Facebook Jangan Diharamkan Dong

Mencermati berita tentang beberapa ulama di Jawa Timur yang berencana memfatwakan haram bagi situs jejaring sosial Facebook, membuat banyak diantara kita yang pro dan kontra. Sudah separah itukah sebuah situs jejaring bisa membuat perubahan besar pada moral orang sehingga bisa menjadi dasar penfatwaan haram tersebut. Pertanyaan lain apakah teknologi itu tidak akan bisa berjalan seiring dengan pembentukan akhlak manusia sehingga harus dihentikan penggunaannya. Dari sini kita lebih banyak melihat efek negatif sebuah teknologi dibandingkan manfaatnya.

Menurut saya pribadi teknologi semisal facebook harus dipandang sebagai suatu alat, bukan sebagai subjeknya. Artinya sang subjek dalam hal ini manusialah yang harus arif dan bertanggung jawab dalam memanfaatkannya. Facebook itu jika dianalogikan sama dengan sebuah pisau. Pisau itu akan berguna jika dimanfaatkan untuk memotong sayuran atau mengupas buah-buahan, tetapi akan sangat fatal jika digunakan untuk melukai orang.

Sebuah alat haruslah dipandang sebagai objek yang diatur atau dikendalikan oleh subjeknya yaitu manusia. Jadi pandangan pribadi saya yang difatwakan seharusnya pengaturan penggunanya untuk secara arif dan bertanggungjawab. Tetapi tentu saja sebuah produk teknologi pasti membawa efek yang baik dan buruk, seperti dua sisi mata uang yang terpisahkan.

Jika kita memandang manfaat dari facebook ini, seperti kita ketahui sangatlah besar. Bagaimana sebuah situs jejaring ciptaan Mark Zuckerberg ini bisa menghubungkan kita secara maya dengan teman atau komunitas lain dari seluruh dunia. Teman SMP atau SMA misalnya bisa kita hubungi lagi asalkan mereka bisa terhubung dengan komunitasi ini. Cukup ketikkan nama, email, sekolah, perusahaan maka akan tampil ratusan bahkan ribuan nama orang yang kita kenal. Saking populernya juga banyak provider seluler menyediakan content bertarif murah untuk mengakses facebook ini sehingga setiap orang tidak harus terkoneksi kabel untuk bisa berinteraksi antar individu, tapi selama mereka terhubung dengan provider telekomunikasi itu maka mereka bisa berfacebook ria.

fb

Saya pernah melihat ada seorang gadis yang berfacebook dengan handphonenya di sebuah gereja tempat ibadah sedang berlangsung. Mungkin juga hal ini bisa terjadi di sekolah, kantor, atau tempat yang seharusnya aktivitas lain lebih mendominasi. Bila sudah begitu, maka facebook sudah tidak digunakan sesuai koridor dan waktunya karena sudah masuk ranah umum yang bukan pada tempatnya lagi.

Jadi pada akhir kesimpulannya adalah perlu melihat hal positif dari sebuah produk teknologi serta arif dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.

The Power Of Kepepet

Sebuah buku menarik hati saya ketika berkunjung di Toko Buku Gramedia Pontianak. Tanpa berpikir lagi sayapun membayar harga buku tersebut dan membawanya pulang. Buku itu berjudul The Power Of Kepepet karya seorang pengusaha yang juga trainer Jaya Setiabudi. Dihalaman sampulnya tertulis tagline Cara Tercepat Terampuh Jadi Enterpreneur! Dijamin!!!. Sungguh sebuah buku yang pasti menarik bagi setiap orang yang memiliki impian menjadi pengusaha.

Menurut Jaya Setiabudi, ilmu kepepet ini merupakan cara lama, bukan ilmu atau hasil dari pemikiran baru, tapi menurutnya ilmu ini merupakan cara yang ampuh untuk menuntun atau lebih tepatnya dikatakan “memaksa orang” untuk mengeluarkan kemampuan terbaik yang dimilikinya untuk mewujudkan apa yang diinginkan.

Jaya mencontohkan sebuah kasus. Yang pertama jika kita yang mempunyai gaji 5 juta perbulan sebagai seorang karyawan, tapi di pkl 09.00 esok hari harus menyediakan uang 50 juta rupiah sebagai modal usaha, maka mayoritas dari kita akan menjawab tidak mungkin.

Tapi jika sudut pandang kasusnya diubah. Permintaan uang dengan nilai yang sama tetapi dengan latar belakan berbeda, dimana anda harus menyediakan uang sebanyak 50 juta rupiah esok hari pada pkl 09.00 yang akan digunakan sebagai biaya operasi anak kita tersayang, yang jika tidak dioperasi maka akan berakibat fatal. Jika kasusnya begitu maka mayoritas dari kita akan mengatakan bisa karena kondisi sense of urgency begitu besar. Kita tidak diberi pilihan mau tidak mau harus bisa. Kondisi kepepet seperti contoh diatas dapat dijadikan sebuah latar belakang bagi kita untuk memulai usaha dimana kendala modal menjadi permasalahan.

Jaya melanjutkan untuk menciptakan kondisi kepepet, kita bisa lakukan dengan dua cara yaitu kepepet secara imaginasi dan kepepet secara fisik. Kepepet secara imaginasi adalah menciptakan pemikiran dan membayangkan seolah-olah hal yang paling urgen tersebut terjadi pada kita, sehingga mau tidak mau kita harus berubah mengikutinya. Caranya bisa membayangkan misal kita datang kekantor dan menemukan sebuah surat meminta kita menghadap kepimpinan yang kemudian menyampaikan kabar buruh bahwa perusahaan melakukan perampingan karyawan dan kita menjadi salah satunya yang di PHK. Ciptakan kondisi tersebut seolah nyata karena otak bawah sadar tidak bisa membedakan mana imaginasi dan mana yang nyata.

Kepepet secara imaginasi terkadang kurang kuat untuk memaksa kita keluar dari comfort zone kita. Oleh karena itu maka bisa kita lakukan cara kepepet secara fisik, misal dengan berhutang untuk modal usaha, dengan begitu maka kita termotivasi untuk mengembalikannya. Atau jika kita karyawan, maka kita melakukan pengunduran diri dari perusahaan. Purdi E Chandra, pendiri Primagama dan Enterpreneur University mengatakan bahwa ia sangat senang jika menerima sms dari seseorang yang mengatakan ia baru saja mengundurkan diri sebagai karyawan. Bukan berarti tidak simpati, tetapi menurutnya dengan berpijak pada kaki sendiri maka kita memperjuangkan impian kita bukan impian orang lain.

Dibuku ini juga Jaya Setiabudi memaparkan tentang prinsip orang yang ingin terjun sebagai pengusaha, misal prinsip nggak pakai tapi atau prinsip ngeyel. Artinya setiap calon pengusaha tidak boleh menggunakan banyak kata excuse (pembelaan diri) atau alas an-alasan dan juga harus ngeyel (persistensi) untuk menemukan hal-hal yang mendukung usaha yang ingin dibangun.

the-power-of-kepepet

Banyak lagi ilmu dan pemaparan dari Jaya Setiabudi yang saya rasa sangat bergizi bagi kita yang ingin membuka usaha tetapi masih bingung. Ia mengajarkan bagaimana mencari modal, cara berhutang yang efektif serta trik-trik misal bagaimana beli rumah gratis. Diakhir buku Jaya memberikan satu kalimat sakti untuk para pembaca yaitu TAKE ACTION, MAKE IT HAPPEN yang artinya jika kita memiliki impian maka kita harus berubah/beraksi mulai dari sekarang untuk memulai meraihnya. Umur kita terasa begitu pendek, hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa semua halnya berubah dengan pasti, tapi apakah kita membiarkan semuanya berubah sedangkan kita tidak bergerak alias diam.
Profil Jaya Setiabudi bisa diketahui lebih lanjut pada websitenya di Yukbisnis.com.

Seminar James Gwee “Creative Selling To Triple Your Sales”

Minggu lalu saya dengan beberapa rekan mengikuti seminar James Gwee yang bertema “Creative Selling To Triple Your Sales”. Acara dimulai dari pkl 08.00-13.00 diselingi dengan 1 kali break. Sudah lama sekali saya berkeinginan untuk mengikuti seminar dari seorang yang disebut “Indonesia Favorite Trainer” ini. Baru sekaranglah kesempatan itu kesampaian. Meskipun membayar biaya keikutsertaan sebesar Rp. 300 ribu tetap saja berjubel para pelaku sales dari berbagai bidang ikut dalam seminar ini. Mulai dari agen asuransi, properti, marketing bank, distributor, hingga pengusaha.

jamesgwee

James Gwee energik naik kepanggung dengan menyanyikan sebuah lagu berbahasa inggris yang berjudul “Do Something”. Kemudian sang trainer berbicara dengan lancar menyampaikan materi seminar dengan sesekali diselingi humor yang membuat ballroom hotel tempat diselenggarakan acara tersebut bergemuruh. Materi yang disampaikan sangat berbobot dan membuka pemikiran baru mengenai terobosan dalam dunia sales. Tidak perlu trik atau tips yang baru atau konsepsial, tinggal membuka kembali pemikiran lama dan memodifikasinya sehingga menjadi terobosan sales yang kreatif.

james me

Kurang lebih 5 jam seminar memberikan pengetahuan dan pemikiran baru mengenai sales yang membantu dalam penerapan sehari-hari. Tinggal pertanyaan muncul ketika pulang, apakah materi yang diajarkan diterapkan atau tidak?. Jika tidak, sia-sialah investasi yang sudah dibayarkan.

Tukul : Inspirasi dari Wong Ndeso

Bicara tentang seorang manusia bernama Tukul, pastilah kita akan teringat dengan sosok lucu dan katrok dalam acara talk show “Bukan Empat Mata”. Saking populernya Tukul dengan acara yang identik dengan dirinya itu, konon kabarnya ia diprediksi sanggup mengumpulkan Rp. 17 milyar pertahun dari pekerjaannya sebagai presenter dan bintang iklan. Sehingga ia disebut sebagai salah satu entertainer terkaya dinegeri ini.

Acara talk show “Empat Mata” sebelum diberangus oleh KPI sehingga berubah nama menjadi “Bukan Empat Mata” merupakan salah satu acara yang banyak ditunggu oleh pemirsa televisi di Indonesia. Bahkan acara ini beberapa kali menjadi acara talk show favorit pemirsa versi beberapa lembaga rating. Akibatnya popularitas sang pembawa acara tersebut yaitu Tukul juga ikut terdongkrak. Sebenarnya bukan acara tersebut yang membuat Tukul terkenal, tetapi Tukullah yang membuat acara tersebut menjadi menarik dimata penonton.

Tingkah polah dan ekpresi yang lucu dan konyol serta gaya yang kampungan menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak masyarakat. Masyarakat seperti sudah bosan dengan acara-acara yang menampilkan lebih banyak sisi akting dari sang pelakon. Kecendrungannya adalah masyarakat lebih menyukai hal-hal yang lucu, alami dan menarik ditengah-tengah situasi dan kondisi ekonomi yang masih belum membaik.

Tentang Tukul ini saya mempunyai kekaguman sendiri akan sosok ini. Yang pertama adalah mengenai fisiknya. Banyak orang mengatakan ia mempunyai wajah yang jelek. Sebagian orang akan tersinggung, marah atau bahkan minder bila dikatakan seperti itu, tapi ia malah sebaliknya. Ia tidak tersinggung apalagi marah, wajah jeleknya malah dianggap sebagai salah satu keunggulannya. “Unik dan tidak ada duanya” begitu suatu kali ia berujar. Bahkan wajah jeleknya ini menjadi daya tarik bagi penikmat acara yang dibawakannya. Bicara minder?. Tidak sama sekali, ia begitu pede dengan semuanya itu. Bukan tidak tahu malu, tapi lebih cenderung bisa memanfaatkan pemberian Tuhan dengan bijak. May be. Jadi jika ada orang menganggap bahwa penampilan fisik adalah segala-galanya dan menganggap bahwa dengan kekurangan fisik adalah sebuah kesalahan dari penciptaan, maka ia sudah melakukan kesalahan yang paling fatal dalam hidupnya. Kenapa begitu, hal ini karena dengan mempunyai pikiran seperti itu maka setiap apapun yang dilakukan semuanya akan dilakukan dengan tidak percaya diri, selalu menganggap apapun tidak mampu dilakukan.

Berikutnya adalah sisi optimisme dan persistensi. Sisi masa lalu Tukul yang berasal dari keluarga miskin dan serba kesusahan ternyata tidak menghalangi mimpi besarnya untuk menjadi seorang entertainer. Banyak liku yang harus dilewati, penuh perjuangan dan dari sini optimisme dan persistensinya dibentuk. Optimis bahwa suatu saat mimpi tersebut bisa dicapai dibarengi dengan ketetapan hati untuk fokus pada impian tersebut.

Jika mendengar Tukul bercerita mengenai perjuangannya bisa sampai ia berada saat ini sungguh menarik. Saya menyaksikan sendiri ketika ia mengisahkan perjuangan hidupnya pada acara “Tatap Muka” di salah satu stasiun televisi. Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah menyesali masa lalunya, kisah pedih dan kelam dari perjuangannya dianggap sebagai jembatan menuju suksesnya saat ini. Sukses baginya adalah kristalisasi keringat. Kerja keras tanpa kenal lelah. Keinginan belajar dan maju. Semua hal itu yang membuatnya menjadi seperti Tukul saat ini.

Yang ketiga adalah sikap rendah hati. Meskipun sudah kaya dan terkenal, Tukul dikenal sebagai sosok yang baik. Ia tidak melupakan rekan-rekannya semasa susah dahulu, ia juga membuka diri untuk orang-orang yang ingin belajar dan sukses seperti dirinya. Berbeda dengan kebanyakan orang sukses yang berlatar keluarga yang kurang mampu, Tukul menunjukkan bahwa dengan berubahnya status ekonomi tidak harus menyebabkan personalnya juga ikut berubah. Ia tetap low profil dan menunjukkan bahwa apa yang didapatkannya saat ini adalah buah kerja keras dan dukungan dari banyak orang juga. Tidak lupa Tukul juga menyisihkan sebagian rezekinya bagi kaum yatim dan miskin.

Sikap rendah hati lainnya ditunjukkan dalam kehidupan rumah tangganya. Beberapa waktu ini saya menonton ditelevisi mengenai keinginan istri kedua dari komedian Kiwil untuk bercerai. Adapun masalahnya adalah kecemburuan sang istri dalam hal mendapatkan kasih saying dari suaminya. Kiwil dianggap lebih sayang dan perhatian dengan istri pertamanya, apalagi ketika sang istri pertama mengandung anak keempatnya. Meskipun belum menyetujui tuntutan perceraian tersebut, tapi Kiwil menyatakan memang dengan beristri dua, ia tidak pernah bisa membagi secara adil kasih sayang kepada kedua istrinya itu. Jika dibandingkan dengan Tukul, pastilah sukses finansialnya Kiwil tidak ada apa-apanya. Tetapi dalam hal ini kesetiaan Tukul pada istrinya bisa diacungi jempol. Susi sang istri yang sering diplesetkan sebagai “similikiti” bukanlah sosok yang cantik dan menarik, tapi sang suami sampai saat ini tidak pernah berpaling. Jikalau diturutkan bukanlah hal yang sulit bagi Tukul untuk mencari wanita lain yang lebih cantik, karena pada setiap kesempatan ia selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik dan seksi.

Meskipun memiliki fisik yang mungkin kurang menarik, pastinya dimata Tukul ada hal lain yang lebih menarik dalam diri Susi ketimbang penampilan fisik semata. Dan itulah yang tidak dilihat oleh orang kebanyakan. Tidak seperti Kiwil yang baru ngetop sudah cari wanita baru yang lebih cantik dan muda.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi mengambil hal-hal baik dari diri orang membuat kita bertumbuh dan mengerti akan kehidupan. Dibalik wajahnya yang ndeso dan tingkahnya yang konyol tersimpan teladan lain yang bisa dipelajari.

Belajar Dan Inspirasi

Terkadang kita bisa mendapat inspirasi dimana saja. Bisa dikantor, dijalan, atau mungkin saat pembicaraan di warung kopi. Dan tadi pagi saya mendapatkan sebuah ungkapan kecil yang menginspirasi saya. Ungkapan itu meluncur dari teman saya saat kami sedang terlibat pembicaraan ngalor ngidul dikantor.
“Pak Budi, sebagai seorang manajer area saya sebenarnya tidak suka kalau berada dikantor terlalu lama!. kata teman saya itu sebut saja Pak Heri.
Saya tertegun sejenak dan kemudian bertanya,
“Pak, bukannya pekerjaan bapak memang harus membagi porsi antara kerja dalam ruangan dan luar ruangan.

Lagipula saya pikir banyak orang lebih suka berada didalam ruangan lebih nyaman karena ruangannya ber AC?”
Ia menghela napas sebentar, melihat keluar jendela.
“Betul pak, memang dipekerjaan ini, saya diharuskan membagi porsi luar ruangan yang lebih kecil dari aktivitas didalam ruangan. Tapi sejujurnya pak, saya lebih suka jikalau porsinya bisa lebih besar lagi?.”
“Kenapa begitu pak” tanya saya sedikit bingung.
“Ya pak, mungkin beberapa orang berbeda pendapat dengan saya, karena memang kerja diluar ruangan memang membutuhkan fisik yang prima, itu saya sadari karena usia saya sudah hampir 40 tahun. Tapi pak kenapa saya menyukai hal tersebut, ini karena saya beranggapan diluar ruangan saya bisa banyak belajar. Itu karena saya bisa berinteraksi langsung dengan orang lain dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya saya bisa bertemu dengan pelanggan-pelanggan saya. Kita tahu sendiri bahwa diluar kita akan bertemu dengan orang-orang yang pasti karakternya berbeda. Dengan berhadapan dengan orang-orang itu kita bisa mempelajari karakter orang tersebut. Hal itu akan memperkaya pengetahuan kita akan pengenalan pribadi orang lain.”

Ia terdiam sejenak
“Diluar juga kita bisa mendengar informasi-informasi yang berguna, peluang-peluang yang mungkin tidak disadari orang lain bahwa hal itu bisa dimanfaatkan dan dikembangkan. Kemudian kita juga bisa membangun networking, bertemu dan berhubungan dengan banyak orang pastilah akan memberikan keuntungan bagi kita.”
Dengan mengangguk sayapun mengiyakan kata-kata sang teman. Pembicaraan kami kemudian terputus dikarenakan teman saya tersebut pamit untuk kembali bekerja.

Saya tercenung sejenak dan kemudian seperti tersadar berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya itu benar adanya. Sayapun terkadang meski porsi diluar ruangan cukup besar tidak memanfaatkan hal tersebut dan lebih sering menghabiskan waktu didalam ruang mengerjakan pekerjaan administrasi dan monitoring yang memang lebih dominan dilevel pekerjaan saya saat ini.

Saya ingat ada beberapa teman kantor yang mengeluhkan jenuhnya mereka dengan pekerjaan mereka saat ini. Masuk jam 8, duduk, kerjakan tugas kantor, istirahat, kerja lagi, teng.. bel pulang berbunyi dan pulang. Hal itu menjadi rutinitas, terkadang ada kecemburuan melihat rekan lain yang mempunyai aktivitas diluar. Bisa lepas dari pengawasan bos, bisa menghilangkan stress diubun-ubun karena banyaknya pekerjaan. Memang bekerja diluar memang mempunyai tantangan tersendiri, perlu fisik dan stamina yang lebih prima. Selain itu jika berada didepartemen sales juga perlu mental yang kuat apalagi jika banyak berhubungan dengan pelanggan yang mungkin banyak komplain, tidak puas bahkan lebih parah lagi asal marah dan memaki karena layanan perusahaan yang tidak bagus misalnya. Tapi seperti teman saya katakan disana kita bisa belajar banyak dan melihat peluang yang lebih besar.

Karena sesungguhnya hakekat hidup adalah bagaimana kita bisa belajar dari lingkungan serta berinteraksi dengan banyak penghuni bumi lainnya.

Mencari vs Menciptakan Peluang

Dikantor, saya memang cenderung bersikap membuka diri. Saya berlaku lebih santun kepada orang lain meskipun orang tersebut baru pertama kali bertemu. Tidak perduli apapun jabatannya. Hal ini karena sebagai area manager, saya baru berkantor didistributor ini selama 3 bulan sehingga banyak hal yang masih perlu disesuaikan. Istilahnya saya masih harus beradaptasi dengan kondisi kantor dan personel-personel dikantor ini.

Ada satu rekan yang menjadi perhatian saya. Kesan awalnya adalah orang ini sedikit sombong karena saya pernah mengajaknya berbasa basi tapi hanya dijawab seadanya. Saya pikir ia adalah area manager juga, wah mungkin saja apalagi secara tampang dan penampilan memang mendukung. Tapi saya salah, menurut info orang kantor ini, orang tersebut hanya seorang sales supervisor dari salah satu principle.

Pagi ini entah tidak tahu mengapa saya tertarik untuk berbicara dengannya. Sayapun menyapanya dan berbasa basi mengenai performance sales produk yang dihandle nya.
Tak disangka ia menyambut hangat sapaan saya dan kami kemudian terlibat pembicaraan yang asyik.
Ia bercerita bahwa ia sudah lebih dari 10 tahun meniti karir dibidang sales ini. Awalnya ia mulai dari menjadi salesman, sampai kemudian bergabung dengan perusahaanya saat ini kurang lebih 8 tahun yang lalu.
Pandangannya seolah menerawang mengenang masa-masa itu. Iapun melanjutkan dan berkata bahwa sebenarnya ia jenuh dengan pekerjaannya saat ini. Rutinitas yang dilakukannya bertahun-tahun membuatnya sudah pada posisi yang nyaman dan merasa tidak punya tantangan lagi.

Memang kemarin perusahaan menawarkan padanya jabatan area manager, jabatan yang memang ia idam-idamkan. Padahal untuk promosi seperti itu memerlukan spesifikasi ketrampilan yang lebih dan kemungkinan penempatannya adalah diluar daerah, sesuatu hal yang ia takutkan karena ia sudah berkeluarga dan anaknya sudah besar-besar. Dan benar saja untuk jabatan tersebut ia diharuskan untuk pindah kedaerah lain. Sungguh sebuah pilihan yang sulit. Akhirnya karena tawaran income untuk kenaikan jabatan tersebut juga tidak begitu tinggi, iapun menolak dan memilih tetap pada jabatannya sekarang.

Sejenak ia melihat saya dan berkata, “Kalau saya masih seusia pak Budi sih, saya pasti ambil posisi tersebut. Tapi untuk usia seperti saya sungguh sebuah dilema”.
Saya tersenyum memandangnya, kemudian bersikap seperti orang bijak kemudian berkata
“Memang pak, peluang itu terkadang datang ketika kita tidak atau belum siap untuk menerimanya. Ia lebih sering datang diwaktu yang tidak tepat. Tapi saya rasa kita tidak harus menunggu ia datang pak. Ya, kenapa bukan bapak saja yang menciptakan peluang dan kesempatan untuk bapak sendiri.”

Kami terdiam sejenak, kemudian bapak itu berbicara lagi.
“Betul juga pak Budi, saya memang sudah merencanakan untuk menciptakan peluang saya sendiri. Tidak lama lagi saya akan mengajukan pension dini dan berencana untuk membuka usaha sendiri. Dengan begitu saya merasa sudah melangkahkan kaki saya menuju jalan hidup saya sendiri. Saya tidak perlu menunggu peluang yang ditawarkan untuk saya, tapi saya akan mencari dan menemukannya”.
pl_opportunity
Ada senyum optimisme diwajahnya. Sayapun tersenyum dalam hati. Hari ini saya menasihati orang yang lebih tua dari saya, sebuah kebanggaan atau sebuah kekurangajaran. Entahlah.

Postingan Rafael Budi di Lintas Berita.com

Kemarin iseng-iseng lihat statistik blog, ternyata banyak yang komentar. Dicek-cek lagi dan ditelusuri dari mana sih asalnya yang komen, ternyata banyak yang masuk ke blog yang berangkat dari situs lintasberita.com.
Ternyata tulisan saya yang berjudul Sisi Kreatif dan Nyeleneh Pebisnis Sukses direferensikan disitus tersebut. Berikut tampilannya

lintas-berita

Halaman