Experience

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kenaikan harga?

Suatu pagi saya bangun dengan kepala berat. Bukan karena mimpi buruk atau salah tidur. Tapi kenyataan bahwa hari ini saya harus menghadapi kenyataan akan adanya kenaikan harga untuk produk yang saya jual yang bervariasi berkisar 10-30%.

Oo cuma itu, bukankah kenaikan harga itu biasa dan lumrah dalam setiap proses penjualan?. Memang jika dipikir kembali itu adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi yang menjadi pemikiran saya adalah tingginya harga kenaikan itu. Ada produk yang naik 15%, 20% bahkan ada yang naik sampai 30%. Yang lebih menyesakkan lagi adalah kenyataan bahwa saya akan kesulitan menjual dengan kenaikan harga tersebut. Hal ini dikarenakan produk kompetitor tidak menaikkan harga produk mereka, atau boleh dikatakan produk saya jatuhnya lebih mahal. Padahal secara kualitas dan nama besar produk, produk saya masih kalah jauh dengan kompetitor. Tentu suatu pukulan berat bagi kelancaran bisnis saya.

Produk saya ini, yang bersifat produk toiletries, merupakan salah satu produk andalan yang saya anggap bisa mendongkrak bisnis saya. Suatu impian bahwa melalui penjualan produk ini, perusahaan saya akan semakin meningkat. Sejak awal produk ini memang menawarkan margin yang kompetitif serta harga yang bisa saya katakan masih bisa bersaing dengan kompetitor. Adapun kompetitor sendiri adalaha para pemain besar dinegeri ini. Mungkin juga itu yang menyebabkan imbas krisis bahan baku yang terjadi mampu mereka bendung sehingga produknya tidak mengalami kenaikan.

Saya sudah mencoba menghitung harga jual saya dengan margin yang ambil lebih rendah dari sebelumnya, tapi saya juga kecewa karena dengan harga tersebut untuk beberapa item harganya malah sama dengan harga jual kekonsumen. Tentu menjadi suatu tertawaan jika suatu produk yang berkualitas sedikit lebih rendah dijual lebih mahal.
Kebijakan principal menaikkan harga tersebut menurut mereka adalah ketidakmampuan mereka untuk bertahan lagi dari kenaikan harga bahan baku yang berkisar 30-40%. Saya bisa memahami tentang hal tersebut, apalagi pihak principal juga menghidupi banyak pekerja dari bisnis ini, tentu saja mereka juga memikirkan kelangsungan bisnis mereka. Tapi tentu saja menjadi anomali ketika produknya mengalami kenaikan yang begitu drastis.

Dalam perjanjian penunjukkan distributor, saya memang sudah diberikan margin regular, tetapi margin tersebut tidak bisa saya nikmati karena margin tersebut sudah habis jika dipotong biaya pengiriman dari Jakarta ketempat saya. Sekali lagi yang menjadikan harga tidak terkendali adalah karena biaya kirim yang harus saya tanggung. Padahal untuk produk kompetitor, pihak principal memberikan subsidi biaya kirim kepada pihak distributor didaerah. Artinya dalam hal ini saya mengalami dua kali kekalahan, selain harga yang lebih mahal, saya juga harus menanggung biaya kirim yang bisa naik kapan saja.

Terkadang saya mencoba berpikir realistis agar menghentikan saja sementara penjualan produk ini. Artinya saya juga tidak akan melakukan pemesanan produk lagi kepada principal. Ini saya anggap sebagai bentuk komplain saya atas kebijakan principal. Saya berharap mereka juga bisa mendengarkan keluhan-keluhan dari saya. Memang sih kemudian mereka memberikan kompensasi berupa bonus produk untuk setiap pembelian saya, apakah ini membantu?. Sedikit, mungkin itu jawaban yang tepat. Ya karena pengaruh discount itu diharga sangat kecil, tetap saja kenaikan itu menjadi suatu hal yang memberatkan.

Terakhir saya tetap melakukan pemesanan barang tetapi nilainya saya kurangi, ini sebagai antisipasi jika produk saya tidak jalan akibat penetapan harga ini. Saya ingin melihat respon pasar terlebih dahulu. Perkembangan mengenai hal ini akan saya ceritakan lagi dipostingan berikutnya.

Iklan
Standar
Umum

Talk About Wirausaha Muda Mandiri

Sebuah buku karya Rhenald Kasali, seorang doktor dan juga seorang penulis menjadi bahan bacaan saya beberapa hari ini. Buku ini ditulis dan dirangkum Rhenald sebagai hasil dari kontes atau lomba sebuah program yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri, yaitu Wirausaha Muda Mandiri. Lomba ini diikuti oleh peserta dari segala penjuru nusantara.

Saya ingat dulu di Metro Tv juga ditayangkan mengenai profil peserta pada hari Minggu. Saat itu saya menjadi salah satu penggemar setia tayangan ini. Pembawa acaranya adalah Dian Sastro dan Rhenald Kasali

Kisah tokoh yang disarikan oleh Rhenald dalam buku tersebut sungguh sangat inspiratif.  Bagaimana tidak, dengan usia yang masih sangat belia, mereka sudah dapat berkarya jauh kedepan sebagai pengusaha. Mereka tipe orang yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu berinovasi. Tapi dibalik kesemuanya itu banyak visi mulia yang mendasari mereka untuk berubah kuadran menjadi pengusaha. Ada yang selama hidupnya didera kemiskinan, ada juga yang ingin membahagiakan orang tua dan keluarga, sebagian lagi ingin menunjukkan kepada orang lain yang pernah merendahkan mereka atas apa yang mereka pernah perjuangkan.

Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang muda yang memulai usaha dari nol. Perjuangan mereka melalui trial dan error serta pengorbanan waktu dan tenaga membuat perusahaan yang mereka dirikan menggurita sampai menghasilkan puluhan juta sampai milyaran rupiah perbulan. Mengagumkan!.

Elang Gumilang, Hendi Setiono, Yoris Sebastian, sampai Riezka Rahmantiana. Mereka adalah sebagian deretan orang muda dengan prestasi mengkilap dalam dunia usaha. Mereka mampu mengombinasikan bakat yang ada dengan kreativitas dalam mewujudkan impiannya.

Elang Gumilang yang diusia 25 tahun sudah bisa mempunyai perusahaan developer yang membangun perumahan sederhana bagi masyarakat miskin. Omsetnya kini bernilai milyaran rupiah. Yang perlu diapresiasi kisah suksesnya ternyata diawali dari menjual donat, sepatu, sampai ayam potong serta memenangkan beberapa perlombaan untuk modal usahanya.

Hendi Setiono (28) lain lagi, ia adalah orang yang ahli menangkap peluang. Makanan kebab yang menjadi makanan khas negara kawasan Timur Tengah diboyongnya ke Indonesia dengan penyesuai rasa agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Keunikan rasa serta pengemasan produk yang menarik membuatnya tidak butuh waktu lama mengembangkan tren makan kebab. Saat ini ia sudah memiliki 375 outlet diseluruh penjuru nusantara. Prestasinya ini tidak kurang diganjar banyak penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri, diantaranya Asia Pacific Entrepreneur Awards dan Juara I Wirausaha Muda Mandiri.

Riezka (24), seorang mahasiswi di Yogyakarta sedari usia belia sudah mempunyai jiwa bisnis. Berawal dari menjual pulsa elektronik, kini unit usahanya berkembang menjadi berkembang pesat diantaranya bisnis laundry, cafe dan yang saat ini identik dengan dirinya adalah franchise pisang ijo JustMine yang dalam waktu singkat membuat banyak orang antri ingin menjadi francishornya. Kini dalam sebulan tidak kurang puluhan juta rupiah ia kumpulkan dari bisnisnya.

Parade orang -orang muda sukses diatas menurut Rhenald tidak hanya sukses dalam bisnis tapi mereka juga menemukan passion mereka dalam bisnis yang mereka geluti. Tapi apakah mereka tidak pernah gagal?. Dalam buku ini selain menceritakan suksesnya, Rhenald juga menceritakan dan mewawancarai lebih dalam terhadap orang-orang tersebut mengenai kisah gagal mereka. Ada yang baru memulai langsung bangkrut, ada juga yang menjalani banyak usaha tetapi akhirnya tutup karena sepi dan ketiadaan modal. Tapi kini kegagalan mereka bermuara pada sukses yang akhirnya diprofilkan dalam buku tersebut.

Disetiap bab yang menampilkan parade orang-orang muda sukses itu (totalnya ada 24 orang), Rhenald juga memberikan tips-tips yang menjadi dorongan bagi pembacanya untuk memulai bisnis ketika usia masih muda. Ia juga menekankan pentingnya membaca peluang dan mempunyai jiwa kreatif dalam membangun bisnis. Dan paling penting menurut Rhenald jangan takut memulai dari kecil, tetapi takutlah bila kita tidak pernah bergerak menuju impian yang kita cita-citakan.

*) Cerita tentang anak muda yang memulai bisnis pernah saya tulis di blog saya di https://rafaelbudi.wordpress.com/2007/09/17/cara-konkrit-bikin-duit/

Standar
Umum

Journey To The Personal Dream

Beberapa hari ini saya sangat disibukkan dengan rutinitas baru. Resign dari pekerjaan dan menjadi “pengangguran” sungguh memerlukan adaptasi yang luar biasa. Saya yang terbiasa sebagai orang kantoran dengan jam kerja “eight to five” atau bahkan lebih dihadapkan pada waktu kerja yang unlimited. Artinya mau kerja ya kerja, tidak mau kerja ya terserah. Terdengar enak memang, tapi jika menuruti keinginan bermalas-malasan maka tidak ada hal yang akan terjadi. Dream is out there and it needs to be achieved.

Keluar dari pekerjaan sebagai seorang Area Sales Manager disebuah perusahaan toiletris yang setelah mengabdi selama 2 tahun memang suatu keputusan sulit dan berat. Banyak orang bertanya apakah yang saya kejar sehingga meninggalkan posisi yang katanya diincar banyak orang itu. Sehingga tidak heran begitu saya keluar konon kabarnya bertumpuk surat lamaran tersebar di meja Regional Manager. Some people say “Are you crazy Bud?”. Yes, i am crazy and almost mad. Ada yang paham dan mensupport langkah yang saya ambil, sebagian lagi mencoba mempengaruhi pikiran saya (utamanya orang-orang kantor). Ah its difficult choice.

Memang pilihan saya memulai usaha sendiri dan meninggalkan segala posisi dan jabatan sudah saya pertimbangkan masak-masak. Ada sebuah alasan tentunya. Impian itu terus menghantui saya. Its haunting me. Ya, saya ingin mengejar mimpi saya sendiri. Mungkin karena selama ini saya banyak membantu orang lain mengejar mimpinya. Tetapi mengapa mimpi sendiri tidak berani diwujudkan.Ah itu sih alasan klise. Bicaramu terlalu tinggi.

Tapi terserahlah. Tidak ada kata mundur lagi, no way back. Saya sudah meninggalkan kantor di Surabaya dan menetap Pontianak saat ini. Menekuni dan mencurahkan pikiran pada usaha yang masih seumur jagung (bahkan baru berupa biji jagung). Tapi suatu keoptimisan, suatu keyakinan, suatu mimpi yang menguatkan saya bahwa saya pantas memperjuangkan mimpi saya. Mengelola diri sendiri, bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Yang lebih luasnya lagi menjadi berkat bagi masyarakat, membuka lapangan kerja yang besar serta berkontribusi pada kegiatan-kegiatan sosial. Tentunya semua itu membutuhkan biaya dan tekad, dan saya akan mewujudkan mulai sekarang. My success is starts from now.

 

Standar
Opinion

The Power Of Kepepet

Sebuah buku menarik hati saya ketika berkunjung di Toko Buku Gramedia Pontianak. Tanpa berpikir lagi sayapun membayar harga buku tersebut dan membawanya pulang. Buku itu berjudul The Power Of Kepepet karya seorang pengusaha yang juga trainer Jaya Setiabudi. Dihalaman sampulnya tertulis tagline Cara Tercepat Terampuh Jadi Enterpreneur! Dijamin!!!. Sungguh sebuah buku yang pasti menarik bagi setiap orang yang memiliki impian menjadi pengusaha.

Menurut Jaya Setiabudi, ilmu kepepet ini merupakan cara lama, bukan ilmu atau hasil dari pemikiran baru, tapi menurutnya ilmu ini merupakan cara yang ampuh untuk menuntun atau lebih tepatnya dikatakan “memaksa orang” untuk mengeluarkan kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk mewujudkan apa yang diinginkan.

Jaya mencontohkan sebuah kasus. Yang pertama jika kita yang mempunyai gaji 5 juta perbulan sebagai seorang karyawan, tapi di pkl 09.00 esok hari harus menyediakan uang 50 juta rupiah sebagai modal usaha, maka mayoritas dari kita akan menjawab tidak mungkin.

Tapi jika sudut pandang kasusnya diubah. Permintaan uang dengan nilai yang sama tetapi dengan latar belakan berbeda, dimana anda harus menyediakan uang sebanyak 50 juta rupiah esok hari pada pkl 09.00 yang akan digunakan sebagai biaya operasi anak kita tersayang, yang jika tidak dioperasi maka akan berakibat fatal. Jika kasusnya begitu maka mayoritas dari kita akan mengatakan bisa karena kondisi sense of urgency begitu besar. Kita tidak diberi pilihan mau tidak mau harus bisa. Kondisi kepepet seperti contoh diatas dapat dijadikan sebuah latar belakang bagi kita untuk memulai usaha dimana kendala modal menjadi permasalahan.

Jaya melanjutkan untuk menciptakan kondisi kepepet, kita bisa lakukan dengan dua cara yaitu kepepet secara imaginasi dan kepepet secara fisik. Kepepet secara imaginasi adalah menciptakan pemikiran dan membayangkan seolah-olah hal yang paling urgen tersebut terjadi pada kita, sehingga mau tidak mau kita harus berubah mengikutinya. Caranya bisa membayangkan misal kita datang kekantor dan menemukan sebuah surat meminta kita menghadap kepimpinan yang kemudian menyampaikan kabar buruh bahwa perusahaan melakukan perampingan karyawan dan kita menjadi salah satunya yang di PHK. Ciptakan kondisi tersebut seolah nyata karena otak bawah sadar tidak bisa membedakan mana imaginasi dan mana yang nyata.

Kepepet secara imaginasi terkadang kurang kuat untuk memaksa kita keluar dari comfort zone kita. Oleh karena itu maka bisa kita lakukan cara kepepet secara fisik, misal dengan berhutang untuk modal usaha, dengan begitu maka kita termotivasi untuk mengembalikannya. Atau jika kita karyawan, maka kita melakukan pengunduran diri dari perusahaan. Purdi E Chandra, pendiri Primagama dan Enterpreneur University mengatakan bahwa ia sangat senang jika menerima sms dari seseorang yang mengatakan ia baru saja mengundurkan diri sebagai karyawan. Bukan berarti tidak simpati, tetapi menurutnya dengan berpijak pada kaki sendiri maka kita memperjuangkan impian kita bukan impian orang lain.

Dibuku ini juga Jaya Setiabudi memaparkan tentang prinsip orang yang ingin terjun sebagai pengusaha, misal prinsip nggak pakai tapi atau prinsip ngeyel. Artinya setiap calon pengusaha tidak boleh menggunakan banyak kata excuse (pembelaan diri) atau alas an-alasan dan juga harus ngeyel (persistensi) untuk menemukan hal-hal yang mendukung usaha yang ingin dibangun.

the-power-of-kepepet

Banyak lagi ilmu dan pemaparan dari Jaya Setiabudi yang saya rasa sangat bergizi bagi kita yang ingin membuka usaha tetapi masih bingung. Ia mengajarkan bagaimana mencari modal, cara berhutang yang efektif serta trik-trik misal bagaimana beli rumah gratis. Diakhir buku Jaya memberikan satu kalimat sakti untuk para pembaca yaitu TAKE ACTION, MAKE IT HAPPEN yang artinya jika kita memiliki impian maka kita harus berubah/beraksi mulai dari sekarang untuk memulai meraihnya. Umur kita terasa begitu pendek, hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa semua halnya berubah dengan pasti, tapi apakah kita membiarkan semuanya berubah sedangkan kita tidak bergerak alias diam.
Profil Jaya Setiabudi bisa diketahui lebih lanjut pada websitenya di Yukbisnis.com.

Standar
Experience

Sisi Kreatif dan Nyeleneh Pebisnis Sukses

Kemarin, saya berkunjung kesalah satu langganan perusahaan kami. Sudah lebih dari setahun saya tidak pernah ketokonya lagi. Pemiliknya bernama Ali dan usianya kurang dari 40 tahun. Ia merupakan salah satu pemain bisnis ATK terbesar di kota ini. Bermacam-macam item kebutuhan kantor dan komputer tersedia ditokonya.

Memasuki tokonya tampak ada beberapa perubahan susunan barang-barang yang dipajang di tokonya. Sayapun bertanya kepada karyawannya apakah Pak Ali ini ada ditempat. Sang karyawan pun menunjuk kearah belakang etalase, rupanya disana sang bos sedang menyusun pajangan barang dietalase. Sambil melongok keatas ia pun menyapa saya terlebih dahulu sambil bertanya kabar saya.

Saya sedikit terkejut, karena sang pemilik toko ini masih mengenali saya meski saya sudah lama tidak ketokonya. Lebih terkejut lagi karena ia yang memanggil saya terlebih dahulu. Lalu Pak Ali ini pun mempersilahkan saya duduk dan bicara mengenai perkembangan bisnisnya. Iapun bercerita tentang keberhasilannya menjadi distributor produk kertas fotokopi nasional baru-baru ini. Terkadang terdengar kata-kata yang bernada arogan yang terlontar dari mulutnya. Ya, tentang bagaimana ia memenangkan persaingan dalam mendapatkan hak distribusinya, tentang saingan-saingannya yang dianggapnya seperti sapi ompong, dimana mereka semua itu melakukan cara-cara dan strategi lama yang ketinggalan zaman dan sudah bisa dibaca sehingga akhirnya harus gigit jari.

success_failure

Saya mendengarkan dengan seksama ceritanya. Terkadang malas juga mendengar kata-katanya yang meremehkan orang lain serta menganggap ia adalah yang paling sempurna. Meski begitu saya juga mengagumi sosok satu ini. Jika menilik pada tahap awal pengembangan bisnisnya hingga bisa menggurita sampai saat ini pastilah banyak orang yang akan terkesima dan banyak orang yang ingin mendengarkan kisah suksesnya. Ya, ia memulai bisnis dengan penuh keprihatinan. Menggunakan modal seadanya untuk memulai bisnis, jatuh bangun, rugi hingga modal habis, ditipu orang. Hal itu merupakan cerita kelamnya. Tapi dengan semua itulah ia bisa menjadi sesukses ini.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan mengenai sosok ini yang membekas dipikiran saya, yaitu bagaimana ia masih mengenali orang dengan baik dan juga hal yang berhubungan dengan sikap arogannya itu.

Kemampuan mengenali orang merupakan salah satu kunci sukses dalam bisnis. Misalkan ketika kita bertemu dijalan, apakah kita lebih suka dipanggil Mas saja atau Mas Irwan misalnya. Mana yang anda pilih, dan mana yang lebih mengakrabkan. Tentu saja jawabannya adalah panggilan Mas diikuti dengan nama, karena panggilan itu lebih terdengar akrab dan merupakan gambaran bahwa kita sudah kenal lama dengan orang tersebut. Begitu juga jika ilmu ini diterapkan didalam bisnis, tentu akan memberikan efek positif bagi perkembangan bisnis kita, bahkan mungkin kita bisa mendapat proyek atau order besar yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kenyataannya banyak kita temukan dilapangan, bahwa orang yang kita kenal baik, walau baru bertemu dapat membantu kita saat kita mengalami kesulitan.

Kemudian yang kedua tentang sikap arogan. Saya sebenarnya paling benci dengan orang yang sombong dan arogan. Begitu juga dengan manusia lain pastinya. Tapi sikap seperti itu dapat kita ambil positifnya. Kok bisa?. Ya jawabannya bisa saja.

Sikap arogan mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi muncul jika kita menghargai apa yang menjadi kekuatan dari diri kita. Kita mencintai diri kita apa adanya, kita bangga dengan diri kita saat ini dan menganggap bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Dengan begitu kita tidak menganggap kelemahan dari diri kita sebagai penghalang bagi hidup kita. Kekuatan diri yang disertai semangat berkobar dapat mengalahkan semua hal dalam menggapai apa yang diinginkan.

Sedangkan poin positif kedua dari sikap arogan seperti yang diperlihatkan Pak Ali adalah gambaran rasa tidak cepat puas atas apa yang dicapai. Hal ini bagus agar ia terus bisa berinovasi menciptakan hal-hal baru yang berguna bagi perkembangan usahanya. Memang kita diajarkan untuk bersyukur atas apa yang kita miliki dan itu tidak salah. Tapi jika kita sadari lagi bahwa kita diciptakan dengan cara dan bentuk yang luar biasa. Oleh karena itu kita harus menggunakan segenap kekuatan yang diberikan oleh Tuhan untuk mencapai apa yang kita inginkan didunia ini. Tapi yang perlu diingat bahwa kita tidak terhanyut oleh godaan dunia, tetapi menggunakan karunia yang diberikan untuk memberi makna pada hidup kita dan hidup orang lain disekitar kita.

Standar