Kategori: Umum

Yang umum-umum aja

Peliknya Hongkong

Ada satu pembunuh. Sudah mengaku kepada polisi. Dihukum 18 bulan. Ringan?. Iya. Tapi bukan karena itu hukumannya. Tapi karena mencuri uang lewat kartu kredit pacar yang dibunuhnya.

Pelik. Begitulah Hongkong saat ini. 1 juta orang menolak RUU Ekstradisi. Sudah 3 bulan, tapi masih tetap lanjut. Lumpuh dimana-mana. Hongkong dikhawatirkan masuk resesi ekonomi.

Tuntutan demostran adalah agar RUU dicabut. Mereka tidak mau dimasa depan, orang dengan mudah diadili diluar negeri atau yang paling ditakutkan, di China Daratan. Artinya jika Pemerintah pusat China menganggap seseorang di Hongkong sebagai penjahat politik misalnya mereka bisa meminta Hongkong mengirim orang tersebut untuk di adili. Apalagi adanya kekhawatiran Tiongkok menggunakan sistem otoriter dalam menghadapi pengkritiknya.

Carrie Lam, pemimpin Hongkong tidak ingin Hongkong menjadi surga para penjahat yang memanfaatkan keistimewaan Hongkong. Yang didapat karena ada perjanjian saat penyerahan Hongkong oleh Inggris kepada Pemerintah China. Setidaknya sampai 50 tahun kedepan, Hongkong mau mengurus diri mereka sendiri.

Saat ini RUU sudah ditangguhkan bahkan dicabut oleh parlemen. Kemenangan milik demonstran. Ya begitulah. Usaha mereka 4 bulan ini berhasil. Setidaknya begitu.
Namun kemenangan bukan hanya milik demonstran, tapi juga Chan Tong-Kai (maaf kalau namanya mirip merek Korek Api gas, hiks). Ya si pembunuh itu.
23 Oktober 2019 dia bebas setelah menjalankan 1/3 hukumannya. Yang 18 bulan itu.

Penjahat yang sudah memotong-motong tubuh pacarnya dan memasukkannya di koper lalu membuangnya. Tidak mendapatkan hukuman atas tindakannya. Hanya karena kejadiannya di Taiwan. Bukti-buktinya ada di Taiwan. Hongkong hanya tempat dia melarikan diri.

Yang lebih pelik lagi, dia tidak bisa diadili di Hongkong atas kejahatan yang dilakukan di Taiwan. Yang bikin sewot kalau dia mau diadili di Taiwan, harus mengajukan visa lagi. Karena yang bersangkutan sudah keluar dari Taiwan.

Di Hongkong. Negeri yang tidak mengenal ekstradisi. Disana penjahat yang membunuh sudah bebas. Kasihan orang tua Poon Hiu-Wing, pacarnya itu.

Turut Berduka Untuk Ibu Ani

Belum lama aku mengalaminya. Kehilangan seseorang paling berharga dalam hidupku. Seorang panutan, penuntun jalan saat aku letih dan tertatih.
Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan, tetapi bagi seorang anak laki-laki, ia adalah pahlawan pertama yang mereka kenal.

Tidak ada yang lain. Tak akan pandang teralih padanya. Ia nahkoda kapal keluarga. Saat angin bertiup ia mengembangkan layar. Disisinya aku dan saudara-saudaraku merasa tenang. Ketiaknya yang hangat tempat kepala kami bersandar. Dadanya yang kuat menopang kami saat terlelap.

Bagaimana mungkin kematiannya tidak ditangisi. Bagaimana bisa ia pergi tanpa kami mengingatnya. Sesungguhnya kenangan akan ialah yang membuat air mata berlinang.

Kini sudah cukup kesedihan tertumpah. Seperti kata Gibran, kematian adalah sukacita. Seperti gemetarnya jiwa anak gembala bertemu sang Raja yang berkenan meletakkan tangan diatas kepalanya.

100 hari menjelang. Waktu yang kami lalui tanpa senyumnya. Yang tersisa hanya batu nisan dan juga kekasih hati yang kesepian. Ia yang melewati malam panjang, melanjutkan hidup sendirian, mengingat teman hidup yang telah berpulang.

Teruntuk yang berpulang hari ini. Tuhan menyayangimu ibu Ani.
Dan sang putra, aku memahami sedihmu. Semoga hari yang terlewati menghapus duka dan airmatamu.

In Memorian

IN MEMORIAN
Siang itu aku mengunjunginya. Seorang teman yang sedang sakit. Aku mendengarnya baru pulang dari Jakarta. Pengobatan serta terapi disalah satu rumah sakit terkenal disana.

Ia menyambutku saat aku datang. Dan kami duduk dikursi kayu bercat vernis diruang tamu rumahnya berhadap-hadapan.
Aku memperhatikan dia. Wajahnya terlihat pucat, garis matanya tergores gelap. Lehernya tampak kurus, terlihat lebih panjang kurasa.
“Beratku sisa 65 kilo pak Budi” katanya membuka pembicaraan, sekaligus menjawab pertanyaan dibenakku betapa cepat susut massa tubuhnya.
Tubuh pria ini kini berbeda jauh. Dulu berat badannya hampir 100 kg. Perawakannya tinggi besar meski tidak seperti pemain basket di IBL yang sering ditonton keponakanku.
“Wah langsing dong sekarang” candaku. Meski kusadari kemudian hal itu sama sekali tidak lucu.
“Yah beginilah. Ini sudah agak lumayan naik. Lebih mending dari bulan lalu pas abis kemoterapi yang ke-7 itu.”

Aku mengenang temanku ini. Kami bertemu karena adanya hubungan pekerjaan. Setidaknya 2 tahun kami berkantor di gedung yang sama. Sebab itu ia memanggilku pak Budi, bahkan sampai saat ini, entah tidak tahu mengapa padahal kami sudah tidak ada hubungan pekerjaan atau bisnis.
Ketika melihatnya penilaianku orang ini mempunyai fisik yang luar biasa. Selalu punya energi berlebih. Mungkin juga terlatih dari aktivitas berjualannya dari satu daerah ke daerah lain yang dilakoninya hampir satu dekade lamanya.

Seiring waktu kutahu selain bekerja di perusahaannya, seringkali pada hari minggu atau hari libur ia mengendarai motornya untuk mengantar barang pesanan pelanggan. Bukan produk perusahaan tapi barang yang ia datangkan sendiri dari suatu daerah untuk dijual di Pontianak. Tidak hanya itu terkadang ia juga menempuh perjalanan jauh untuk ikut mencari dan lalu menjual ikan-ikan hias kepada para pehobi hewan air itu. Dapat uangnya cukup banyak, tetapi tidak selalu ada permintaan.

Itu dulu. Pria energik iti kini melemah. Tubuhnya digerogoti oleh sel-sel jahat, yang bermutasi dan tumbuh tidak terkendali. Menyebar melalui aliran darah, menjangkiti organ-organ tubuh, membuat sistem pertahanan tubuh tidak berdaya.

Kanker nama sel-sel jahat itu. Bertumbuh di usus besar. Sangat berbahaya. Dokter menyebutnya kanker kolorektal. Kanker pembunuh nomor dua, yang menyebabkan 655 ribu kematian setiap tahunnya.
Dunia seperti kiamat baginya. Rasa tidak percaya ketika vonis dokter 1 tahun yang lalu. Hal yang semula dirasa sakit perut biasa menyimpan bom waktu yang akan meledak. Entah kapan. Tapi waktunya pasti akan tiba.
Berbagai upaya dilakukan sesudah itu. Semua dokter dan rumah sakit yang bagus didatangi. Mencari sesuatu yang bernama kesembuhan. Untuk seorang pria, seorang suami dan juga seorang ayah bagi putranya yang masih kecil.

“Sekarang sih agak banyak makan buah, kalau makan yang berat-berat ga bisa banyak” katanya memecah lamunanku.
“Perutku selalu sakit, kadang sakitnya naik ke ulu hati. Terus-terusan. Kadang-kadang sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Kalau terbangun aku minta istriku ambilkan balsem dan menggosoknya diperutku. Tebal-tebal. Rasanya pedas. Saking pedasnya kulitku menjadi mati rasa.”
“Percaya tidak, balsem Geliga ini habis aku pakai kurang dari seminggu” lanjutnya terkekeh.”Jadi kalau mau beli harus beli satu kotak biar stoknya cukup untuk beberapa bulan”
Aku ikut tertawa kecil mendengar guyonannya.

Kami berbincang banyak hal. Soal pekerjaannya. Benar. Ia masih bekerja. Bosnya tidak sampai hati memecat dia. Setidaknya dengan bekerja meski tidak datang ke kantor ia masih mendapat pendapatan bulanan. “Aku juga tidak bisa diam saja, setidaknya dengan buat data dan laporan, otakku tetap jalan. Toh aku juga masih butuh uangnya” begitu jawabnya ketika kutanya. Diplomatis.
Juga soalnya kekhawatirannya akan anak satu-satunya itu. Anaknya yang belum bisa mengikuti pelajaran. Yang guru lesnya malah mengajar bahasa inggris 2 kata, ketimbang mengajarkan bahasa indonesia.

Meski begitu aku melihatnya tegar. Pria ini sudah bisa mengatur emosinya. Aku melihat manusia yang semangat untuk bertahan hidup. Menganggap sakit adalah keniscayaan, berat ringannya, sembuh atau tidak bisa disembuhkan. Dan dia yang selalu melihat setiap cahaya matahari pagi sebagai harapan. Harapan akan mukjizat yang datang. Jamahan Tuhan yang mengangkat penderitaan.
Hampir 2 jam kami berbicara, aku mohon pamit. Dia mengatakan ada rencana lagi untuk ke Jakarta. Ke Dharmais. Rumah sakit kanker itu.
Aku menguatkannya. Kukatakan aku mendoakan semua berjalan lancar dan ia diberi kesembuhan.
…….
Bulan Desember sudah separuh berjalan. Tidak lama perayaan tahun baru akan menjelang. Semua orang menyiapkan diri. Membuat rencana pelesiran, bakar-bakaran dan acara lainnya.
Pagi berita itu datang. Sang teman sudah berpulang. Perjuangan lama dan melelahkan sudah berakhir. Ia sudah tenang, kembali ke Bapa yang punya kehidupan. Bersama-Nya menikmati keabadian.
Perjalanan hidupnya tidak panjang. Akan tetapi akan ada banyak hal yang dapat dikenang.
……

L.U.P.A

“Mana kweetiaunya?” tanya istriku saat kaki menjejak rumah.
Aku menepuk dahi. Lupa. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir.
Mendengar aku pulang, jagoan kecil ikut keluar kamar sambil membawa Ipad kesayangannya. Yang pecah touchscreen kiri atasnya. Yang saat itu meluncur mulus ke keramik ruang tamu kami. Yang diiringi dengan teriakan histeris sang mama.
Sunyi seketika. Aku melihat kedua orang itu. Keduanya memandang ganas. Aku menangkap tanda bahaya disini.
Tidak ada pilihan lain. Aku berbalik keluar. Menggeber motor keluar kompleks. Tidak kulihat seseorang menyebrang, sesosok pria, karyawan KFC, yang outletnya buka didepan kompleks kami.
Ia berteriak histeris, suaranya melengking, sopran. Mirip suara Lucinta Luna yang lagi kena prank.
Untung dia segera menarik kakinya yang terlanjur melangkah. Untungnya lagi tidak ada makian keluar dari mulutnya.
Tiga menit aku sudah sampai di abang tukang kweetiau langganan kami. Pemiliknya anak muda. Kunilai cukup sukses. Setidaknya dari emperan kini sudah sewa ruko sendiri. 60 juta setahun. Yang menuntutnya buka lebih siang. Dari jam 5 sore jadi jam 2 siang.
“Bang, 2 bungkus kweetiau goreng ya. Telur ceplokin didalam.” kataku dengan nafas terengah-engah.
“Oke. Kenapa kayaknya buru-buru ko?” tanyanya sambil tetap sibuk dengan spatulanya yang menari-nari diatas wajan.
“Iya nih bang. Orang rumah udah pada la….!”, aku belum selesai menjawab karena abang Gojek yang sejak tadi dibelakang keburu menyerobot.
Aku memandang sekeliling. Si abang kweetiau kini juga jualan capchai, juga nasi goreng seafood. Hire satu orang. Mirip Juna, si dedengkot Master Chef itu. Tapi bukan gantengnya yang bikin emak-emak pada klepek-klepek. Kebetulan saja punya tato dibelakang siku, plus anting bulat di telinga kiri.
Tidak lama kweetiau pesananku sudah dibungkus. Kukeluarkan beberapa lembar uang 5000an untuk membayar.
“Maaf tadi agak ramai ya ko?. Jadinya ga sempat ngobrolnya”
“Ga apa-apa bang.”
“Tadi saya nanya sama koko kok kayaknya terburu-buru” lanjut si abang.
“Iya bang. Orang rumah udah lapar, makanya cepat-cepat kesini. Emang tadi agak ngebut bawa motornya. Tapi kok abang tau ya?.
Si abang tertawa kecil. “Oalah bagaimana bisa ga tau ko. Kokonya bawa motor, pakai helm udah bener. Tapi.. kok kesininya nyeker, hahaha..” kata si abang kweetiau tidak mampu menahan tawanya.
Aku menoleh ke arah kakiku. Polos. Tanpa alas kaki. Anjirrr….Sekali lagi dahi kutepuk. Kini lebih keras. Mestinya kemerahan. Aku kembali lagi, sekali lagi LUPA…
……..

𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘴𝘢𝘪𝘯𝘴 𝘗𝘳𝘰𝘧 𝘛𝘢𝘳𝘶𝘯𝘢 𝘐𝘬𝘳𝘢𝘳, 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘰𝘵𝘢𝘬. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭, 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢, 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴𝘮𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘴𝘱𝘦𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘴𝘪𝘬𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘧𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘵𝘰𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘳𝘪-𝘤𝘪𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘭 𝘈𝘭𝘻𝘢𝘩𝘦𝘪𝘮𝘦𝘳.
𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘬𝘶𝘯. 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘴𝘢𝘪𝘯𝘴, 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘛𝘢𝘳𝘶𝘯𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘴𝘪𝘴 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘯.
𝘕𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘪𝘢𝘵-𝘬𝘪𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭-𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘯𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘰𝘵𝘢𝘬.
“𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘐𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘯𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵, 𝘺𝘢𝘬𝘯𝘪 (𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨) 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘪𝘯-𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘨𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘧,” 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘗𝘉 𝘐𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 (2000-2003).

𝘋𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘦𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬𝘢.𝘤𝘰.𝘪𝘥

Situs Oleh-olehpontianak.com

Baru-baru ini saya membuat situs baru untuk penjualan online produk makanan khas Pontianak seperti Stick Talas, Lempok Durian, dan lain-lain. Perlu waktu lebih dari 3 hari sampai situs dan contentnya benar-benar selesai dengan sempurna. Cukup melelahkan, tapi rasa senang tercipta setelah semuanya beres.

Lalu coba untuk daftar hosting gratis. Saya cek sebelumnya untuk hosting dan domain setahun paling murah sekitar Rp. 400 ribu. Waduh lumayan juga. Setelah dipikir-pikir dan keliling-keliling google, nemu juga hosting gratis yang cukup powerful dari spesifikasi maupun review dari usernya.

Dari harga Rp. 400an ribu/tahun dengan hosting dan domain, saya cuma beli domain aja Rp. 95 ribu/tahun. Meski tau juga kalau namanya yang gratis pasti kualitasnya jauh dari yang berbayar. Domain yang dipilih adalah www.oleh-olehpontianak.com. Kenapa pilih www.oleh-olehpontianak.com?. Alasanya karena yang mau saya jual melalui situs ini adalah makanan/oleh-oleh khas pontianak. Pengalaman sebelumnya jualan di Kaskus coba mau diterapkan pada situs toko online mandiri yang tentu saja dari segi akses dan juga ranking SEO masih parah, tapi pikiran saya kalau situs ini nantinya exist maka orang lebih percaya untuk transaksi, semacam ada official sitenya. Wkwkkwk…

oleh-olehpontianak

Bicara lagi tentang upgrade isi dan juga SEO?. Jujur dulunya ga ngerti banget apa itu SEO. Baru setelah sekian lama dan juga googling akhirnya tau juga istilah “makhluk” itu. Jika kita mau nangkring diposisi atas mesin pencari Google, maka mau tidak mau kita harus melakukan SEO, mengoptimasi situs web kita agar mudah dirayapi oleh laba-laba pencari dari Om Google. Sehingga dengan sendirinya jika situs kita berada dihalaman pertama sampai ketiga maka peluang situs kita dikunjungi lebih besar. Dengan dikunjungi maka kemungkinan pembelian jauh lebih juga.

Kenapa kategorinya halaman pertama sampai halaman ketiga?. Ini karena kebiasaan kebanyakan pengguna internet menggunakan mesin pencari Google. Paling banter buka sampai halaman tiga, jika tidak ketemu apa yang dimau tinggal close dan cari dengan keyword baru.

Harapannya sih situs www.oleh-olehpontianak.com semakin dikenal dan juga dipercayai oleh banyak orang untuk pembelian produk-produk khas Pontianak yang dijual disana. Semoga.

Enterpreneurship, Maju atau Jalan ditempat.

Akhir-akhir ini banyak media baik cetak ataupun elektronik ramai-ramai membahas tentang enterpreneurship atau kewirausahaan. Profil mereka yang sukses berbisnis ditampilkan disertai tips-tips bagi siapapun yang ingin memulai bisnis. Tentu saja hal ini sangat menggoda, tapi apakah hal tersebut menambah jumlah pebisnis baru secara signifikan.

Dalam teori ekonomi, negara yang mempunyai fondasi ekonomi yang kuat adalah dimana banyaknya atau semakin bertambahnya pebisnis-pebisnis baru dalam bidang bisnis yang umum maupun bisnis kreatif. Dan karena itu untuk menghindari krisis ekonomi yang sering menyerang negara-negara berkembang, maka dinegeri ini juga seharusnya digalakkan program-program yang memihak kepada calon-calon pengusaha baru.

Dan pertanyaannya sekarang apakah sudah banyak orang yang sudah memulai berbisnis dan apakah pemerintah juga memberikan kemudahan-kemudahan bagi para calon pebisnis baru.

Untuk pertanyaan pertama sebelum menjawabnya kita harus kembali melihat kebiasaan atau pendapat banyak orang dimasyarakat. Meski mengetahui bahwa berbisnis adalah salah satu cara untuk mencapai jaminan finansial yang cukup tapi tetap saja pendapat-pendapat negatif sering diucapkan, mereka mengatakan bahwa berbisnis itu sulit, penuh resiko, kalau salah urus bisa bangkrut, perlu modal besar dan seterusnya. Bukankah kata-kata itu biasa kita dengar. Dan jangan salah mungkin anda pernah mendengarnya justru dari orang terdekat anda sendiri. Kesimpulannya pengusaha adalah tipe orang yang mampu mendobrak keterbatasan, kekangan serta pendapat yang menjatuhkan untuk mencapai tujuannya. Jadi sebelum berbisnis kita harus mengesampingkan dulu pendapat-pendapat diatas.

Paling penting dalam berbisnis adalah selalu belajar baik dari buku maupun langsung dari orang yang sudah sukses dibidang yang kita geluti. Dunia informasi yang semakin maju memberikan kita kemudahan dalam mendapatkan informasi profil orang-orang yang sudah sukses dibisnisnya. Terkadang mereka juga bercerita tentang pengalaman jatuh bangunnya serta titik dimana mereka menginjakkan kaki disukses yang dituju. Banyak orang juga tidak segan berbagi tips-tips untuk memulai dan menjalankan bisnis. Diforum-forum internet bisa kita temui orang-orang yang saling bertukar pendapat mengenai pengalaman, tips, kendala mereka dalam berbisnis.

Saya sendiri yakin bahwa jumlah enterpreneur di Indonesia semakin bertambah. Hal ini didasari semakin banyak industri-industri kreatif yang terus tumbuh. Ketersediaan pasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan masyarakat menjadi peluang bagi banyak orang menemukan cara-cara baru menciptakan produk.

Pertanyaan kedua mungkin tidak kalah penting. Ya apakah dukungan pemerintah sudah maksimal. Kalau menurut saya dukungannya sudah lebih baik walaupun bisa dikatakan belum maksimal. Misal dalam hal permodalan, dimana kalau dulu bank sangat selektif dalam memberikan pinjaman apalagi kepada pengusaha kecil. Tapi kini banyak kita temui bank-bank atau juga institusi keuangan lain yang mempunyai divisi yang mengurusi permodalan untuk usaha kecil dan menegah. Meski begitu bank juga terlihat masih ragu untuk fokus pada hal itu. Kalau kita lihat belum semua bank memberikan dukungan permodalan serta pelayanan yang masih terbatas dan belum tersebar disemua wilayah membuat perkembangan kewirausahaan juga terbatas didaerah-daerah tertentu saja. Dalam hal ini pemerintah sebagai induk daripada sebuah negara mestinya berperan lebih besar. Mereka seharusnya mempunyai program yang mendukung enterpreneurship dan juga pelatihan-pelatihan, kemudahan dalam perijinan, serta dukungan lain yang memberikan kemudahan bagi calon pengusaha ataupun yang sudah menjadi pengusaha untuk lebih berperan lagi dalam perekonomian dinegerinya sendiri.

Tulisan ini hanya pendapat pribadi penulis yang juga berlatar belakang pengusaha.

Semoga bermanfaat.

Talk About Wirausaha Muda Mandiri

Sebuah buku karya Rhenald Kasali, seorang doktor dan juga seorang penulis menjadi bahan bacaan saya beberapa hari ini. Buku ini ditulis dan dirangkum Rhenald sebagai hasil dari kontes atau lomba sebuah program yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri, yaitu Wirausaha Muda Mandiri. Lomba ini diikuti oleh peserta dari segala penjuru nusantara.

Saya ingat dulu di Metro Tv juga ditayangkan mengenai profil peserta pada hari Minggu. Saat itu saya menjadi salah satu penggemar setia tayangan ini. Pembawa acaranya adalah Dian Sastro dan Rhenald Kasali

Kisah tokoh yang disarikan oleh Rhenald dalam buku tersebut sungguh sangat inspiratif.  Bagaimana tidak, dengan usia yang masih sangat belia, mereka sudah dapat berkarya jauh kedepan sebagai pengusaha. Mereka tipe orang yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu berinovasi. Tapi dibalik kesemuanya itu banyak visi mulia yang mendasari mereka untuk berubah kuadran menjadi pengusaha. Ada yang selama hidupnya didera kemiskinan, ada juga yang ingin membahagiakan orang tua dan keluarga, sebagian lagi ingin menunjukkan kepada orang lain yang pernah merendahkan mereka atas apa yang mereka pernah perjuangkan.

Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang muda yang memulai usaha dari nol. Perjuangan mereka melalui trial dan error serta pengorbanan waktu dan tenaga membuat perusahaan yang mereka dirikan menggurita sampai menghasilkan puluhan juta sampai milyaran rupiah perbulan. Mengagumkan!.

Elang Gumilang, Hendi Setiono, Yoris Sebastian, sampai Riezka Rahmantiana. Mereka adalah sebagian deretan orang muda dengan prestasi mengkilap dalam dunia usaha. Mereka mampu mengombinasikan bakat yang ada dengan kreativitas dalam mewujudkan impiannya.

Elang Gumilang yang diusia 25 tahun sudah bisa mempunyai perusahaan developer yang membangun perumahan sederhana bagi masyarakat miskin. Omsetnya kini bernilai milyaran rupiah. Yang perlu diapresiasi kisah suksesnya ternyata diawali dari menjual donat, sepatu, sampai ayam potong serta memenangkan beberapa perlombaan untuk modal usahanya.

Hendi Setiono (28) lain lagi, ia adalah orang yang ahli menangkap peluang. Makanan kebab yang menjadi makanan khas negara kawasan Timur Tengah diboyongnya ke Indonesia dengan penyesuai rasa agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Keunikan rasa serta pengemasan produk yang menarik membuatnya tidak butuh waktu lama mengembangkan tren makan kebab. Saat ini ia sudah memiliki 375 outlet diseluruh penjuru nusantara. Prestasinya ini tidak kurang diganjar banyak penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri, diantaranya Asia Pacific Entrepreneur Awards dan Juara I Wirausaha Muda Mandiri.

Riezka (24), seorang mahasiswi di Yogyakarta sedari usia belia sudah mempunyai jiwa bisnis. Berawal dari menjual pulsa elektronik, kini unit usahanya berkembang menjadi berkembang pesat diantaranya bisnis laundry, cafe dan yang saat ini identik dengan dirinya adalah franchise pisang ijo JustMine yang dalam waktu singkat membuat banyak orang antri ingin menjadi francishornya. Kini dalam sebulan tidak kurang puluhan juta rupiah ia kumpulkan dari bisnisnya.

Parade orang -orang muda sukses diatas menurut Rhenald tidak hanya sukses dalam bisnis tapi mereka juga menemukan passion mereka dalam bisnis yang mereka geluti. Tapi apakah mereka tidak pernah gagal?. Dalam buku ini selain menceritakan suksesnya, Rhenald juga menceritakan dan mewawancarai lebih dalam terhadap orang-orang tersebut mengenai kisah gagal mereka. Ada yang baru memulai langsung bangkrut, ada juga yang menjalani banyak usaha tetapi akhirnya tutup karena sepi dan ketiadaan modal. Tapi kini kegagalan mereka bermuara pada sukses yang akhirnya diprofilkan dalam buku tersebut.

Disetiap bab yang menampilkan parade orang-orang muda sukses itu (totalnya ada 24 orang), Rhenald juga memberikan tips-tips yang menjadi dorongan bagi pembacanya untuk memulai bisnis ketika usia masih muda. Ia juga menekankan pentingnya membaca peluang dan mempunyai jiwa kreatif dalam membangun bisnis. Dan paling penting menurut Rhenald jangan takut memulai dari kecil, tetapi takutlah bila kita tidak pernah bergerak menuju impian yang kita cita-citakan.

*) Cerita tentang anak muda yang memulai bisnis pernah saya tulis di blog saya di https://rafaelbudi.wordpress.com/2007/09/17/cara-konkrit-bikin-duit/