dan menyesali nasib pastilah orang mungkin tidak pernah melihat ia membawakan acara talkshownya yang terkenal, tapi sedang berada dipinggir jalan menjajakan diri, dan ini diakuinya. Keinginan untuk berubah dan menggapai impiannya yang kuatlah yang membawa ia tidak terpuruk.

Dan banyak kisah inspiratif lainnya yang pernah kita dengar dari orang yang mampu merubah diri padahal lingkungannya tidak mendukung.

Untuk berubah dalam kondisi lingkungan yang mendukung atau tidak kita harus menetapkan tujuan dan target sebagai alasan kita untuk berubah. Dengan menetapkan sesuatu yang menantang maka kita akan termotivasi untuk mencapainya.

Salam

Standar
Opinion

Ben Spies, Sang Ibu, Kasih dan Kesuksesan

Ditayangan Highlight Motogp di sebuah stasiun televisi swasta tertentu diceritakan mengenai kesuksesan seorang pembalap motor muda dikancah Moto GP, sebuah ajang tertinggi balap motor dunia.

Namanya Ben Spies, dialah rockie (pendatang baru terbaik) tahun ini. Meski masih muda dan baru berpromosi di arena Moto GP, tapi namanya sudah disejajarkan dengan pembalap-pembalap terbaik lainnya macam Casey Stoner, Jorge Lorenzo, Daniel Pedrosa, sampai pembalap yang disebut “dewa” nya Moto GP, Valentino Rossi.

Tapi banyak orang belum tahu karakter pekerja keras dan tidak gampang menyerah Ben Spies sehingga menjadi “garang” di Moto GP ternyata dipengaruhi oleh sang ibu, Mary Spies.

Menurut Spies, Ibunyalah inspirasi dan pendorongnya dalam membalap. Ibunya tidak pernah menghambat karier balapnya. Impiannya dalam berlomba di race didukung penuh oleh sang ibu.

Meski harus membesarkan Ben sendiri, tapi sang ibu tidak pernah menyerah. Menurutnya dalam mendidik dan membesarkan Ben, tidak pernah ia melarang dan memaksakan kehendaknya kepada Ben. Intinya apapun yang menjadi impian 100 % ia dukung. Jadi tidak heran untuk mendukung langkah sang buah hati dilomba balap yang tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar, sang ibu rela untuk bekerja menangani beberapa pekerjaan sekaligus. Mulai dari agen properti, sampai menjadi operator telepon. Satu pekerjaan disadari tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan anaknya diarena balap.

Tapi mesti begitu, sang ibu tidak mengeluh. Baginya sebuah kebanggaan yang sangat besar jika ia bisa membantu mendukung langkah anaknya untuk mencapai impiannya.

Ben Spies sendiri mengakui bahwa kerja keras sang ibu sangat menginpirasinya. Ketika ia sedang jatuh, pengorbanan sang ibu lah yang mendorongnya untuk bangun lagi. Bangun dan terus berlatih menjadi yang terbaik. Ben selalu ingat pesan sang ibu yang mengatakan bahwa diposisi berapapun, mau posisi pertama, posisi kedua, atau posisi paling buntut, mau jadi juara atau tidak, selalu yang harus diingat adalah bahwa pencapaian itu didapat dari memberikan yang terbaik dari dirinya, selalu yang terbaik.

Satu hal yang dipelajari dari ibu super ini adalah kegigihannya dalam bekerja, berkorban demi sang anak. Niscaya dengan petuah, dukungan, kasih sayang sang ibu, Ben bisa melaju bersaing di Moto GP. Bukan tidak mungkin titel juara dunia tinggal menunggu waktu saja.

Standar
Opinion

Merasa Kesepian

“Penyakit yang paling berbahaya didunia adalah perasaan kesepian, dikucilkan, ditinggalkan” Mother Teresa

Ya pernahkah kita merasa betapa sepinya hidup kita. Meski kita dikelilingi oleh banyak orang tapi tetap saja kita merasa sendiri. Lalu apakah yang harus dilakukan?.

Manusia mempunyai bentuk fisik, sifat, emosi dan karakter berbeda yang dibawa ketika kita dilahirkan. Secara fisik misal ada yang cantik, ada yang kurang cantik bahkan ada yang tidak sempurna atau cacat. Lalu sifat manusia ada yang mudah terpengaruh oleh keadaan sekitar, ada yang mempunyai pendirian teguh, ada juga yang labil secara emosi.

Menurut saya perasaan kesepian, kesendirian bukan pada disebabkan oleh sifat atau karakter seseorang, tapi lebih dari tingkat emosi dan psikis seseorang. Trauma, perasaan rendah diri, intimidasi, penyakit, ketakutan adalah beberapa penyebab orang memilih untuk menghindari orang banyak. Ia menilai cara pandang orang lain melalui cara pandang dirinya, akibatnya semakin ia mencoba membuka diri maka semakin ia mengalami ketakutan yang teramat sangat. Tidak adanya pendamping sebagai tempat untuk berbagi membuat keadaan psikologisnya semakin parah.

Kesepian dan kesendirian adalah milik semua orang. Semua pernah mengalaminya, tapi apa yang kita lakukan jika mengalami hal tersebut adalah poin pentingnya.

Dunia saat ini semakin membuat manusia dapat berhubungan dengan banyak orang diseluruh muka bumi, tapi disatu sisi sifat individualis semakin mengemuka dan menjadi-jadi. Ketidakperdulian terhadap sesama, keegoisan pribadi adalah cara salah dalam memandang dunia. Bersikap lebih terbuka dan peduli akan membuat banyak orang terselamatkan dari kehidupan yang membosankan dan tidak berarti. Memperhatikan detail dari pentingnya nilai kemanusiaan, menciptakan hubungan lebih baik dengan sesama manusia menjadi dunia lebih indah.

Andaikan saja ada 1 juta Bunda Teresa yang peduli pada orang miskin, terlantar, berpenyakit dan dikucilkan mungkin juga tidak akan cukup untuk melayani lebih dari 6 miliyar manusia dimuka bumi, tapi tentu saja karya kecilnya di Kalkuta tapi dengan semangatnya yang besar serta cintanya kepada sesama akan menginspirasi kita untuk peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Lalu dari manakah kita mulai untuk menjadi lebih peduli?. Jawabnya dari lingkup terkecil kita yaitu keluarga.

Semoga menginspirasi

Standar
Opinion

Berapa Harga Dirimu?

Jika pertanyaan diatas diajukan kepada kita, mungkin banyak diantara kita yang akan emosi atau jengkel dengan pertanyaaan itu. Kita menganggap bahwa harga diri kita adalah sangat mahal dan tidak mungkin dijual. Pasti yang membaca akan mengamini pendapat saya.

Sepantasnya kita menganggap begitu mahalnya harga diri kita. Banyak ciptaan teknologi masa kini tapi tentu saja tak ada yang mampu mengalahkan kerumitan dan kesempurnaan yang dimiliki manusia. Jikalau 100 tahun yang akan datang mesin itu benar-benar ada pasti harganya sangat mahal, bisa jadi seharga biaya penerbangan bumi kebulan.

Tapi jika ada pertanyaan selanjutnya, bukankah banyak wanita **** yang menjual dirinya yang hanya senilai kurang dari US$ 100?.  Apakah benar demikian. Perlu dipahami yang dijual atau diserahkan itu hanya berwujud fisik. Orang boleh memiliki fisik seseorang tapi terkadang tidak hati dan pikirannya.  Dan walaupun bisa membayar mahal, tapi tidak seluruh bagian dari orang tersebut bisa diatur semaunya.

Kembali kepada harga diri tadi. Pertanyaan berikutnya adalah jika memang kita menganggap bahwa diri kita sangat mahal dan tak sanggup dibeli dengan uang, mengapa banyak dari kita bertindak dan berperilaku seolah-olah diri kita tidak ada harganya.

Mau contoh?. Paling gampang adalah contoh wanita **** diatas. Lalu ada lagi orang yang merusak dirinya dengan mabuk, atau bahkan menggunakan obat-obat terlarang. Tubuh yang sehat dan baik diperlakukan dengan buruk. Mereka mencari kesenangan sesaat, tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri. Mereka banyak hidup didunia mimpi mereka karena mereka tidak pernah menyadari indahnya dunia ini.

Tapi mereka yang merusakkan tubuhnya demi kesenangan sesaat itu adalah sebagian kecil orang yang merendahkan harga diri mereka sendri. Masih ada kelompok besar manusia yang sebenarnya secara tidak sadar juga tidak menganggap berartinya diri mereka. Orang yang mengeluh dan menyalahkan orang lain berada dikelompok ini.

Tidak dipungkiri bahwa kita manusia tidak lepas dari rasa kecewa, sedih dan benci. Itu wajar, itu adalah perwujudan emosi yang memang dipaketkan bersama diri kita ketika Tuhan menciptakan kita. Tapi orang yang selalu mengeluh dan menyalahkan situasi terus menerus adalah orang yang menutup mata terhadap peluang yang terbuka dihadapannya. Mereka adalah tipe orang yang tidak menggunakan anugrah dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Lalu pertanyaannya kok banyak ya orang seperti ini. Itu mudah dijawab. Saat ini hidup kian kompleks, persaingan hidup semakin ketat, cara mencari uang berubah. Cara-cara lama untuk bertahan hidup dulu tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini. Belum lagi kondisi eksternal yang tidak terprediksi selalu datang ketika tidak dibutuhkan.

Jika kita sadari bahwa kita diberikan anugrah dengan kemampuan berpikir dan bertindak lebih sempurna dari makhluk lain, maka tidak seharusnya kita mengeluh, tidak seharusnya merendahkan martabat manusia kita. Kita hidup dan dilahirkan kedunia ini membawa pesan bahwa hidup haruslah lebih bermakna. Ini adalah rute perjalanan yang harus ditempuh sebelum kita benar-benar melewati jalan panjang yang sebenarnya dikehidupan kita berikutnya.

Sebenarnya manusia bisa hidup dan bertahan hidup sambil juga menikmati keindah hidupnya didunia. Tapi banyak orang hidup pada hari ini saja, dan celakanya lagi ada orang tinggal dibumi tapi seolah-olah hidupnya ada didunia lain. Sungguh menyedihkan hidup seperti itu.

Esensi hidup yang sebenarnya mesti kita pahami dengan baik. Banyak hal yang dapat diperbuat manusia didunia ini. Andaikan setiap orang dari 3 milyar manusia dibumi ini berpikir bahwa ia harus berkarya untuk dunia dan bermimpi ketika ia meninggalkan dunia maka dunia akan mengenangnya sebagai salah seorang yang memberikan titik kecil pada gambar hidup dunia, tentu alangkah bahagianya kehidupan ini.

Apakah untuk melakukan semua itu kita harus memiliki segalanya, kekayaan, materi, kekuasaan?. Jawabannya sama sekali tidak. Orang kaya bisa menyumbang 100 juta rupiah untuk pembangunan panti asuhan, lalu jika kita hanya punya 200 ribu apakah kita kalah. Ya kita memang kalah secara nominal uang, tapi secara karya kita dengan 200 ribu mungkin bisa memberikan kebahagiaan yang lebih banyak dari orang yang menyumbang 1 milyar mungkin. Inti dari perbuatan adalah hati yang tulus.

So, masihkah kita menganggap harga diri kita mahal tapi malah merendahkan hidup kita sendiri. Kita harus jujur bahwa kita mampu melakukan apapun didunia ini, asal ada keyakinan dari hati kita. Mulai sekarang kita harus bertumbuh maju mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan dengan membusungkan dada berkata “Tidak ada yang sanggup membeli saya, karena saya adalah produk dengan brand termahal didunia. Saya unik dan hanya ada satu didunia ini.”

Salam

Rafael Budi

Standar
Opinion

Harta Yang Paling Berharga : Keluarga

“Harta yang paling berharga adalah keluarga. Mutiara yang paling bermakna adalah keluarga”.

Demikianlah potongan syair lagu yang menjadi soundtrack sebuah serial yang ditayangkan pada medio 90an berjudul “Keluarga Cemara”. Kisah sebuah keluarga disebuah desa sungguh menggambarkan keharmonisan dan ketentraman. Tidak ada mobil, rumah yang mewah, perabotan mahal, kekuasaan dan jabatan, tapi mereka sangat menikmati hidup. Potret sebuah keluarga yang menjadi impian kebanyakan orang. Serial itu juga menginspirasi kita serta mengingatkan bahwa kebahagiaan bukanlah melulu karena materi. Lebih dari itu semua kita bisa menikmati hidup yang bahagia hanya jika kita mau mewujudkannya.

Saya teringat perkataan seorang teman yang sedari dulu tidak pernah berkumpul dengan keluarga besar. Tuntutan pendidikan dan karier membuat ia meninggalkan kota kelahirannya sejak kelas 1 SMP.

Kebahagiaan yang begitu mendalam dirasakan olehnya ketika suatu saat memutuskan untuk kembali kekota kelahirannya. Dengan dana secukupnya ia ingin meninggalkan karier yang telah dirintisnya saat ini dan membuka usaha didaerahnya. ,iat yang sangat mulia karena didorong oleh rasa rindu dan keinginan berkumpul bersama keluarga.

Tiba dikampung halamannya keluarga besar menanti. Tapi tunggu dulu kenapa sang kakak perempuan satu-satunya tidak menyambutnya. Berhalangankah ia?. Air matanya berlinang setelah mendengar cerita ibunya bahwa kakaknya mengikuti suaminya yang bertugas di Papua.

Sungguh perasaan sedih berkecamuk. Dulu ia berusaha untuk bisa pulang dan tinggal bersama keluarganya ketika kakaknya belum menikah. Kini setelah menikah kakaknya malah pergi kedaerah lain yang sangat jauh letaknya.

Apa yang salah dari cerita teman saya itu. Saya rasa normal untuk banyak orang. Sang anak meninggalkan orang tua dan keluarganya untuk sekolah atau bekerja didaerah lain. Tapi menurut saya sesungguhnya waktu itu berjalan begitu cepat. Waktu bersama keluarga adalah momen terindah dalam hidup. Dan saya yakin banyak yang mengamininya.

Mungkin pesan dalam tulisan ini bisa menyentuh orang yang membacanya. Selalulah menyadari bahwa waktu untuk orang-orang tercinta kita sungguh sedikit, kebanyak kita sibuk dengan pendidikan dan karier. Oleh karena itu luangkan waktu, sempatkan diri untuk menyadari indahnya mempunyai keluarga yang mencintai kita. Ya tentu saja sebelum mereka meninggalkan kita atau sebaliknya.

Standar
Opinion

Mimpi.. mimpi!. Siapa Peduli

Impian menjadi pembicaraan banyak orang sekarang. Buku-buku, seminar-seminar motivasi, workshop bisnis berbicara tentang impian. Impian dikatakan sebagai penggerak paling efektif yang membuat kita bergerak. Benarkah pendapat ini.

Tidak salah memang mengatakan bahwa setiap orang sebenarnya memiliki impian tertentu dalam hidup ini. Tidak peduli siapapun dia pastinya mempunyai keinginan untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Tujuan akhir dari keinginan kita tersebutlah yang disebut impian.

“Saya memimpikan bisa menjadi seorang pengusaha suatu saat nanti!”

“Aku ingin punya keluarga yang bahagia dengan memiliki penghasilan cukup”

“Nanti aku pasti bisa mewujudkan keinginanku untuk menjadi seorang pengajar”

Beberapa kalimat diatas menyiratkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Tetapi pertanyaannya apakah semua hal tersebut bisa diwujudkan atau tidak. Jawabannya tergantung sekuat apa tekad orang tersebut untuk mewujudkannya. Tekad atau komitmen yang dipegang teguh membuat masa sulit dihadapi dengan tersenyum. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Impian yang terwujud menjadi semacam pilihan tunggal, sehingga mau tidak mau hal itu harus dicapai.

Itulah yang mengapa banyak orang yang bermimpi tetapi hanya sedikit yang mencapainya.

Standar