Umum

Talk About Wirausaha Muda Mandiri

Sebuah buku karya Rhenald Kasali, seorang doktor dan juga seorang penulis menjadi bahan bacaan saya beberapa hari ini. Buku ini ditulis dan dirangkum Rhenald sebagai hasil dari kontes atau lomba sebuah program yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri, yaitu Wirausaha Muda Mandiri. Lomba ini diikuti oleh peserta dari segala penjuru nusantara.

Saya ingat dulu di Metro Tv juga ditayangkan mengenai profil peserta pada hari Minggu. Saat itu saya menjadi salah satu penggemar setia tayangan ini. Pembawa acaranya adalah Dian Sastro dan Rhenald Kasali

Kisah tokoh yang disarikan oleh Rhenald dalam buku tersebut sungguh sangat inspiratif.  Bagaimana tidak, dengan usia yang masih sangat belia, mereka sudah dapat berkarya jauh kedepan sebagai pengusaha. Mereka tipe orang yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu berinovasi. Tapi dibalik kesemuanya itu banyak visi mulia yang mendasari mereka untuk berubah kuadran menjadi pengusaha. Ada yang selama hidupnya didera kemiskinan, ada juga yang ingin membahagiakan orang tua dan keluarga, sebagian lagi ingin menunjukkan kepada orang lain yang pernah merendahkan mereka atas apa yang mereka pernah perjuangkan.

Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang muda yang memulai usaha dari nol. Perjuangan mereka melalui trial dan error serta pengorbanan waktu dan tenaga membuat perusahaan yang mereka dirikan menggurita sampai menghasilkan puluhan juta sampai milyaran rupiah perbulan. Mengagumkan!.

Elang Gumilang, Hendi Setiono, Yoris Sebastian, sampai Riezka Rahmantiana. Mereka adalah sebagian deretan orang muda dengan prestasi mengkilap dalam dunia usaha. Mereka mampu mengombinasikan bakat yang ada dengan kreativitas dalam mewujudkan impiannya.

Elang Gumilang yang diusia 25 tahun sudah bisa mempunyai perusahaan developer yang membangun perumahan sederhana bagi masyarakat miskin. Omsetnya kini bernilai milyaran rupiah. Yang perlu diapresiasi kisah suksesnya ternyata diawali dari menjual donat, sepatu, sampai ayam potong serta memenangkan beberapa perlombaan untuk modal usahanya.

Hendi Setiono (28) lain lagi, ia adalah orang yang ahli menangkap peluang. Makanan kebab yang menjadi makanan khas negara kawasan Timur Tengah diboyongnya ke Indonesia dengan penyesuai rasa agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Keunikan rasa serta pengemasan produk yang menarik membuatnya tidak butuh waktu lama mengembangkan tren makan kebab. Saat ini ia sudah memiliki 375 outlet diseluruh penjuru nusantara. Prestasinya ini tidak kurang diganjar banyak penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri, diantaranya Asia Pacific Entrepreneur Awards dan Juara I Wirausaha Muda Mandiri.

Riezka (24), seorang mahasiswi di Yogyakarta sedari usia belia sudah mempunyai jiwa bisnis. Berawal dari menjual pulsa elektronik, kini unit usahanya berkembang menjadi berkembang pesat diantaranya bisnis laundry, cafe dan yang saat ini identik dengan dirinya adalah franchise pisang ijo JustMine yang dalam waktu singkat membuat banyak orang antri ingin menjadi francishornya. Kini dalam sebulan tidak kurang puluhan juta rupiah ia kumpulkan dari bisnisnya.

Parade orang -orang muda sukses diatas menurut Rhenald tidak hanya sukses dalam bisnis tapi mereka juga menemukan passion mereka dalam bisnis yang mereka geluti. Tapi apakah mereka tidak pernah gagal?. Dalam buku ini selain menceritakan suksesnya, Rhenald juga menceritakan dan mewawancarai lebih dalam terhadap orang-orang tersebut mengenai kisah gagal mereka. Ada yang baru memulai langsung bangkrut, ada juga yang menjalani banyak usaha tetapi akhirnya tutup karena sepi dan ketiadaan modal. Tapi kini kegagalan mereka bermuara pada sukses yang akhirnya diprofilkan dalam buku tersebut.

Disetiap bab yang menampilkan parade orang-orang muda sukses itu (totalnya ada 24 orang), Rhenald juga memberikan tips-tips yang menjadi dorongan bagi pembacanya untuk memulai bisnis ketika usia masih muda. Ia juga menekankan pentingnya membaca peluang dan mempunyai jiwa kreatif dalam membangun bisnis. Dan paling penting menurut Rhenald jangan takut memulai dari kecil, tetapi takutlah bila kita tidak pernah bergerak menuju impian yang kita cita-citakan.

*) Cerita tentang anak muda yang memulai bisnis pernah saya tulis di blog saya di https://rafaelbudi.wordpress.com/2007/09/17/cara-konkrit-bikin-duit/

Iklan
Standar
Opinion

Berapa Harga Dirimu?

Jika pertanyaan diatas diajukan kepada kita, mungkin banyak diantara kita yang akan emosi atau jengkel dengan pertanyaaan itu. Kita menganggap bahwa harga diri kita adalah sangat mahal dan tidak mungkin dijual. Pasti yang membaca akan mengamini pendapat saya.

Sepantasnya kita menganggap begitu mahalnya harga diri kita. Banyak ciptaan teknologi masa kini tapi tentu saja tak ada yang mampu mengalahkan kerumitan dan kesempurnaan yang dimiliki manusia. Jikalau 100 tahun yang akan datang mesin itu benar-benar ada pasti harganya sangat mahal, bisa jadi seharga biaya penerbangan bumi kebulan.

Tapi jika ada pertanyaan selanjutnya, bukankah banyak wanita **** yang menjual dirinya yang hanya senilai kurang dari US$ 100?.  Apakah benar demikian. Perlu dipahami yang dijual atau diserahkan itu hanya berwujud fisik. Orang boleh memiliki fisik seseorang tapi terkadang tidak hati dan pikirannya.  Dan walaupun bisa membayar mahal, tapi tidak seluruh bagian dari orang tersebut bisa diatur semaunya.

Kembali kepada harga diri tadi. Pertanyaan berikutnya adalah jika memang kita menganggap bahwa diri kita sangat mahal dan tak sanggup dibeli dengan uang, mengapa banyak dari kita bertindak dan berperilaku seolah-olah diri kita tidak ada harganya.

Mau contoh?. Paling gampang adalah contoh wanita **** diatas. Lalu ada lagi orang yang merusak dirinya dengan mabuk, atau bahkan menggunakan obat-obat terlarang. Tubuh yang sehat dan baik diperlakukan dengan buruk. Mereka mencari kesenangan sesaat, tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri. Mereka banyak hidup didunia mimpi mereka karena mereka tidak pernah menyadari indahnya dunia ini.

Tapi mereka yang merusakkan tubuhnya demi kesenangan sesaat itu adalah sebagian kecil orang yang merendahkan harga diri mereka sendri. Masih ada kelompok besar manusia yang sebenarnya secara tidak sadar juga tidak menganggap berartinya diri mereka. Orang yang mengeluh dan menyalahkan orang lain berada dikelompok ini.

Tidak dipungkiri bahwa kita manusia tidak lepas dari rasa kecewa, sedih dan benci. Itu wajar, itu adalah perwujudan emosi yang memang dipaketkan bersama diri kita ketika Tuhan menciptakan kita. Tapi orang yang selalu mengeluh dan menyalahkan situasi terus menerus adalah orang yang menutup mata terhadap peluang yang terbuka dihadapannya. Mereka adalah tipe orang yang tidak menggunakan anugrah dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Lalu pertanyaannya kok banyak ya orang seperti ini. Itu mudah dijawab. Saat ini hidup kian kompleks, persaingan hidup semakin ketat, cara mencari uang berubah. Cara-cara lama untuk bertahan hidup dulu tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini. Belum lagi kondisi eksternal yang tidak terprediksi selalu datang ketika tidak dibutuhkan.

Jika kita sadari bahwa kita diberikan anugrah dengan kemampuan berpikir dan bertindak lebih sempurna dari makhluk lain, maka tidak seharusnya kita mengeluh, tidak seharusnya merendahkan martabat manusia kita. Kita hidup dan dilahirkan kedunia ini membawa pesan bahwa hidup haruslah lebih bermakna. Ini adalah rute perjalanan yang harus ditempuh sebelum kita benar-benar melewati jalan panjang yang sebenarnya dikehidupan kita berikutnya.

Sebenarnya manusia bisa hidup dan bertahan hidup sambil juga menikmati keindah hidupnya didunia. Tapi banyak orang hidup pada hari ini saja, dan celakanya lagi ada orang tinggal dibumi tapi seolah-olah hidupnya ada didunia lain. Sungguh menyedihkan hidup seperti itu.

Esensi hidup yang sebenarnya mesti kita pahami dengan baik. Banyak hal yang dapat diperbuat manusia didunia ini. Andaikan setiap orang dari 3 milyar manusia dibumi ini berpikir bahwa ia harus berkarya untuk dunia dan bermimpi ketika ia meninggalkan dunia maka dunia akan mengenangnya sebagai salah seorang yang memberikan titik kecil pada gambar hidup dunia, tentu alangkah bahagianya kehidupan ini.

Apakah untuk melakukan semua itu kita harus memiliki segalanya, kekayaan, materi, kekuasaan?. Jawabannya sama sekali tidak. Orang kaya bisa menyumbang 100 juta rupiah untuk pembangunan panti asuhan, lalu jika kita hanya punya 200 ribu apakah kita kalah. Ya kita memang kalah secara nominal uang, tapi secara karya kita dengan 200 ribu mungkin bisa memberikan kebahagiaan yang lebih banyak dari orang yang menyumbang 1 milyar mungkin. Inti dari perbuatan adalah hati yang tulus.

So, masihkah kita menganggap harga diri kita mahal tapi malah merendahkan hidup kita sendiri. Kita harus jujur bahwa kita mampu melakukan apapun didunia ini, asal ada keyakinan dari hati kita. Mulai sekarang kita harus bertumbuh maju mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan dengan membusungkan dada berkata “Tidak ada yang sanggup membeli saya, karena saya adalah produk dengan brand termahal didunia. Saya unik dan hanya ada satu didunia ini.”

Salam

Rafael Budi

Standar
Friends

Friendship : Catatan Yang Tertinggal

Bulan-bulan terakhir ini merupakan bulan yang menggembirakan dan juga menyedihkan bagi saya, terutama dalam hubungan persahabatan dengan beberapa rekan saya. Kok bisa?. Apakah saya bertengkar atau mempunyai masalah besar dengan rekan-rekan saya itu. Apakah saya melakukan kesalahan yang membuat hubungan menjadi tidak baik. Tapi sungguh bukan itu masalahnya.

Ceritanya begini. Saya bekerja diperusahaan saya yang lama selama dua tahun. Satu tahun saya habiskan dikota ini. Disini saya mengenal beberapa teman yang tergabung dalam perusahaan yang sama. Diantaranya ada Tony, Joni, Daniel, dan Tongi. Kami berteman akrab, apalagi tempat tinggal kami dekat. Saya menyewa sebuah rumah dan tinggal bersama Tongi. Tongi merupakan suksesor saya setelah saya keluar dari perusahaan saya itu. Sekarang saya bekerja diperusahaan yang berbeda dari sebelumnya. Adapun Joni juga sudah keluar dari perusahaan yang sama dan menerima pinangan dari perusahaan yang lain. Sama seperti saya, ia juga tidak pindah dari tempat tinggalnya sebelumnya. Tempat tinggalnya hanya berjarak 1 blok dari tempat tinggal saya.

Sebagai anak perantauan, kami merasa cocok dan akrab. Banyak hal kami lalui bersama. Kami biasa pada malam tertentu berkumpul ditempat tinggal saya. Melakukan banyak hal misal nonton bareng program sepakbola, main game computer (3 dari kami mempunyai laptop sehingga bisa bertanding), cerita tentang pekerjaan dan rencana masa depan. Meski sering berkumpul begitu kami tidak pernah melakukan hal yang negatif. Terlebih lagi Pak Haji sang pemilik rumah tidak pernah mempermasalahkan siapa saja yang datang ketempat kami, asal tidak membuat keributan dan keonaran. Apalagi teman-teman saya itu mempunyai mulut yang manis, sehingga sang pemilik pun kenal dengan mereka.

Waktu membentuk kami memahami satu sama lain, bagaimana bertoleransi membantu teman lain yang sedang sedih atau kesusahan, mensupport jika ada masalah. Tentu saja dengan adanya kehadiran teman-teman itu, masing-masing tidak kesepian meski jauh dari pacar yang berada nun dibelahan bumi yang lain.

Tapi kondisi itu mulai berubah saat teman kami Daniel mendapatkan pekerjaan di Surabaya tempat asalnya. Sebenarnya dari dulu juga kami memang mendukungnya untuk bisa mendapat pekerjaan disana, apalagi ia adalah anak tunggal, sedangkan ayahnya juga sering sakit-sakitan. Lumayan lama juga perjuangannya mendapatkan pekerjaan. Sampai pada suatu saat dengan ceria ia bercerita kepada kami bahwa ia sudah deal dengan pihak perusahaan baru untuk pindah kerja kesana. Memang hal itu lebih baik, karena bagaimana pun berada didaerah sendiri dan tinggal dekat dengan keluarga akan membuat orang lebih bersemangat dalam bekerja. Sebagai perayaan perpisahan ini kamipun mengadakan perjalanan jauh kepantai Samboja yang berjarak 70 km. Disana kami berempat (Tony tidak ikut) bersenang-senang, berfoto-foto dengan bergaya bak coverboy, berlenggak lenggok di pantai seolah itu adalah catwalk. Bukan coverboy majalah remaja, tetapi coverboy majalah fauna. Ha…ha…

betiga

bt-copy

pon

Awal tahun kemarin Daniel pun berangkat ke Surabaya. Pergi juga akhirnya teman yang biasa menjadi partner saya bermain badminton setiap Sabtu itu. Hiks

Beberapa bulan berlalu, kabar baik datang dari Tony. Ia mendapatkan pekerjaan baru dengan tawaran yang lebih menarik. Kemampuan dan kecakapannya membuat sebuah perusahaan otomotif ternama kepincut dengannya. Iapun didapuk menjadi kepala cabang untuk area Balikpapan. Kami memujinya sebagai orang hebat. Jabatan yang baik dengan tawaran gaji yang bagus juga tentunya pasti sangat susah didapat jika orang tersebut tidak memiliki tingkat kompetensi yang baik. Awal April ini Tony akan berangkat ke Bandung untuk menjalani training. Disana ia akan menetap selama 3 bulan. Setelah menyelesaikan masa trainingnya nanti barulah ia kembali dan langsung memegang area Balikpapan. Tentu saja hal itu baik untuknya, karena selama ini sejak menikah satu tahun lalu, ia selalu harus bolak-balik Samarinda-Balikpapan setiap Sabtu dan kembali lagi Senin subuh. Sungguh sebuah perjalanan yang melelahkan. Dengan mendapat pekerjaan ini, maka ia bisa tinggal bersama istrinya dan dekat dengan orang tuanya. Satu kebahagiaan sekarang sudah dikecap olehnya. Tapi dengan perginya Tony, maka kami akan kehilangan satu teman lagi.

Ternyata eksodus rekan kami tidak berhenti sampai Tony saja. Berikutnya Tongi juga menyusul. Berbeda dengan saya, Daniel atau Tony, ia tidak keluar dari perusahaanya saat ini, tapi ia memperoleh promosi untuk kenaikan jabatan menjadi manajer area. Untuk jabatan barunya ini, ia harus menetap dan pindah ke Balikpapan karena kantor wilayahnya berada disana. Belum ada informasi kapan ia akan pindah, tapi mungkin 2 bulan lagi ia akan meninggalkan Samarinda. Sementara sambil menunggu pengganti, ia masih berada disini.

Setelah keduanya pergi nanti tinggallah saya dan Joni. Meski nanti akan ada pengganti untuk Tony dan Tongi, tapi rasanya sulit untuk mendapat rekan atau sahabat seperti mereka. Ada kenangan yang kami ciptakan bersama, ada kepingan waktu yang tersisa dari perjalan persahabatan kami.

Terkadang saya dan Joni sering bercanda sambil bertaruh siapa berikutnya yang akan meninggalkan Samarinda terlebih dahulu. Memang kami masing-masing ada rencana untuk kedepannya. Namun semuanya masih serba buram (mungkin harus dilap dulu agar tampak jelas).  Tapi siapapun nantinya yang akan pergi dari sini berikutnya hal itu tidak penting. Yang penting adalah di Samarinda telah tercipta sebuah persahabatan yang akan kekal dan akan diingat oleh kami sendiri sampai tua nanti. Tidak tahu kapan semua akan berkumpul lagi, tapi jika Tuhan mengizinkan pasti hal itu akan terjadi.

Standar