Experience

Loyalitas Tukang Bakmie

Siang kemarin saya makan siang disebuah warung bakmi di daerah Pasar Tengah. Saya biasa kesana karena bakminya enak dan besar porsinya. Siang ini pengunjung sangat ramai, kebetulan saya makan dengan mama dan kakak saya, pesanan kami lumayan lama baru diantar.

Begitu pesanan kami datang, segera saya melahap hidangan menggugah selera diatas meja. Tidak terasa belum 10 menit isi mangkok sudah tidak bersisa. Full sekali terasa perut ini. Sambil meneguk es air tahu sebagai hidangan penutup saya mengalihkan pandangan saya kearah tempat didepan kami duduk, disana duduk dua orang wanita yang sedari tadi juga menunggu bakminya dihidangkan. Keduanya berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti, mungkin suatu bahasa daerah.

Sambil menunggu pesanan untuk dibawa pulang, kakak sayapun berbasa basi mengajak kedua wanita itu bicara. Ternyata keduanya adalah seorang ibu dan anaknya. Saya taksir usia sang ibu 50an tahun dan anaknya sekitar 20an tahun. Mereka mengeluhkan pesanan mereka yang belum datang. Sembari ngobrol, sang ibu bercerita bahwa ia sudah biasa makan disini sudah sejak lama, mungkin sekitar tahun 1985-an, sang anak saat itu baru berusia 3 tahun. Wah sungguh sudah lama sekali. Sang anak pun menimpali dengan mengatakan bahwa pembantu sang tukang bakmi dulunya belum ompong hingga sekarang udah ompong.

Bukan candaan sang gadis yang lumayan cantik yang membuat saya terpikir ketika pulang. Tetapi sebuah penyadaran akan suatu bentuk loyalitas konsumen yang terpelihara hampir 2 dekade lebih, tentu saja suatu prestasi yang luar biasa dalam dunia perbakmian. Tidak usah bicara sudah berapa aset atau harta yang sudah sang tukang bakmi kumpulkan selama lebih dari 20 tahun itu tetapi saya mau mengajak untuk melihat bahwa konsumen dapat setia terhadap sebuah produk karena mereka puas akan nilai dari produk tersebut. Nilai disini bisa berupa rasa atau layanan.

Tentu saja itu menjadi suatu pembelajaran yang berharga, karena dengan kondisi persaingan produk saat ini sungguh sangat susah sekali menjaga loyalitas konsumen. Dulu banyak orang yang mengatakan bahwa produk atau hal yang berhubungan dengan rasa akan menimbulkan loyalitas yang lebih lama bagi konsumen, tapi pada kondisi saat ini hal tersebut tidak sepenuhnya benar lagi. Produk makanan yang berhubungan dengan rasa yang tidak dimaintain dengan baik akan membuat pelanggan berpindah. Sebaliknya sebuah produk home care misalnya yang bukan produk konsumsi bisa saja memberikan loyalitas yang juga sama atau bahkan lebih lama dibanding produk yang berhubungan dengan rasa.

Dan kejadian hari ini mungkin memberikan sebuah motivasi lebih untuk meningkatkan kepuasan konsumen melalui peningkatan kualitas produk dan peningkatan pelayanan untuk bisnis yang saya jalankan saat ini.

Iklan
Standar
Opinion

Belajar Dan Inspirasi

Terkadang kita bisa mendapat inspirasi dimana saja. Bisa dikantor, dijalan, atau mungkin saat pembicaraan di warung kopi. Dan tadi pagi saya mendapatkan sebuah ungkapan kecil yang menginspirasi saya. Ungkapan itu meluncur dari teman saya saat kami sedang terlibat pembicaraan ngalor ngidul dikantor.
“Pak Budi, sebagai seorang manajer area saya sebenarnya tidak suka kalau berada dikantor terlalu lama!. kata teman saya itu sebut saja Pak Heri.
Saya tertegun sejenak dan kemudian bertanya,
“Pak, bukannya pekerjaan bapak memang harus membagi porsi antara kerja dalam ruangan dan luar ruangan.

Lagipula saya pikir banyak orang lebih suka berada didalam ruangan lebih nyaman karena ruangannya ber AC?”
Ia menghela napas sebentar, melihat keluar jendela.
“Betul pak, memang dipekerjaan ini, saya diharuskan membagi porsi luar ruangan yang lebih kecil dari aktivitas didalam ruangan. Tapi sejujurnya pak, saya lebih suka jikalau porsinya bisa lebih besar lagi?.”
“Kenapa begitu pak” tanya saya sedikit bingung.
“Ya pak, mungkin beberapa orang berbeda pendapat dengan saya, karena memang kerja diluar ruangan memang membutuhkan fisik yang prima, itu saya sadari karena usia saya sudah hampir 40 tahun. Tapi pak kenapa saya menyukai hal tersebut, ini karena saya beranggapan diluar ruangan saya bisa banyak belajar. Itu karena saya bisa berinteraksi langsung dengan orang lain dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya saya bisa bertemu dengan pelanggan-pelanggan saya. Kita tahu sendiri bahwa diluar kita akan bertemu dengan orang-orang yang pasti karakternya berbeda. Dengan berhadapan dengan orang-orang itu kita bisa mempelajari karakter orang tersebut. Hal itu akan memperkaya pengetahuan kita akan pengenalan pribadi orang lain.”

Ia terdiam sejenak
“Diluar juga kita bisa mendengar informasi-informasi yang berguna, peluang-peluang yang mungkin tidak disadari orang lain bahwa hal itu bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Kemudian kita juga bisa membangun networking, bertemu dan berhubungan dengan banyak orang pastilah akan memberikan keuntungan bagi kita.”
Dengan mengangguk sayapun mengiyakan kata-kata sang teman. Pembicaraan kami kemudian terputus dikarenakan teman saya tersebut pamit untuk kembali bekerja.

Saya tercenung sejenak dan kemudian seperti tersadar berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya itu benar adanya. Sayapun terkadang meski porsi diluar ruangan cukup besar tidak memanfaatkan hal tersebut dan lebih sering menghabiskan waktu didalam ruang mengerjakan pekerjaan administrasi dan monitoring yang memang lebih dominan dilevel pekerjaan saya saat ini.

Saya ingat ada beberapa teman kantor yang mengeluhkan jenuhnya mereka dengan pekerjaan mereka saat ini. Masuk jam 8, duduk, kerjakan tugas kantor, istirahat, kerja lagi, teng.. bel pulang berbunyi dan pulang. Hal itu menjadi rutinitas, terkadang ada kecemburuan melihat rekan lain yang mempunyai aktivitas diluar. Bisa lepas dari pengawasan bos, bisa menghilangkan stress diubun-ubun karena banyaknya pekerjaan. Memang bekerja diluar memang mempunyai tantangan tersendiri, perlu fisik dan stamina yang lebih prima. Selain itu jika berada didepartemen sales juga perlu mental yang kuat apalagi jika banyak berhubungan dengan pelanggan yang mungkin banyak komplain, tidak puas bahkan lebih parah lagi asal marah dan memaki karena layanan perusahaan yang tidak bagus misalnya. Tapi seperti teman saya katakan disana kita bisa belajar banyak dan melihat peluang yang lebih besar.

Karena sesungguhnya hakekat hidup adalah bagaimana kita bisa belajar dari lingkungan serta berinteraksi dengan banyak penghuni bumi lainnya.

Standar