Opinion

Berapa Harga Dirimu?

Jika pertanyaan diatas diajukan kepada kita, mungkin banyak diantara kita yang akan emosi atau jengkel dengan pertanyaaan itu. Kita menganggap bahwa harga diri kita adalah sangat mahal dan tidak mungkin dijual. Pasti yang membaca akan mengamini pendapat saya.

Sepantasnya kita menganggap begitu mahalnya harga diri kita. Banyak ciptaan teknologi masa kini tapi tentu saja tak ada yang mampu mengalahkan kerumitan dan kesempurnaan yang dimiliki manusia. Jikalau 100 tahun yang akan datang mesin itu benar-benar ada pasti harganya sangat mahal, bisa jadi seharga biaya penerbangan bumi kebulan.

Tapi jika ada pertanyaan selanjutnya, bukankah banyak wanita **** yang menjual dirinya yang hanya senilai kurang dari US$ 100?.  Apakah benar demikian. Perlu dipahami yang dijual atau diserahkan itu hanya berwujud fisik. Orang boleh memiliki fisik seseorang tapi terkadang tidak hati dan pikirannya.  Dan walaupun bisa membayar mahal, tapi tidak seluruh bagian dari orang tersebut bisa diatur semaunya.

Kembali kepada harga diri tadi. Pertanyaan berikutnya adalah jika memang kita menganggap bahwa diri kita sangat mahal dan tak sanggup dibeli dengan uang, mengapa banyak dari kita bertindak dan berperilaku seolah-olah diri kita tidak ada harganya.

Mau contoh?. Paling gampang adalah contoh wanita **** diatas. Lalu ada lagi orang yang merusak dirinya dengan mabuk, atau bahkan menggunakan obat-obat terlarang. Tubuh yang sehat dan baik diperlakukan dengan buruk. Mereka mencari kesenangan sesaat, tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri. Mereka banyak hidup didunia mimpi mereka karena mereka tidak pernah menyadari indahnya dunia ini.

Tapi mereka yang merusakkan tubuhnya demi kesenangan sesaat itu adalah sebagian kecil orang yang merendahkan harga diri mereka sendri. Masih ada kelompok besar manusia yang sebenarnya secara tidak sadar juga tidak menganggap berartinya diri mereka. Orang yang mengeluh dan menyalahkan orang lain berada dikelompok ini.

Tidak dipungkiri bahwa kita manusia tidak lepas dari rasa kecewa, sedih dan benci. Itu wajar, itu adalah perwujudan emosi yang memang dipaketkan bersama diri kita ketika Tuhan menciptakan kita. Tapi orang yang selalu mengeluh dan menyalahkan situasi terus menerus adalah orang yang menutup mata terhadap peluang yang terbuka dihadapannya. Mereka adalah tipe orang yang tidak menggunakan anugrah dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Lalu pertanyaannya kok banyak ya orang seperti ini. Itu mudah dijawab. Saat ini hidup kian kompleks, persaingan hidup semakin ketat, cara mencari uang berubah. Cara-cara lama untuk bertahan hidup dulu tidak relevan lagi untuk kondisi saat ini. Belum lagi kondisi eksternal yang tidak terprediksi selalu datang ketika tidak dibutuhkan.

Jika kita sadari bahwa kita diberikan anugrah dengan kemampuan berpikir dan bertindak lebih sempurna dari makhluk lain, maka tidak seharusnya kita mengeluh, tidak seharusnya merendahkan martabat manusia kita. Kita hidup dan dilahirkan kedunia ini membawa pesan bahwa hidup haruslah lebih bermakna. Ini adalah rute perjalanan yang harus ditempuh sebelum kita benar-benar melewati jalan panjang yang sebenarnya dikehidupan kita berikutnya.

Sebenarnya manusia bisa hidup dan bertahan hidup sambil juga menikmati keindah hidupnya didunia. Tapi banyak orang hidup pada hari ini saja, dan celakanya lagi ada orang tinggal dibumi tapi seolah-olah hidupnya ada didunia lain. Sungguh menyedihkan hidup seperti itu.

Esensi hidup yang sebenarnya mesti kita pahami dengan baik. Banyak hal yang dapat diperbuat manusia didunia ini. Andaikan setiap orang dari 3 milyar manusia dibumi ini berpikir bahwa ia harus berkarya untuk dunia dan bermimpi ketika ia meninggalkan dunia maka dunia akan mengenangnya sebagai salah seorang yang memberikan titik kecil pada gambar hidup dunia, tentu alangkah bahagianya kehidupan ini.

Apakah untuk melakukan semua itu kita harus memiliki segalanya, kekayaan, materi, kekuasaan?. Jawabannya sama sekali tidak. Orang kaya bisa menyumbang 100 juta rupiah untuk pembangunan panti asuhan, lalu jika kita hanya punya 200 ribu apakah kita kalah. Ya kita memang kalah secara nominal uang, tapi secara karya kita dengan 200 ribu mungkin bisa memberikan kebahagiaan yang lebih banyak dari orang yang menyumbang 1 milyar mungkin. Inti dari perbuatan adalah hati yang tulus.

So, masihkah kita menganggap harga diri kita mahal tapi malah merendahkan hidup kita sendiri. Kita harus jujur bahwa kita mampu melakukan apapun didunia ini, asal ada keyakinan dari hati kita. Mulai sekarang kita harus bertumbuh maju mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan dengan membusungkan dada berkata “Tidak ada yang sanggup membeli saya, karena saya adalah produk dengan brand termahal didunia. Saya unik dan hanya ada satu didunia ini.”

Salam

Rafael Budi

Iklan
Standar
Umum

Meriam Bellina : Dari Penyanyi Melankolis Ke Pemeran Watak

Salah artis watak yang sempurna menurutku adalah Merriam Bellina. Wanita ini sungguh pemeran yang powerful. Ketika ia bermain dalam sinetron atau film, arakternya seolah menyatu dengan tokoh yang diperankannya. Ia bisa menjadi seorang wanita yang teraniaya dan kemudian discene lain bisa menjadi orang kaya yang sombong. Kemampuannya dalam memerankan tokoh dalam sinetron dan film ini belum mempunyai tandingannya sampai saat ini.

Tadi sore saya diberi kesempatan untuk menyaksikan kepandaiannya dalam memainkan peran. Sinetron Kasih yang tayang di RCTI menampilkan ia sebagai seorang ibu yang berjuang mati-matian untuk membesarkan anaknya. Ia bekerja apa saja asalkan anaknya bisa kuliah dan setelah lulus menjadi orang yang sukses. Didalam pikirannya biarlah ia sengsara dan pontang-panting mencari uang asal apa yang diinginkannya bisa terwujud. Ia lalu bekerja menjadi buruh pabrik konveksi. Tugasnya disana adalah menjahit bahan dasar kain menjadi setelan pakaian. Ia rela tidak makan saat istirahat, padahal banyak rekan kerjanya yang berkumpul di kantin pabrik untuk menikmati makan siang. Bahkan terkadang jika lapar menyergap, ia lebih suka memilih makanan nasi putih dan sepotong tempe yang tentu saja harganya murah. Lebih baik uang makannnya ia simpan untuk kebutuhan kuliah anaknya. Sungguh cinta kasih ibu yang luar biasa. Sebaliknya dalam sinetron ini sang anak merupakan gambaran anak yang tidak berbakti. Ia sering marah-marah kepada ibunya hanya karena ibu seorang pekerja pabrik. Kemarahannya tumpah saat ibunya diantar oleh seorang pria yang merupakan bos dari sang ibu dipabrik. Padahal saat itu ibunya sudah sangat lemah untuk pulang karena sempat pingsan dipabrik karena penyakit batuk bawaan.

mer

Meriam Bellina saya lihat sangat cocok memerankan karakter seorang ibu yang penuh cinta kasih terhadap anaknya. Lemah lembut serta berkorban demi kebahagiaan anaknya. Sebenarnya bukan pertama kali Meriam memerankan sosok seorang ibu yang seperti itu. Dulu sekitar 2 atau 3 tahun lalu ia pernah berperan juga sebagai seorang ibu bagi seorang anak yang diperankan oleh Dina Olivia dalam sinetron berjudul Bunda. Disini nasibnya lebih tragis. Ia menjadi seorang terpidana dalam kasus pembunuhan suaminya sendiri yang ternyata tidak dilakukannya. Padahal saat itu ia sudah mempunyai seorang bayi. Karena tidak mau melihat masa depan anaknya hancur bersamanya dipenjara, ia pun menitipkan bayinya itu pada salah satu panti asuhan.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak sudah tumbuh dewasa dan sudah menjadi seorang pengacara yang terkenal. Pada suatu ketika sang anak bertemu lagi dengan ibu dipenjara karena sang anak terlibat dalam pengurusan kasus sang ibu yang prosesnya mandek meski sudah berpuluh tahun berlalu. Melihat kondisi ibunya yang begitu, ia pun tidak mampu menahan tangis. Ia membayangkan bagaimana sang ibu melewatkan hari-hari yang suram dipenjara.
Peran Meriam Bellina disini terlihat sangat menyedihkan. Bermacam-macam penderitaan ia terima dipenjara, mulai dari sipir yang galak, sampai sikap penghuni penjara lain yang memukul dan menindasnya. Berpuluh tahun yang diinginkannya hanya satu, yaitu bisa bertemu dengan anak yang pernah ditinggalkan. Ketika bertemu dengan anaknya ia sudah tahu bahwa yang didepan itu adalah anaknya. Tapi ia tidak memberitahukan karena takut anaknya tidak mau mengakui ia sebagai ibu yang hanya seorang narapidana dipenjara. Prinsipnya ia tidak mau anaknya membencjnya karena pernah meninggalkannya di panti asuhan. Ia cukup bahagia hanya dengan melihat dari jauh wajah anaknya. Dalam hati ia bangga sang anak berhasil dan sukses dalam karir dan kehidupannya. Tidak sia-sia doa yang ia panjatkan setiap malam kepada Yang Kuasa.

Disini peran Meriam Bellina sebagai ibu sungguh menyentuh. Jiwa perannya benar-benar dicurahkan dalam memerankan tokoh sang ibu. Sehingga banyak orang terbawa emosi dan menitik air mata ketika menyaksikannya. Hal itu juga yang membuat sinetron ini dulunya memiliki rating yang tinggi.
Meriam Bellina adalah sosok yang hidup untuk dunia peran. Totalitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jika suatu saat saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yan saya kagumi, maka tokoh ini tidak akan terlewatkan.

Standar